The first 200 lines.
Halo?
- Antoine? - Aku sudah selesai.
- Hanya itu yang kau bawa? - Kita hanya pergi akhir pekan.
Astaga. Origami dan seni berkemas.
Jika kau adalah pakaian, kau kemeja yang terlipat sempurna.
Kau adalah bra olahraga putih yang tercampur saat dicuci.
Tidak, maaf, kau akan menjadi topi mandi.
- Kasar. - Kenapa mengemas semua pakaianmu?
Karena kau tidak mau memberitahuku ke mana kita akan pergi...
aku harus bersiap untuk setiap kemungkinan.
Ini seharusnya kejutan, tapi kita tidak akan terjun payung.
Juga tidak ada acara berkuda yang direncanakan.
- Apa itu membantu? - Kejutan membuatku pusing.
- Sulit. - Saat kecil, kejutan berarti...
"Ibu dan Ayah pergi ke Biarritz selama tiga bulan...
dan Gudrun sadis berkumis...
akan menjagamu, bukankah itu menyenangkan?"
Ini Georges Moutte. Aku baru menyadari panggilan tidak terjawab.
Aku harus melakukan ini setengah jam lagi.
Aku sudah mengatur ulang semuanya.
Telepon aku kembali.
- Terima kasih bantuanmu, Claude. - Tidak masalah, Pak Rodier.
Aku senang membantu.
Ini kabar baik tentang kau mendapatkan jabatan profesor itu.
Ini rahasia, ingat.
Aku belum mengatakan apa pun kepada siapa pun, aku janji.
Moutte sebaiknya menepati janjinya.
Jadi, siapa yang akan mendapatkan pekerjaan Moutte?
Kita akan tahu dalam dua jam.
Aku lebih peduli siapa yang dapat beasiswa.
- Aku juga. - Semoga pria terbaik menang.
- Ada sedikit bias gender di sana. - Selamat datang di duniaku.
- Semoga yang terbaik menang. - Maaf, orang terbaik.
Claude. Kami bertaruh siapa yang akan dapat pekerjaan Moutte.
- Annie Leonetti, Rodier, Rocchia. - Entahlah.
Sayangnya, tidak ada yang berpikir aku akan dapat beasiswa.
Tidak pernah diberikan ke wanita, Moutte juga bukan tipe pendobrak.
Tidak mungkin. Dia terjebak di abad yang salah.
Abad ke-14.
Ya, tidak?
Baik, kau menang.
Kita akan ke sini.
- Apa itu... Hotel Colombe! - Ya.
- Aku pernah ke sana. - Tidak! Seharusnya ini kejutan.
Kau ingat mantan menteri yang mencoba menyuapku...
yang memakai wig jelek?
Di sinilah dia mengatur pertemuan. Aku yang harus membayar.
Sebotol wine putih, dua gelas air. Aku harus ambil hipotek kedua.
Beruntung, aku yang bayar.
"G. Moutte, Direktur Departemen Sejarah Abad Pertengahan"
- Baiklah, ini dia. - Astaga.
Pemakaman nenekku lebih meriah dari ini.
Pergi ke bar? Hai, Doktor Leonetti.
- Hai, Anak-anak. Mau pesan apa? - Boleh aku minta wine merah?
Ya, sama. Pukul berapa pengumumannya?
Kalau begitu, akhir pekan penuh kemelaratan!
Pukul berapa kita harus pergi besok pagi?
Sekitar pukul 10.00. Jaraknya hanya satu jam.
Ada ranjang di kamar sebelah andai harus menghindari dengkurmu.
Tentu saja, bisa saja aku yang menghindari dengkuranmu.
- Kau yang mendengkur. - Aku hanya punya kata-katamu.
Untuk kita.
- Gugup? - Sedikit, itu gila.
- Entah, aku tidak akan dapat. - Hei!
Kau bisa jadi profesor baru kami malam ini.
