The first 200 lines.
Sejak dunia tercipta,
manusia telah mengkhianati semua yang mereka cintai.
Kita hanya melihat.
Menunggumu mengerti.
Karena dunia bukan milikmu, Manusia.
Dunia bukan hanya milikmu.
Inilah yang dikatakan Shah Ular ribuan tahun lalu.
"Wahai, Manusia! Jangan pernah mencintaiku!"
Tapi manusia itu tak menurut.
Dia jatuh cinta kepada Sahmaran dan membuatnya jatuh cinta kepadanya.
Lalu, dia membunuh cintanya.
Yang tersisa hanyalah rasa bersalahnya yang menyayat dan penyesalan tiada akhir.
Dan pertanyaan yang belum terjawab.
Apakah dunia lebih baik tanpa manusia?
Apakah manusia selalu menghancurkan dan mengkhianati?
Atau masih adakah harapan untuk kita?
Kita pernah membuat kesalahan.
Lalu, kita melupakannya.
Tapi beberapa dari kita masih merasakannya.
Itu sebabnya mereka bukan bagian dari dunia ini.
Mereka orang luar.
Apa yang mereka alami disebut "penderitaan dunia".
Kereta akan berangkat!
Semuanya harap naik!
Lihat pria itu.
Davut Demir?
Itu aku.
Aku Sahsu.
Duduklah.
Kurasa kau harus.
Sudah berapa lama kau tinggal di sini?
Kau benar. Aku juga benci basa-basi.
Langsung saja.
Kau meninggalkan ibuku saat dia kecil.
Kau tak pernah kembali, tak pernah menelepon…
Akan kulewati bagian yang sudah kau ketahui.
Bertahun-tahun ibuku memanggilmu dalam tidurnya.
"Ayah, di mana kau?
Kenapa Ayah meninggalkanku?"
Mimpi buruk, sesak napas…
Masalah klasik gangguan stres pascatrauma.
Aku pun berkata, "Bu, sudah 40 tahun.
Lupakan saja.
Atau jika tak bisa, ayo cari dia.
Ayo datangi dia. Kita ketuk pintunya.
Ayo kita hadapi dia."
Tapi dia bilang dia sudah mencarimu dan gagal menemukanmu.
Baru-baru ini,
aku memeriksa barang-barangnya.
Aku menemukan alamatmu.
Ternyata, dia tahu.
Kurasa dia tak punya keberanian.
Jadi, kau ke sini atas namanya?
Untuk menghadapiku?
Sebaliknya.
Aku mau berterima kasih.
Aku tumbuh di taman mawar yang luas berkat dirimu.
Kau mungkin tak ingat.
Kau memberi ibuku segenggam benih sebelum kau pergi.
Kau bilang, "Ini mawar, seperti namamu.
Tanamlah.
Aku akan kembali sebelum itu berbunga.
Kita akan menanamnya bersama."
Ibuku menanam benih itu.
Dia suka bunga-bunga itu.
Dia menyimpan satu benih.
Agar jika kau kembali…
kalian bisa menanamnya bersama.
Ini.
Kau bisa menanamnya di makamnya sekarang.
Ibuku sudah meninggal.
Dan itu ada di tangannya.
Aku ingin kau tahu.
Maran!
Maran!
Maran!
Seorang gadis mengunjungi Davut.
Kali ini, aku yakin. Pasti dia.
Maran!
HOTEL AK
Tarik napas.
Aku mengerti, tapi aku tak paham maksudmu.
Aku dengar makianmu, tapi tak paham setelahnya.
Tidak, dengar. Nanti saja kita lanjutkan.
Halo?
Aku sudah tiba, Profesor. Aku akan melapor masuk hotel dan segera ke sana.
Baik, terima kasih.
Sahsu Demir. Aku sudah pesan.
Istanbul.
- Kau lihat di KTP-ku? - Tidak, ini pengalaman, Bu.
Saat aku melihat seseorang, aku tahu dari mana asalnya.
Aku hanya melihat. Aku amati.
Lalu, bam! Elazığ.
Bam! Ankara.
Aku berbakat. Itu keahlian.
Selamat. Kamar mandinya di dalam, 'kan?
Oh…
Apa maksudmu?
Aku secara khusus memintanya di telepon.
Begini masalahnya.
Jika ada kamar mandi, dengan senang hati kuberikan.
Tapi hanya ada satu kamar dengan kamar mandi.
Dan tamu di kamar itu memperpanjang masa inapnya.
