The first 200 lines.
Namaku Ani.
Waktu aku lahir,
ibuku sendirian.
Bapakku,
malah nonton layar tancap.
Ani.
Tadinya kukira kau seorang gadis yang lain di kampung ini.
Tadinya kukira kau seorang pribadi.
Tapi, rupanya kau tidak lebih daripada gambaran gadis kampung
yang ditemukan di pinggir jalan.
Kau perempuan yang lemah.
Mungkin karena hal tersebut, dari kecil aku sangat benci dengan film.
Tapi sejak Bapak meninggal,
aku jadi penasaran,
kenapa Bapak suka banget nonton film.
- Mari. - Mari.
Jadi, aku mulai nonton film.
Nonton.
Nonton lagi.
Nonton terus hingga aku ketagihan,
dan seneng banget nonton film.
Karena aku juga jadi lebih bisa ngerti bapakku,
dan tetap merasa dekat dengan bapakku.
Hingga akhirnya, aku bekerja di dunia film.
Silakan nonton.
- Lama tak bertemu. - Aku baik.
Biasa, Bu. Aku sehat. Eh...
Eh, Pak Ridwan. Film baru loh, Pak.
Tiketnya Pak Toto.
- Pak, foto sebentar. - Iya.
- Tunjukin tiketnya, Pak. - Iya.
- Gini, ya? - Iya!
- Terima kasih, Pak Toto. Selamat nonton. - Oke.
Duduknya di sebelah sana ya, Pak.
Mbak Meni!
Kami semua bekerja di Bioskop Merapi, dan sudah seperti keluarga sendiri.
Film terbaik Festival Film Indonesia 2015,
Siti.
- Menang! - Menang, dong!
Peraih Piala Citra untuk kategori Penjaga Tiket Bioskop Terbaik
adalah Ani!
- Selamat! - Makasih.
Ani.
Eh alah, malah ngelamun. Gimana sih?
Kamu tuh kenapa sih, Ni?
Sejak pulang kampung diperhatikan kok apa-apa nggak fokus tuh kenapa?
Sudahlah sana cari kerja.
Bioskop kamu tuh udah tutup.
Mau kerja di mana sih, Bu?
Pandemi gini tuh semua orang kerjanya dari rumah.
Eh, udah sana ke sawah.
Tandur kek. Ngurus bebek kek.
Apa kamu cari kerja di HP gitu loh, Ni. Kek orang-orang itu loh.
Yang kreatif jadi anak muda itu.
Nih gorengannya sudah mateng. Taruh ke wadah.
Jangan ngelamun aja.
Ku kawinin lama-lama kamu.
Eh, katanya korona ini konspirasi?
Konspirasi matamu.
Lah, nyatanya apa? Kemaren ada anak pabrik yang kena terus mati.
- Sialan korona ini. - Kuberi tahu kamu.
Desa kayak gini,
bantuan pemerintah aja nggak sampe.
Lah, kok bisa-bisanya korona sampe sini?
Mas Haryo, ngapain balik lagi ke sini, Mas?
Mau makan, tadi belom.
Mbak, gorengan. Sama kayak kemaren, ya?
Ini sama kayak kemarin.
Seperti kemarin.
Ani!
Loh, Haryo?
Kok kamu di sini? Bukannya di Jakarta, ya?
Aku ini lagi kena efek pandemi.
Koran tempat aku kerja tuh susah. Makanya aku dipulangkan.
- Oh, gitu. - Kamu di sini?
Baru pulang atau dari mana?
Sama. Bioskop tempatku tutup. Makanya aku pulang.
Oh, iya.
Aku denger kabar sih, bioskop se-Indonesia tutup.
Bukan se-Indonesia, tapi sedunia.
Bayangin aja, Har. Dua puluh tahun lebih,
kerjaanku nonton film, nyobek tiket.
Bahkan, satu film yang sama bisa kutonton 20 kali lebih.
Wow.
Gila. Istimewa anak ini.
Dulu itu kamu SMK Broadcast ,
terus lanjut D3 Perfilman, ya?
Iya, tapi nggak selesai. Mahal.
Tapi, aku tuh seneng loh kerja di bioskop.
Karena aku tiap hari ketemu sama penonton.
Jadi, aku tuh hafal. Mana penonton yang suka film horor.
Mana yang suka sama film sedih-sedih,
mana yang suka sama film komedi.
Aku tuh sampe hafal.
Jadi tuh begitu, Har.
Aku pikir film itu ya cuman soal bikin film,
kalau nggak jadi pemainnya gitu.
Ya ternyata nggak juga.
Tapi, ya gitu loh. Aku jadi nggak punya keahlian lain soal film.
Kalau keadaannya begini, aku harus gimana?
