Paths of Glory

Paths of Glory

Download Indonesian Subtitle

Release info

Paths of Glory 1957 BluRay H264 AAC-RARBG
A Commentary by tedi
Retail AMZN Resync for BluRay

Tags

bluray
Published on: 2024-08-01
Downloads: 222
Hearing Impaired: No

Indonesian subtitle preview

The first 200 lines.

Perang dimulai antara Jerman dan Prancis

pada 3 Agustus 1914.

Lima pekan kemudian, tentara Jerman menerobos masuk

sejauh 29 km dari Paris.

Di sana, pasukan Prancis yang babak belur secara ajaib bersatu di Sungai Marne,

dan dalam serangan balik tak terduga, memaksa mundur pasukan Jerman.

Garis depan berhasil distabilkan, dan tak lama kemudian,

berkembang menjadi garis tak terputus berupa parit yang dijaga ketat

dan membentang berliku-liku sepanjang 805 km

dari Selat Inggris ke perbatasan Swiss.

Pada tahun 1916, setelah dua tahun perang parit yang mengerikan,

garis pertempuran tak banyak berubah.

Serangan yang berhasil diukur dalam ratusan meter

dan dibayar dengan ratusan ribu nyawa.

Jenderal Broulard, Pak.

- Halo, George. Apa kabar? - Paul.

Senang bertemu denganmu lagi. Sangat menyenangkan.

Ini luar biasa.

Luar biasa! Megah, sangat megah.

Aku mencoba menciptakan suasana menyenangkan untuk bekerja.

Kau sangat berhasil. Andai seleraku pada karpet dan lukisan sebaik seleramu.

Kau baik sekali, George. Duduklah, George.

- Terima kasih. - Tak banyak yang kurenovasi.

Tempat ini kurang lebih sama seperti saat aku menempatinya.

Paul, aku menemuimu untuk membahas hal besar.

Ini rahasia besar dan hanya boleh disampaikan kepada kepala stafmu,

tapi hanya jika kau percaya dia bisa menjaga rahasia.

Tentu saja.

Sekelompok tentara akan segera membentuk barisan untuk menyerang.

Markas besar bertekad melakukan terobosan maksimal.

- Kenapa kau tersenyum? - Aku sungguh minta maaf.

Aku sempat berpikir tahu yang akan kau katakan. Silakan lanjutkan.

Menurutmu, apa yang akan kukatakan?

- Sesuatu tentang Bukit Semut. - Kau memang pembaca pikiran.

Itu posisi penting.

Ada di sektorku. Sejujurnya, aku mendengar rumor.

- Tak ada rahasia di markas besar. - Bagaimana menurutmu?

Itu kunci ke seluruh posisi Jerman di sektor ini.

Mereka sudah di sana selama setahun.

Sepertinya mereka akan bertahan setahun lagi jika mau.

Ada perintah resmi untuk menguasai Bukit Semut paling lambat tanggal 10.

- Itu lusa. - Bukankah itu terlalu cepat dan konyol?

Aku tak akan kemari jika kupikir itu konyol.

Paul, di kesatuan ini, hanya kau yang bisa melakukan ini untukku.

Itu mustahil. Tentu saja.

Divisiku hancur lebur.

Jangankan merebutnya, pasukan yang tersisa tak mampu mempertahankan Bukit Semut.

Maaf, tapi itulah faktanya.

Paul, ada hal lain yang ingin kukatakan kepadamu,

tapi aku yakin kau akan salah paham dengan motifku mengatakannya.

- Soal apa? - Kau pasti akan salah paham.

Namun, sebagai temanmu, mungkin aku harus memberitahumu.

- Apa yang ingin kau katakan? - Paul, di markas besar, kami membahas

soal mempertimbangkan dirimu untuk masuk Korps 12.

- Korps 12? - Ya, serta pangkat baru.

Aku sudah berusaha semampuku.

Korps 12 butuh jenderal perang, dan kau layak naik pangkat.

Kita berdua tahu rekam jejakmu cukup bagus

untuk menolak tugas ini berdasarkan alasan yang kau sebutkan.

Kau bebas berpendapat. Mereka hanya akan memilih orang lain.

Jadi, jangan biarkan ini memengaruhi pendapatmu.

- Maaf. Mau konyak? - Terima kasih. Tidak sebelum makan malam.

Aku bertanggung jawab atas nyawa 8.000 orang.

