The first 185 lines.
Dijaga adikmu, ya, Netta.
- Ya, Bu. - Dengar ibu.
Apa pun yang terjadi, jangan sampai terlihat...
Pantang melihat.
Ya, Nak.
Ini susuk Dumilah.
Mendatangkan kemakmuran dan harta melimpah-limpah.
Terbukalah lebar!
Jamal ingin menggunakan ini.
- - Tenanglah, Dik!
Jangan menangis.
Ibu sedang mencari Bapak.
Sebentar saja.
- -
Diingat, ya, Jamal.
Kamu sudah tidak bisa punya keturunan lagi.
Ya.
Asti!
Panggil Mas Jamal!
Tapi...
Kamu dengan pakdemu, dukun sesat itu,
harus ikut tanggung jawab kalau ada apa-apa.
Ibu!
Ibu!
Ibu!
Mas!
Sudah atau belum?
Mbak Ratna masih di depan, dia enggak mau pergi.
Eh, alah.
Sana urus dulu istrimu.
Aduh!
Kenapa kamu ke sini?
Tidak, Mas. Aku tidak bisa melihat kamu seperti ini.
Percaya dengan setan!
Ha!
Wil wo...
Mas, Lampor, Mas.
Ibu!
- Netta? - Bukan.
- Bu! - Netta, Mas!
Bukan!
- Ayo masuk! - Mas!
- Masuk! - Mas!
- Ayo masuk, Mas! - Masuk!
Mas, bawa masuk, Mas!
Adik rewel banget, Bu!
Adik tidak mau diam.
Nangis terus!
Wil wo...
- Ibu! - Wil wo...
Netta...
- Ada apa? - Bodoh!
Wil wo...
Wil wo...
- - Wil wo...
Wil wo...
Wil wo...
Jangan terlihat, pantang melihat...
Jangan terlihat, pantang melihat...
Wil wo...
Jangan terlihat, pantang melihat...
Adik?
Adik?
Adik...
Adik...
Adik...
Ibu!
Ibu, adik, Bu!
Adikmu kenapa ditinggal?
Netta minta maaf, Bu.
Ini bukan salahmu, Nak.
Ini salah bapakmu.
Bapakmu yang menyebabkan adikmu diambil Lampor.
Netta.
Kita harus pergi jauh.
Jauh dari sini.
Ibu gak mau kamu jadi korban Lampor.
- Ya, Nak? - Ya, Bu.
- Duluan, ya, Net. - Hati-hati, ya, Pak.
Netta, kamu yang sabar, ya. Ibumu sudah tenang.
Makasih ya, Kak.
Win, aku dengar kamu ada masalah investasi.
Percetakanmu bangkrut dan rumahmu digadaikan. Benar?
Aku niat membantu, tapi kau tahu aku hanya karyawan biasa.
Tak perlu, Koh. Tak apa. Aku masih bisa urus sendiri.
Ayo, Pa.
Win, aku harus pergi. Tetap berhubungan, ya.
Ya, terima kasih, Koh.
Sekar, Adam, sampai jumpa.
Bang, teh kamu.
Kamu cerita ke Bang Anwar soal keadaan kita?
Bang Anwar tanya ke saya.
Kan saya gak mungkin bohong, Bang.
Kamu ini masih marah soal pesan terakhir Ibu, ya?
Abang masih enggak percaya selama ini kamu merahasiakan bapakmu masih hidup!
Ya, karena Ibu sama saya memang menganggap Bapak sudah enggak ada sejak...
Sejak ibumu marah karena bapakmu menikah lagi?
Abang tahu itu!
Kamu sudah berulang kali menjelaskan itu ke Abang.
Tapi Abang ini suamimu, Net.
Apa salahnya jujur dari awal?
Ya ini semua salah saya, Bang.
Saya yang salah.
Bang.
Terus sekarang gimana?
Kita temui bapakmu.
Kita sampaikan pesan ibumu.
Kita?
Ya, anak-anak juga ikut.
Mereka juga pasti senang kan bisa ketemu sama kakeknya yang masih hidup di Jawa?
- Astaga! - Mengagetkan saja!
Dari mana saja, Ndro? Kamu terlambat.
Aku ketiduran habis magrib. Maaf.
Dasar tukang tidur! Ini!
- Teruskan. - Itu belum selesai lo, Mas.
Aku mau pulang. Hati-hati dimakan Lampor.
Mas! Aku sendirian, Mas!
Wil wo...
Wil wo...
- Wil wo... - Jangan terlihat.
Pantang melihat.
Nanti yang jemput kita siapa, Net?
Yoyok, Bang. Sepupuku yang waktu itu datang ke rumah.
Dia dari Semarang langsung ke sini.
Udah ketemu Yoyok?
Net.
Udah ketemu Yoyok?
Belum, Bang.
Lo? Sekar mana?
Sekar...
Lo? Dam, Sekar mana?
Bukannya tadi sama Ibu?
Kamu gimana, sih?
Sekar?
- -
Sekar?
- -
Sekar?
Sekar?
Oi, mau dibawa ke mana? Oi!
- - Oi!
Oi!
- Ini anak saya! - Maaf, Bang!
Astaga! Yoyok!
Bang Edwin lupa sama saya.
Sori lo, Bang. Tadi saya itu udah tunggu di depan loket.
Lah, kok, lihat Sekar sendirian.
Ya, saya temani toh. Kasihan, Bang.
Papa lihat, dia ke sini, Pa!
- Dia ke sini, Pa! - Awas!
Hei, berhenti! Berhenti!
Saya pasti bayar. Tenang, saya tidak akan lari.
Ya, Bang, saya juga ditipu nih, Bang.
Sabar dikit lah, Bang.
Saya pasti telepon setelah balik dari Jawa.
Ya, Bang, pasti, Bang.
Ya, makasih, ya, Bang.
- Bang? - Hem?
Abang enggak mau coba telepon Bang Anwar aja?
Ngapain lah? Kayak enggak tahu, dia sepupu paling pelit, 'kan?
Ya kan dia sendiri yang nawarin mau bantu, Bang.
Percuma lah.
Bukan solusi, malah tambah masalah nanti.
Pakde Jamal sekarang itu makin kaya lo, Mbak.
Memang juragan tembakau paling sukses di kota.
Ya, banyak yang pinjam uang sama dia.
Sampean nanti lihat sendiri aja...
gayanya Mbak Asti.
Sudah kayak nyonya-nyonya besar di kota.
Kaya, tapi kok kayanya enggak benar.
Ya, banyak sih yang bilang, Mbak.
Kalau bapaknya Mbak Netta itu dipelet sama Mbak Asti.
Pak Atmo, pakdenya Mbak Asti itu kan dukun sakti, toh?
Pelet itu apa sih, Bu?
Kamu enggak usah menguping, gambar aja.
Pelet itu sesuatu yang gak baik.
Cuma buat orang yang enggak percaya diri pakai cara itu, Sekar.
Papa! Lihat, Pa!
Awannya kayak naga, tuh.
Wah.
Kalau kata orang-orang kampung itu...
tanda-tanda ada musibah itu.
Eh, ngapain sih percaya sama takhayul?
Itu tiang obor, ya, Om?
Memangnya enggak ada listrik, ya?
No comments yet. Be the first to leave one.