The first 200 lines.
Letakkan di sini. Letakkan di sana.
Yang tinggi itu, ya.
Pelan-pelan, bunga itu berharga.
Kemarilah, letakkan di sini.
Ayah, aku menang.
Karena bimbingan Li'er,
kau bisa berkembang pesat.
Karena bimbingan Li'er?
Akulah yang berbakat.
Kau benar.
Kau jelas berbakat.
Bibi Kedua.
- Li'er. - Kau mengirim banyak bunga?
Benar, bunganya sudah mekar.
Cocok untuk tamanmu.
Li'er.
Paman Kedua.
Mari minum teh.
Ini camilan kesukaanku.
Kalian hanya tahu makan saja.
Ini...
Li'er,
kau membuat Rui'er berkembang.
Aku senang.
Tak pernah kubayangkan
anak tak berguna ini bisa masuk istana untuk terima hadiah.
Keponakanku,
- aku tak tahu cara berterima kasih. - Benar, Li'er.
Ini bisa terjadi berkat dirimu.
Kita keluarga.
Jangan bilang begitu.
Kalian ini!
Haruskah begitu munafik?
- Jiang Jingrui. - Jiang Jingrui.
- Kenapa? - Kupukul kau! Aku...
Istriku.
- Ada apa, Bu? - Kenapa?
- Pinggangku. - Kenapa pinggang tuamu?
Pinggangmu yang tua!
- Istriku, kemarilah. Biar kupijat. - Jangan sentuh.
- Istriku. - Tong'er.
Ayo. Mari. Cepat.
Biar kulihat di mana.
- Di mana? - Di bawah.
Ada apa?
Kudengar
Zhou Yanbang ingin bertunangan denganmu.
Zhou Yanbang
dimanja sejak kecil.
dan tak ragu saat melakukan apa pun.
Jangan dipikirkan.
Adipati Ning Yuan sudah memenjarakannya.
Akhir-akhir ini, keluarga mereka berusaha
menutupi masalah ini.
Benarkah?
Namun, ini karma.
Siapa suruh Bibi Pertama tergesa-gesa menggantikanmu
saat kau baru tiba di Balai Gadis Suci?
Sakit.
Bermesraan di siang bolong begini
dengan penuh kasih sayang.
Tak tahu malu!
Kakak Pertama, kenapa kemari?
Aku yang harus bertanya.
Siang bolong begini saling merayu di kediaman orang.
Tak tahu malu!
Kakak Pertama, pinggangku terkilir,
jadi, Yuanping mengobatiku.
Pinggang tuanya terkilir.
Kalian...
- Kakak Pertama. - Kakak Pertama.
- Kenapa? - Semalam, pinggang tuaku terlalu lelah.
Kakak Pertama.
Pijat aku.
Cepat.
Kakak Pertama, biar kupijat.
Jingrui dapat peringkat pertama dalam ujian tahunan
berkat Li'er.
Kami kemari untuk berterima kasih.
Mau meremukkanku?
Pelan-pelan.
Pulanglah dan pijat pinggang kalian.
Istriku, biar kupijat pinggangmu di rumah.
- Rui'er. - Ya.
- Aku pulang dulu. - Ayo, Istriku, pelan-pelan.
Mari.
- Bu. - Pelan-pelan.
- Lihatlah. - Jingrui, ayo papah dia.
Ibumu berat sekali.
Dasar tak tahu malu.
Ayah.
Pelan-pelan.
Ayah sibuk beberapa hari ini.
Ayah baru tahu kau dapat peringkat pertama
dalam ujian tahunan saat dipuji Kaisar.
Ayah belum sempat adakan pesta perayaan
untuk studimu di Akademi Mingyi.
Ayah sudah lalai.
Tak perlu salahkan diri sendiri.
Aku sudah terbiasa setelah sepuluh tahun di Balai Gadis Suci.
Kehidupanku di Akademi Mingyi
tak seharusnya ganggu Ayah.
Ayah khawatir kau tak mampu beradaptasi dengan studi
di Akademi Mingyi,
jadi, takut menambah masalahmu jika terlalu banyak bertanya.
Ternyata bukan hanya pandai kaligrafi,
kau juga hebat memainkan kecapi.