Mari kita tunggu dan lihat, oke?
Aku ingin penjelasan, Georges.
Aku punya alasan yang sangat valid, Bernard...
tapi aku tidak bisa membahasnya di sini.
Ini... Aku tidak percaya ini.
- Biasakan dirimu. - Kau tahu, enyahlah, Georges!
Pak Rodier!
Nenekku berpikir tiram adalah pekerjaan iblis.
Dia orang Inggris, tentu saja...
dan bisa mengatakan itu sambil mengagumi sesuatu bernama Marmite.
Sesuatu yang dia kirim khusus dari London.
Marmite? Apa itu?
Hanya Tuhan yang tahu! Itu seperti aspal asin.
Mungkin produk sampingan Formica.
Clarence, apa yang Georges katakan untuk membuat Bernard keluar?
Aku tidak tahu.
Georges bukan orang yang tahu tempat, bukan?
Kalian bertiga siap untuk jabatan profesor, Bernard marah...
Giuseppe Rocchia belum siap. Syukurlah, dia mencemaskan...
yang tersisa hanya kau.
Mungkin mereka tahu sesuatu yang tidak kita ketahui.
- Ini dia. - Hadirin sekalian.
Kita berkumpul di apartemen indah ini...
di malam yang sempurna dan nyaman ini...
untuk pengumuman yang kalian tunggu.
Sepertinya aku akan mengecewakan kalian.
Aku tidak akan mengumumkan penerusku malam ini...
karena aku memutuskan untuk tidak pensiun.
Ini akibat, anggap saja...
atas keadaan di luar kendaliku.
Untuk Beasiswa Dumas...
aku akan membuat rekomendasiku di kemudian hari.
Ini pasti sangat mengecewakan bagi beberapa dari kalian...
tapi silakan ambil lebih banyak makanan dan wine.
Sekarang, permisi sebentar.
Ini gila! Dia bilang aku mendapatkannya.
Dia jelas menawarkan imbalan itu di depan semua orang.
- Pengkhianat berengsek. - Dasar berengsek.
- Dia mengatakan sesuatu kepadamu? - Dia tidak mengatakan apa pun.
Aku tiadk akan di sini dan minum wine murahnya. Aku akan ke gym.
Lihat siapa yang datang.
- Kau baik-baik saja, Sayang? - Ya.
Aku hanya sedikit terkejut.
Bisa permisi sebentar?
Georges Moutte, pria misterius internasional.
Astaga. Kapan ini terjadi?
Baik. Kau ingin aku melakukan apa?
Biar kucatat itu.
Itu berkemih terpanjang yang pernah dilakukan dalam sejarah berkemih.
Aku biasa membuka tutupnya dan berkemih seperti kuda.
Sekarang itu seperti kode Morse.
Titik, titik, garis, garis. Tetap di sana sepanjang malam.
Seberapa sering kau memikirkan kematian di hari biasa?
Sekali atau dua kali.
Aku selalu memikirkan itu.
Kau lebih tua dariku.
Untukmu, sebentar lagi.
Astaga, kau ceria, ya?
Aku memulangkan Garrigues, tidak banyak yang bisa dilakukan.
Terima kasih untuk semuanya, Annie. Aku menghargainya.
Aku harus pergi ke kantorku. Kau bisa keluar sendiri?
Tentu saja. Namun, Georges, apa yang baru terjadi malam ini?
Ada restoran yang aku tahu di dekat hotel.
Ada enam meja, chefnya genius...
tanpa busa atau sous vide.
- Antoine Verlaque. - Hakim!
Wakil Komisaris Paulik.
Wakil Komisaris baru kita, silakan.
- Bagaimana rasanya? - Terlambat.
Akan kuberi tahu saat kita bertemu. Bagaimana akhir pekanmu sejauh ini?
- Kau akan merusaknya, bukan? - Ya. Maaf, Hakim.
