The first 200 lines.
Aku, Amnaj Techamahapaisarnkij,
menyatakan wasiat dari warisanku.
Rumah di Pathum Thani itu akan kuberikan padamu.
Sial!
Kau sudah siap, Anong?
Sudah.
Boo!
Apa itu seram?
RUMAH ANONG
Satu, dua, tiga!
Aku mencintaimu, Anong.
Aku bersumpah setia
dan menghormati Nona Anong.
Aku akan mencintai Tuan Wisarut
sekalipun nyawaku sudah melayang.
RUMAH ANONG
Hentikan!
Hentikan!
Sialan, hentikan!
Maaf!
Anong, kau dengar aku?
Anong!
Maafkan aku, Anong.
Anongโฆ
Anong, maafkan aku! Anong!
Anong, jangan pergi! Maafkan aku!
ANONG YOTHANARONG
Begitulah takdir sudah digariskan.
Begitulah takdir sudah digariskan.
Kau bicara padaku?
- Kisahmu dan Anongโฆ - Apa?
โฆterikat oleh takdir.
Di setiap kehidupan, kau dan Anong ditakdirkan bertemu.
Tapi juga ditakdirkan berpisah.
Siapa sebenarnya kau?
Bagaimana kau bisa tahu tentang kami?
Kong yang memberitahumu, 'kan?
Jadi, kau teman dia?
Sama sekali bukan.
Aku hanya kebetulan sudah tahu semua ini.
Jadi, kau seorang terapis?
Orang yang bisa melihat kehidupan lampau?
Tidak juga.
Aku ada di sana, melihat semuanya.
Mau mencoba?
Tidak, aku baik-baik saja.
- Terima kasih, Kawan. - Tunggu.
Mati kau!
Ayo, kalau kau berani.
Anong?
Kisahmu dan Anong
terikat oleh takdir.
Kenapa kau ceritakan semua ini padaku?
Kau dan aku juga terikat oleh kekuatan yang sama.
Seandainya tadi kau hanya berjalan melewatiku,
takdirmu akan berbeda.
Tapi sekarang kita berbincang di sini,
takdirmu sedang membawamu ke jalan yang lain.
Jika bisa kembali ke masa lalu,
apa aku bisa mengubahnya?
Mungkin saja.
Tapi sebaiknya jangan, meskipun kau bisa.
Karena mengubah masa lalu
juga berarti mengubah masa depanmu.
Apa kau masih mau kembali?
Ayo, kalau kau berani.
Bunuh mereka semua.
Bunuh mereka semua!
Mundur!
Mundur!
DESA BANG RAKAN, 250 TAHUN LALU
Angkat dia.
Rawat dia, Nona Tabib.
Dia dikejar pasukan Angwa.
Bantu aku lepaskan bajunya.
Orang ini berasal dari desa mana?
Tubuhnya kekar, wajahnya aneh.
Sepertinya bukan orang sekitar sini.
Aneh sekali. Pucat seperti hantu.
Siapa kau? Dari mana asalmu?
Aku Jorm.
Aku dari Desa Bang Rajan.
Beberapa bulan lalu, Angwa menyerbu desaku.
Aku seorang peramu obat.
Saat itu, aku sedang mengumpulkan bahan di hutan.
Itulah sebabnya aku bisa lolos.
Lalu, kenapa kau dikejar pasukan Angwa?
Setelah tahu desaku dihancurkan,
aku memutuskan mengikuti mereka,
berharap bisa membalaskan dendam keluargaku.
Tapi mereka menangkapku
dan memburuku sampai ke sini.
Bolehkah aku berlindung di desa ini selama beberapa bulan,
sampai lukaku pulih?
Boleh.
Kami memang membutuhkan pria.
Terlebih pria bertubuh kekar.
Sepertinya dia sangat kuat.
Tubuhmu kekar.
Bagus kalau kau tinggal.
Kami membutuhkan bantuanmu di sini.
Gunakan matamu!
Kerahkan tenagamu!
Ya! Bagus.
Jangan jongkok terlalu rendah!
Bagus.
Tangan di samping.
Di samping!
Bagus.
Balas dia!
Bertarunglah seolah pasukan Angwa sudah di depan gerbang kita!
Kalian yang di belakang itu sedang apa?
Anong kelihatannya menjalani latihan dengan sangat serius.
Benar. Dia sangat membenci pasukan Angwa.
Dia berlatih supaya bisa melenyapkan mereka.
Kau tahu alasannya?
Karena orang tuanyaโฆ
Dibantai pasukan Angwa.
Bukan cuma itu, diaโฆ
Dia menyaksikan sendiri kematian orang tuanya.
Pertahankan kekuatanmu!
Angwa menusuk mereka!
- Berkali-kali! - Omong kosong!
Kau bicara seolah ada di sana.
Kalian!
Kita latihan Formasi Bang Rakan.
Formasi Bang Rakan!
Ya!
Sayap kiri!
Ya!
- Lebih bersemangat! Sayap kiri! - Ya!
- Sayap kanan! - Ya!
Sayap belakang!
Sayap belakang?
Kulihat lukamu sudah sembuh.
Sebentar lagi kau pulih total.
Benar sekali.
Lukamu sudah jauh lebih baik.
Tubuhmu kekar.
Kalian! Kembali latihan!
Kalau musuh datang, kalian yang pertama tumbang.
- Formasi Bang Rakan! - Ya!
Bertarung!
Boleh aku ikut sesi latihan kalian?
Biarkan dia.
Pasukan kita kekurangan orang.
Betul.
Kalau aku, lehernya sudah putus.
Serius? Tunjukkan bagaimana caramu melakukannya.
Begini. Aku tebas di sini.
Itu tangkisanmu? Ini tangkisanku.
Ini serangan balikku. Tamat kau!
- Belum! - Apa?
Aku menunduk. Tebasanmu meleset.
Ada celah. Aku tikam di sini.
Perutmu koyak. Kau mati!
- Belum! - Apa?
Aku masih punya jurus.
Aku mengelak.
Aku kunci lenganmu begini.
Kutahan lenganmu, lalu kulucuti senjatamu.
Lalu, aku ganti tangan untuk menyerang.
Aku tak pernah cerita, tapi sebenarnya aku kidal.
Aku tebas lehermu!
Kau mati!
Kau mati!
Kali ini aku cuma membuat beberapa kesalahan.
Boleh aku coba lagi?
Kau tak akan bisa menang dariku.
Kalau aku?
Kalau aku mengalahkanmu dalam duel,
kau dan aku
akan jalan-jalan ke sawah bersama.
Kalau aku yang mengalahkanmu?
Kerbauku menjadi milikmu.
Aku tak perlu turun tangan.
Bahkan muridku, Jorm,
juga bisa mengalahkanmu dengan mudah.
Baik.
Taruhan yang sama.
Baik.
Ayo!
Ayo! Lawan!
Ayo! Lawan Dia!
Ayo!
Perasaan
apa ini?
Jorm!
Wah!
Jorm!
Kenapa jantungku
berdebar begini?
Petarung yang hebat!
NAKHON PHANOM, 150 TAHUN LALU
Tuan Pejabat, kau berasal dari provinsi mana?
Aku belum pernah melihatmu.
Aku Kepala Pejabat Jak.
Dari Ibu Kota.
Aku pengurus jenazah Ti.
Ini pengurus jenazah Gam dan pengurus jenazah Mha.
No comments yet. Be the first to leave one.