The first 200 lines.
- Mas? - Ya?
Rasanya sesak sekali, Mas.
Tahan ya, Jeng.
- Tenggorokanku sakit, Mas. - Ya.
Ya. Sakit, ya.
Tahan, ya. Kau kuat.
Ada aku di sini. Tahan.
Kondisimu makin menurun, Jeng.
Aku tak bisa berbuat apa-apa.
Mas?
Kalau aku nanti...
Kalau aku nanti tak selamat...
yang penting kau bisa keluar dari sini, Mas.
- Keluarlah dari sini. - Ajeng.
Kita keluar bersama, ya?
Oke?
Kita keluar bersama, Jeng.
- Aku sudah tak kuat, Mas. - Kuat.
Kuat.
Pasti kau kuat, Jeng.
Kita pasti selamat.
Ajeng?
Mas.
Hei.
Masih sesak?
Masih sesak sekali?
Inhaler -nya?
Sudah hampir habis.
Mau ke dokter saja?
Kau tadi tidak beli, ya?
Tidak beli.
Aku telepon dr. Santoso dulu.
Halo? Dok?
Ajeng kambuh lagi, Dok.
Ya, aku ke sana sekarang. Ya.
Ayo. Kita ke dr. Santoso sekarang.
Kau kuat jalan?
Ayo, aku tuntun.
Ayo.
Pelan-pelan.
Ayo. Sini.
Sebentar, kuambilkan bantal.
Masih sesak?
Masih.
Aku khawatir sama kondisimu.
Makanya kau jangan sering bergadang untuk menulis.
Aku harus menyelesaikan novelku, Mas.
Harusnya dulu kau memilih rumah jangan jauh begini, tahu?
Dari rumah sakit jauh.
- Ke mana-mana jauh. - Mas.
Kita sudah sering membahas ini.
Waktu itu kau juga setuju.
Tapi jika kondisinya begini. Coba lihat, Jeng.
Ditambah hujan deres sekali.
Maaf, ya.
Mas!
Ada apa, Mas?
Mas?
Sebentar aku cek dulu.
Pegangan, Jeng.
- Pegangan. - Kenapa, Mas?
Ajeng?
Ajeng?
Ajeng?
Ajeng?
Ajeng?
Ajeng? Hei.
Kau tak apa-apa?
- Kau tak apa-apa? - Kita di mana?
Kita tertimbun tanah longsor.
Pintunya tak bisa dibuka?
Tak bisa.
Tolong!
Tolong!
Tolong!
Tidak.
Astaga.
Oke. Tenang, Jeng. Ajeng, tenang.
Tarik napas.
- Sudah habis. - Waduh.
- Tenanglah. - Mas.
Tenang. Aku cari jalan keluar.
Tolong!
Tak ada yang dengar, ya?
Tak mungkin, Jeng.
Sepertinya tak mungkin. Di luar hujan deras.
Lalu di waktu ini, siapa yang tahu?
Kita tak bisa keluar.
Buka!
Ponselku di mana?
Sebentar.
Ponselku di mana?
Ponsel?
- Gawat! - Aku tak bawa ponsel.
Sial.
Tertinggal di rumah.
Kau tak bawa?
Tertinggal di rumah tadi waktu menelepon dr. Santoso.
Kutaruh di meja.
Tolong!
Tolong!
Kita butuh oksigen ini, Jeng.
Kalau tidak, kita berdua bisa mati di sini.
Mas.
Ya?
Dadaku sudah mulai sakit.
- Tahan, ya. - Panas sekali di sini.
Tahan ya, Jeng.
Sebentar, aku cari... Coba kuturunkan jendelanya siapa tahu ada udara.
Tak bisa.
Ajeng?
Bisa terbuka sedikit, Jeng.
Bisa terbuka sedikit.
Ada udara. Benar?
Ajeng, sudah.
- Tak ada yang dengar. - Agar ada yang dengar.
Tak ada yang dengar, Jeng.
Percuma. Hanya akan habis aki.
Malah nanti tak ada lampu. Gelap.
Sudah.
Maafkan aku, Mas.
Harusnya waktu itu aku...
aku tak keras kepala.
Harusnya aku waktu itu menurutimu saja.
Tak usah beli rumah jauh-jauh.
Harusnya...
Sudah, tak usah dibahas, ya?
Bukan salahmu. Ini musibah.
Oke? Sudah.
Oke. Sudah, kita lewati sama-sama.
Niatnya punya rumah jauh
agar aku tenang.
Agar...
Agar tulisanku cepat selesai.
Ya, sudah.
Nanti novelnya diselesaikan. Sekarang tak usah dipikirkan.
Yang penting kita bersama melewati ini. Oke?
Oke?
Ya.
Ada apa, Mas?
- Hidupkan lampunya, Mas. - Tak bisa, Jeng.
Tampaknya aki habis.
- Korsleting. - Coba hidupkan lampunya.
Tak bisa.
Kau dapat dari mana?
Aku dulu pernah bilang,
suatu saat senter ini pasti berguna.
Aku ingat.
Waktu kubawa senter ini ke mobil, kau bilang...
Kau bilang,
"Untuk apa senter? Di mobil sudah ada lampu."
Ya.
Lalu kau bilang,
"Nanti kalau kau di jalan ada masalah ban,
kalau saat malam hari."
Begitu?
Lalu...
Lalu kau bilang...
"Jeng, kenapa malah berharap yang aneh-aneh?"
Aku cuma siaga, Mas.
Lalu akhirnya berguna juga sekarang senternya.
Mas?
Di kuburan rasanya begini juga mungkin?
Kenapa kau bilang begitu, Jeng?
Karena aku takut gelap, Mas.
Tapi nanti
kalau aku sudah dikubur juga gelap, ya?
Sudah. Jangan membahas soal kuburan.
Situasinya tak tepat.
Kalau kita tak dapat bantuan?
Pasti dapat.
Bagaimana caranya?
Ya, setidaknya kita bertahan.
Berdua bersama.
Jangan menyerah, oke?
Aku cuma memikirkan yang terburuk.
Sudah pasti ada bantuan.
Sudah, jangan memainkan senternya.
Mas.
Tapi kalau memang...
Kalau sampai tak ada bantuan, kau terus menemaniku?
- Temani aku terus? - Pasti.
Aku tak ke mana-mana. Aku di sini.
- Senternya dimatikan, ya? - Tidak.
- Hemat baterai. - Takut gelap.
Ada aku di sini.
Tak mau.
Nanti kalau habis baterainya?
- Tak mau. - Kita hemat saja, dimatikan, ya?
Tak mau.
Tiap lima menit, tiap sepuluh menit dinyalakan lagi.
Waktu kutaruh,
taruh senter di sini,
aku juga bawa baterai cadangan. Di mana, ya?
Kau taruh di mana waktu itu?
Aku taruh di situ.
Ya ampun, ini sudah berantakan, terlempar ke sana.
Kemarin taruh di mana?
Terlempar mungkin ya?
Terlempar semua barangnya. Coba kucari di belakang.
No comments yet. Be the first to leave one.