The first 200 lines.
Dengar, Yoon-bok.
Entah apa kau merasa sama,
tapi aku...
Aku menyukaimu.
Tak perlu.
Apa?
Kenapa tak kau pikirkan dahulu?
Kurasa itu tak perlu.
Begitu rupanya.
Kau yakin itu tak perlu?
Ya.
Omong-omong, Yoon-bok,
apa kita tak bisa membicarakan ini sambil duduk berhadapan?
Aku tak boleh lancang untuk menikmati jamuan bersama guruku.
Zaman sekarang, tak ada yang peduli soal itu.
Lagi pula, "guru" apa?
Aku hanya menjadi tutor sebentar.
Tidak, Bu Guru.
Kau telah mengajariku banyak hal dibandingkan guru mana pun.
Tidak.
Aku tak mau menjadi gurumu.
Aku menyukaimu sebagai pria.
Tak perlu.
Tidak. Ini penting.
Kubilang aku mencintaimu.
Permisi.
Sebaiknya pernyataan cinta ini dilanjutkan di tempat lain.
Aku mencintaimu.
Tak perlu.
- Aku mencintaimu. - Tak perlu.
- Aku mencintaimu. - Tak perlu.
- Aku mencintaimu. - Tak perlu.
Tapi aku menyukaimu!
Yoon-bok, bisakah kau berhenti menjaga jarak denganku?
Maaf.
Biar kukatakan sekali lagi. Itu tak perlu...
Hentikan!
Berhenti mengatakan itu!
Hentikan...
Bu Guru!
Kenapa kisah cinta sangat klise dan menyedihkan?
Karena tak bisa lancang menyentuh tubuhmu, aku terpaksa menariknya.
Tolong maafkan tindakan kasarku.
Izinkan aku merapikan pakaianmu.
- Aku Kim Hong-do, 30 tahun. - Permisi.
Aku suka Shin Yoon-bok, 24 tahun,
yang menganggapku guru.
Yoon-bok, kumohon kepadamu.
Kumohon, cintai aku!
EPISODE 1 DIPERLAKUKAN SEENAKNYA
Baik, 450 juta won.
Ada yang menawar 500 juta won?
Apa ada?
Lima ratus juta won?
Baik, 500 juta won.
Apa ada yang menawar lagi?
Akan kuhitung sampai tiga.
Lima ratus juta won.
Lima ratus juta won.
Terjual dengan 500 juta won!
Akhirnya, inilah puncak lelang hari ini.
Benda ini sempat hilang dan membuat gempar semua orang.
Inilah benda itu.
Warisan budaya nasional Korea.
Tirai lipat delapan panel dengan pemandangan budaya
karya Kim Hong-do, yang dikenal sebagai Danwon,
dengan jelas menggambarkan empat musim dan kehidupan cendekiawan
di dinasti Joseon.
Baiklah,
kita mulai dengan dua miliar won.
Dua miliar won.
Ada 2,1 miliar won.
Ada lagi?
Baik, 3,4 miliar won. Apa ada 3,5 miliar won?
Ada?
MUDAH PECAH
Ada 3,5 miliar won?
Baik.
Kita naikkan 500 juta won.
- Apa ada empat miliar won? - Ada masalah.
Baik, empat miliar won. Ada penawaran lain?
Penawaran terakhir adalah empat miliar won.
Kuhitung sampai tiga.
Empat miliar won.
Terjual dengan empat miliar...
- Ada apa ini? - Ayo pergi.
Ayo.
Sial.
Lewat sini.
Apa itu? Manusia?
Mungkin patung.
Apa kabar?
Siapa kau?
Aku kemari karena mendengar ada orang-orang jahat
yang mencuri warisan budaya bangsa kami dan memperjualbelikannya di sini.
Kalian
pembelinya atau penjualnya?
Atau...
kalian pencurinya?
Apa maumu?
Jika mengaku bersalah, akan kuberi kesempatan menebusnya.
Mengakulah sekarang.
Persetan denganmu.
Bicara apa kau, Berengsek?
Rupanya kalian tak tahu sopan santun.
Lihat, dia kabur.
