The first 200 lines.
Ini kisah Jattawa.
Gadis biasa 19 tahun
yang terlihat sama seperti gadis lain,
tetapi punya rahasia tersembunyi yang luar biasa.
Dia juga akan segera menjadi jaksa.
Permisi.
Jattawa, sebelah sana.
- Berikutnya... - Baiklah.
adalah penampilan spesial dari kelinci saku kita.
Luna!
Hai.
Namun, perjalanannya menjadi jaksa tak semudah kelihatannya.
Taruh saja di sini.
Baiklah.
Ini upahmu untuk hari ini.
Terima kasih banyak. Aku permisi.
Baiklah, jaga dirimu!
- Dah. - Dah.
Jattawa, tunggu!
- Ya? - Ini.
Hidup Jattawa tak punya 'keberuntungan'.
Awas!
Namun, dia punya rahasia yang tak bergantung pada keberuntungan.
Ini rahasia utamanya.
Jattawa memiliki kemampuan mengendalikan waktu
dan menghentikan waktu sesuai yang dia mau.
Dia juga bisa memutar kembali waktu...
dengan batas maksimal sepuluh menit sebelum masa kini.
Pak, hati-hati dengan kabel ini.
Kabelnya menyangkut di tiang. Jangan ditarik.
- Taruh saja di sini. - Baiklah.
Ini upahmu untuk hari ini.
Terima kasih banyak.
Kau punya sesuatu untukku?
Ya, aku hampir lupa.
Bagaimana kau tahu?
Ini.
Terima kasih banyak.
Selamat atas ujianmu. Apa jurusannya?
Fakultas Hukum, tetapi hanya untuk ujian tertulis.
Aku ada ujian lisan besok.
Kau pasti bisa.
Nilaimu tertinggi dalam ujian tulis. Kau pasti lulus ujian lisan.
Kau cerdas dan pekerja keras.
Baik kalau begitu, aku permisi.
- Baiklah. - Selamat tinggal.
Jattawa punya adik perempuan. Usianya 15 tahun.
Dia juga baik, cerdas, dan menggemaskan. Namanya adalah...
Vivi! Tolong bukakan pintunya.
Baiklah.
Kau dapat camilan dari acara itu?
Kau melihatnya dalam visimu?
Aku ingin punya kekuatan meramal masa depan
agar aku bisa kaya dengan meramal.
Omong kosong. Aku hanya bisa melihat masa depan kita.
Lagi pula, tak bisa dikendalikan sepertimu.
Kau bisa memutar waktu kapan pun kau mau.
Bisakah aku punya kekuatan dan jadi kaya?
Setelah kau jadi jaksa, kita akan nyaman.
Bukan jaksa. Sudah kubilang aku ingin jadi pengacara.
Kau pasti lelah karena bekerja dan belajar.
Karena hidup kita hanya berdua.
Aku punya pekerjaan,
dan tugasmu membuatkanku makanan dan mencegahku kelaparan.
Sepakat?
Baik. Kubuatkan makan malam untuk membuatmu segar.
Terdengar bagus, bawakan hidangan lengkap!
Dimengerti!
Vivi!
Jattawa! Aku baru dapat penglihatan.
Penglihatan?
Kulihat kau akan bertemu belahan jiwamu.
Belahan jiwa?
Seperti apa dia? Tampan?
Aku tak yakin, aku hanya bisa melihat siluetnya.
Namun, besok aku harus bekerja setelah ujian.
Aku tak punya waktu untuk bertemu "belahan jiwa".
Namun, suasananya sangat romantis, Jattawa!
Sungguh?
Kau akan bertemu belahan jiwamu setelah salju turun!
- Salju turun? - Ya.
Di Bangkok?
Yang benar saja!
Itu bukan penglihatan. Itu khayalan.
Dan belahan jiwa itu juga.
Omong kosong. Sampai jumpa!
Namun, itu benar, Jattawa!
Jattawa!
Ada taman kecil di universitas
tempatmu bertemu belahan jiwamu.
Bagaimana aku bertemu belahan jiwaku?
Permisi.
Kau tahu di mana gedung fakultas hukum?
Kau di sini untuk ujian?
Gedungnya ada di sana.
Terima kasih.
Namun, pendaftaran sudah tutup.
