The first 200 lines.
Sebelumnya di La Brea
Dalam penglihatanku, kau dikelilingi oleh bunga merah...
Kau sudah meninggal.
Jadi, kalian menemukan sesuatu?
Setelah semua yang kita lalui, kau masih tidak memercayaiku?
Ella tidak pernah meninggalkanku, tidak mungkin aku meninggalkannya.
Aku tidak akan selamat.
Aku menyayangimu.
Terkadang rasanya seperti orang lain sudah melanjutkan hidup.
Membuat kenangan baru di sini. Tapi kenanganku masih ada di rumah.
Perkembangan apa pun yang kau capai melawan kankermu...
Akan segera hilang jika kau tidak melakukan perawatan konsisten.
Kau harus ke klinik.
Tidak ada orang di sana, kau bisa ambil pilmu.
Proyek ini telah merampas segalanya dariku.
Aku harus menghentikannya.
Peledak itu akan menghancurkan gedung ini.
Aku berjanji kepada keluargaku untuk membawa mereka pulang.
Kau harus menyerah.
Ini tidak akan berhenti.
Levi?
- Kalian selamat. - Ya.
Bantu aku menyingkirkan ini dari tubuhnya.
Kita harus pergi. Kita kehabisan waktu.
Selamatkan diri kalian. Tinggalkan aku.
Ayah, jangan pergi. Kita harus membantunya.
Ayo!
Ty, cepat!
Kami akan mengangkatnya, kalian tarik dia keluar.
Tarik dia!
- Ayo cepat pergi. - Ayo.
Gedung itu telah lenyap.
Entah bagaimana cara kita pulang.
Kita akan mencari cara.
Aku sadar situasi terbaru kita tidaklah ideal.
Tapi saat orang melihat masalah, aku melihat kesempatan.
Karena kini gedung itu lenyap...
Tidak terbantahkan lagi kita di sini untuk jangka panjang.
Maka kita membutuhkan lingkungan yang lebih permanen.
Dimulai dengan struktur kepemimpinan.
- Maksudmu pemilihan? - Benar.
Seseorang harus memimpin.
Agar bisa bertahan, kita harus efisien.
Kurasa itu ide bagus.
Jika kita akan melakukan ini, aku akan mencalonkan diri.
Serius? Semacam calon non-unggulan? Aku suka itu.
Jika kita akan melakukan ini, kita butuh pengawasan.
Dengan ini, aku menunjuk diriku sebagai Komisaris Pemilihan.
Tolong hentikan.
Terlepas dari ocehannya...
Aku mau mencalonkan diri juga.
Mari luangkan beberapa jam...
Sebelum kita berkumpul kembali untuk pidato dan pemungutan suara.
Aku akan mengawasi. Jadi, jangan kira bisa menyuapku.
Baik.
Pemilihan umum.
Secara resmi kini kita menjadi komunitas, ya?
Menurutmu berapa pajak properti kita?
Tiga jeruk? Sekeranjang ikan?
Kau benar-benar menerimanya dengan tenang.
Kurasa kita tidak punya pilihan.
Kita kehilangan jalan pulang...
Kedua orang tuaku.
Aku hanya ingin fokus padamu, aku, dan anak-anak.
- Setuju? - Ya.
Tapi aku membelikanmu sesuatu.
- Apa ini? - Aku dapat dari pernikahan.
- Terima kasih, ini indah. - Ya.
Mungkin kita bisa jalan-jalan...
Dan aku bisa berterima kasih secara pribadi.
Aku suka itu.
- Kau punya banyak ide bagus. - Aku memang punya banyak ide bagus.
- Kau baik-baik saja? - Ya, tidak apa-apa.
Aku tidak apa-apa.
- Gavin, aku tidak apa-apa. Kenapa? - Aku tahu.
Aku pernah melihat luka ini.
Di dalam penglihatanku.
- Apa maksudmu? - Terlihat seperti luka baru.
Di telapak tanganmu. Ukuran dan letak yang sama.
Aku yakin itu hanya kebetulan.
Atau mungkin itu pertanda penglihatanku akan terwujud.
Jika kau lapar.
Ty.
Aku hanya ingin berterima kasih...
Karena membuat Paara mengizinkanku tinggal di sini sampai aku pulih.
Sepertinya kau tidak punya pilihan lain.
Kau benar.
Kini semua orang di tanah terbuka tak mau bicara denganku.
Aku yakin kau bisa memahami posisi mereka.
Ya, aku bisa.
Yang aku tidak bisa pahami, aku harus ke mana dari sini.
Mereka bilang udara segar sering kali adalah obat terbaik.
Mau jalan-jalan denganku?
Bagaimana menurutmu?
Aku ingin bertanya.
Kalian pernah melihat pohon dengan bunga merah di sekitar sini?
- Aku tidak pernah lihat. - Bu, tidak sesederhana itu.
Ya, pohon-pohon itu ada di mana-mana.
