The first 121 lines.
Kelopak bunga sakura jatuh bagai hujan yang membasahi pipiku.
Aku menangis seorang diri di tengah kelopak bunga yang berguguran.
Hangatnya sinar matahari musim semi,
sinar matahari musim panas di antara pepohonan,
sinar matahari yang melewati awan musim gugur,
dan cahaya pagi yang memantul di salju...
Tidak ada satu pun yang menyinariku.
Aku bahkan tidak tahu apa itu kebahagiaan.
Karena harapan sekecil apa pun selalu lenyap tepat di depan mataku.
Aku selalu hidup dengan berpikir
aku tidak dibutuhkan di dunia ini.
Hingga hari saat aku bertemu dengan pria itu.
EPISODE 1 PERTEMUAN
Apa ini?
Teh hijau ini terlalu pahit untuk diminum!
Maaf.
Cepat buat yang baru!
Miyo, jangan membungkuk saja. Cepat kerjakan.
Baik, Nyonya.
Permisi.
Payah. Membuat teh saja tidak bisa.
Apa dia tidak malu sebagai putri keluarga Saimori?
Tidak seperti Kaya, dia ceroboh. Sama seperti ibunya.
Kanoko. Kau mau menyalahkanku?
Dia, kan, putrimu, Shinichi.
Sudahlah. Itu sudah lama sekali.
Selamat pagi, Tuan Tatsuishi. Ada perlu apa hari ini?
Aku harus bicara sebentar dengan Shinichi.
Ini makanan untuk para pelayan.
Terima kasih banyak.
Sama-sama. Baiklah, permisi, ya.
Tuan Tatsuishi tadi kemari. Apa ini soal lamaran pernikahan?
Nona Miyo dan Nona Kaya sudah pantas menikah.
Nona Miyo sudah 19 tahun.
Namun, karena ayah mereka seperti itu, mungkin untuk Nona Kaya, bukan dia.
Jangan mengobrol terus!
Siapa pun yang tidak selesai mencuci pakaian, tidak boleh makan!
- Maaf, Bu. - Maaf, Bu.
Ada yang bisa ke ruang tamu?
Hei, Nyonya memanggil!
- Kami segera ke sana! - Kami segera ke sana!
Lamaran pernikahan?
Hari ini juga menyapu halaman? Rajin sekali.
Koji.
Ayahku datang untuk rapat kepala keluarga dengan ayahmu.
Aku datang sebagai pendampingnya.
Terima kasih sudah datang.
Sebenarnya itu hanya alasan. Aku hanya ingin mengobrol denganmu, Miyo.
Miyo, perlihatkan tanganmu.
Susu?
Karamel susu. Ini permen yang manis dan enak.
Waktu kali pertama kucoba, rasanya luar biasa.
Syukurlah kalau kau suka.
Kakakku yang suka barang baru dan populer yang membelinya.
Ini enak sekali.
Kalau mau, nanti kubawakan lagi.
Kalau aku bisa membuatmu tersenyum, maka harganya sepadan.
Terima kasih.
Andai kita bisa menghabiskan waktu seperti ini selamanya.
Miyo,
aku ingin menolongmu.
Rasanya kau selalu menolongku, Koji.
Aku hanya pria biasa, tetapi aku ingin menjadi kekuatanmu.
Aku akan melakukan apa pun agar kau selalu tersenyum.
Semoga kau tak keberatan.
Ayah, apa aku boleh beli kimono baru untuk dipakai ke Sekolah Perempuan?
Benar juga. Sebentar lagi semester baru, ya?
Kalau begitu, beli saja beberapa.
Astaga! Benarkah?
Terima kasih, Ayah!
Shinichi, kau selalu memanjakan Kaya.
Karena kimonoku sudah lusuh.
Miyo.
Ya?
Apa yang biasa kau lakukan di siang hari?
Bersih-bersih di sekitar rumah.
Begitukah?
Pastikan lusa siang kau ada di rumah.
Mengerti?
Baik.
Dia memintaku ada di sini, meski aku diperlakukan bagai pelayan.
Padahal itu tidak perlu.
Aku tidak pernah keluar dari lingkungan rumah ini.
Ibu?
Ada yang lihat ibuku, tidak?
Nyonya Saimori sedang di paviliun.
Nona mau pergi?
Ya. Aku mau membuat kimono baru untuk semester baru.
Namun, daripada itu...
Kakak, bagaimana kalau kau menyeka wajahmu?
Buruk sekali.
Apa?
Nona Miyo, di wajahmu ada jelaga.
Jangan menyapa tamu kita dengan wajah seperti itu, ya.
Kakak sudah cukup memalukan bagi keluarga Saimori.
Maafkan aku.
Miyo...
Koji.
Selamat pagi. Tumben memakai baju Barat.
Cocok sekali denganmu.
Hari ini ada perlu apa?
Ada hal penting yang harus dibicarakan dengan ayahmu.
Ayahku?
Ini.
Aku bawakan permen. Makanlah dengan semuanya.
Terima kasih.
Kalau begitu, sampai nanti.
Koji?
Kenapa menjadi begini?
Nona Miyo.
Tuan Saimori memanggilmu.
Apa?
Nona diminta segera ke ruang tamu.
Baik.
Pastikan lusa siang kau ada di rumah.
Mengerti?
Jangan terlalu berharap.
Ini pasti sesuatu yang buruk.
Aku tidak boleh mengharapkan...
lamaran pernikahan dari Koji.
Seharusnya begitu, tetapi...
No comments yet. Be the first to leave one.