The first 200 lines.
"PARASITE"
Celakalah kita.
Tidak ada lagi Wi-Fi gratis.
Hei, Ki-jung!
Ya?
Bibi di lantai atas memasang kata sandi pada 'iptime'.
Kata sandi?
Apa kau sudah mencoba 123456789?
Tidak bisa.
Coba sebaliknya.
Aku sudah mencobanya juga!
Astaga,
kalau begitu, kita tidak bisa menggunakan WhatsApp?
Tidak bisa.
Hei, Kim Ki-taek.
Jangan pura-pura tidur. Bagaimana menurutmu?
Telepon kita mati.
Sekarang Wi-Fi kita mati.
Apa rencanamu?
- Ki-woo. - Ya, Ayah?
Untuk Wi-Fi-nya, pegang ponselnya tinggi-tinggi.
Tempelkan di setiap sudut dan seterusnya.
Dasar serangga busuk.
Sebelah sini! Aku mendapatkannya!
Sungguh? Kau mendapatkan sinyal?
Ya, kau lihat?
Yang ini, 'coffeeland 2G'.
Apa ada kafe yang baru buka?
Kenapa aku tidak bisa mendapatkan sinyalnya?
Naik ke sini.
Hei, Anak-anak.
- Apa Wi-Fi-nya bisa? - Ya.
Kalau begitu, periksa WhatsApp.
Pizza Generation bilang mereka akan menghubungiku.
Sebentar.
Ini dia. Pizza Generation.
Astaga! Lihat ini.
Jika kita bisa secepat dia,
kita bisa menyelesaikannya hari ini.
Dengan begitu, kita bisa mendapatkan upah.
Apa kita harus berdiri juga?
Dia adalah seorang profesional.
Apa? Ada pengasapan?
Mereka masih melakukan hal semacam itu?
Sepertinya begitu.
Tutup jendelanya.
Biarkan terbuka. Kita akan dapat pengasapan gratis.
Itu akan membunuh serangganya juga.
Benar, akhir-akhir ini banyak sekali serangga...
Astaga, baunya!
Sudah kubilang tutup jendelanya!
Haruskah aku menutupnya, Ayah?
Apa masalahnya?
Contohnya, yang ini.
Kau menyebut ini garis lurus?
Lalu, kenapa ada lipatan di sini?
Kenapa ini mencuat?
Kau bahkan tidak melipatnya.
Seperempat dari totalnya terlihat seperti ini.
Jadi, 1 dari 4 adalah barang cacat.
Jadi, kau memotong 10% dari upah kami?
Dilihat dari jumlah barang cacatnya,
potongannya rendah, bukan?
Upah kami sudah sangat rendah!
Teganya kau melakukan ini!
Dengar.
Ini bukan masalah kecil.
Kau tahu satu kotak cacat
bisa memengaruhi citra merek kami?
Merek?
Kau bahkan tidak mampu mempekerjakan pelipat kotak piza!
Kau bilang apa?
Bos.
Ini semua karena pria itu, 'kan?
Siapa?
Pekerja paruh waktumu. Dia absen tanpa pemberitahuan, 'kan?
Tepat ketika Gereja Kasih Tuhan memesan
dalam jumlah besar?
Bagaimana kau tahu semua itu?
Siapa yang memberitahumu?
Adikku kenal pria itu.
Dia memang agak aneh.
Reputasinya buruk.
Omong-omong, Bos.
Kami akan menerima potongan 10%.
Sebagai gantinya...
Sebagai gantinya?
Kau punya rencana mempekerjakan pekerja paruh waktu baru?
Kak, kita butuh seseorang!
Pecat saja pekerja yang kau punya sekarang.
Besok aku akan datang untuk wawancara. Jam berapa?
Tunggu sebentar.
Biar kupertimbangkan dahulu.
Kalau begitu, untuk sekarang, bayar saja kotak-kotak itu.
Jadi, kita semua berkumpul di sini hari ini,
untuk merayakan tersambungnya lagi telepon kita,
dan Wi-Fi yang luar biasa ini!
Lihat pria itu. Ini bahkan belum malam.
Kenapa kau tidak memasang
tanda 'Dilarang Kencing'?
- Aku sudah menyuruhmu! - Tidak perlu.
