The first 200 lines.
Dulu saya percaya
bahwa bisikan yang saya dengar itu datang dari langit.
Tapi ternyataβ¦
Kenapa, Mama Sari?
Lihat apa?
Itu hanyalah kabar curian dari neraka.
Setan-setan itu, mereka naik ke langit.
Bertumpuk satu di atas yang lain.
Mencuri berita dari para malaikat.
Mereka dengar satu kalimat, lalu dilemparkan ke yang di bawahnya.
Hingga sampai ke telinga tukang sihir, peramal, dan para dukun.
Mereka seakan menyampaikan satu pesan kebenaran,
tapi sesungguhnya diikuti seribu kebohongan.
Kematian itu bukan untuk dirinya.
Tapi untuk kamu.
Berkali-kali aku mencoba membaca kartu, hasilnya tetap sama.
Kartu Kematian yang keluar.
Bahkan ketika aku membaca kartu untuk klien-klienku,
hasilnya begitu juga.
Penglihatanmu tidak salah.
Kita hidup bergantung pada bisikan mereka, para penghuni neraka.
Kematian itu satu-satunya takdir manusia yang sifatnya kepastian, Sari.
Saya tidak bisa menolong kamu.
Tidak ada yang bisa.
Ciyo. Mau makan bareng? Ya? Sini makan, Nak.
Kesayangan aku.
Enak?
Berita duka malam ini.
Baru saja seorang perempuan meninggal dunia,
korban diidentifikasi bernama Sari Arumningtyas.
Atau yang biasa kita kenal dengan Mama Sari.
Dan siapa di antara manusia yang percaya pada kabar mereka,
yang menjadikan sihir dan perdukunan sebagai jalan,
maka manusia itu akan ditempatkan bersama mereka di dalam Jahanam.
Berkumpul bersama pesan-pesan yang mereka dengar.
Pesan dari Neraka.
DIADAPTASIKAN DARI CERPEN VIRAL "MAMA" KARYA NESSIE JUDGE
Menurutmu Mama Sari masa nggak tahu sih dia mau mati?
Dia kan peramal.
Bu Marni.
- Putri mana? - Ada di dalam.
Non Putri, ada Tante Marni.
Turut berduka cita ya, Put.
Semua sudah siap, Non.
Lo kalau butuh apa-apa, main ke rumah gue aja ya.
- Makasih ya, Donny. - Ya. Gue balik.
Tante.
Tante kalau mau pulang, nggak apa-apa kok.
Nggak apa-apa. Tante di sini aja temenin kamu.
Bi!
Nggak⦠Tante aja. Nggak apa-apa.
- Bisa, Bi? - Ya, bisa.
Bentar ya.
Udah ngerti belum caranya bagaimana?
Belum. Cara tahu artinya gimana, Ma?
Putri lihat dulu ya.
Perhatikan baik-baik gerakan tangan Mama.
Kemudian, Putri taruh tarotnya di meja, terus dibuka seperti ini.
Bisa nggak?
Sekarang Putri kan mau tahu artinya apa.
Tutup matanya Putri sekarang.
Tangannya mana?
Nah.
Sekarang, Putri bayangin kira-kira jawabannya mau apa ya.
Ah, Mama!
- Bisa nggak? - Bisa.
Ya, nanti kita belajar tarot lagi ya, Nak.
Sayangβ¦
MENARA
Pokoknya kamu nggak boleh pergi hari ini! Di sini aja, tungguin Mama pulang!
Terserah Mama aja deh kalau gitu!
Mama juga cuma peduli sama ramalan-ramalan Mama, 'kan?
Ini semua tuh nggak penting, Ma. Ini semua nggak penting!
Nggak ada yang lebih penting daripada anak Mama sendiri!
Putri! Putri! Putri, dengerin Mama dulu! Putri!
Mama kenapa nggak kasih Putri waktu, Ma?
Putri masih pengen banggain Mama.
Putri.
Ada apa?
Putriβ¦
Putriβ¦
Tan?
Tante Marni?
Tolong Mama, Put.
Tante abis dari mana?
Dari kamar mandi.
Kenapa? Kamu butuh apa?
- Tadi Tante ketok kamar Putri nggak? - Nggak.
Ada apa, Put?
Nggak. Nggak apa-apa.
Non Putri, kenapa belum tidur?
Non.
Kalau masih kepikiran sama Mama, boleh cerita sama Bibi.
Bibi mau dengerin kok.
Kalau Non mau cerita sama Tante, juga bisa.
Ngapain juga cerita sama tante, Bi.
