The first 200 lines.
Semuanya indah sekali.
Terlalu indah.
Ya.
- Wah. - Wah.
Bagus sekali.
Bercita rasa seni tinggi.
Komentarmu sangat tepat.
Ya.
Pohon ini juga mengagumkan.
Ya.
Manisnya.
Wah.
Sangat indah.
Ya.
Kamar kita Araragi.
- Araragi. - Di mana itu?
Ini dia.
Ini kamarnya.
Ayo kita masuk.
Wah, kamarnya bagus sekali.
Wah.
Hebat!
Itu pohon yang kita lihat tadi.
Kamarnya sangat bagus.
- Benar-benar bagus. - Ya.
Mau langsung ke pemandian air panas?
Atau mau berjalan-jalan dulu?
- Kita langsung ke pemandian saja. - Baiklah.
Aku sudah siap untuk bersantai.
Ya, kita memang datang untuk bersantai.
Ya.
Wah.
Hotel ini memang sangat bagus.
Nanti kita jalan-jalan, ya?
Ya.
Apa?
- Wah. - Kau beli es krim?
Bukan, ini konyaku bentuk bola.
Biasanya hanya dimakan di mata air panas saja.
- Benar juga. - Kalau begitu, aku mau beli es krim.
Obrolan kita melantur ke mana-mana.
Bir dan es krim, ya?
Minum bir dan makan es krim ini rasanya sepertiโฆ
Apa?
Seperti aku memanjakan diriku.
Kau seperti anak kecil yang sudah dewasa.
Ya.
Tapi kau tahu?
Tubuhku membeku.
Makanya tadi kusuruh kau makan konyaku bola saja.
- Tapi aku mau alkohol setelah berendam. - Makanya kusuruh kau minum amazake.
- Aku membeku. - Kau tampak kedinginan.
- Tapi semuanya enak. - Baguslah.
Lihat itu.
Bulunya halus sekali.
Lihat betapa halusnya bulunya.
Sangat halus.
- Boleh kuelus? - Silakan.
Halo.
- Siapa namanya? - Milk.
Milk.
Milk. Manisnya.
- Ia hangat sekali. - Sangat halus.
Bulunya halus sekali.
Ya, benar-benar halus, ya?
Lihat bulu halusnya ini!
Menggemaskan.
Benar-benar menggemaskan.
Sangat menggemaskan.
Bulunya sangat lembut.
Ia juga sangat tenang.
Enak.
Kau tahu?
Setiap kali melihat ini, aku sadar memang berada di pemandian air panas.
- Ini? Api ini? - Ya.
Orang-orang yang biasanya makan rangkaian menu Jepang seperti ini
mungkin tak merasakannya juga,
tapi saat kulihat bahan bakar padat biru misterius ini,
aku menjadi terpikir, "Aku di pemandian air panas."
Aku pun sadar benar-benar sedang liburan.
Jadi, itu yang membuatmu terpikir pemandian air panas?
Kau tahu?
Orang-orang diam saat makan, 'kan?
Ya, karena sedang makan.
Karena mereka pakai mulut mereka untuk makan, 'kan?
Ya.
Mulut dipakai untuk makan dan bicara,
sedangkan telinga hanya untuk mendengar dan mata untuk melihat.
Benar juga.
Mulut juga dipakai untuk bernapas.
Mulut mengemban banyak tugas.
Baiklah, laluโฆ
Apa akan lebih baik
jika tugas untuk bernapas, makan, dan bicara
diemban masing-masing organ secara terpisah?
Kurasa tak apa-apa jika satu organ bertugas untuk bernapas dan makan,
tapi mungkin untuk bicara diemban organ lain saja.
Lalu, di mana letaknya yang pas?
- Apa? - Di mana letaknya?
Di sini.
Sake Jepang ini sangat enak, tapi sedikit terlalu manis.
Tapi aku takut wajahku terkena ludah jika letaknya di sini.
Tapiโฆ
Jika kau tak makan atau bernapas lewat sini,
kau tak perlu air liur, 'kan?