Ayah benar-benar senang.
Ada kakak yang belajar kecapi di Balai Gadis Suci.
Aku belajar darinya.
Sebelum pergi, dia tinggalkan kecapi dan partitur untukku
agar aku bisa sering berlatih.
Karena latihan kecapi beberapa kali menunda pekerjaan kebersihan,
aku dimarahi oleh Kepala Pengurus.
Kau sudah menderita.
Tak ada yang harus ditutupi antara ayah dan anak.
Aku tak punya rahasia.
Jika ada pertanyaan, tanyakan saja.
Ayah tahu
kau dan Zhou Yanbang pernah bertunangan,
tapi akhirnya digantikan oleh Ruoyao.
Ayah tak pernah tanyakan pendapatmu.
Ayah terlalu khawatir.
Aku tak pernah suka Zhou Yanbang,
dulu maupun sekarang.
Begitu juga kelak.
Jika dia mencarimu untuk ubah pertunangan...
Seperti kata Ayah,
dialah yang memohon agar bertunangan.
Lagi pula, sudah kutolak.
Ayah membahas ini karena tak percaya padaku?
Bukan.
Baiklah, tak usah dibahas lagi.
Lain hari, Ayah akan adakan pesta perayaan untukmu.
Kau harus diberi penghargaan karena angkat martabat Keluarga Jiang.
Terima kasih, Ayah.
Kalau begitu, Ayah pergi dulu.
Kakak.
Lihatlah, aku hanya bisa andalkan diriku.
Andai bukan karena meraih reputasi
dalam ujian tahunan,
aku tak akan bisa melalui ini, bahkan disalahkan.
Kakak mendapat peringkat pertama.
Selain dapat hadiah dari Kaisar,
Kakak telah bangun reputasi di ibu kota.
Akan lebih mudah bertindak di masa depan.
Kalau roh ibuku melihatnya, dia pasti senang.
Saat ada di lingkungan aman, pikirkan peluang bahaya.
Bukan waktunya merasa tenang.
Bahaya yang sesungguhnya ada di depan.
Bodoh!
Ayah, aku hanya asal bicara soal mau menjadi biksu.
Mereka tak menganggapnya serius, kenapa Ayah anggap serius?
Selain itu, jika aku jadi biksu,
harga diri Keluarga Li akan hancur.
Harga diri?
Kini kau baru memikirkan harga diri Keluarga Li.
Apa yang tahunan Ayah andalkan di rapat pemerintahan?
Bertindak sesuai perkataan.
Hari ini, terimalah akibat
dari perbuatanmu kala itu.
Namun,
Ayah tak mungkin biarkan aku jadi biksu, 'kan?
Kenapa?
Jiang Li terkurung di Balai Gadis Suci selama sepuluh tahun,
tapi dapat peringkat pertama.
Lihat dirimu.
Kau diajari selama lebih dari sepuluh tahun,
tapi bagaimana hasilnya?
Semuanya sia-sia.
Baik. Ayah, aku tahu aku salah.
Aku akan lebih giat belajar
dan tak tertinggal.
Terlambat!
Semua orang di ibu kota tahu
tentang taruhan kalian,
jadi, Ayah tak bisa lagi melindungimu.
Tinggallah di kuil.
Jika prestasimu bagus dan masalah ini sudah reda,
mungkin Ayah bisa menjemputmu.
Ini juga bisa mengubah kebiasaan burukmu.
Bawa dia!
Ayah. Tunggu.
Ayah. Kakak.
Bela aku.
Kakak, bela aku.
Kakak. Ayah!
Aku tak ingin jadi biksu, Ayah.
Aku belum menikah. Aku belum beri Ayah cucu.
Jangan biarkan aku jadi biksu. Ayah!
Kenapa tertawa?
Aku kasihan pada Adik Kedua
karena tak paham niat baik Ayah.
Ayah melakukannya untuk Tuan Putri Pertama.
Demi ambisi Tuan Putri Pertama dan Cheng Wang,
Keluarga Li korbankan putra.
Jika kelak mereka sukses,
Keluarga Li akan jadi yang paling berjasa.
Sejak kapan kau sadar?
Tak masuk akal
No comments yet. Be the first to leave one.