Kini kita bahkan tidak punya cara untuk pergi dari sini.
Tapi kita sudah menghadapi ini sejak kembali ke sini...
- Dan aku masih hidup. - Ibu, ini berbeda.
Ini hanya tantangan lain, bukan?
Ini hanya masalah lain yang harus kita atasi.
Ibumu benar.
Kita hanya perlu waspada dan terus menjalani hidup.
Baik, kita menjalani hidup.
Ya.
Baik. Aku mau menyelesaikan tugasku.
Aku akan membantu.
- Semua akan baik-baik saja. - Ya, aku tahu.
Karena aku tidak mau kehilanganmu.
Aku sedang menyusun rencana. Kita akan mencari jalan keluar.
Ada banyak hal yang aku pikirkan.
Banyak yang harus aku katakan.
Kita tidak perlu membahas semuanya sekarang.
Aku mau.
Sejujurnya, aku butuh teman bicara.
Levi, aku bukan terapismu.
Kau baik-baik saja?
Aku hanya sedikit pusing, tidak apa-apa.
Kau mungkin harus pergi tanpa aku.
Ini.
Aku ingin kembali sendirian.
- Tidak apa-apa, akan kutemani. - Tidak.
Sebagai catatan, aku sama sekali tidak baik-baik saja.
Aku mengidap kanker.
Lalu pil-pil yang seharusnya membantuku...
Hancur saat kau meledakkan gedung itu.
Ty, aku menyesal.
Kau menyesal?
Aku punya kesempatan kedua dalam hidup di sini.
Aku tidak sabar membina hidup bersama Paara.
Kini berapa pun sisa waktuku telah dipersingkat karenamu.
Seperti kataku, aku akan kembali sendirian.
- Hei. - Hei.
Bagaimana pidatonya?
Ini bukan pidato Gettysburg, tapi lumayan.
Hei, di mana cincin pernikahanmu?
Sudah hilang.
Kau tidak tampak terlalu mengkhawatirkannya.
Aku tidak tahu hilang di mana.
Aku ingat saat usiaku delapan tahun dan cincinmu hilang.
Kau memeriksa seisi rumah selama berhari-hari.
Itu hanya cincin.
Cincin itu berarti Ibu.
Itu berarti rumah. Kita memang terjebak saat ini.
Namun kita tidak boleh berhenti berjuang untuk pergi dari sini.
Tempat ini, baik atau buruk, adalah rumah kita.
Kita harus bangga dengan itu. Kita bisa melakukannya...
Sebagai permulaan, dengan membenahi diri kita sendiri.
Kau sedang melatih pidatomu?
Percayalah, aku harus melakukannya.
Berbicara di depan umum bukanlah keahlianku.
Itu mungkin hal termanis yang aku pernah lihat darimu.
Bagus, semoga mereka menganggapku lebih serius.
Ini sangat berarti bagimu, bukan?
Ya, kurasa begitu.
Aku merasa bisa membuat perbedaan.
Membantu orang-orang.
Akhirnya, kurasa akhirnya aku paham apa yang diinginkan ibuku.
Ella selalu punya firasat baik tentang dirimu.
Aku tahu kau merindukannya.
Ya.
Tapi aku berusaha fokus pada masa depan.
Jika koordinat ini adalah bagian dari sesuatu yang lebih besar...
Yang bisa membawa kita pulang...
Maka aku harus mencari tahu bagaimana caranya.
Kau sudah tahu bagian pertamanya.
Jika ada bagian lain, kau akan menemukannya.
Kemari.
Bibirmu dingin. Tanganmu basah juga.
Kau yakin tidak ada hal lain yang terjadi?
Tidak, aku baik-baik saja.
Sungguh?
Mungkin kau bisa minta Sam untuk memeriksamu.
Hei. Aku siap mendengar pidato itu, Paduka.
Jangan memanggilku begitu.
Aku baik-baik saja. Selesaikan pidatomu.
Aku mau memeriksa koordinat ini lagi.
Baik.
Bodoh.
Veronica?
Aku ingin membicarakan sesuatu.
Tentu, tentang apa?
Tentang koordinat yang kau pegang.
Levi.
Kiera, kau masih hidup.
Ya.
Aku kemari bukan untuk melawan.
- Lalu apa maumu? - Minta tolong.
Aku dan orang lain yang selamat dari kehancuran gedung itu...
Kami berusaha memulai kembali.
Kami membuat tempat berlindung di pos penelitian lama.
Kami punya makanan, obat, air...
Tapi kami butuh hal lainnya juga.
Apa hubungannya denganku?
Taamet bilang dia punya kotak brankas yang dikubur di desa.
Alat bertahan hidup tahun 10.000 SM berisi peralatan, senjata, benih.
Semua yang kita butuhkan untuk hidup di sini.
Kau ingin aku mengambilkannya untukmu?
No comments yet. Be the first to leave one.