The first 200 lines.
Terima kasih menemuiku, Kevin.
- Tentu. - Silakan duduk.
Jadi, aku meninjau kembali bukti dalam kasus pembunuhan Doyle.
Dan, aku hanya ingin bicara sedikit...
denganmu sekali lagi.
Aku tak tahu apa maumu.
Aku ingin tahu apa ada sesuatu yang kau mau tambahkan...
atau ubah.
Tidak.
Kupertahankan pernyataan asliku.
Hei, apa isi tas itu?
- Tak ada. - Hei!
Aku polisi. Aku bertanya kepadamu.
Petugas Doyle tak punya alasan keluar dari mobil
dan menghentikan Shawn Page.
Doyle penyerangnya. Bukan Page.
Dia sedang berjalan, tak mengganggu siapa pun.
Jadi, dua pria dalam studio rekaman
- yang menembak dan membunuh Doyle... - Doyle!
Kau yakin mereka hanya mempertahankan diri?
Ya, Bu.
Kau harus bertahan, Doyle! Bertahanlah.
Oke. Kalau begitu aku harus mengajukan Mosi untuk Membatalkan.
- Itu keputusanmu. - Bukan. Ini keputusanmu.
Kau saksi tunggal.
Jadi, jika menurutmu Doyle yang salah, tak ada kasus.
Seperti kataku...
kupertahankan pernyataan asliku.
Perlu keberanian besar bagi polisi muda kulit hitam untuk menghadapi Chicago PD.
Aku di sini!
Aku di sini!
Aku tahu apa yang terjadi dengan Atwater beberapa minggu terakhir.
- Aku tak tahu maksudmu. - Kenny...
Jangan buat aku jadi bajingan, oke?
Kita tahu apa yang kau lakukan.
Berhenti sekarang sebelum ada yang terluka.
Kubilang, aku tak tahu apa maksudmu.
Tapi, jika aku tahu, aku pun tak akan setuju.
Anak itu, Atwater, melanggar aturan paling sakral.
Dia mengadukan polisi.
Polisi yang tewas saat bertugas, dengan istri dan dua anak kecil!
Dan jika itu tak cukup buruk,
Kantor Jaksa Wilayah baru membatalkan kasusnya.
Dua bajingan yang membunuh Doyle,
Petugas Polisi Chicago, akan bebas.
- Atwater menganggap tindakannya benar. - Tidak, dia melanggar batas.
Tembok Biru ada untuk kesatuan kita. Itu menjaga kita.
Kitab suci dan panduan kita. Kau yang paling tahu itu, Hank.
Jika seseorang memilih melanggarnya, dia harus membayarnya.
Seperti selama ini.
Dan selalu akan begitu.
Lisa, aku menandatangani pernyataan dari jaksa wilayah.
Suamimu akan dibebaskan dari tuduhan.
Aku tak percaya. Sungguh.
Itu hal terbaik yang kudengar dalam waktu lama.
Kabar baik untukmu juga.
Itu berarti tuntutan terhadap kota makin kuat.
Membuktikan bahwa polisi itu, Doyle, bersalah, dan suamimu, Shawn, benar.
Terima kasih.
Aku senang bisa membantu.
Bung, kota ini perlu lebih banyak orang sepertimu.
Orang yang sungguh peduli dan tahu cara memperlakukan orang dengan manusiawi.
Hei. Ini, kawan kecil.
Aku turut prihatin soal ayahmu. Dia pria yang baik.
Dia tak bersalah.
Lalu kenapa kau membunuhnya?
KEPOLISIAN CHICAGO
Sungguh, aku mulai takut.
Sungguh.
Tiap kali kulihat polisi, aku cemas. Aku mulai berpikir tanpa henti.
Aku sungguh berlutut,
melihat kolong mobil. Aku tak tahu untuk apa, tapi kucari.
Berapa banyak petugas di mobil itu?
- Apa maksudmu? - Hanya bertanya.
Satu. Kenapa?
Jika seseorang ingin menaruh sesuatu,
menurutku...
dia pasti sendirian. Tanpa mitranya.
- Maksudmu... - Maksudku,
kru Doyle itu suka bermain kotor.
Maaf melibatkanmu di sini, Ruz.
Omong kosong ini mulai menggangguku.
Apa aku gila, atau ini sungguh terjadi?
Hei. Berikan lap itu.
Apa?
- Heroin. - Apa-apaan?
Yah, setidaknya kita tahu kau tak gila.
Sial.
Oke, apa rencananya?
Akan kau inventarisasikan? Tulis laporan?
Aku tak tahu. Masih kupertimbangkan.
Kau sudah menyelidiki mobil patrolinya? Melihat nomor polisi dan kodenya?
Oke, kita lihat rekaman alat pengawasan polisi, periksa videonya.
Siapa tahu kita bisa menangkap bajingan kotor yang menaruh ini.
Mungkin saja, tapi mereka ada di mana-mana.
Mungkin sepupu dan paman Doyle ada di Divisi Provos.
Berarti, apa pun yang kita temukan, kasusnya tak akan maju.
Dan kau tahu itu.
Oke. Lakukan apa yang harus kau lakukan.
Tapi, ingat, aku di sini untuk membantumu, oke?
Kapan pun kau mau.
Terima kasih.