Untuk apa aku mempertaruhkan itu?

Apa reputasiku dibandingkan dengan itu?

Aku mengutamakan pasukanku, George.

- Mereka juga tahu itu. - Aku tahu itu.

Mereka tahu aku tak akan pernah mengecewakan mereka.

Itu sudah pasti.

Nyawa satu prajurit lebih berarti bagiku daripada semua prestasi di Prancis.

Jadi...

menurutmu pasukanmu belum mampu melancarkan serangan ini?

Aku tak bilang begitu, George.

Mereka mampu melakukan apa pun begitu semangat juang mereka bangkit.

Aku tak mau memaksamu jika menurutmu itu bukan keputusan bijak.

Jangan khawatir, George. Kau tak bisa memaksaku.

Tentu saja, artileri akan memberikan dampak besar.

- Bantuan artileri apa yang kau sanggupi? - Akan kucari tahu.

- Bagaimana penggantinya? - Akan kami pikirkan,

tapi aku yakin kau bisa akur dengan orang itu.

Kami mungkin akan akur.

Paul, sudah kuduga aku benar mendatangimu.

Kau orang yang akan merebut Bukit Semut. Sedangkan pangkat itu...

Itu tak ada kaitannya dengan keputusanku!

Jika ini demi pangkat, aku justru menolaknya.

Aku sangat menyadari itu.

Kapan kau ingin ini dilaksanakan?

- Paling lambat lusa. - Kita mungkin akan berhasil!

Halo, Prajurit. Siap membunuh lebih banyak orang Jerman?

- Ya, Pak. - Siapa namamu, Prajurit?

- Pak, Tamtama Ferol, Kompi A. - Kau sudah menikah, Prajurit?

- Belum, Pak. - Aku yakin ibumu bangga padamu.

- Ya, Pak. - Lanjutkan, Tamtama. Semoga berhasil.

Terima kasih, Pak.

- Pagi, Jenderal. - Selamat pagi.

- Halo, Prajurit. - Pak.

- Siap membunuh tentara Jerman lagi? - Ya, Pak.

Kulihat kau sedang merawat senapanmu.

Begitu seharusnya. Sahabat prajurit.

Jika kau baik padanya, dia akan selalu baik padamu.

Ya, Pak.

Semoga berhasil, Prajurit.

- Lanjutkan. - Terima kasih, Pak.

Halo, Prajurit.

Siap membunuh lebih banyak orang Jerman?

Semua baik-baik saja, Prajurit?

Baik. Ya, Pak. Aku baik-baik saja.

Prajurit baik.

- Kau sudah menikah, Prajurit? - Menikah? Aku, menikah?

- Ya. Kau punya istri? - Istri? Apa aku punya istri?

Pak. Dia mengalami kejut ledakan.

Apa katamu, Sersan? Tidak ada yang namanya kejut ledakan.

Kau punya istri, Prajurit?

Istriku? Istriku. Ya, aku punya istri.

Aku tak akan pernah melihatnya lagi.

Kendalikan dirimu! Sikapmu seperti pengecut!

- Aku memang pengecut, Pak. - Hentikan itu!

Sersan, segera pindahkan bayi ini keluar dari resimenku!

Aku tak mau pria pemberani lainnya terpengaruh olehnya.

- Baik, Pak. - Lanjutkan, Sersan.

Kau benar, Pak. Masalah seperti ini bisa menyebar jika tak diperiksa.

Jenderal, aku yakin kunjunganmu ini

memberikan efek besar terhadap semangat juang mereka.

Kurasa itulah sumber semangat juang bagi Resimen 701.

Tidak, Mayor. Semangat itu terlahir dari dalam diri mereka.

Jenderal datang, Pak.

- Senang bertemu denganmu, Kolonel. - Aku merasa terhormat, Jenderal.

Suatu kehormatan bagi kami.

Tempat kecilmu cukup rapi di sini.

Aku ragu soal rapi, tapi tempat ini memang kecil.

Namun, aku agak malu dengan kursinya.

Lebih dari cukup bagiku. Aku tak pernah terbiasa duduk.

Aku suka berdiri, terus bergerak.

Bisa kupastikan. Aku sulit meminta tanda tangan di mejanya.

Begitulah aku, Dax.

Aku tak bisa memahami petugas yang bekerja di belakang meja.

Mereka bertempur dari belakang meja, melambaikan kertas ke musuh.

