The first 159 lines.
Aku berniat memandikan jenazah wanita ini
karena Allah Ta'ala.
Mbak.
Maaf ya, Mbak. Kita mulai.
Bu.
Bu.
Itu...
Punggungnya Mbak ini kayak banyak bekas cambukan.
Aku... aku tidak kuat.
Sst.
Ini rahasia almarhumah, Nak.
Diberitahukan kepada seluruh warga
untuk datang ke rumah
Ibu Ida.
Karena Ibu Ida sunatan.
Maksudnya, cucunya, si Farhan, yang sunatan, Bapak-Ibu.
Sekali lagi, diberitahukan, Bapak-Ibu,
untuk datang ke rumah mantan Ketua RT kita, Ibu Ida.
Karena Ibu Ida sunatan.
Cucunya, maksud saya, yang sunatan.
Oke? Semua datang, ya.
Farhan sudah besar sekali.
- Iya. - Dulu 'kan masih kecil.
Sudah berapa tahun ya sejak ibunya pergi?
- Pergi jadi TKW itu. - Iya.
Sudah lama, dong. Tidak pernah pulang kali, ya.
Tidak segampang itu bisa pulang.
Iya juga, sih.
Ya, namanya juga anak. Kalau sudah kerja lupa.
Untung anak saya tetap di rumah.
Eh, Bu. Si Bimo itu belum dapat kerjaan lagi, ya?
Tidak apa-apa. Namanya juga kerja, butuh waktu.
Yang penting nanti kalau kerja, tidak terpaksa.
Iya, sama dengan Arif. Arif juga 'kan belum kerja.
Apa Arif itu mau jadi pemandi jenazah juga, Bu?
Kalau menurut saya, Bu, biar Lela saja. Arif tidak usah.
Nanti banyak yang meninggal di kampung.
Heh!
Bu Terry jangan bercanda kayak gitu.
Saya belum mau mati cepat.
Nanti gimana Bimo? Sama siapa?
- Saya 'kan... - Janda.
- Apa, sih? - Kita semua 'kan tidak punya suami.
Jadi, sama-sama janda.
Ya beda, lah!
Kalau Bu Siti itu 'kan ditinggal pergi, bukan ditinggal cerai.
Jadi belum janda. Beda itu, Bu.
Bu Terry 'kan perawan ting-ting, ya? Tidak tahu rasanya jadi janda.
Iya, 'kan, Bu?
Bu Ida, kenapa sih kita sudah disuruh pulang?
Padahal 'kan masih mau di sini.
Iya, masih betah, kok, Bu.
Bimo sudah datang.
Saya pamit duluan, ya.
- Bu Ida, terima kasih banyak. - Makasih, Bu Ana.
- Mari, Ibu-Ibu - Mari.
Nah, itu Lela.
Bu Siti, Lela jemput, tuh.
Buat apa Lela membawa payung?
Seakan mau hujan saja.
Terry kayak tidak tahu,
Lela 'kan sama kayak ibunya, bisa lihat pertanda.
Saya pamit dulu, ya, keburu hujan.
Saya juga pamit ya, Bu. Makasih, ini.
- Permisi. - Makasih ya, Bu.
Ibu.
Pamit, ya.
Ibu!
Aduh.
Mbak, ikutan, dong. Mau ngadem, nih.
Kamu tuh gede.
- Ini, bawa! - Aku bawa ini banyak sekali.
Rif.
Tadi dicari Pak RT.
Ada pekerjaan baru katanya.
Memperbaiki kontrakan tetangga.
Mau melamar kerja saja? Hah?
Memang sudah pasti mau jadi tukang renovasi terus?
Ya, kerjakan dulu saja yang di depan mata. Iya, tidak?
'Kan bisa mencari pekerjaan yang serius.
Sudah, biarkan saja dia kerjakan dulu apa yang dia mau.
Berantem saja.
- Mbak Rika! - Rif!
Bu, aku pamit dulu, ya.
Assalamu'alaikum.
Wa'alaikumsalam.
- Rif. - Habis pulang kerja ya, Mbak?
Iya, kamu mau perbaiki kontrakan, 'kan?
- Iya. - Ayo.
Yuk.
Bismillahirrahmanirrahim.
Bismillahirrahmanirrahim.
Saya niat melakukan salat...
Bismillahirrahmanirrahim.
Saya niat melakukan salat fardu Maghrib sebanyak tiga rakaat
dengan menghadap kiblat pada waktunya karena Allah Ta'ala.
Allahu Akbar.
Allahu Akbar.
Sami Allahu liman hamidah.
Sami Allahu liman hamidah.
Allahu Akbar.
Allahu Akbar.
Allahu Akbar.
Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakaatuh.
Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakaatuh.
Astaghfirullah, Lela!
Lela, ah.
Selalu mengagetkan Ibu.
- -
Jadi pergi?
Memang segitunya... ingin belajar dandan?
Lela ingin jadi penata rias?
Belum tahu sih, Bu. Mumpung diajak.
Tidak apa-apa 'kan, mencoba banyak hal?
Atau...
Kamu sangat tidak ingin jadi kayak Ibu?
Ya sudah, tidak jadi pergi.
Ibu bukannya mau memaksa, Lel.
- Ibu cuma ingin ada yang melanjutkan... - Mengerti, Bu!
Ibu melanjutkan dari Nenek, aku tahu.
Aku 'kan dari kecil selalu ikut Ibu memandikan jenazah.
Masa sekarang tidak boleh kalau ada pilihan lain?
Jadi pemandi jenazah 'kan pilihan yang Ibu kasih.
Maksud Ibu...
Sekarang, kalau bukan kamu siapa, Lel?
Sudah tidak ada pemandi jenazah di kampung kita ini.
Memang aku tidak boleh ya, Bu, kayak Arif?
Mengerjakan apa yang aku mau, Bu?
'Kan Ibu sendiri yang bilang,
jadi pemandi jenazah itu berat, yang dihadapi kematian.
Tak jarang dari kita jadi saksi hidup sama saksi matinya.
Aku tidak mau, Bu. Aku capek.
Tutup semua pintu, Lel.
Jangan biarkan sebarang orang masuk.
Bu!
Bu.
Mau ke mana, Bu?
Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un.
Telah meninggal dunia,
- Ibu Ida Mulyani... -
binti Tarya, jam tujuh malam.
- Lel, tunggu Arif pulang. - Ya Allah, ampuni dia...
Jangan ke mana-mana.
Biar Ibu yang pergi ke rumah Bu Ida.
...dan surga tempatnya.
Bu!
Sabar ya, Pak. Mudah-mudahan husnul khatimah.
Bu Siti.
Jenazahnya belum ada yang urus.
Terima kasih, Pak.
Silakan.
Assalamu'alaikum.
- Wa'alaikumsalam. - Wa'alaikumsalam.
Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un.
Tolong siapkan semua.
Biar saya yang memandikan sendiri.
- - Astaghfirullahaladzim!
Ya Allah.
Assalamu'alaikum.
No comments yet. Be the first to leave one.