The first 200 lines.
Aku baru saja mengalami mimpi teraneh.
Saat itu hari Jumat.
Kami di RS. Tapi itu bukan RS, lebih seperti hutan.
Aku mengetahui itu...
Karena tepat di sebelahmu ada beruang.
Seekor beruang grizzly, mendinginkan kakinya di sungai.
Lalu tiba-tiba kau mulai melahirkan.
Dan aku tak bisa mendekatimu.
Tapi beruang itu bisa.
Tiba-tiba dia menggendong bayi laki-laki kita yang tampan.
Saat inilah mulai menjadi aneh.
Dia mengunyah tali pusarnya.
Tapi anehnya, aku tak merasa terganggu.
Itu pasti pertanda baik.
Theodore. Aku menyukainya. Tapi ingat artikel yang kubilang?
Beri nama orang terkenal pada anak.
Aku tak mau anak itu berpikir dia gagal...
Jika wajahnya tak dipahat di Gunung Rushmore.
Arthur. Ini sulit, karena nama itu mitologis.
Diasosiasikan dengan Meja Bundar. Tapi Permainan Nama. Kau ingat?
"ArtArtboBart, BananaFanafoFart."
Itu membawa kita pada Casey. Sejumlah nama berikutnya.
Casey, Jordan, Dylan, Drew, Taylor, Tyler, dan mungkin Skylar...
Adalah nama yang juga bisa dipakai untuk anak perempuan.
Maksudku, kenapa tak langsung menamainya Cindy saja?
Atlanta. Aku berusaha pindah dari kota ini.
Denver adalah tempat terbaik.
Ada konspirasi pemerintah bawah tanah terjadi di sana.
- Benarkah? - Kubaca banyak pesan di internet.
Aku mengerti. Aku harus menjawab ini, maaf.
- Hai, Sayang. - Hai.
- Sudah terima pesanku? - Sudah.
Baru kudengar setengah.
Kupikir aku butuh istirahat.
Aku hanya tak ingin kau berpikir kucoret nama itu secara subjektif.
Kau memikirkannya dengan saksama. Itu keputusan penting.
Aku tahu. Jelas kau menganggapnya sangat serius.
- Yang terpenting, kau pakai apa? - Armani Exchange.
Aku bicara kepada... Tidak, itu hanya sopirnya, Sayang.
Aku hampir sampai di tujuan. Aku harus mematikan telepon.
- Aku mencintaimu. Sampai nanti. - Aku juga mencintaimu.
Semoga penerbanganmu aman.
- Kita sampai. - Bagus.
Apa-apaan itu? Sial!
- Lepas dengan sempurna. - Bung!
Kau menabrak mobilku! Kau menghancurkan pintu mobilku!
Astaga. Maaf. Pertama-tama, tak ada yang terluka?
Aku menyetir Town Car! Kau tak tahu peraturan bandara?
Town Car selalu punya hak khusus!
Itu kerusakan parah.
Kerusakanmu tak seberapa. Aku tak tahu...
Kakak iparku akan membunuhku. Riwayatku tamat!
Kau tak apa-apa? Maaf soal temanku, kurasa dia mabuk.
Kau juga beraroma alkohol. Kalian minum dan menyetir bersama?
Kami tidak minum. Kami berbagi enam pak bir 1 liter.
Kau tahu? Ayahku selalu berkata...
"Bila harimu dimulai seperti ini, selanjutnya akan sulit."
Sebenarnya itu salah.
- Tidak, ayahku sering katakan itu. - Sulit? Bukan, akan mudah.
Tapi semua mau di atas, tak mau di bawah. Jadi, menanjak.
Tapi lebih mudah menurun. Ayahmu tak paham yang dia katakan.
- Shelby, butuh bantuan? - Tidak usah! Akan kuurus!
- Baiklah. - Taklukkan mereka, Hollywood!
Maaf, Pak? Bisa tolong ambilkan itu?
Tidak bisa. Tak boleh menyentuh koper orang lain di bandara.
Urus kopermu sendiri.
Pemeriksaan tas!
- Ini tasmu, Pak? - Ada masalah?
