The first 200 lines.
Satu, dua, tiga, empat, lima, enam,
tujuh, delapan, sembilan, sepuluh.
Aku datang.
Cepat!
Lepaskan!
Lepaskan!
Lepaskan!
- Tangkap dia! - Lepaskan aku!
Tidak!
Tangkap dia!
- Lepaskan! - Hei, diam!
Tidak!
- Buka pintunya. - Tidak!
Tidak! Lepaskan aku!
Lepaskan!
Lepaskan!
Tolong, lepaskan aku!
Lepaskan aku!
Lepaskan aku!
SUNDARBANS BENGAL BARAT
Ayo!
Jalan terus!
Ayo!
Berhenti bicara!
Jalan lurus! Diam.
Gadis-gadis baru sudah tiba.
Kak, aku takut sekali.
Siapkan paketnya!
Telepon Bos!
Duduk! Siapa yang berisik?
Duduk di sini!
- Berapa banyak? - Dua puluh.
Dua puluh.
Bawa semuanya masuk.
Besok kita menyeberangi perbatasan.
Besok ada penerbangan.
Buat mereka menelan paketnya.
Jika meledak di dalam tubuh, lebih baik kau mati di sini.
Telan ini!
Bawa dia.
Hei, Jimpa. Apa kau butuh undangan?
Bu, kami kira lokasinya sudah tepat.
Sial!
Telan ini!
Mau ke mana?
- Tangkap dia! - Berhenti!
- Jimpa, cepat. - Ayo!
Masuk.
Ini akibatnya jika kabur!
Mau kabur?
Lihat yang kulakukan.
Jimpa, seorang gadis dalam masalah.
Bu, kami coba menemukanmu.
- Tak bisa menunggu. - Siapa yang bicara?
Biar kuberi pelajaran.
Kau?
Kuberi pelajaran kau!
Kau yang bicara?
Apakah kau?
Semuanya, lari!
Tangkap mereka!
- Tangkap dia! - Hei!
Pergi!
Pergi, atau kutembak dia.
Pergi! Atau kubunuh dia!
Sekarang!
Periksa sekeliling.
Kau butuh latihan lagi di Akademi.
Kau membidik dia atau aku?
Maaf, Bu.
Akan memudahkan jika aku pakai kacamata penglihatan malam.
Kebanyakan menonton film Hollywood?
Pelacak GPS saja tak berfungsi, lalu kau mau sok jadi James Bond?
Tenang, Smita.
Menteri Dalam Negeri bilang tak akan sia-siakan upaya apa pun.
Cepat pulang.
Aku ke Bulandshahr langsung dari bandara.
Dengar. Jangan katakan pada siapa pun.
- Bahkan kepada ibumu. - Oke.
Jika ini bocor, pers akanโฆ
Ya, aku tahu.
CRPF dan Kepolisian Bengal Barat
telah membongkar jaringan perdagangan manusia di Sundarbans.
Tugas yang tak mampu ditangani oleh pemerintah daerah,
Penerima Medali Presiden, Shivani Roy, bisa kejakan.
- Halo, kau dengar? - Ya.
Istirahatlah. Aku akan segera pulang.
Cepatlah.
SHIVANI SHIVAJI ROY BERAKSI LAGI
Bu, Sekretaris bisa ditemui sekarang.
Silakan.
Surat pemindahanmu, Petugas.
Dua.
Yang pertama dari CRPF, untuk kader dalam negeri,
dan satunya dari delegasi pusat di Badan Investigasi Nasional.
- DGP, Pak. - Selamat datang di NIA, Roy.
Maaf, tidak ada masa tenggang. Ini masalah mendesak.
Ada penculikan di Bulandshahr.
Duta Besar India untuk Turki. Putrinya.
Duta Besar meminta kau yang mengurus kasus ini.
Karena melibatkan Duta Besar, mungkin ada keterlibatan asing atau terorisme.
Mungkin. Mungkin tidak.
Bukan hanya menemukan penculik, kita berpacu dengan waktu.
Forensik, lab, dan tenaga kerja. Aku butuh semuanya berdasarkan prioritas.
Kau akan dapat semuanya, SSP Roy.
Bawa Ruhani kembali.
Inspektur Jenderal Zona menunggu bersama Duta Besar di Bulandshahr.
Mereka harus tetap menunggu, Pak. Ini musim hujan.
Satu kali hujan, dan TKP-ku hilang.