Jadi bingung gitu loh maksudku, Har.
Nasib.
Pahit.
Kamu sendiri gimana, Har?
Rencanamu apa?
Kamu itu tau, 'kan? Dari dulu aku bisanya cuma komentar.
Lah, terus kalau aku kerja yang lain, ya nggak bisa.
Kadang ya males.
Tapi, kalau suruh komentar,
ya aku jagonya. Nggak ada yang lain.
Oh, iya. Dasarnya memang hokinya di aku mungkin. Ya.
Aku kerja di majalah, ya kerjaanku cuma komentar.
Me- review lah.
Dan aku di bagian budaya.
Aku kadang komentar tentang pameran lukisan,
pementasan ketoprak, kadang sesekali aku komentar tentang film.
Oh, iya. Nih.
Berhubung majalahku ini lagi tutup.
Nah, ini. Aku di kampung kegiatannya bikin ini.
Tayangan me- review Lek Dul, tetangga kita itu
me- review ngarit untuk sapinya.
- Bisa jadi bahan, ya? - Ya bisa.
- Tuh. - Oh, gitu.
Lucu, 'kan?
Kali ini, kita ketemu di kampung.
Kali ini, kita akan me-review Pak Sidul saat ngarit sapi-sapinya.
Kita lihat. Halo, Pak Sidul. Kasih salam.
Gila. Ganteng, 'kan?
Kali ini kita akan melihat...
Lucu.
Kali ini, saya akan menyalakan motor.
Pasti penasaran, ya? Nih, aku lihatin beneran.
Pokoknya, begitu kalian telpon, langsung kita bikinin.
Pokoknya, begitu order langsung dimasakin.
Rani balik lagi buat nge- vlog.
Kali ini, Rani mau nge-review satu lipstik
yang enak banget teksturnya.
Karena teksturnya tuh ringan banget.
Kalau udah dilipat-lipat gini,
nanti kita bisa jadi lebih mudah.
Halo, Haryo.
Nanti aku kabarin ya, Har.
- Kamu langsung balik? - Iya.
- Udah, ya? Kabar-kabar. - Iya.
Mbak Ani.
Pak Cipto.
- Tumben loh bisa ketemu Mbak Ani. - Iya.
- Lama nggak ketemu. - Lama ya, Pak.
Lah, ini dalam rangka apa, Mbak?
Apa bioskopnya mau buka lagi?
Nggak, Pak.
Eh, belum deng.
Belum, Pak.
Di dalam ada orang?
Ada, Mbak.
Kayaknya ada Pak Bimo.
Gini loh, Mbak.
Semenjak ditutup,
Pak Bimo mau menjual gedung ini, Mbak.
Jadi, hampir tiap hari pasti ada orang datang lihat-lihat, Mbak.
Tapi, moga aja nggak laku ya, Mbak.
Karena kalau bioskop ini tutup,
saya tuh sulit dapat penumpang, Mbak.
Udahlah.
Ya, udah. Saya ke dalam dulu, Pak.
- Nanti ngobrol. - Iya, Mbak.
- Mbok Yem. - Eh, Mbak Ani.
- Sehat, Mbok? - Sehat.
- Terima kasih, Pak. - Iya, mari.
Selamat siang, Pak Bimo.
Eh, Ani.
Kok kamu ada di sini?
- Iya, Pak. - Sudah dapet kerja lagi?
Belum.
Saya mau bicara empat mata sama Pak Bimo.
Bisa?
Boleh. Yuk, ke ruangan saya.
Pak, saya mau usul.
Gimana kalau Bioskop Merapi ini dibuka lagi, Pak?
Kamu 'kan tahu, Ni.
Berapa duit untuk biaya operasionalnya saja.
Iya, 'kan?
Tapi banyak yang menggantungkan hidupnya dari bioskop ini.
Layar bioskop ini nggak boleh turun.
Iya.
Tapi, saya sudah tidak sanggup bayar operasionalnya.
Bukankah film diputar itu untuk ditonton?
Kalau nggak ada penontonnya gimana?
Terus duit dari mana?
Kalau diizinkan,
saya bisa buktikan bahwa Bioskop Merapi masih bisa bertahan, Pak.
Yang penting bisa nutup biaya operasionalnya dulu, 'kan?
Saya mau ajak teman-teman dan saya yang tanggung jawab, Pak.
Jadi, maksudmu saya tidak keluar uang sepersen pun, begitu?
Iya, Pak.
Gini aja.
Kamu boleh ngurusin bioskop ini.
Tapi, saya tetap cari pembeli.
Tinggal siapa nanti yang cepat.
Saya lebih dulu menjual,
No comments yet. Be the first to leave one.