Apa?
- Tunggu! - Ya?
Kau baru menyeberang, bukan?
Apa? Panasnya memengaruhimu? Dah.
Maaf, daftar di sini dahulu.
Masih dibuka?
Ya, masih.
Sudah kubilang pendaftaran ditutup.
Mereka pindah ke depan ruang ujian.
Lain kali, dengarkan dahulu.
Siapa namamu?
Jattawa Piengpradabkwan.
Tulislah namamu di sini.
Tunggu di depan ruangan.
Terima kasih.
Jattawa, nama yang aneh.
Hanya ini alasanmu ingin jadi pengacara?
Aku merasa gajinya cukup besar bagiku.
Jika kita tak ada gaji, apa yang ingin kau lakukan?
Jika uang tak ada, aku tak mau melakukan apa pun.
Itu buruk sekali. Aku akan mengulanginya.
Aku sudah gunakan kekuatanku. Semua karena dia.
Calon berikutnya.
Baiklah.
Jangan dia lagi.
Hei, itu Soulmate!
Bukan!
Ya, benar! Lihatlah!
Produksi tahun ini dari klub drama.
Kau selalu terlalu cepat.
Aku Top.
Aku Khun.
Kau putra duta besar. Semua orang mengenalmu.
Aku Jattawa, kau bisa memanggilku Wa.
Baiklah, Wa.
Namun, kita tak akan bertemu lagi.
Kenapa begitu?
Wawancaraku tak berjalan lancar.
Ujiannya tak terlalu sulit.
Mereka hanya ingin tahu kau tak gila.
Dan kau tampak... waras bagiku.
Kau seharusnya bisa lolos.
- Sungguh? - Ya.
Aku lega.
Kalian mau ke acara perpeloncoan siswa?
Aku belum tahu. Lihat nanti.
Begitu?
Kurasa aku tidak. Aku harus bekerja.
Kau pekerja keras.
Aku akan memberitahumu jika ada drama nanti.
Aku tak punya waktu untuk drama apa pun.
Aku harus pergi.
Terima kasih banyak, Top. Kau juga.
Dah.
Dia selalu terburu-buru.
Hai, Paman.
Berangkat kerja?
Ya.
Kulihat gerbangnya rusak, jadi aku memperbaikinya.
Terima kasih banyak. Aku pergi sekarang.
Tunggu!
Selamat sudah lulus ujian.
Ini, ambil ini. Rayakan dengan adikmu.
Tidak perlu, Paman.
Kami cukup dengan bantuan Paman biasanya.
Ambillah. Ayahmu menyuruhku menjaga kalian.
Itu yang bisa kulakukan.
Terima kasih banyak, Paman. Aku benar-benar harus pergi.
Dilihat dari ukuran rumah mereka,
kurasa mereka tak keberatan pizanya terlambat dua menit.
Biayanya 512 baht.
Gratis, telat 30 menit.
Hanya dua menit.
Mau bicara dengan pemilik rumah?
Pekerja sepertiku, kenapa aku dirundung?
Kalau pakai jurus ini?
Nona, tolong bantu aku.
Tolong beri tahu dia untuk membantuku.
Kumohon.
Jika kau tak membantuku,
aku harus bayar pizanya, dan aku tak akan dibayar.
Tolong bantu aku.
Tolong bicara dengan pemilik rumah.
Kenapa aku harus peduli?
Apa yang harus kulakukan?
HARI ORIENTASI
"HATI-HATI DI JALAN, AWAS SALJU."
Dia tak akan menyerah, Vivi.
Tak akan turun salju.
"ceritakan lagi tentang belahan jiwamu nanti."
"Tak ada yang perlu diceritakan. Tak ada salju, tak ada belahan jiwa."
Apa yang kau lihat?
Four, ayo pergi ke orientasi. Kita terlambat.
Aku datang.
Four...
Lima, empat, tiga, dua, satu.
Aku pulang.
Bagaimana, Jattawa?
Lelah seperti biasa.
Minumlah.
Maksudku belahan jiwamu saat salju turun.
Ya, bukan? Kau akan bertemu belahan jiwa saat turun salju.
Berarti orang yang kau temui itu pasti belahan jiwamu.
No comments yet. Be the first to leave one.