The first 200 lines.
Kemudian...
Dibiarkan matang...
"Terakhir, potong wortel sesuai ukuran yang diinginkan"
"Biasanya aku memotongnya menjadi 4 atau 6 bagian"
Hei.
- Kenapa kamu bangun sepagi ini? - Ke toilet.
Toilet? Begitu, ya.
Kapan Ayah pulang? Aku tidak dengar suara Ayah masuk.
- Itu... - Apa sebenarnya Ayah...
Ayah baru pulang?
Ayah baru mau pergi.
Begitu, ya.
- Ya. - Kukira...
Tapi, sepagi ini?
Benar, pagi-pagi.
Burung yang bangun lebih awal bisa menghirup udara segar.
Udara sesegar apa yang mau Ayah hirup?
- Hati-hati di jalan. - Ya, Ayah pergi dulu.
Mau ke mana aku jam segini?
Katanya dia punya pacar.
Ya, tapi sepertinya tidak cocok dengan Sol.
Kenapa?
Kudengar dia itu pecundang yang menjadi mengikuti pascasarjana.
Lalu?
Bukan "lalu", tapi "makanya". Makanya aku akan coba mendekatinya.
Ini membuat dopaminku terpacu setelah sekian lama.
Begitukah?
Tapi sainganku lemah sekali, jadi, agak membosankan.
Hei.
Sial.
Ada apa dengan Ji Hye On?
Apa mungkin dia menyukaimu?
Tidak.
Dasar bodoh.
Dia bicara apa?
- Ini sangat... - Bagus sekali.
Sedang apa?
Sedang latihan.
- Kapan selesainya? - Mungkin
sampai tenagaku habis dan pingsan?
Astaga, kamu memang keren. Seksi sekali.
Tapi sisakan tenagamu untuk main denganku.
Kalau kamu bosan, ke rumahku saja duluan.
Aku akan bosan sendirian di sana.
Saat aku senggang, kamu sibuk, dan saat kamu senggang, aku sibuk.
Kita memang tidak cocok, ya?
Hei, apanya yang tidak cocok?
Aku bawakan saja makanan enak ke ruang latihanmu.
- Benarkah? Aku senang sekali. - Kamu mau makan apa?
Daging. Aku mau makan sampai perutku meledak.
Baiklah. Tunggu saja.
Aku mencintaimu.
Dia...
Bau keringat!
- Apa yang... - Halo.
Kalian berlatih dengan giat, ya. Apa kabar semuanya?
- Lenganku sakit. Pegang ini. - Terima kasih.
- Bukan apa-apa. - Terima kasih.
Ini bekal makan siang. Ini.
Apa-apaan bajingan ini?
- Apa ini? Apa ini? - Steik! Terima kasih.
- Terima kasih. - Selamat menikmati.
- Terima kasih. Akan kami nikmati. - Terima kasih.
Apa ini?
- Steik! - Sedang apa?
Kenapa datang tanpa memberiku kabar?
Kejutan?
Kejutan untuk apa?
Tentu saja untuk membuatmu terkesan.
Makanya aku datang kemari membawakan ini.
Apa maumu?
"Cinta Abadi"
Profesor tiba-tiba memanggilku, sepertinya aku tidak bisa datang.
Maaf.
Makananmu sudah dingin.
- Selesai ini mau apa? - Apa urusanmu?
Kamu tidak ke kantor?
Aku izin dinas luar agar bisa bermain denganmu.
Memangnya kamu tahu aku selesai jam berapa?
Aku akan selesai sangat larut.
Aku juga punya banyak waktu. Untuk bersamamu.
Makanlah sedikit, ya?
Aku membelikannya khusus untukmu. Setidaknya makanlah demi aku.
Ayo, pilih. Ada tiga set di sini. Jenisnya bermacam-macam.
Kamu memasak?
Dengan tanganmu sendiri?
Kamu yang bahkan tidak bisa menakar air untuk kopi?
Benar juga, aku sedang melakukannya.
Padahal kuingatkan berkali-kali dan mengutuknya habis-habisan...
- Kamu kembali padanya sepenuh hati? - Ya.
Bukannya kamu bilang paling nyaman sendirian?
Katamu semua pria sama, dan aku harus cari sisi baiknya, bukan?
Jadi, kamu sudah menemukannya?
Aku tidak perlu mencarinya, langsung terlihat.
Pasti sulit baginya di usia muda. Aku merasa kasihan.
Usahanya untuk bertanggung jawab itu menyentuh hati.
Sampai kamu sama sekali tak dengar nasihat tulus sahabat 20 tahunmu.
