The first 148 lines.
MEMPERSEMBAHKAN
JAWA BERITA INGGRIS GAUMONT
POTRET NYATA DARI HINDIA BELANDA
SAMUDRA PASIFIK
Barat Laut Australia,
antara persemakmuran dan Malaya.
Kepulauan berjuta kekayaan ini
adalah alasan Jepang menyerang Pasifik.
Jawa bermakna negeri beras.
Kolonial Belanda membawa kemajuan ke Negeri Timur ini.
Di balik kemegahan candi Buddhanya,
orang-orang ini, dengan adat kuno mereka,
bertahan hingga masa Timur modern.
Ras yang dulunya pembajak dan pencuri ini,
di bawah Belanda,
berubah menjadi tenteram, makmur, dan damai.
Dari total populasi sekitar 70 juta,
65 juta adalah pribumi,
1,5 juta orang Tiongkok,
dan sekitar 300 ribu orang Belanda.
Mereka semua bisa hidup berdampingan
adalah berkat kebijaksanaan pemerintah Belanda.
Jawa dulu memang bahagia.
Namun, kemakmuran mereka menjadi incaran
Nazi Asia.
Damai kini sudah kembali di Hindia Belanda.
Kawan-kawan kita dari Belanda
sekarang kembali memimpin kepulauan asri ini.
Pendudukan tentara Jepang sudah ditaklukkan,
dan Belanda yang sudah berkuasa selama 300 tahun,
yang memperkenalkan budaya ke tanah liar ini,
akan mengembalikan kejayaannya.
Tentara India turut mendukung usaha ini
dan pasukan Inggris kita yang perkasa.
Sejak Jepang kalah,
pemerintahan di Jawa diambil alih oleh rezim liar.
Jawa dibawa ke persimpangan.
Masyarakatnya menuntut hidup baru,
tapi ada segelintir pemberontak
menolak kedaulatan Belanda.
Hanya Sekutu yang bisa menentukan jalan mereka.
Tentunya, rakyat Hindia Belanda
akan senang memelihara persahabatan lama
dan memulai persahabatan baru.
Semoga hanya ada damai di masa depan.
Merdeka!
Merdeka!
Pak Guru, kami pulang dulu!
Halo.
Sudah dibuka?
Alhamdulillah.
Hei.
Kita sudah bisa pulang sekarang.
Ada yang mencuri garpuku.
Ada harganya garpumu? Terbuat dari emas?
Hei, masa sulit begini,
kurasa sapu tanganku bisa dicuri,
lalu dijual untuk sekeping nasi.
Masih berharga jadi uang jika mencuri kue buatan istrimu ini.
Merdeka!
Merdeka!
Merdeka!
Merdeka!
Merdeka.
Cemara sudah pulang ke Semarang.
Kemarin dia berangkat.
Nanti hatinya hancur berkeping-keping
karena sang abang tak jadi menyusul.
Siapa yang melapor?
Achmad berteriak-teriak mengaku dirinya itu pemberontak.
Dia itu tidak sepertimu yang banyak akal.
Kalau bukan karena akalmu,
sudah selesai hidupku di Surabaya.
- - Siap berangkat, Pak!
Kalah akal aku dengan Belanda
yang pandai memilih kawan dalam berperang.
Babak belur mereka digilas Jerman di Eropa,
ditebas Samurai di Hindia Belanda.
Indonesia.
Apa?
Indonesia. Bukan Hindia Belanda.
Isa, ayo!
Rakhmat.
Kau sudah gila?
Siapa mereka incar?
Ada laporan penggerak pemberontak di Gang Jaksa.
Kemarinβ¦
Aku tolong tiga pemuda.
Mereka minta aku bawa dua pistol dan lima granat tangan.
Aku simpanlah di keranjang loak.
Aku menunggu sampai penggeledahan selesai,
dekat truk ubel-ubel.
Tidak takut?
Aku takut setengah mati!
Mereka ancam,
aku akan disiap
kalau aku tidak mau bawa persenjataan.
Mereka kembali
dan membawa persenjataan itu.
Lega aku!
- Lantas? - Aku dipersen lima rupiah!
Hei!
Aku minta maaf.
Hei, buat kau saja.
Tidak, tidak usah.
Terima kasih.
Semedi.
Kalau jadi pilihanmu,
lebih baik dipimpin Jepang, Belanda,
atau tiga pemuda yang sok tahu itu
yang nanti akan menggerogoti negara ini?
Siapa yang mau lagi dijajah, Bang?
Apalagi sama Jepang.
Tiga tahun rasanya tiga puluh.
Merdeka, Fath.
Pak Damrah, merdeka.
Kasih aku beras sekarung.
Enam rupiah.
Kemarin dua setengah.
Masa naik lagi?
Susah masuk sekarang ini.
Aku utang saja.
Ba!
Tidak boleh bon lagi sekarang!
Tapi aku pelanggan lama.
Tolonglah.
Aku sedang susah.
Sekarang semuanya susah.
Aku juga banyak yang susah!
Tidak bisa kasih utang.
Tidak bisa.
Ubel-ubel!
Loteng!
Fatimah!
Lari, Fath!
- -
- -
Dia bisa bicara Belanda?
Kau Baba Tan?
Pemilik toko ini?
Ada laporan kegiatan terlarangβ¦
Ada Belanda pakai baju Inggris
berbicara Belanda.
Pakai tangan Gurkha
untuk pekerjaan kotornya!
- Apa katanya? - Dia mengaku.
Ayo.
Ayo.
No comments yet. Be the first to leave one.