Khawatir soal tikus akan masuk ke celana mereka atau tidak.

Entahlah. Jika bisa memilih antara tikus dan senapan, aku pilih tikus.

Aku tak percaya, Kolonel.

Namun, serius, jika ada prajurit yang pengecut,

biarkan dia memakai gaun dan bersembunyi di bawah tempat tidur.

Namun, jika ingin menjadi tentara, dia harus berani.

Dia harus bertempur, dan itu hanya bisa dilakukan di medan pertempuran.

- Itu motoku. - Kurasa aku setuju denganmu.

Argumenmu sangat meyakinkan, Pak.

- Kau selalu bisa diandalkan. - Kau mau melihat-lihat?

Ya, Kolonel.

Ini sesuatu untuk dilihat. Bukit Semut.

Pemandangan terbaik yang bisa kau lihat tanpa berada di sana.

Astaga. Itu tak akan lama lagi, bukan?

Wah.

Ya.

Aku pernah melihat target yang jauh lebih menakutkan.

Jauh lebih buruk.

Bukan sesuatu yang bisa kita ambil dan bawa kabur,

tapi jelas bisa direbut.

- Namun, terdengar agak aneh, bukan? - Kenapa?

Seperti ada hubungannya dengan melahirkan.

Ya, benar. Kau terlihat sigap pagi ini, Kolonel.

Bahkan lebih sigap dari biasanya. Namun, jangan lupa

kolonel mungkin pengacara kriminal terkemuka di seluruh Prancis.

- Tentu saja, Jenderal. - Tuan-Tuan, kalian berdua baik sekali.

Katakan, Kolonel, bagaimana operasi bantuan semalam?

Kami menarik beberapa artileri. Ada 29 korban, Pak.

Ya, aku melihatnya di jalan masuk. Benar-benar tak bisa dimaafkan. Bodoh.

Mereka berkerumun seperti lalat, menunggu dipukul.

Mereka tak pernah belajar. Mereka berada di posisi genting dalam baku tembak,

selalu berkerumun, kurasa itu naluri kawanan.

- Kebiasaan hewan yang lemah. - Kebiasaan manusia, menurutku.

Kau tak membedakan keduanya, Mayor?

Ya, tentu saja, sangat disesalkan.

Ya, benar. Mayor, bisa tinggalkan kami sebentar?

Ya, Pak. Tentu saja.

Kolonel.

Kolonel, bagaimana menurutmu?

- Tentang apa, Pak? - Bukit Semut.

Kolonel, resimenmu akan menyerang Bukit Semut besok.

- Kau tahu kondisi pasukanku, Pak. - Tentu saja, orang-orang akan terbunuh.

Mungkin banyak. Mereka akan menerima peluru dan pecahan peledak.

Dengan begitu, pasukan lainnya bisa lewat.

- Dukungan apa yang akan kami miliki? - Tak ada yang bisa kuberikan kepadamu.

Berapa jumlah korban tewas yang kau antisipasi, Pak?

Anggaplah, lima persen terbunuh oleh artileri kita. Itu sangat banyak.

Sepuluh persen melewati zona berbahaya,

dan 20 persen melewati kawat berduri.

Itu menyisakan 65 persen dengan bagian terburuk dari tugas ini.

Katakanlah 25 persen sisanya menguasai Bukit Semut.

Kita masih punya pasukan yang lebih dari cukup untuk mempertahankannya.

Jenderal, maksudmu lebih dari setengah pasukanku akan terbunuh.

Ya, itu konsekuensi yang buruk, Kolonel.

- Namun, kita akan menguasai Bukit Semut. - Namun, apakah pasti, Pak?

Aku mengandalkanmu, Kolonel. Seluruh Prancis mengandalkanmu.

Apa kau menganggapku lucu, Kolonel?

Aku bukan banteng, Jenderal. Tak perlu memotivasiku dengan mengibarkan bendera.

Aku tak suka perbandinganmu antara bendera Prancis dengan kain matador.

Aku tak bermaksud menghina bendera Prancis, Pak.

Patriotisme mungkin kuno, tapi patriot adalah orang yang jujur.

Tak semua orang berpikir begitu. Samuel Johnson punya pendapat lain.

Apa pendapatnya?

More Indonesian subtitles for Paths of Glory

Comments

No comments yet. Be the first to leave one.

Keep it about this subtitle — sync, quality, typos.500 characters left