Kau perlu air liur, tak hanya gigi saja.
Benarkah? Kupikir kau hanya perlu gigi saja.
Karena jika kau tak punya gigi,
nanti bicaramu seperti ini.
Benar juga.
Jadi, gigi rupanya perlu juga.
Berarti kita harus gosok gigi.
Itu artinya wajahmu akan terkena ludah.
Kalau begitu, letaknya bukan di sini?
Bagaimana kalau di sini?
Letaknya sama saja seperti mulut.
Aku mengerti sekarang! Aku memang genius!
Biar kujelaskan.
- Diam dan dengarkan. - Apa-apaan?
- Aku belum bilang apa-apa. - Diam.
Katakan di mana letaknya.
Di sini.
Lihat?
Kita punya satu mata, satu hidung,
dan satu mulut, tapi telinga kita ada dua.
Jadi, kenapa kita tak ubah saja satu telinga
menjadi mulut untuk bicara?
Hei.
Yukio, matamu ada satu saja, ya?
Mata kita ada dua, ya?
Rupanya ideku memang buruk.
Sudahlah, jangan sedih begitu. Padahal kau tadi bersemangat sekali.
Tapi kau tahu?
Kurasa aku sudah mengerti.
- Mengerti apa? - Bahwa kita hanya perlu satu mulut saja.
Aku belum mau menyerah.
Maaf, aku memang salah karena membahas hal ini.
Ayo kita makan sebelum makanannya dingin.
Tapi kita sedikit lagi bisa menemukan jawabannya.
Andai saja mata kita tak ada dua.
Bahkan jika mata kita ada satu saja pun, bicara dengan telinga pasti aneh.
Kenapa?
Kemari.
Kemarilah.
Ada apa?
- Di sini? - Ya.
Jika telinga kananku dipakai untuk mendengar
dan telinga kiriku menjadi mulut untuk bicara, nantinya seperti ini.
Katakan sesuatu.
Baiklah.
Kau manis sekali mengenakan yukata itu.
Benarkah? Senangnya.
Aku sadar sedang berada di hotel mata air panas karena melihat api itu.
Api?
Api.
Jadi, itu yang membuatmu teringat pemandian air panas? Ini konyol, 'kan?
Kita seperti menari saja.
Terlalu merepotkan.
Juga, butuh banyak ruang.
Sebentar. Aku tahu. Coba kalau begini.
- Bagaimana itu? - Jika kita seperti ini,
kita tak perlu berpindah-pindah untuk bicara.
Katakan sesuatu.
- Siap? - Siap.
Apa ide barumu, Yukio?
Jika kita berbalik, kita bisa bicara tanpa harus terlalu banyak bergerak.
Benar juga. Kita tak perlu terlalu banyak bergerak.
Benar, 'kan?
Tapi boleh kubilang sesuatu padamu?
Apa itu?
Begini pun sama saja merepotkannya.
Benar juga.
Ayo kita makan.
Tidak sopan berdiri dan melawak di depan makanan.
Kau memang benar.
Semua ide kita gagal, ya?
Kenapa kau tertawa?
Kurasa kau sangat konyol.
Apa?
Kau sendiri yang awalnya bilang
- bahwa mulut ituโฆ - Jorok.
- Jangan bicara sambil makan begitu. - Diam.
Ayo kita berendam lagi setelah makan.
Tentu saja.
Ada meja pingpong.
Mau bermain?
Aku baru selesai mandi, aku tak mau berkeringat lagi.
Aku payah bermain pingpong.
Kalau aku,
aku pernah ikut klub pingpong saat SD. Jadi, kurasa aku cukup pandai.
Sebentar.
- Siap? - Siap.
- Serve -mu bagus. - Tidak juga.
Tidak juga?
Tidak apa-apa, coba lagi.
- Siap? - Siap.
Rasakan itu.
Bagus.
- Beginiโฆ - Ya?
Saat serve, kau harus pantulkan bolanya satu kali di daerahmu,
No comments yet. Be the first to leave one.