Maaf.
Kami berharap ada kamar mandi di setiap kamar agar tamu kami bisa mandi.
Tapi itu mahal. Dokter juga tak menyarankan…
- Boleh minta kunciku? - Kuncinya…
Nanti kuurus KTP-nya. Kuncinya…
Kapan tamu itu akan keluar?
Bu… Semoga saja besok, Bu.
Berapa umurmu?
Usiaku 35 tahun, Bu.
Kau lebih tua dariku.
Di mana kutaruh kuncinya?
Terima kasih.
Terima kasih.
Aku lelah berpose untukmu.
Kau belum selesai?
Aku tak tahu apa kau melihatku, sialan!
Jangan pakai dalam ruangan.
Jadi, gadis itu sudah pergi?
Ya, tapi aku bisa menemukannya.
Lakukanlah.
Dia di sini.
Semoga berhasil, Semuanya.
Apa yang harus kita lakukan sekarang? Berkurban?
Asalamualaikum.
Ini sulit, tapi lihat tanaman cantik yang kupetik untukmu, Bos.
Lihat, ini cantik sekali.
Aku yakin kau akan bilang, "Bagus, Salih!"
Lihatlah. Tanaman kecil cantik ini bahkan berbunga.
Pujilah aku saat Medine di sini.
Aku ingin dia mendengarnya. Aku ingin dia melihat kesuksesan suaminya.
Dia tak tahu berterima kasih.
Dia tak pernah bilang, "Hebat, Suamiku. Bagus."
Bos?
Bos?
Apa itu?
Bicaralah, Bos. Ada apa?
Cucuku tadi datang.
Sahsu!
- Hai, Profesor. - Selamat datang.
Terima kasih.
- Maaf, aku agak terlambat. - Tak apa-apa.
- Presentasimu sudah siap? - Sudah.
Bagus. Ayo.
Tak ada asisten lain yang mau datang mendadak, Sahsu.
Aku sangat berterima kasih.
Sama-sama. Aku punya tugas di sini, jadi ini alasan lain aku datang.
Halo.
- Semoga lancar, Sahsu. - Terima kasih.
FAKULTAS ILMU BAHASA DAN SASTRA
Halo, Semuanya.
Saya Sahsu Demir.
Saya di sini untuk menyelamatkan kalian.
- Apa maksudnya? - Apa?
Ya, kalian dengar.
"Saya penyelamat kalian.
Saya bahkan siap berkorban nyawa untuk kalian."
Apa komentar kalian jika saya mengatakan ini?
- Bagus sekali. - Senang bertemu Anda.
Selamat datang!
Hari ini, saya akan membahas kompleks penyelamat,
yang juga disebut kompleks mesias.
Singkatnya,
kompleks mesias membuat orang mengorbankan keinginan, perasaan mereka,
dan dalam kasus ekstrem, hidup mereka untuk orang lain.
Khayalan ini membuat orang merasakan tanggung jawab yang tak proporsional
dalam hal membantu orang lain.
Orang tak bisa menghentikan diri
walau upaya mereka untuk membantu menyakiti orang lain.
Yang terburuk, efeknya pada orang lain menciptakan rasa kekuatan
yang bisa mengubah pandangan dunia mereka sepenuhnya.
Orang mengalami khayalan keagungan.
"Tolong bantu aku."
"Aku tak bisa."
"Tidak."
Mereka tak pernah mengucapkan kata-kata ini.
Mereka tak tahu cara minta tolong.
Mereka mencoba membantu,
meski mungkin berakhir buruk.
Perasaan mereka tak karuan saat gagal.
Seolah-olah itu tanggung jawab mereka.
Seolah-olah mereka merusak segalanya.
Tapi sering kali, tak ada yang bisa kita kendalikan.
Ya, 'kan?
Itu sempurna.
Anak-anak menyukaimu.
Kuharap kau di sini setiap hari.
Aku ingin bahas itu denganmu.
Kantor dekan telah menyetujui proyek baruku tentang gaya keterikatan.
- Baguslah. - Ya.
Tapi aku juga dapat persetujuan untuk asisten.
- Ya? - Profesor…
Kumohon! Akan kuberi tahu profesormu di Istanbul.
Satu semester saja, ya?
- Entahlah… - Oke, lihat saja proyeknya.
Ini bagus untuk PhD-mu. Kita sama-sama untung.
Apa lagi? Pikirkanlah.
Lakukan demi aku.
No comments yet. Be the first to leave one.