Release info

Titip Surat Untuk Tuhan 2024 INDONESIAN WEBRip NF
A Commentary by tedi
Retail NF | 1:20:38 Fix common errors

Tags

webdl
Published on: 2024-07-05
Downloads: 112
Hearing Impaired: No

Indonesian subtitle preview

The first 200 lines.

Sesungguhnya Allah SWT apabila mencintai sesuatu kaum,

akan diuji lebih dahulu.

Barang siapa yang rela mendapat ujian itu, maka mendapat keridhoan Allah.

Dan sebaliknya, barang siapa membenci ujian dari Allah,

maka mereka akan mendapat kemurkaan dari Allah SWT.

Saya mau ketemu Tuhan.

Nak.

Sini. Duduk sini.

Kamu mau ketemu siapa?

Mau ketemu Tuhan.

Tapi nggak tahu rumahnya di mana.

Tulus, jangan jajan di sekolah, ya.

Tadi sudah dibawain bekal kan, sama Ibu, ya? Oke?

- Oke. - Oke.

- Selamat siang. - Pak Satrio.

Dengan siapa?

Saya Saskia. Saya telepon Bapak berkali-kali.

Saya mau ketemu Pak Satrio.

Silakan duduk.

Ya?

Gini, Pak. Saya butuh bantuan Bapak.

Ibu Saskia,

saya sangat menghormati Ibu.

Tapi tolong jangan paksa saya untuk melakukannya.

Saya tidak akan melakukannya.

Dan yang terakhir, tolong jangan pernah datang ke sini lagi.

Jangan ganggu saya dan telepon saya lagi.

Saskia paham?

Mas,

kalau Bu Saskia maksa...

terus gimana, Mas?

Kamu ragu sama aku, Ri?

Kamu lupa kenapa milih aku jadi suami kamu?

- Lupa. - Tuh.

Yah, kamu tuh, ya.

Bisa dapat mantri, bisa dapat dokter, juragan kambing, juragan sayur,

kok ya milihnya aku? Aku yang jujur gini.

Jujur tuh melarat lo, Ri. Melarat.

Mas,

kalau melarat itu, kalau inginnya banyak.

Buat apa kaya kalau hati merana?

Yang penting bahagia.

Memang kenapa sih?

Kamu nyesel jadi suamiku?

Kok kamu tahu?

Aku nyesel.

Aku nyesel telat melamar kamu.

- Norak. - Benar.

Kalau aku nggak telat ngelamar kamu, coba ini, ini yang kamu lipat ini segini.

Setengah lusin anak kita.

Nggak mungkin kamu cuma ngelipat dua, ini nggak mungkin.

Setengah lusin yang kamu lipat.

Asalamualaikum warahmatullah.

Adikmu mana?

- Tidur. - Bangunin dong.

Nggak usah dipegang.

- Berantem terus. - Gak pernah denger orang.

Korek kupingnya. Korek.

- Dia begitu. - Sudah.

- Sudah mau makan lo. - Gak pernah mau dengerin siapa-siapa.

- Itu makananmu? - Enak saja.

Gak mau, aku yang pilih.

Bu, kenapa sih selalu Bapak dulu yang dikasih piringnya,

terus Mbak Dinda, terus baru ke aku?

Kan aku yang paling kecil,

harusnya kan aku yang dikasih pertama makanannya.

Kamu gitu saja baper.

Tuh lihat, Ibu saja selalu nyendok makanannya terakhir.

Ibu ladenin kita dulu.

Jadi, kenapa Bapak duluan yang Ibu ladeni,

karena Bapak kan imam keluarga,

yang cari nafkah buat keluarga kita.

Jadi, ya pantas toh kalau Ibu ngeladenin Bapak duluan.

Kalau Mbak Dinda kan perempuan, jadi wajar kalau perempuan diduluin.

Dengar tuh.

Kamu masa anak laki pengen duluan.

Bapak itu kan raja.

Berarti aku raja kecil dong?

Raja kecil.

Raja kecil nggak pernah mau ikut salat subuh.

Memang Bapak nggak capek salat terus?

Nggak dong. Nggak boleh capek.

Salat itu kan cara kita berkomunikasi dengan Tuhan.

Cara kita berdoa juga kepada Tuhan. Ya, 'kan?

Memang doa itu buat apa sih?

Kita berdoa supaya kita dikasih kesehatan.

Mbak Dinda sehat, Ibu sehat, Tulus juga sehat.

Kita semua dalam lindungan Tuhan, dikasih rezeki.

Ini makanan enak seperti ini karena apa?

Ya, karena kita berdoa kepada Tuhan.

Berarti Bapak bisa minta TV baru ke Tuhan, 'kan?

Biar kita nggak rebutan lagi nontonnya nih.

Tapi aku yang make TV barunya.

Emang Tuhan ada di mana sih, Pak?

Jadi, kalau nanti Tulus mau nanya, mau berdoa,

atau mau ketemu sama Tuhan, bisa gitu.

