The first 200 lines.
- Selamat, Daeng. - Terima kasih.
Terima kasih.
Ibu.
Jangan lupa nanti datang ke nikahannya anaknya Daeng Kebo.
Insyaallah, Puang.
Kapan acaranya?
Tiga bulan lagi, Bu.
Tapi saya sampaikan dari sekarang supaya Ibu bisa bersiap.
Iya.
Amplop.
Yang mana lagikah kita Yang akan ditempati, oh ditempati.
Ayo.
Kau sedang apa?
Titip, Bu, ya.
Dua gunung Bagaikan berdampingan, Adinda Logo.
Dua gunung bagaikan berdampingan, Adinda Logo.
Permisi Tante, jangan diinjak kabelnya.
Kabelmu digulung yang baik, Nak.
Di sini orang lewat-lewat, Nak.
Maksud saya duduk saja.
Tidak usah mondar mandir,
saya lagi ambil gambar.
Hei.
Kayaknya kita harus upgrade deh.
Foto orang jadi aneh.
- Selamat. - Terima kasih.
- Selamat. - Terima kasih.
Selamat, Ibu.
- Ingat ya, Bu. - Insyaallah, Puang.
Iya.
Ternyata benar.
Kalau acara di kampung, saya yang diandalkan.
Alhamdulillah, Nak. Lancar rezeki.
- Amin. - Ayo kita makan dulu, Nak.
Iya duluan saja, Bu. Saya masih kerja.
Sepertinya tantenya tidak suka sama kau.
Makasih, Bu.
Besok jangan terlambat ya, nanti saya tinggalkan kalian.
Tenang saja, Bu. Ada ayamku yang akan bangunkan saya.
Asalamualaikum.
Maโฆ
Maโฆ
Asalamualaikum.
Waalaikumsalam.
Saya kira masih jauh, Ma.
Pasti tidak buka WhatsApp?
Saya belum buka, Nak.
Kenapa?
Makanan?
Puang Ngugi bawa banyak makanan dari pengantin.
Sempat juga membungkus, Puang.
Kelihatannya enak.
Makan saja.
Simpankan saya katrisalaknya.
Iya.
- Biba. - Iya?
Setelah saya pikir-pikirโฆ
Sepertinya saya juga mau mengundang
teman-teman arisanku.
Berapa orang, Puang?
Tidak banyak,
tidak sampai seratus.
Berapa itu tidak banyaknya?
Biar bisa dikumpulkan dananya, Puang.
Sembilan puluh sembilan saja.
Sama saja, Puang.
Kurang satu lagi sudah cukup seratus.
Habiskan dulu makananmu, Nak.
Bikin tak selera makan saja.
Kenapa kau cemberut?
Tidak usah ditambahkan lagi.
Kenapa dia sensitif sekali?
Kita baru pulang ini.
Tidak pengaruh juga
kau lihat atau tidak.
Acaranya Daeng Sibali sudah dua minggu yang lalu,
dia sudah minta fotonya.
Mau diapakan lagi?
Laptopku ini lambat sekali.
Atau edit pakai ponsel saja?
Dimana profesionalitasmu, Samsul?
'Kan saya cuma sarankan. Kalau mau, ya, baik,
kita laksanakan.
Halo, Sayang.
Halo. Iya, Sayang.
Kau lagi ngapain?
Saya masih mengedit.
Ada apa?
Coba cek yang kukirim.
Bagus tidak?
Bisa kita cari minggu depan?
KOMPUTER MENGALAMI MASALAH YANG TAK BISA DITANGANI, KINI PERLU MEMUAT ULANG
'Kan kita cuma cari referensi,
kalau ada yang bagus tinggal pesan.
Yang ada di toko saja dulu,
lebih jelas.
Tinggal cari ukurannya.
Kita sudah belain nikah kecil-kecilan,
masa cincinnya juga yang biasa saja?
Ki, ini kenapa, ya?
Sayang.
Sayang.
Yang sederhana saja dulu,
sesuai dana.
Nanti kalau sudah menikah,
kita nabung buat beli cincin.
Baru di awal sudah lesu.