Tanda seperti itu mendorong mereka lebih sering kencing di sana.
Setidaknya teriaki dia!
Jangan berteriak.
'Tolong jangan kencing di sana!'
Hei, bukankah itu Min?
Hei, Pak, itu bukan toilet.
Bagus sekali, Min.
Hei, Berandal!
Kau lihat apa?
Kemari kau!
Sadarlah!
Dia adalah teman yang hebat.
Mahasiswa memang pemberani.
Tidak seperti kakakku.
Namun, apa dia datang kemari?
- Apa kau mengundangnya? - Tidak.
Halo!
Hai, Min!
Min!
Apa kabar, Pak?
- Baik. - Apa yang kau lakukan di sini?
Aku sudah mengirimimu SMS. Apa kau tidak membacanya?
Maaf, apa kalian sedang makan?
Tidak, kami tidak sedang makan.
- Bagaimana kabarmu, Ki-jung? - Baik, kau?
Kita bisa bertemu di luar,
kenapa kau datang ke sini?
Karena ini.
Ini untukmu, tapi ini sangat berat.
Benarkah? Taruh di sini.
Astaga, apa itu?
Saat aku bilang akan menemui Ki-woo,
kakekku bersikeras menyuruhku membawakan ini kepadamu.
Apa ini jenis lanskap?
Atau kau bisa melihatnya sebagai jenis abstrak.
Astaga, kau tahu tentang ini!
Kakekku mengoleksi batu-batu seperti ini
sejak masa kadetnya.
Sekarang di ruang dokumen, ruang kerja, setiap kamar di rumah
dipenuhi benda-benda seperti ini.
Namun, konon batu ini bisa membawa kekayaan bagi keluarga...
Min!
Ini sangat metaforis.
Benar. Ini adalah hadiah yang sangat tepat.
Tentu.
Tolong sampaikan terima kasih kami kepada kakekmu.
Makanan akan lebih bagus.
Apa namanya ini? Batu lanskap?
Kau mengoleksi batu-batu itu juga?
Hei, berkat batu itu
aku bertemu orang tuamu.
Mereka terlihat sehat.
Mereka sehat,
hanya saja tak punya pekerjaan.
Apa Ki-jung tidak ikut les?
Dia tidak sanggup membayar uang les.
Manis, 'kan?
Kau mengajarnya?
Park Da-hye. SMA kelas 2.
Ambil alih pekerjaan sebagai guru bahasa Inggris-nya.
Apa maksudmu?
Mengajar anak orang kaya. Bayarannya besar.
Dia gadis yang baik.
Jaga dia selagi aku berkuliah di luar negeri.
Bagaimana dengan teman-teman kuliahmu?
Kenapa kau meminta tolong kepada pecundang seperti aku?
Menurutmu?
Memikirkannya saja membuatku muak.
Sekelompok mahasiswa menjijikkan memperebutkan Da-hye?
Itu menjijikkan.
Kau menyukainya?
Hei, aku serius.
Saat dia masuk universitas,
aku akan secara resmi mengajaknya kencan.
Jadi, jaga dia sampai saat itu tiba.
Jika kau yang mengurusnya, aku bisa pergi dengan tenang.
Terima kasih atas kepercayaanmu,
tapi apa aku harus berpura-pura menjadi mahasiswa?
Ki-woo, pikirkanlah.
Selama bertahun-tahun termasuk wajib militermu,
kau mengikuti ujian masuk universitas 4 kali.
Tata bahasa, kosakata, komposisi, percakapan...
Untuk urusan bahasa Inggris,
kau bisa mengajar 10 kali lipat lebih baik
dibandingkan mahasiswa yang gemar mabuk-mabukan itu.
- Kurasa begitu. - Tentu saja!
Namun, apa mereka akan mempekerjakanku?
Aku bukan mahasiswa.
Palsukan saja.
Jangan cemas, kau mendapatkan rekomendasiku, ditambah...
Bagaimana aku menggambarkan ibunya...
Dia agak simpel.
Muda dan simpel.
Simpel?
Apa maksudmu?
Pokoknya, semuanya bagus.
Aku senang di sana.
Jadi, kau setuju?
Kurasa begitu.
No comments yet. Be the first to leave one.