- Akan kuperiksa dengan cepat. - Ya, silakan.
- Majalah "Mad"? Lucu. - Itu bukan milikku.
- Ini tasmu, 'kan? - Itu bukan...
- Ditemukan! - Itu bukan milikku.
- Tasku tertukar dengan... - Kau mengemas sendiri, Pak?
Ya, tapi bukan itu. Aku belum pernah mengonsumsi narkoba.
Ini gila.
- Mungkin kau penyelundup. - Penyelundup? Aku terlihat begitu?
- Entah. Penyelundup seperti apa? - Kau ahlinya.
- Sepertiku? - Siapa bilang begitu?
- Matamu berkata sepertiku. - Mataku? Apa aku katakan sesuatu?
Menurutku kau tak tampak seperti... Bisakah kau tak memberantakkannya?
Kau orang yang sangat kotor, ya?
Itu sangat tak pantas. Ini gila.
Panggilanku memang banyak, tapi "tidak pantas"?
Itu sudah keterlaluan.
Astaga. Lihat ini, Sonny.
Bagus sekali. Bagaikan di surga.
Kau serius? Kau tak tahu ada orang di sini?
Maaf.
Halo!
Apa kabar? Sedang apa kau di kelas utama?
- Kursi yang kubeli ini... - Maaf.
Tadi aku di kelas bawah, tapi sabuk pengamanku rusak.
- Aku pun dipindah ke kelas utama. - Kelas ekonomi.
Aku beruntung. Senang bertemu denganmu.
Maafkan aku soal tadi, tapi...
Kau tahu? Kurasa tas kita tertukar di trotoar.
Aku tahu. Tasmu disita.
Berisikan alat konsumsi narkoba. Bong mariyuana.
Itu peralatan medis. Aku mengidap glaukoma.
- Tentu saja kau mengidap glaukoma. - Perhatian, Penumpang.
Untuk persiapan lepas landas, harap matikan semua alat elektronik.
Jika memiliki laptop, simpanlah.
Terima kasih dan nikmati penerbangan Anda.
Kawan? Ada pengumumannya. Kau harus mematikan itu.
- Aku mengerti. - Baik, matikanlah.
- Kau tahu alasannya? - Aku akan mematikannya.
Kurasa mereka cemas karena tahu teroris menggunakan ponsel...
Untuk meledakkan bom di bagasi.
- Jangan ucapkan kata itu. - Yang mana? Teroris atau bom?
- Kini kau sebut keduanya. - Aku mengerti, tapi maksudku...
Tidak. Berhenti menjelaskan dan dengarkan aku.
Kau tak seharusnya ucapkan kata yang membuat orang gelisah.
- Aku hanya bersikap informatif. - Itu tak bisa diterima.
Permisi, Pak. Bisakah kau dan temanmu ke depan?
- Temanku? - Maaf, kuminta kau ikut denganku.
Dengar.
- Aku tak pernah lihat si bodoh itu. - Itu tak sepenuhnya benar.
- Kita bertukar tas di trotoar. - Itu kecelakaan dan dia...
Pak! Aku Marsekal Angkatan Udara. Tolong ke depan pesawat.
- Apa? Kenapa? - Jatuhkan alat itu.
- Ini bukan alat, tapi BlackBerry. - Jatuhkan, Berengsek!
Apa yang akan kau lakukan, Petugas? Kau akan menembakku di depan...
Tak apa-apa. Dia akan baik-baik saja.
Itu hanya peluru karet.
Berita bagus, Tn. Highman. Mereka menemukan tasmu di pesawat.
- Bagus. - Sayang, kini pesawatnya di Kansas.
- Sudah kuduga. - Tapi kubawakan ponselmu.
Sekarang, jika tak keberatan, tanda tangani ini.
- Surat pernyataan sederhana. - Agar aku tak menuntutmu.
Ya, menyatakan kami bertindak sesuai hukum negara bagian.
Tentu saja. Bagus.
Jika menulis alamatmu, tasmu akan dikirim ke rumah.
Tidak. Biarkan sampai di bandara LA dan akan kuambil saat tiba di sana.