Biar dia yang atur,
kau tinggal transfer.
Terima beres.
Kau kayak tidak tahu saja siapa yang membisikinya.
Bisa bankrut saya kalau tidak mengingatkan dia.
Mending selesaikan urusan yang ini dulu, baru pindah ke urusan yang lain.
Klien ini juga,
banyak maunya.
Sama saja.
Pinjam ponselmu.
Saya bilang juga apa,
ujung-ujungnya pakai ponsel saya juga.
Ini!
Kirimkan filenya!
Jadiโฆ begini, Ki.
Kita semua sepakat untuk tambah tamu 100 orang.
Iya.
Saya kira kita mau intimate wedding .
Kalau tambah 100,
berarti sudah 600 yang diundang.
Bukan intimate wedding namanya kalau mengundang satu kampung.
Kelewatan juga kata-katamu,
kamu tahu, 'kan?
Biba ini
dari keluarga besar.
Kalau satu kita undang, terus yang lain tidak,
orang bisa tersinggung.
Keutamaan dari menikah itu, 'kan, diumumkan.
Jadi, undang saja sebanyak mungkin,
agar orang-orang tahu kalau kalian sudah menikah.
Betul.
Mencegah fitnah.
Iya Puang, tapi sekarang sudah beda.
Kalau mau diumumkan, bisa kita unggah acaranya di media sosial.
Ini bukan soal unggahan.
Kita undang orang agar banyak yang datang.
Banyak yang datang, banyak doakan, banyak berkah.
Kayaknya tidak ada jaminan kalau semua yang diundang
doanya baik-baik.
Kau su'udzon itu.
Ini yang kita undang semuanya orang yang kita kenal.
Kamu kenal semua undangannya?
Biba saja tidak kenal semua undangannya, Puang.
Begini saja,
kalau tidak mau mengundang banyak orang,
sekalian nikah di KUA saja.
Kalian ikuti saja yang di TikTok itu.
Kalian lupa?
Kita tinggal di mana ini?
Puang, ini acara sekali seumur hidupku.
Biar saya dan Rizki yang atur bagaimana baiknya.
Kasihan kau, Biba.
Justru karena ini acara sekali seumur hidupmu,
jangan bikin acara setengah-setengah.
Atau begini, tak usah libatkan kami semua.
Lakukan saja semau kalian berdua.
Bukan begitu maksud saya, Puang.
Lebih ke keluarga utama saja, biar lebih sakral begitu.
Ini semuanya keluarga, mereka semua juga harus dilibatkan.
Atau sekalian tidak usah sama sekali.
Kau bilang ingin pesta sederhana.
Tapi dunia tak pernah sederhana.
Sejak kau masih kecil, Nak.
Kalau kau ikut ke acara pengantin,
kau selalu bilangโฆ
"Mau jadi princes kalau menikah nanti."
Sampai-sampai saya dan bapakmu, selalu ingat terus.
Waktu itu saya masih anak kecil, Ma.
Belum tahu rasanya tersiksa berdiri di pelaminan berjam-jam.
Semoga bukan karena mau hemat, Nak.
Sampai kau korbankan semua mimpimu.
Itu tidak penting, Ma.
Yang penting itu nikahnya,
lalu bangun rumah Mama di tanahnya Bapak.
Supaya kita tidak menumpang lagi seperti sekarang.
Itu bukan tanggung jawabmu, Nak.
Fokus saja sama acaramu.
Maโฆ
Sejak Bapak meninggal, Mama yang selalu merawat saya.
Saya tidak mau hilang tanggung jawab hanya karena sudah jadi istri orang.
Semoga Mama
bisa bersama kau terus, Nak.
Bisa, Ma.
Saya akan selalu ada.
Jadi,
sudah sampai mana persiapanmu?
Ini masih dihitung, Ma.
Semoga tabungan kami berdua cukup untuk acara nanti.
Kenapa kau belum ganti pakaian?
Ini hari libur, Puang. Kesempatan bisa rebahan.
Puang mau ke mana? Masih pagi sudah heboh.
Kau lupa hari ini acara nikahannya Syaf?
Syaf?
No comments yet. Be the first to leave one.