The first 200 lines.
ACARA DEBUT SPESIAL MARA SAN ANDRES 6 JUNI 2004
- Wow. - Itu dia!
Lihat gaunnya!
Hei!
Hei!
Kenapa macet?
Internet kita payah.
Hei, jangan sampai Paman dengar.
Dia baru saja naik ke Paket 999.
- Mungkin ada yang mengunduh. - Mengunduh?
Itu Ibu Berta.
- Hai, Bu Berta. - Hai, Rose.
- Itu dia! - Itu dia!
- Hei! - Kau sedang apa?
Aku sedang membakar CD.
- Sungguh? - Ya.
Lakukan nanti. Kami sedang menonton debut Mara San Andres.
Apa peduliku?
- Apa? - Aku tak peduli.
Kau tak peduli, ya?
- Kau tak peduli? - Rose!
- Rose! - Menyala lagi, Rose!
- Ini dia! - Sedikit lagi!
- Tunggu. - Cepat. Sedikit lagi.
- Itu dia! - Itu dia!
Dia akan berbalik.
- Sedikit lagi! - Sedikit lagi!
- Itu dia! - Hei!
Sial!
Hei, Sayang. Jangan cemberut begitu.
Ibu, aku masih tak paham kenapa kita di sini.
Pekerjaan baru. Peluang baru.
Bibi Kakai menawarkan pekerjaan mengelola resornya.
SELAMAT DATANG
Kita tinggal dengan Bibi Kakai?
Tidak.
Kita menyewa rumah di dekat resor.
Ada komputer di sana?
Mungkin tidak.
Bagaimana aku menghubungi Ayah?
Mungkin ada warnet di dekat sana.
Bisakah kau melepas kacamata itu?
Matahari saja tak ada.
Ayo.
Astaga! Gadis-gadis!
Aku melihat dengan mata indahku, pria kulit putih berjaket hitam!
Astaga!
Sayang!
- Jordan! - Aku ke sana!
AREA TERBATAS
Kau cantik sekali.
Kau imut sekali.
Kau tak perlu berusaha keras, tapi kau cantik, paham?
Sayang.
Kau bisa menghabiskan waktu berjam-jam di depan cermin,
tapi wajahmu takkan berubah.
Ayah serius? Ayah merusak suasana saja.
Wajah cantikmu itu.
Kau bahkan tak membiarkanku selesai.
- Sungguh? Ayah hanya iseng. - Kau tersipu.
Semua sudah bagus, kecuali rambutmu.
Menempel di dahimu. Berminyak sekali.
Tidak.
Nanti Ayah mau berbelanja di kota.
Beri tahu jika kau butuh sampo, kondisioner, apa pun.
Tak perlu, Ayah.
Aku punya uang. Warnet akan memberiku upah.
Tunggu. Bukankah kau bilang kau menabung untuk debutmu?
Benar.
Biar Ayah yang bayar.
Janji?
- Ya. - Sungguh?
Hei! Ayah memang yang terbaik!
Sayang Ayah! Terima kasih!
Ayah juga sayang. Sama-sama.
Ada apa?
- Kebetulan sekali! - Kenapa?
Ada apa? Hei!
Minggir!
Ada apa?
Apa-apaan itu? Aku tak bisa melihat.
- Seperti apa dia? - Seperti Jack!
- Jack! - Siapa Jack?
Pria dari Titanic!
- Leonardo DiCaprio? - Ya.
Jangan main-main. Dia gebetanku.
Dia milikku.
Astaga!
Hei! Berhenti berteriak!
Bu Melai!
Jangan berteriak pada Bu Melai!
Bu Melai!
Kauโฆ Berhenti berteriak!
- Ada apa? - Bu Melai.
Ada apa? Ada yang menusuk seseorang dengan pena lagi?
Tidak, Bu Melai. Tak ada apa-apa.
Mereka bilang pria dari Titanicโฆ
Apa?
Leonardo DeCapre?
"Caprio".
Caprio!
- Bu Melai. - Caprio!
- Ayo ke taman. - Baik.
Leonardo!
Kau kenapa?
Dia bertanya kepadaku.
Dia menyentuh tanganku.
Kurasa dia menyukaiku!
Leonardo!
Ini dia.
Camellia dan Dahlia, kalian kutaruh bersama.
Jadi, saat kalian mekar, kalian akan sangat cantik, bukan?
Dengan tanah baru dan semuanya.
- Bagus sekali. - Hei.
Jangan kaget jika bunganya menjawab.
Ibuku bilang kita harus perlakukan bunga seperti anak sendiri.
Bicara dan rawatlah mereka.
Kau punya banyak tanaman di rumah?
Ya. Apalagi saat Ibu masih ada.
Itu yang selalu dia lakukan, merawat kebun.
- Kau mirip dengannya. - Ya.
Bahkan cantiknya pun mirip.
Amnesia! Aku lupa pupuk di belakang pohon!
Bu Melai, biar kuambil.
- Benarkah? - Jangan khawatir.
Silakan.
Di sana, di dalam karung goni. Kau pasti menemukannya.
- Akan kuambil. - Terima kasih.
Permisi. Ini ruang komputer, 'kan?
Ya.
Boleh kupakai?
Tidak. Itu rusak.
Semuanya?
PEMELIHARAAN
Itu tidakโฆ
Hai, Jordan!
Astagaโฆ
Sial!
Dia sudah pergi!
Kalian ke kiri. Kalian ke kanan. Paham?
Tak ada kode rahasia?
Teriak saja.
Kau ke mana?
- Ya. - Aku di sini.
Jangan mimpi! Ayo.
- Ayo! - Jordan!
Tangkap. Dah!
Sial. Wow.
MENUJU KESETARAAN DENGAN PENDIDIKAN
Bau.
Hei!
Astaga!
Apa kauโฆ
Tak lihatโฆ
Apa itu?
Bau apa ituโฆ
Tahi?
Serius? Kenapa kau bawa-bawa tahi?
Itu pupuk!
Itu untukโฆ Untukโฆ
Itu untukโฆ
Apa lagi?
Untuk beasiswaku.
Kau tahu, kerja sosial.
Dasar berengsek.
Beasiswa.
Ini bukan pupuk. Ini tahi.
Kau terus bilang "tahi"!
Kau yang tahi!
Ini pupuk. Jangan sombong!
Berani sekali kau. Kau yang menabrakku.
Salahku kita bau tahi?
- Ya! Dah! - Kau yang bawa tahi.
Maksudmu, "duh"?
Kau sangat sombong! Aku kenal semua siswa di sini.
Dengan sekali jentikan jari, mereka akan menunggumu di luar.
Kau akan dapat balasannya. Kau tamat.
- Sekali jentik, tamat! - Berhenti.
Aku tak paham. Bicaramu cepat.
Minta maaf kepadaku sekarang!
- Minta maaf! - Kau mau aku minta maaf? Kau yangโฆ
Astaga!
Apa yang terjadi?
Itu salahmu!
Jaga mulutmu!
Hei.
Kau orang sini?
Bodoh, pakai bahasa Inggris.
Benar, ya, orang asing tak mandi setiap hari?
Bau keringat.
Tidak!
Bau tahi. Seperti saat kau menginjak kotoran di jalan.
- Menjijikkan! - Siapa yang "tahi"?
Apaโฆ
Ayo.
Kalian pikir aku tak mengerti?
Ayo! Katakan di depan wajahku.
- Hei. - Katakan.
Kau membuat masalah lagi?
- Katakan, Rose! - Apa lagi?
No comments yet. Be the first to leave one.