The first 124 lines.
Kesatria Naga... Bukan.
Sang Master Naga menghadapi tantangan setingkat status masternya.
Bajak Laut!
Persik Emas Suci dicuri.
Ciat!
Huzzah! Ini aku, Sang Master Naga!
Tunggu. Apa?
Bukan. Akulah Master Naga yang asli!
Hei!
- Kita tak bisa jadi Po semua. - Bisa.
Serius?
Semuanya, setop!
Kalian merusak cerita! Aku jadi Po dahulu.
Hanya boleh ada satu Po, paham? Itu masuk akal.
Hajar kemaluannya!
Ayolah, Master Po akan tiba sebentar lagi.
Kita tak akan dapat,
Anggrek Bing Lunghua yang langka.
Kita dapat!
Di Perjamuan Persik Merekah,
aku akan beri ke Po.
Dahulu, saat seorang murid menjanjikan komitmennya
masternya diberi hadiah.
Hei, Bodoh, acaranya sudah akan dimulai.
Kita akan terlambat.
Apa kita yakin ini aman?
Tidak.
Aku takut! Aku mengintip! Seharusnya tidak!
Hadirin, selamat datang ke Festival Perjamuan Persik Merekah tahunan.
Kita merasa terhormat Sang Master Naga, Po,
anakku, akan datang ke sini
demi memberkati Patung Persik tercinta kita.
Jadwal pemberkatannya sibuk, jadi ini acara besar untuk kota kita.
Kau tahu dia anakku?
- Dan dia Sang Master Naga! - Bisa selesaikan?
Dia akan mengunjungi sunyi, hening, dan damainya...
Persik raksasa menggelinding! Semuanya minggir!
Belok! Kerahkan tenaga!
Kita harus lompat!
Persiknya!
Apa yang terjadi?
Aku buta!
Master Po, aku ingin jadi muridmu.
Tunggu. Jangan panik. Master Naga datang!
Akan kuamankan pangsitnya.
Kita dalam masalah...
Mereka selalu begini!
- Parah! - Mereka pengacau!
Tunggu. Bantu angkat ini.
Semuanya! Kalian tak bisa...
Semua marah. Bahkan Po pikir kita pecundang.
Marah-marah itu soal kita?
Ya, Bao. Tentang kita.
Festivalnya menakjubkan!
Heboh sekali, bukan?
Tak usah diingatkan, Nenek.
Ayolah, aku hanya mengejek penderitaan kalian.
Saatnya tidur.
Aku tahu kalian kesulitan sejak orang tua kalian wafat.
Dan seluruh warga sepertinya marah pada kalian.
Nenek rasa kalian makin tak disukai.
Nenek tak mau jadi kalian saat ini.
Pidato Nenek payah.
Kabar baiknya?
Ini hanya sementara. Warga kota cepat lupa.
Malam, Nak.
Kita harus tunjukkan penyesalan.
Biar kuurus.
Aku akan buat mereka terpesona.
Sebarkan karisma Bao-ku.
Mungkin busungkan dada. Tunjukkan ototku.
Bisa serius sebentar?
Kita sudah mengacau. Kota hampir meledak.
Tetapi, bagusnya, kita dibicarakan orang, ya?
Benar, kan?
Tunggu. Ayo kita turun dan kembalikan Patung Persik.
- Caranya? - Entahlah.
Gelindingkan? Kita harus tunjukkan betapa kita menyesal, kan?
Baiklah.
Bagaimana mau bawa ini kembali ke desa?
Pertanyaan bagus.
Dan jawabannya disebut kerja sama tim.
Jika kerja sama, semua jadi mungkin.
Kecuali mendorong persik raksasa naik.
Di hitungan ketiga.
- Satu, dua... - Tunggu.
Apa "satu, dua, tiga, dorong"? Atau "satu, dua, dorong"?
Ya, aku juga mau tahu, Ketua.
Mau pemanasan? Peregangan sebelum...
Tiga lalu dorong!
Baik. Ayo lakukan.
Satu, dua, tiga, dorong!
Nu Hai, lihat.
Coba lihat tempat ini.
Keren sekali.
Tempat ini rasanya agak seram.
Kawan, ini seperti makam.
Aku tak sabar lihat mayatnya.
Menurutmu ini patung apa?
"Kuil Empat Konstelasi."
"Naga Biru, Phoenix Merah,
Harimau Putih, Kura-kura Hitam."
Sampai kita tahu ini apa, jangan sentuh apa pun.
Seperti ini?
Kau menyebalkan!
Boleh gosok dengan bokong? Itu termasuk sentuh?
Sedikit gosok bokong.
Tidak, bokongku lepas kendali.
Ups.
Astaganaga!
- Apa-apaan itu tadi? - Ya, apa itu tadi?
Cahayanya, patungnya, dan...
Apa ada yang nyanyi, atau imajinasi saja?
Ya, cahayanya...
Fan Tong, akan membantu kalau hanya aku yang panik.
Kawan-kawan, ada yang supernatural terjadi di gua itu.
Yang menakutkan.
Kita akan terkenal!
Nu Hai, kau bercahaya.
Hei. Hei!
Tanganku bercahaya juga.
Hore.
- Apa ini? - Mana kutahu?
Kau teriak.
No comments yet. Be the first to leave one.