Kapan penerbangan berikutnya?
Sejam lagi, tapi kau tak akan bisa ikut.
- Kenapa? - Kau masuk daftar dilarang terbang.
- Kenapa? - Tertulis di sini.
- Kau dan temanmu. - Siapa?
- Pria yang baru kutanyai... - Aku tak pernah lihat si bodoh itu.
Benarkah? Dia hanya mengatakan hal baik tentangmu.
Aku masuk daftar dilarang terbang? Ini konyol.
- Meski begitu... - Tidak. Istriku sedang hamil.
Aku harus kembali ke Los Angeles. Ini kesalahpahaman yang besar.
- Apa yang harus kulakukan? - Pernah menonton "Forest Gump"?
- Ya. - Dia melintasi negeri ini...
Padahal dia cukup bodoh. Jadi, aku percaya padamu.
Kau boleh pergi.
- Insiden macam apa? - Mungkin aku berlebihan.
Insiden yang bisa kuatasi. Insiden kecil.
Tapi sayangnya membuatku masuk daftar dilarang terbang.
Apa yang kau lakukan, Peter? Kau marah kepada seseorang?
Tidak. Aku selalu diam, tenang, dan terkendali.
Aku bersikap sewajarnya.
Terkadang kau terbawa suasana. Bagaimana caramu pulang?
Aku punya rencana, dan rencanaku perlahan mulai jelas.
- Tapi dompetku di pesawat. - Apa?
SIM-ku ada di dalamnya. Sudah kucoba sewa mobil.
Kukirim faks ke kantor. Tapi aku mencoba semua peluang...
- Hei! Aku mencari-carimu. - Menjauhlah, kau sumber masalah.
- Tapi kutemukan barang milikmu. - Sayang, mungkin bisa kuatasi.
- Nanti kuhubungi lagi. - Peter?
- Kau dapatkan barangku? - Kuambil sebelum mereka mengikatku.
Maskot LA Angels of Anaheim? Kau temukan dompetku?
- Aku tak melihat dompetmu. - Mana tasku?
Aku lihat tasmu, tapi tak kuambil karena tanganku penuh.
Aku juga memegang ini. Mobil apa yang kau dapat?
Aku tak dapat mobil karena tak punya SIM.
Karena itu ada dalam dompetku yang ada di...
- Sial. Sayang sekali. - Ya, sayang sekali.
Terima kasih bonekanya.
Dasar bodoh.
Kau mau ikut dengan kami?
Tidak usah. Aku tak suka anjing besar.
Aku tahu kita memulai dengan salah...
Tapi kuberi tahu kepribadianku menarik begitu mengenalku.
- Kuyakin begitu. - Aku punya 90 teman di Facebook.
12 di antaranya belum menyetujui, tapi aku punya 90 teman.
Kutanggung biayanya. Kau bisa bayar saat kita sampai di Hollywood.
- LA. - Apa?
Namanya bukan Hollywood, tapi Los Angeles.
Ya, tapi aku akan ke Hollywood.
- Siapa namamu? - Peter.
Namaku Ethan. Ethan Tremblay. Anjing kecil ini...
Bola bulu kecil ini bernama Sonny.
Dan kami akan merasa terhormat jika kau berkendara bersama kami.
Ayolah. Ini akan menyenangkan.
Aku bercanda. Itu lucu sekali.
Ayo, masuklah.
Hidup memang aneh, bukan? Pakai sabuk pengamanmu.
- Punya saudara lelaki atau wanita? - Tidak.
- Kau punya anjing? - Tidak.
Baiklah, biar kutanyakan ini. Apa warna kesukaanmu?
- Biru. - Keren sekali. Aku suka hijau.
- Kau suka hot dog? - Ya.
Aku lebih suka corn dog.
Aku pernah makan corn dog 30 cm di pantai nudis.
Tak akan kulakukan lagi.
Usia berapa kau kehilangan keperjakaanmu?
Aku tak mau membahasnya denganmu.
- Aku saat sembilan tahun. - Astaga.
No comments yet. Be the first to leave one.