Petugas Polisi akan lebih sering berkeliling di jalanan dan lingkungan.
- Hei. - Ini juga...
- Wakil Superintenden berpidato. - Maksudmu, meminta maaf.
Dia memberi tahu kita bahwa kita sekumpulan idiot tak berpengetahuan.
- ...bukan blokade. - Menurutku tak sejauh itu.
Dia hanya bilang yang kita sudah tahu.
Polisi harus lebih mampu meredam.
Ya, tapi dia tak harus bersikap tak hormat begini.
- Kita semua berusaha sebaik mungkin. - Kurang baik, Hailey.
Kurang.
CPD tak membunuh George Floyd. Tapi kita jelas membunuh Shawn Page.
Jadi, mungkin kita harus menyimpan opini kita
- dan mendengarkan perkataannya. - Ya, aku tidak...
Sekali lagi, kita akan hancurkan Tembok Biru itu.
Senang bertemu kau, Sersan.
- Sama-sama. - Aku tahu kau sibuk.
Terima kasih telah datang menemuiku secara langsung.
Wakil Superintenden menelepon, aku harus datang.
Panggil aku Sam. Mau minum? Kopi? Air?
Tidak, terima kasih.
Aku baru di sini dua minggu, dan aku terus mendengar namamu.
Hank Voight begini, Hank Voight begitu.
Dari semua yang kudengar, kau polisi hebat.
Kau sangat baik. Tapi, kutebak kau tak memanggilku
- untuk memuji. - Jelas.
Tidak.
Aku ingin memberi informasi, polisi ke polisi.
Jika kau terus menjalankan unitmu dengan caramu
selama tujuh tahun ini, kau akan kehilangan pekerjaan sebelum Natal.
Ada lagi yang harus kuketahui?
Ya.
Aku di pihakmu.
Aku ingin kau sukses, Sersan.
Jika Hank Voight bisa mengubah caranya menjadi polisi,
belajar mengikuti aturan, seluruh departemen akan mengikuti.
Terima kasih atas informasimu, tapi aku harus pergi.
Ada gadis lima tahun baru tertembak.
Jaga dirimu, Sersan.
Permisi, Bu.
Bertahanlah. Kau akan baik-baik saja.
Kami sedang pulang dari pasar, lalu ada dua tembakan.
Dan Lara di jalanan, berdarah.
- Oke. Kau lihat penembaknya? - Tidak.
Kau lihat hal mencurigakan?
Tidak. Kami hanya berjalan, lalu dia tertembak.
Aku harus menemani putriku.
Oke, pergilah.
- Apa yang kita ketahui? - Tak banyak.
Aku dan Jay mendengar panggilan ini
di radio, jadi kami langsung datang.
Gadis itu berdarah saat kami sampai.
Dia tertembak di perut. Untungnya, ambulans cepat sampai.
- Apa ini? Perampokan? Tembak lari? - Kita tak tahu.
Dia berjalan bersama orang tuanya, lalu tertembak.
Mereka tak melihat apa pun.
Mereka mendengar dua tembakan keras, lalu
putri mereka jatuh berdarah.
- Peluru tersasar? - Sepertinya begitu.
Oke, kita mulai menyisir. Hubungi saksi, gunakan POD,
kamera CCTV. Cari saksi mata.
Terima kasih.
Kuharap Kev tak menganggap aku...
Berkeluh kesah soal pidato Wakil Superintenden.
Bukannya aku ingin mengecilkan yang terjadi pada Shawn Page.
Aku yakin dia tahu itu.
Dia hanya melampiaskan. Banyak yang terjadi saat ini.
- Aku tak akan khawatir. - Oke.
Pak, kau tinggal di sekitar sini?
Kau lihat hal tak biasa? Orang bersenjata?
- Ada yang bertengkar? - Tidak.
- Dengar tembakan? - Tidak.
- Sudah berapa lama kau di luar? - Sekitar sejam.
Kau di sini selama sejam dan tak dengar dua tembakan
yang mengenai gadis kecil di sana, 30 menit yang lalu?
Sudah kubilang.
Kami hanya ingin cari informasi.
Aku tak punya, jadi pergilah, Jalang.
Apa katamu?
Ayo.
Ya, kalian polisi rasialis tak disambut di sini.
Hei, Bung. Lihat penembakan hari ini?
Mungkin, kau mendengar tembakan sekitar 30 menit lalu?
Melihat pertengkaran, perkelahian?
Mobil yang mengebut? Atau hal semacam itu?
Oke.
Tidak. Apa yang kau lakukan? Stop!
- Dia melempar botol bir kepadaku. - Ya. Biarkan.
Jangan perbesar ini. Biarkan.
Itu Serangan Kekerasan terhadap petugas polisi.
Oke. Mereka bisa merekam semau mereka. Aku tak peduli.
Aku peduli. Karierku takkan kupertaruhkan karena botol bir.
Biarkan, oke?
- Oke. Ada info apa? - Tak banyak.
Tak ada yang lihat penembak. Tak ada selongsong dan saksi.
Tak ada yang mau bekerja sama.
Chicago Med baru menghubungi. Bocah itu, Lara Diaz, kritis.
Tapi, kabar baiknya, dokter mengeluarkan peluru.
Sembilan milimeter. Sedang diuji balistik.
No comments yet. Be the first to leave one.