Tuhan itu ada di dalam hati setiap ciptaan-Nya.

Hai, kalian!

- Sudah kerjain PR? - Sudah.

Aku belum.

Oke, Nak.

Yuk, turun.

- Selamat belajar. - Dah.

- Asalamualaikum, Pak. - Waalaikumsalam.

Halo?

Pak, tolonglah, Pak.

Ibu cari orang lain saja.

Saya nggak bisa bantu Ibu.

Ya?

Maaf, Bu.

Bilang saja kalau bapakmu nggak mampu untuk bayarin kamu ikut karyawisata.

Kalau nggak punya duit, nggak usah ikut!

Iya, miskin!

Narti miskin!

Narti miskin!

- Hei! - Kenapa?

Bapakku nggak punya duit buat bayarin karyawisata.

Ya, sudah. Kamu berdoa saja ke Tuhan, ya.

Biar bapak kamu bisa dapat uang,

jadi kamu bisa ikut karyawisata juga. Ya?

Tulus sok tahu!

Memangnya kamu pernah ketemu sama Tuhan?

Kalau kamu mau ketemu sama Tuhan tuh harus mati dulu, baru bisa ketemu.

Nggak jelas!

Tulus gila!

Lo, kok namamu jadi "Elsa" sih?

Kamu tuh ndeso.

Elsa itu namaku di Jakarta.

Pokoknya kalau kalian mau sukses, kalian tinggal hubungi aku, ya.

Nanti aku kasih nama yang bagus-bagus.

Siti, kamu aku kasih nama Nancy.

Nur, kamu aku kasih nama Cindy.

Sudah, gak usah banyak omong. Mending sekarang kalian makan.

Sepuasnya.

Kalau perlu, nanti pesan lagi.

Kapan lagi kan kalian bisa makan di restoran mentereng kayak gini.

Kamu hebat, ya, sekarang sudah sukses.

Tapi mestinya kita makan di Gudeg Mbok Prapti saja.

Mahal.

Aduh, Tar.

Bagiku, uang itu nggak ada serinya.

Kamu mau tahu harga tasku ini berapa?

- Berapa? - Bisa buat beli rumah.

Pegang. Cium, cium. Hirup aromanya.

Pegang, oper, oper.

Itu dari kulit buaya asli.

Oper, oper. Biar kebagian semua.

Memang ini kulit buaya asli?

Ya, kulit buaya beneran toh, Darmi. Itu crocodile, kulit crocodile. Oper.

Tulus, Mbak Dinda di mana?

- Di dalam. - Sini.

- Pak. Dok. - Ibu.

- Dinda... - Tidak ada yang perlu dikhawatirkan, Bu.

Hanya mata Dinda memerah sedikit karena kena benturan bola.

Nanti saya bantu buatkan resep.

Nanti ada dua obat.

Satu diminum dan satu lagi salep untuk dioles di mata Dinda.

Ya, Dok.

Nanti kita lihat perkembangan tiga hari ke depan.

Jika timbul bengkak dan Dinda merasa pusing,

saran saya, segera bawa Dinda kembali untuk dirujukkan ke rumah sakit.

- Ini suratnya. - Ya, Dok.

Tulus, ayo dong. Nggak usah dihabisin.

Sini, Bapak tahu.

Ya sudah, sayurnya saja.

Nggak, nanti dulu.

Ya, makanya cepat diselesaikan, baru lanjut PR. Ayo.

Ini PR-nya sedikit lagi. Ini, tuh. Sedikit lagi.

Sudah dioleskan salep, 'kan?

Kata Dokter juga nggak apa-apa kok.

- Asalamualaikum warahmatullah. - Asalamualaikum warahmatullah.

Dinda mana, Ri?

Masih tidur, Pak.

Nanti aku lihat.

Nak.

Salat, yuk.

Dinda? Mbak?

Mas!

- Ya, Ri? - Mas!

Mas coba, Mas. Lihat Dinda sebentar, Mas.

Din?

Din?

- Ayo bangun, Nak. - Mas, coba lihat dulu, Mas. Dinda.

Mas, kok merah banget, Mas?

- Sayang, bangun. - Nggak apa-apa, 'kan?

Sakit nggak? Sakit nggak matanya?

Sakit?

Mohon maaf, Bapak, Ibu,

saya belum dapat memastikan apa yang sedang Dinda alami.

Lalu bagaimana, ya, Dok?

Dinda harus diperiksa di rumah sakit lebih besar

untuk dilakukan CT scan dan alat tes lainnya.

Bapak Ibu tak perlu khawatir,

nanti kami akan bantu buatkan surat rujukannya.

Ya.

Jadi, gimana ya, Mas?

Aku bingung.

Iya, aku tahu.

Tuhan pasti akan memberikan jalan yang terbaik.

Kalau Tuhan ingat sama kita.

Leave a Letter to God subtitles in other languages

Comments

No comments yet. Be the first to leave one.

Keep it about this subtitle — sync, quality, typos.500 characters left