Pak Yadav, lihat saja kapan mereka muncul.
Turun.
Ayo! Berpencar.
Telusuri tempat ini.
- Sebelum SSP muncul, kitaโฆ - SSP sudah datang.
Periksa area ini.
- Apa kau IO? - Ya, Bu.
Berhenti mencari. Bawa anjing pelacak terpintarmu.
Baik, Bu.
POLISI U.P.
Ada dua gadis?
Ruhani dan Jhimli, putri penjaga.
Dia mengurus rumah pertanian milik Duta Besar.
Anjing pelacak sudah di sini, Bu. Rambo.
- Dia siap melacak bau? - Ya, Bu.
Pintar, Rambo, pintar!
Ayo.
Kita mau ke mana?
Ke sana.
Bu, anak itu pasti menjatuhkan bonekanya.
Tidak jatuh. Dia taruh di sini.
Jhimli.
- Mau main petak umpet? - Ya!
- Aku sembunyi duluan. - Baik.
Satu, dua, tiga. Aku datang!
Ruhani, kau di mana?
Dia berhenti di sini.
Dia memanjat pohon
untuk sembunyi, melihat sesuatu,
atau keduanya.
Mereka diculik di tempat ini.
Dia melawan.
Dari mana kau tahu?
Di sini lebih banyak bunga yang jatuh.
Dia meronta.
Ada kaca jendela mobil yang pecah.
Kita harus kirim bekas ban ke tim forensik
untuk identifikasi model mobilnya.
Bekas ban tak penting.
Ambil sampel cat mobilnya. Kirim ke lab untuk analisis.
Kita akan tahu semua tentang mobilnya.
Pak, mereka bukan teroris.
Mereka tidak tahu dia putri Duta Besar.
Jhimli.
Milik Jhimli, 'kan?
Putrimu sangat berani.
Mereka tak tahu Ruhani putri Duta Besar?
Apa itu tebakan?
Ya, tebakan. Tapi yang berguna. Aku punya alasan.
Pertama, tak ada surat tebusan.
Kedua, mereka menculik kedua anak itu.
Ketiga, anak-anak itu bermain di tanah.
Jadi, Ruhani pasti terlihat seperti anak dari desa.
Keempat, kedua anak itu tak biasanya ke sana.
Hanya kebetulan bermain di sana.
Tunggu. Itu baik atau buruk bagi kita?
Buruk. Karena penculiknya tak akan menghubungi kita.
Mereka tampaknya profesional. Mereka hilang.
Mungkin anak-anak ini akan dijual ke perdagangan orang atau pencuri organ.
Jika itu alasannya, mereka tidak akan ditemukan.
Jika mereka tahu siapa anak itu
dan sadar seberapa serius kejahatannya, mereka bahkan bisaโฆ
Membunuh Ruhani.
- Kau tak peka. - Maaf, Pak.
Kita tak ada waktu untuk peka. Begitu pun kedua anak itu.
Waktu amat penting. Aku butuh bantuanmu.
Tentu. Apa pun untuk putriku.
Ini bisnis bagi mereka.
Mereka paham untung dan ruginya.
Kita beri tahu saja keuntungan jika Ruhani tetap hidup.
Tapi aku janji,
pelaku perdagangan ini akan menghubungi kalian malam ini.
Kurang 15.000.
Amma bilang satu juta rupe per anak.
Totalnya dua juta.
Apa kau lupa matematika dan lupa siapa diri kalian? Pergi!
Dan ya, kontrak masih berlaku. Cari lagi anak gadis sebanyak mungkin.
Kasus penculikan mengejutkan di Bulandshahr telah terungkap.
Dua gadis muda telah menghilang dalam keadaan misterius.
Dua gelas air!
- Penculikan itu terjadi Sabtu laluโฆ - Selesai. Aku lapar sekali.
- Mobil sudah diparkir? - Ya.
Ruhani, gadis yang lebih tua, adalah putri Duta Besar Sahu.
Dia telah menyampaikan permohonan terbuka.
Putriku, Ruhani, terakhir terlihat di Bulandshahr.
Jika ada yang punya informasi, mohon hubungi nomor ini.
Ada hadiah sebesar 20 juta rupe.
Itu pesan dari Duta Besar Sahu.
Polisi menjadikan kasus ini prioritas utama.
Hadiahnya lumayan!
Tapi apa sepadan berurusan dengan Amma?
No comments yet. Be the first to leave one.