Tata krama
menentukan
kualitas seseorang.
Mulai saat ini, akan kuajari tata krama.
Siapa yang menguncinya?
Astaga.
Jangan mendekat.
Jangan mendekat!
Buang senjata kalian dan menyerahlah.
Ayo naik!
Omong-omong, siapa yang memakai hanbok tadi?
Dia datang dari Desa Seongsan untuk menangkap
pencuri warisan budaya sepertimu.
Desa Seongsan?
SITUS WARISAN DUNIA DESA SEONGSAN
Ini tempat paling istimewa di Korea Selatan.
Meski banyak orang yang berkunjung,
tak ada yang pernah benar-benar ke sana.
Satu, dua.
Silakan.
Satu, dua.
Tak jauh dari sisi luar desa
yang dipenuhi alunan musik dan tarian tradisional yang penuh semangat...
dihubungkan dengan gerbang Seongsan yang dikawal para penjaga...
tempat inilah
Joseon kecil Korea Selatan abad ke-21.
Inilah Desa Seongsan.
Jauh dari peradaban modern, penduduk Desa Seongsan
tetap melestarikan gaya hidup Dinasti Joseon.
- Halo! - Halo.
- Hati-hati. - Halo.
- Halo! - Hai.
Halo.
Inilah Joseon yang sesungguhnya
di mana tradisi bersejarah terus dijaga.
Sementara itu, aku
keturunan generasi ke-28 dari klan Woorim Shin, pusat desa bersejarah ini.
SHIN YOON-BOK
Serta pilar bagi para penduduk desa.
Namaku Shin Yoon-bok.
Apa kabar?
KEDIAMAN WOORIM
Lukisan Danwon hampir diselundupkan ke luar negeri.
Memikirkannya saja membuatku pusing.
Tuan Muda Yoon-bok sudah bekerja keras.
Begitu banyak warisan budaya kita yang dicuri selama tiga tahun terakhir.
Sebelum semua pencuri itu tertangkap,
kita tak boleh merasa lega.
Kau benar.
Tanpa bantuan klan Woorim dari generasi ke generasi,
kami akan kesulitan menjaganya.
Sebagai Kepala Direktorat Jenderal Kebudayaan, aku malu pada diri sendiri.
Sejak dahulu,
orang yang mengincar aset kita
tersebar di dalam maupun luar negeri.
Sungguh menyedihkan.
Omong-omong,
bagaimana kau bisa tahu soal pelelangan ilegal
di tengah pergunungan itu?
Kakek, aku Yoon-bok.
Masuklah.
Apa? Tiruan?
Ya.
Lukisan Danwon itu adalah tiruan berkualitas tinggi.
Kalau begitu, apa ini perbuatan orang itu?
Ya.
Melihat keahlian dan ketelitiannya dalam membuat tiruan itu,
aku yakin ini perbuatan si Palsu.
Kau tahu keberadaannya?
Sudah kupastikan rute pelariannya.
Aku pasti akan menangkapnya kali ini.
Ke mana dia pergi?
Sepertinya Seoul.
Aku telah lama mengejarnya.
Metode dan aksinya kini makin berani dan tak ragu-ragu.
Aku harus menangkapnya kali ini dan menumpas pencurian hingga akarnya.
Aku menyesal harus mengirimmu sendirian ke dalam bahaya.
Namun, masalah ini adalah takdir kita berdua.
Para leluhur memberi kita misi untuk menjaga warisan budaya.
Kau harus menangkapnya dan kembali dengan selamat.
Baik.
Kau makin mahir.
Tuan Muda, kau terlalu memuji.
Jika kau sudah siap, ayo berangkat.
Baik.
- Bibi Yeoju. - Ya?
Tuan Muda, sudah kubungkuskan sedikit ubi dan sikhye.
Makanlah saat lapar di perjalanan.
Kau juga.
Tak perlu repot-repot.
Terima kasih. Aku akan memakannya.
Meski pergi ke Seoul, jangan lupa makan.
Kau cerewet sekali.
Tidurlah di tempat yang hangat.
No comments yet. Be the first to leave one.