The first 200 lines.
Tuan Masachika.
Tuan Masachika.
Ayano.
Ada apa?
Maaf mengganggumu tiba-tiba.
Boleh minta waktumu sebentar?
Tentu.
Terima kasih.
Lewat sini.
Dia masih sama,
seperti ninja.
Tuan Masachika,
terima kasih atas...
Tidak perlu.
Ada apa?
Maafkan kelancanganku.
Kalau begitu,
Tuan Masachika,
kudengar kau mencalonkan diri untuk OSIS bersama Nona Kujou.
Boleh tahu apa ini benar?
Ya.
Kepala keluarga
sangat kesal soal ini.
Tuan Masachika meninggalkan keluarga Suou,
kenapa masih menghalangi Nona Yuki?
Kepala keluarga marah saat mengatakan itu.
Pria tua itu.
Dia membuangku dari Suou begitu aku meninggalkan rumah,
juga tidak memberi tahu siapa pun bahwa aku kakak Yuki,
tapi kini menganggapku keluarga lagi?
Jangan main-main, Pak Tua.
Lalu?
Dia mengirimmu untuk mencari tahu niatku yang sebenarnya?
Tidak, ini keinginanku sendiri.
Sebagai pelayan Nona Yuki,
jika ada yang menentangnya,
aku harus memastikan niat pihak lain itu.
Kau memang setia.
Apa kau samurai?
Aku
selalu percaya
bahwa Tuan Masachika tidak akan pernah melakukan apa pun
yang membuat Nona Yuki sedih.
Mungkinkah aku salah?
Aku ikut pemilihan OSIS bukan untuk melawan Yuki.
Hanya saja
aku kebetulan menjadi lawan Yuki.
Terlepas dari urutannya,
fakta bahwa kau menentangnya tak berubah.
Bagi Tuan Masachika,
apa mencalonkan bersama Nona Kujou
begitu penting hingga kau tega
mengkhianati Nona Yuki dan bahkan menyakitinya?
Ya.
Aku akan berjuang membantu Alya menjadi ketua OSIS.
Aku sudah berjanji.
Apa karena ada perasaan spesial?
Mungkinkah kau memendam rasa...
Tidak.
Aku melakukannya karena keinginanku.
Jadi, tolong sampaikan kepada Kakek.
Jangan salahkan Yuki karena ini.
Jika ada keluhan,
katakan langsung kepadaku.
Aku mengerti.
Izinkan aku menanyakan satu hal terakhir.
Tuan Masachika,
apa perasaanmu kepada Nona Yuki
tetap tidak berubah?
Bagiku,
Yuki adalah orang terpenting di dunia.
Itu perasaanku hingga kini.
Jadi, kumohon.
Dukunglah dia dengan baik.
Aku mengerti.
Aku senang mendengar pendapatmu, Tuan Masachika.
Aku permisi.
Apa aku mengecewakannya?
Ini dia!
Lihat sampul majalah dewasa pekan ini!
Hei, Masachika. Siapa favoritmu?
Sejujurnya, aku awam soal idola.
Jangan bicara seperti pria tua.
Lihat penampilan mereka.
Coba kulihat.
Jika harus memilih salah satu,
kurasa dia.
Gadis pilihan Masachika
agak mirip Mariya.
Masa?
Setelah kau mengatakannya, memang mirip dia.
Masachika, apa Mariya tipemu?
Tidak sama sekali.
Lagi pula, Masha punya pacar.
Kalau tak punya, apa kau mengincarnya?
Sejak kapan kau menyebut nama panggilannya?
Bukankah kalian terlalu akrab?
Tidak, itu hanya kebetulan.
Aku tidak pernah melihat Masha seperti itu.
Dasar monster.
Kau adalah anggota OSIS.
Kau pikir boleh membawa itu ke sekolah?
Itu...
Sebenarnya, Takeshi yang membawanya.
Maka suruh dia jangan bawa.
Baik.
Biar kuganti pertanyaannya.
Pernahkah kau ingin memacari Suou?
Tidak, aku tak pernah bisa memacarinya.
Kenapa?
Kau bertanya kenapa...
Pokoknya,
jika akan berpacaran,
aku ingin bersama orang yang akrab.
Dengan kata lain,
orang sepertiku?
Masachika?
Ada apa?
Bukan apa-apa.
Benar juga.
Selain itu, gadis dengan senyum manis juga memesona.
Orang yang matanya tidak tersenyum
memang sulit didekati.
Benar, sikap sehari-hari mereka sangat penting.
Kalian harus lebih peka.
Nanti Alya tersinggung.
- Apa? - Apa?
Tidak apa-apa.
Lagi pula, aku punya teman.
Aku tak keberatan dibenci.
Pokoknya, perbaiki. Cepatlah.
Baiklah.
Meski begitu,
gadis cantik seperti Putri Alya tidak akan peduli ini, bukan?
- Lebih parah! - Lebih parah!
Apa?
Rupanya begitu
cara kalian memandangku?
Kalau begitu, maaf.
Aku gadis dingin dan dibenci, yang hanya punya penampilan.
Tidak, kau tidak seburuk itu.
Sebaiknya kusita
majalah ini.
Masuk.
Permisi.
Bagaimana? Sudah puas sekarang?
Ya.
Tentu saja, Tuan Masachika
masih Tuan Masachika terhormat yang kukagumi.
Syukurlah, kalau begitu.
Apa kata kakakku?
Tuan Masachika bilang
dia tak berubah pikiran soal mencalonkan bersama Nona Kujou.
Sudah kuduga.
Selain itu,
dia memintaku menyampaikan ini kepada kepala keluarga.
"Jika ada keluhan, katakan langsung kepadaku."
Astaga, itu...
Berani sekali dia.
Sepertinya kau juga serius, Kakak.
Ya.
Semangat yang luar biasa itu
membuat rahimku gemetar.
Benarkah? Bahkan rahimmu gemetar?
Ya.
Permisi.
Agar jelas,
Ayano, kau tak jatuh cinta kepada kakakku, 'kan?
Tentu saja tidak.
Sama seperti kepada Nona Yuki,
aku juga menghormati dan mengagumi Tuan Masachika.
Tidak ada perasaan romantis kepadanya.
Begitukah?
Aku tidak punya
pemikiran arogan, "Aku ingin menjadi pacarmu."
Selama bisa digunakan sebagai alat,
aku sudah puas.
Kau hanya P Super biasa, bukan?
Maafkan aku.
Apa arti "P Super"?
Apa?
Itu artinya Pelayan Super.
Singkatannya adalah P Super.
Terima kasih pujiannya.
Ini kehormatan bagiku.
Aku akan terus bekerja keras menjadi P Super yang hebat.
Kata-katamu luar biasa.
Benar juga.
Ada satu hal terakhir.
Ada apa?
Tuan Masachika bilang bahwa baginya
Nona Yuki
masih orang terpenting di dunia.
Nona Yuki?
Hampir saja!
Aku hampir meneriakkan cintaku untuk kakakku di tengah area sekolah!
Astaga.
Aku tidak tahan dengan kakakku yang manis.
Kalau dipikirkan,
dia serius ingin bersaing denganku.
No comments yet. Be the first to leave one.