The first 200 lines.
- Selamat pagi. - Selamat pagi.
Terima kasih.
- Bagus. - Ya?
Tapi tidak...
kekecilan ukurannya?
Tidak.
Malah pas sekali untukmu.
Warnanya putih lagi.
Nanti kalau kena kotoran, kau akan marah.
Makanya hati-hati kalau makan.
Jangan sampai tumpah, ya?
Sebentar.
Mas.
Ini tasnya.
Pengisi bateraimu kutaruh di depan.
Terima kasih.
Mas.
Nanti aku arisan, sekalian kubelikan kaos kaki baru, ya?
Tidak usah. Masih bisa dipakai.
Itu sudah kendur, Mas.
Sudahlah, nanti kubelikan.
Nanti dikira tidak mengurusmu.
Aku berangkat dulu, ya.
- Sampai nanti. - Hati-hati, Mas.
Bagaimana? Kuenya tidak ada?
Enak sekali, Niken.
Sungguh. Kau harus buka toko kue.
Sudah kubilang.
Nanti pokoknya kalau kau buka,
kupromosikan di Instastory.
Instastory?
Di Feed.
Jangan, Astrid. Feed itu khusus buat merek pribadiku.
Tapi kalau Instastory, apa saja bisa.
Tenang saja. Pengikutku aktif.
Dipromosikan gratis.
Oleh selebgram pula.
Centang biru. Ingat, ya.
Kalian seperti tidak tahu Mas Arya saja.
Semuanya harus mengajukan proposal dulu kalau dengan dia.
Tidak bisa sembarangan.
Semua harus didiskusikan.
Ya, repot.
Niken.
Kalau menurutku,
lebih baik jual daring dulu, jadi kalau misalkan berhasil,
tinggal bicara dengan si Arya.
Maaf aku telat.
- Ini dia orangnya. - Tadi ke mal dulu.
Ke mal?
- Kenapa tidak ajak-ajak ke mal? - Maaf.
Memangnya mau apa?
Beli kaus kaki untuk Mas Arya.
Ikut aku saja.
- Benar, ya? - Ya.
Makan ini.
Kue punyaku.
- Terima kasih. - Dicoba. Enak.
Enak sekali.
Tanggal lima jadi?
Jadi.
Siapa yang pesan tempat?
Di ruang pribadi.
Ini kurang pribadi, ya?
Kalau begitu di sini saja.
Baiklah. Lebih gampang, ya?
- Halo. - Hai, Mas.
Kotak makannya mana, Mas?
Ketinggalan di kantor?
Tadi...
rapat di luar.
Terus harusnya kembali ke kantor. Tapi tidak jadi.
Kebiasaan.
Terus ini apa, Mas?
Buka saja.
Warnanya begini?
Terus tumben sekali beli kemeja sendiri.
Biasanya aku yang beli buatmu, Mas.
- Memang ada acara apa? - Ada reuni.
Reuni? Kapan?
- Besok. - Kenapa tidak bilang?
Cuma... kumpul teman kuliah biasa.
Jadi, kumpul teman kuliah atau reuni?
Sama saja.
Beda, Mas.
Ini.
Ini acara reuni lintas angkatan, lintas fakultas...
Tidak ada niat mengajakku ke sana?
Atau jangan-jangan...
Mungkin kau malu punya istri lulusan kuliah swasta.
Halo, kau di mana? Aku sudah sampai.
Depan lift,
Lantai... Di mana?
Entah lantai berapa.
Ini ada spanduknya.
Jemput saja.
Kutunggu. Terima kasih.
Arya.
Hei, Arya temanku.
Kau ke mana saja? Kau hilang seperti anak monyet.
Lama tidak ketemu.
Langsung naik. Aku tidak enak telat.
Acaranya membosankan. Aku malas.
Tidak ada anak menteri,
jadi tidak akan disebut MC.
- Lebih baik minum kopi. - Ayo minum kopi.
Baik.
Mohon maaf.
Aku mau bicara.
Jangan aneh-aneh. Bicara apa?
Dia bentuknya belum begini. Masih lugu.
Jangan. Tidak lucu.
- Aku marah. - Serius.
Suatu malam minggu,
kami mau nonton.
Berdua.
Masuk bioskop.
Film baru mulai. Pemainnya dari yang...
pacaran, berkelahi,
terus rujuk lagi.
Dia ke belakang, tidak balik.
Kau ke mana, Nyet? Sampai filmnya habis,
pemainnya sudah cerai, rujuk lagi, tidak kembali anak monyet ini.
Ada apa malam minggu itu? Kencan berduaan?
Nonton pula.
Bukannya waktu itu kau masih pacaran dengan Maia?
Ya, itu dulu.
Pasangan bersejarah.
Tidak berjodoh, pisah.
- Mau tambah? - Boleh.
- Tambah lagi? Kau makan terus, Ndut. - Mau tambah apa?
- Mas. - Di sini enak.
Coba tanyakan.
Ada rokok? Rokokku habis.
- Ini ada rokok. Depan matamu. - Tidak apa-apa?
Baiklah.
Maia katanya mau ke sini.
Kau undang ke sini?
Tidak.
Dia tanya aku di mana.
Kujawab kita di sini.
Itu dia. Hai, Maia.
Hai, Semuanya.
Astaga, maaf sekali aku telat.
Aku kangen sekali.
- Hai, apa kabar? - Arya, apa kabar? Aku baik.
- Duduk. - Baik.
Maaf, berantakan.
Astaga, aku kangen sekali dengan kalian.
- Maia. - Hai.
- Sehat semua? - Sehat.
Si cantik, bagaimana kabarnya?
Sehat.
Sudah makan semua?
- Belum, ya? - Sudah.
Sudah?
Kau mau pesan?
Ya, aku mau pesan.
- Mas. - Dari mana?
Wanita cantik mau pesan.
- Ya? - Tadi dari mana?
Dari rumah.
Tadi macet?
Tidak.
Ya. Perkenalkan...
istriku.
- Halo. - Hai.
- Maia. - Niken.
Sejak semester berapa pacaran dengan Maia?
Dari semester awal?
Tidak.
Semester...
tiga atau empat sepertinya.
"Sepertinya"?
Kenapa tidak yakin?
Mana mungkin lupa.
Tidak ingat.
Berpacaran begitu saja soalnya.
Bohong sekali.
Baik, semester tiga.
Itu ingat.
Pacarannya berapa lama?
Sampai lulus kuliah?
Jangan-jangan setelah lulus kuliah masih pacaran?
Aneh sekali pacaran lama, tapi tidak pernah cerita.
Putus begitu saja.
Waktu itu Maia kembali ke Jogja setelah lulus kuliah.
Tahun berapa?
Penting?
Menurutmu tidak penting?
Pacaran dari semester tiga sampai lulus,
itu tidak dianggap penting?
Keterlaluan sekali.
Putusnya karena apa?
Cuma gara-gara pisah kota?
Sudah kujelaskan tadi.
Aku tidak ingat jelas detailnya.
Intinya putus begitu saja.
- Habis itu masih kontak? - Tidak.
Yakin?
No comments yet. Be the first to leave one.