Kamu benar-benar sudah jatuh cinta rupanya.
Jadi, sebagai bentuk penghiburan dan dukungan,
kamu akan melakukan pertunjukan celemek telanjang itu?
Kamu gila? Norak sekali.
Jika orang lain melihatmu, dan menyebutnya norak, mungkin saja.
Tapi kalau hanya berdua, apa yang norak? Lakukan saja.
Katanya itu fantasinya, bukan? Siapa tahu?
Bisa saja secara alami berlanjut ke ranjang reuni kalian.
Ayolah.
Dia gila. Tidak.
Bukan seperti itu. Bukan. Sama sekali bukan.
"Potong dadu kentangnya." Sudah.
Jun Kyung.
Jun Kyung.
Kejutan!
Ayah, barang-barangnya di mana?
Harusnya kamu bilang akan datang bersamanya.
Harusnya kamu bilang
kalau kamu akan berpakaian seperti itu.
Memalukan sekali.
Aroma karinya enak.
Dia sangat pemalu dengan orang baru.
Siapa yang tidak akan canggung melihatku seperti tadi?
- Kesan pertamanya padaku hancur. - Tapi...
- Terima kasih. - Hentikan.
Nanti kuundang jika rumahku rapi. Akan kukenalkan kamu pada Daniel.
Kalian akan cepat akrab.
Daniel.
Sampai jumpa.
"Pemandu"
Tanpamu,
apa yang bisa kulakukan?
Tanpamu,
apa yang bisa kulakukan?
Wanita lain
yang telah aku rengkuh.
Maksudmu, di dalam hati?
Baik di dalam hati,
maupun secara fisik.
Apakah wanita itu memiliki pasangan?
Pasangannya juga sudah tiada. Sudah lama sekali.
Apakah kalian berdua saling mencintai?
Ya.
Jika perasaan seperti ini adalah cinta
maka aku mencintainya.
Lalu, apa masalahnya?
Keadaan ini sangat membingungkan dan menyiksaku.
Rasanya seperti aku berselingkuh,
dan merasa mengkhianati ibu dari anak-anakku.
Ada orang.
Silakan keluar.
Pastor, kenapa...
Julia sudah pergi ke sisi Tuhan, kenapa ini disebut perselingkuhan?
Tapi, Pastor.
Mulai sekarang panggil saja aku Chang Sik.
Tidak boleh begitu.
Ayolah. Kamu memergokiku merokok diam-diam 20 tahun lalu,
dan dimarahi karena mengejar-ngejar Jun Kyung.
Aku masih Mun Chang Sik, murid nakalmu di sekolah Minggu.
Tetap saja...
Sifat keras kepalamu tidak berubah, ya.
Pak Guru.
Apa yang kamu takutkan?
Ibu anak-anak belum lama meninggal.
Memangnya harus berapa lama baru boleh?
Enam bulan?
Atau satu tahun?
Apa menurutmu Julia ingin Pak Guru hidup merana sendirian seperti ini?
- Jika kamu tiada, dia akan begitu? - Chang Sik.
Ya?
Bukan, bukan, Pastor...
Chang Sik.
Aku terlihat menyedihkan, bukan? Mengaku dosa untuk hal seperti ini.
Pak Guru, para jemaat kita itu
datang dan menjelek-jelekkan suami atau istri mereka,
saling curiga, bertengkar, lalu menyesal.
Semuanya sama saja.
Setiap kali mendengarkan Pengakuan Dosa,
aku merasa bukan seperti pastor, tapi konselor pernikahan.
Kenapa masalah pasutri selalu dibawa ke orang yang hidup sendiri.
- Pasti juga berat bagimu, ya. - Benar.
Jangan menyalahkan dirimu seperti itu.
Mencintai seseorang adalah sebuah anugerah.
Ya, aku mengerti, tapi...
Kita juga harus memikirkan pendapat orang lain.
Apa pentingnya pandangan orang lain?
Jaga mulutmu.
Kenapa kamu jadi kesal begitu?
Tuhan.
Bimbing aku ke jalan rasul-Mu
yang tak bisa melepas ikatannya meski hubungan fisik telah berakhir.
Jika Engkau bebaskanku dari ikatan pernikahan yang memuakkan itu...
Aku sangat berterima kasih.
Amin.
Biar kuambilkan garpu.
Tidak perlu.
Aku ingin mahir menggunakan sumpit.
Ini...
Yang ini untuk menahan.
Lalu dengan dua jari ini,
lalu, gerakkan seperti ini.
Sudah makan malam?
Sedang makan sekarang. Kari.
No comments yet. Be the first to leave one.