Ada pembunuhan di universitas. Seberapa cepat kau bisa kemari?
Kenapa mereka tidak bisa menunggu sampai Senin untuk membunuh?
Baiklah. Selamat tinggal, Hotel Colombe.
Itu berarti, tragisnya, kau akan melewatkan menu ranjang.
Aku ingin memesan yang berisi hop.
Aku kehilangan, aku selalu ingin tidur di pabrik bir.
- Ada informasi pembunuhan lagi? - Tidak, katanya hanya universitas.
Maafkan aku soal ini.
Pergi. Pergi!
Ini bukan salahmu.
Saatnya menilai esai yang kutunda. Beri tahu aku apa yang terjadi.
Baik, beri tahu aku.
Tunggu sebentar.
Hei, Lemoine, pergi atau aku akan menahanmu!
Itu sangat efisien. Siapa dia?
Penjahat seks terdaftar. Lututnya ditembak.
- Sampai di mana kita? - Apa kita tahu siapa korbannya?
Profesor Georges Moutte.
Forensik hampir selesai.
Pembersih menemukannya pukul 08.00 pagi ini, di belakang meja.
Kukira akhir pekanku berakhir buruk.
Mereka punya senjatanya?
Benda tumpul, hanya itu yang kita punya saat ini.
- Ada yang hilang? - Menurut sekretaris tidak ada.
Audrey Zacharie, dia tiba tepat sebelum polisi.
Laptopnya terbuka di meja. Tidak ada yang salah. Dia di bawah.
Kenapa aku masih di sini? Aku sudah bicara dengan polisi.
Aku Hakim Verlaque. Wakil Komisaris Paulik, kalian sudah bertemu.
Kami tidak akan menahanmu lebih lama dari yang diperlukan.
Aku seharusnya ada di barbeku keluarga.
Aku seharusnya berada di hotel butik di Luberon.
Aku yakin Profesor Moutte punya rencana sendiri untuk akhir pekan.
Namun, kita di sini, salah satu dari kita di kamar mayat.
- Berapa lama ini akan berlangsung? - Itu terserah padamu.
Kau tiba di sini pagi ini tepat sebelum polisi.
Apa kau biasanya datang pada hari Sabtu?
Profesor Moutte ada acara minum semalam,
aku ganti di sini sebelum pergi. Aku datang mengambil pakaianku.
- Ada alasan lain? - Tidak. Kenapa?
- Ada orang lain di sini? - Petugas kebersihan penemunya.
Dia histeris, jadi, aku pergi dengannya ke kantornya.
- Kurasa itu bukan perampokan. - Kenapa?
Dua vas Galet di kantornya masing-masing sekitar 10.000 euro.
Aku membaca sejarah seni, aku tahu tentang hal ini.
Kaca antik adalah hal penting bagi Profesor Moutte.
Begitu rupanya.
Dia seharusnya mengumumkan penerusnya semalam,
tapi sepertinya berubah pikiran tentang pensiun.
Bisakah kau menjelaskan itu?
- Aku juga sama terkejutnya. - Kau menyukainya?
Dia baik, ya.
- Dia memercayaiku. - Dengan apa?
Tidak, maksudku dia menghormatiku.
Dia tahu aku lebih berharga daripada gaji yang kuterima.
Sangat berarti di tempat ini.
Mereka semua agak sombong di sini, seperti yang akan kau lihat.
Apa yang kau lakukan setelah meninggalkan pesta?
Menemui pacarku di Bar du Commerce, dia bekerja di sana.
- Kami pulang pukul 02.00. - Baik.
Dalam satu jam ke depan, aku ingin kau membuat daftar
semua orang yang ada di pesta semalam.
Bisakah kau menandai mereka yang masuk daftar
untuk pekerjaan Profesor Moutte atau Beasiswa Dumas?
- Sudah kubilang, aku harus... - Itu bukan pertanyaan.
No comments yet. Be the first to leave one.