The first 200 lines.
Tolong!
Batu Jagat.
Diturunkan Sang Penerang
sebagai penyeimbang Jagat Arwah dan Jagat Manusia.
Menyimpan daya yang terkisah dalam legenda.
Mampu melipat langit
dan menggulung bumi.
Kejahatan yang disebarkan oleh Sang Kegelapan
membuat Batu Jagat yang seharusnya memendarkan terang,
kini menjadi pusaran ambisi,
dengki, dan ketamakan bagi para pencari kuasa.
Gelap dan terang berubah
menjadi merah.
Sang Penerang bertindak.
Ia memilih wangsa yang luhur dan murni untuk menjaga Batu Jagat.
Wangsa Aditya.
Dengan kemurnian niatnya,
Wangsa Aditya memilih para arwah yang mempunyai kebaikan,
bersama-sama untuk mengemban tugas mulia tersebut.
Makhluk-makhluk kegelapan itu selalu tetap ada
dan terus mengintai
untuk bisa mengoyak tubuh Aditya
dan merebut Batu Jagat.
Semenjak hari itu,
Wangsa Aditya menerima takdir
yang akan terus ditempuh sampai generasi-generasi berikutnya.
Sebagai penjaga Batu Jagat.
Wah!
Rekaman.
Rekaman. Ya, nggak, Ga, Za?
- Rekaman. - Bentar dulu.
Bentar dulu.
Nih.
Jadi, ingat, nih. Aku kemarin dikasih ini sama temanku.
- Apaan, sih? - Lihat dulu.
Kosan.
Gimana?
Jelek.
Jelek. Lihat dulu, nih.
Ini, dekat sama kantor label.
- Kantor label? - Iya!
Sekitarnya banyak tempat audisi.
Raga.
Kantor label, Ga.
Produser. Rekaman.
Ke Segitiga Emas, nih, Ga.
Ambillah.
Ga, kesempatan.
Ambil, nggak?
Hei.
Ditanya. Ambil, nggak?
Ga, kamu belum ngomong, ya, sama bapakmu?
Ya, elah, Ga.
Kalau gini caranya,
band kita bukannya jalan di tempat, Ga.
Mundur.
Iya.
Nanti pulang dari sini, aku ngomong sama Bapak.
Kalau mau nggak pulang,
jangan asal ninggal.
Jendela terbuka.
Pintu belakang belum dikunci.
Semua itu mulai dari yang kecil, Ga.
Terutama tanggung jawab.
Iya, Pak.
Pak.
Sebenarnya...
Monggo, Mas. Dipilih. Ini obat-obat herbal.
Jadi, nanti sampean kalau misalkan gatal-gatal, sampean masuk angin,
atau panas dalam,
sampean bisa minum obat ini.
Tinggal dicampur sedikit dengan teh.
Kemudian, nanti misalkan ada yang gatal-gatal,
mau langsung dioles pakai obat yang ini, Pak.
Nah, kalau yang ini...
bisa menghilangkan masuk angin juga.
Saat Bapak campur dengan teh,
nanti tinggal diminum sebelum tidur, Pak.
Monggo, ini bisa langsung jadi obat yang mujarab buat jenengan.
Gitu-gitu juga, dia bapakmu yang menghidupi kamu sampai sekarang.
Mau latihan band, ya?
Iya, Pak Le.
Nanti sore.
- Senarku nggak putus, Pak Le. - Coba lihat dulu.
Aku mau bilang sama Bapak.
Doain, ya, Pak Le.
Gitu, dong.
Nanti Pak Le bantu ngomong.
- Nggak usah, Pak Le. - Pak Le kompor-komporin.
Supaya nanti kamu ngomongnya jauh lebih enak.
Tenang aja.
- Pulang dari sini, aku bakal ngomong. - Pokoknya kamu tenang aja.
Hei.
Bapak sama Pak Le harus pergi.
Nitip lapak, ya.
Bisa.
Bisa, kok, Mas.
Hei. Namamu siapa?
- Sastro! - Oh, ya.
Sastro.
Kamu nggak boleh di sini, ya?
Kamu nggak boleh di sini, ya?
- Kamu... - Ini rumahku!
Kamu pilih pergi,
apa kamu saya usir?
Hey, Sastro.
Hei!
- Hei, tenang! - Diam!
Sudah. Yuk.
Ayo.
Sudah.
Yang kayak gitu aja kamu juga bisa, Jay.
Ya, maunya sama Mbah Sukmo.
- Gimana? - Mbah!
Anu, Mbah.
Maaf, Mbah.
Ini.
Saya... Saya cuma punya uang ini, Mbah.
Sudah. Bapak lebih butuh.
Nggih.
Ah...
Makasih, Mbah.
Sekali-sekali terimalah, Mas.
Motormu usianya udah sama kayak Raga, gitu, lho.
Gitu, ya?
Besok jadi?
Ya. Kayak biasa, ya.
Pergi!
Anak setan kamu, ya.
Bapak baru minta tolong kamu...
Untuk jaga lapak Bapak sebentar.
Gimana kalau kamu nanti dititipin lapak Bapak?
Bapak ngerti.
Nggak gampang ngadepin warga.
- Tapi harusnya kamu itu... - Nggak, Pak.
Aku nggak mau lapak Bapak.
Aku nggak mau, Pak, jauh-jauh ke kampung orang,
koar-koar jualan obat
cuma buat bahan ketawaan dan dipandang rendah sama orang.
Ini semua,
rumah ini,
obat-obatan,
semuanya hidup Bapak, Pak.
Bukan hidup Raga.
Itu hidup Raga, Pak.
Dan itu jadinya kalau aku maksa jalanin hidup Bapak.
Jadi, ini...
Yang dari kemarin pagi ingin kamu omongin?
Ini yang aku ingin omongin dari dulu, Pak.
Dan hari ini, aku mau bilang sama Bapak.
Aku mau pergi ke kota sama Bagas dan Riza, Pak.
Belum.
Belum apa, ya, Pak?
Tinggal sendiri di kota itu tanggung jawabnya besar, Ga.
Kamu belum siap.
Bapak tahu, nggak?
Apa yang bikin Raga nggak siap selama ini, Pak?
Bapak!
Dan Raga nggak akan pernah siap kalau Raga nggak pergi dari sini, Pak.
Sudah.
Ini bukan kamu yang ngomong.
Sudah.
Besok...
Sepulang Bapak belanja bahan-bahan obat dari kota,
kita ngobrol lagi. Ya?
Obatin lukanya.
Pak.
Aku ini nggak asal ngomong, Pak.
Bapak.
Bapak!
Ceritalah, Mas, ke Raga.
Belum saatnya.
Maaf, ya, Mas. Nanti aku nggak bisa jemput.
Aku ada tawaran kerjaan.
Ke luar kota.
Wow.
Aku pulang sendiri.
Ya?
Hati-hati, ya, Jay.
Mari, Mbah.
Ke sana.
Tinggal satu ini, Mbah,
yang tidak bisa dipindahkan.
Setiap ada yang mau memindahkan,
selalu gagal, Mbah.
Pasti celaka, Mbah! Tolong, Mbah.
- Bapak tunggu di luar, ya? - Oh, ya? Ya, Mbah.
Nggak usah disembunyiin kalau masih luka, Dru.
Pemulihan kamu itu penting.
Aku bisa urus sendiri yang ini.
Ya?
Masuk.
Raga.
Aditya.
Aditya.
Raga.
Aditya.
Aditya.
Aditya.
Raga.
No comments yet. Be the first to leave one.