Walaupun dia memang adiknya Mama satu-satunya,
tapi pas Mama masih ada, dia nggak pernah datang.
Sekarang giliran Mama udah nggak ada, tiba-tiba muncul.
Aneh.
Tante Marni katanya mau temenin Non.
Kasian kan kalau Non di sini sendirian.
Dari dulu juga Putri udah terbiasa sendiri, Bi.
Ya, Non.
Kalau Non butuh apa-apa, panggil Bibi aja ya?
Putri nggak percaya ini Mama?
Putri.
Putri.
Putri.
Tante ngapain di kamar Putri?
Ini HP Mama, Put?
Kapan kita mau adain tahlilan buat Mama?
- Nanti Tante bantu urusin. - Nggak usah, Tan.
Tapi harus diadain, Put.
Biar Mama tenang di sana.
Ini juga titipan dari Mama.
Tante tahu apa soal maunya Mama?
Bi, Ciyo nggak bisa taruh di luar aja?
Bi, Ciyo biarin di dalam aja.
Ya, baik.
Ruangan Mama udah Bibi buatin gembok. Ini kuncinya.
Oh ya. Makasih ya, Bi.
- Dah, Ciyo. Jalan dulu ya. - Dadah.
- Ya. - Sayang Ciyo.
Lo beneran ini bukan orang iseng?
Gue nggak tahu ya, Don, ini beneran Mama atau bukan.
Tapi gue ngerasa kayak dia bisa ngelihat apa pun yang gue lakuin.
Gue udah ngerasa gitu dari semalam.
Atau mungkin karena nyokap lo punya kemampuan ya?
Kamu arsirnya udah bagus nih, teruskan aja.
Halo?
Innalillahi.
Semuanya, saya harus segera pergi dulu. Ada urusan mendadak.
Silakan kalian lanjutkan pekerjaan kalian hingga kelas selesai.
Put, gue turut berduka cita ya soal nyokap lo.
Maaf kemarin nggak bisa datang.
- Ya, Put. Turut berduka cita ya. - Gue juga ya, Put.
- Makasih ya. - Ya.
- Nanti malam kan ada pesta. - Ayo, Put. Ikut.
Ayo, Put. Sekali-sekali.
Biar lo nggak kepikiran mulu soal nyokap.
Ya, Put.
- Senang-senang sama kita. - Oke.
Bagus.
Nanti gue kabarin alamatnya di mana. Oke?
Ya?
Percaya pesan mamamu.
Jangan main sama mereka.
Bella?
Ya ampun.
- Astaga. - Bercanda doang, Put.
Kalian tuh ngagetin banget tahu nggak.
Put, gue mau dong diramal.
Gue sama Donny jodoh atau nggak?
Put, bantuin dong. Mereka kan cocok banget.
Ayolah, Putri. Sekali aja. Ya?
Gue nggak bisa.
Put, ini kalau nyokap lo masih hidup, gue maunya diramal sama dia.
Ayo, Put. Bantuin.
Ayolah, Put.
DELAPAN PEDANG
Putriβ¦
Putriβ¦
Ada apa sih?
Loh, Put? Put?
Jangan ganggu aku! Berhenti!
Berhenti! Mama udah nggak ada!
Mama udah nggak ada!
Bi?
Tante ngapain lagi di sini?
Kuliah gimana, Put?
Ambil jurusan apa kamu?
- Desain mode. - Wah, keren.
Put, di hari mama kamu meninggal, kamu tahu nggak dia ketemu sama siapa?
Emang urusannya sama Tante apa?
Kartu tarot mama kamu ada di mana ya, Put?
Apa mungkin ada di ruang kerjanya?
Tante kenapa cari kartu tarot Mama?
Tante belum bisa jelasin ke kamu, Put.
Tapi ini juga permintaan mama kamu.
Gimana ceritanya bisa permintaan Mama sih, Tan?
Tante nggak pernah ke sini dan ngobrol sama Mama.
Selama ini kamu pikir aku sama Mama nggak pernah ngobrol?
Ada banyak yang kamu nggak tahu soal aku dan mama kamu.
Tante mau apa dari Mama?
Nggak ada.
- Tante cuma takut⦠- Takut apa?
Tante khawatir sama kamu!
Aduh.
Tante nggak usah sok peduli sama kita.
Nggak usah sok khawatir sekarang.
Putβ¦
KEMATIAN
Celaka!
Kamu kalau mau masuk, masuk, Ciyo.
Sini.
Eh, Ciyo!
Bi?
Siapa?
Kamu simpan di mana sih, Mbak?
No comments yet. Be the first to leave one.