The first 200 lines.
Tenang!
Tenang!
Tenang dahulu!
- Tenang! - Demi keamanan warga kita.
- Tidak bisa. Pokoknya tidak mau, Pak. - Tenang. Ya.
- Pak Lurah untuk menyelesaikan ini. - Tenang dahulu!
Bicara satu-satu!
Kalau semua bicara, aku tidak mengerti
apa maksud pengaduan ini.
Ya. Tenang dahulu!
Saya mau bicara dahulu!
Nanti bergantian. Baik. Terima kasih.
Begini, Pak Lurah.
Kami ke sini mau mengadu hidup kami ini sudah tidak tenang lagi.
- Betul! - Tenang!
Gara-gara ulah Sahroni yang sudah kelewatan!
Memangnya kenapa Sahroni membuat penduduk sini tidak tenang?
Anda tidak merasa, ya?
Sudah.
Sahroni itu sudah membuat malu desa ini!
Betul, Pak!
Dia itu main judi, kartu, mabuk-mabukan, mencopet, dan lain-lain!
Bahkan, Pak, yang membuat saya geram dan kesal sekali,
Sahroni itu sudah mau menzalimi Juminten, Pak!
Sahroni berani menzalimi Juminten?
Sakit, bukan? Bayar, ya?
Bayar, ya?
Kapan?
Kau yakin ada orang yang mau mengintip Juminten mandi?
Ya... pasti ada, Pak Lurah.
Karena Juminten itu seksi, Pak.
Seksi?
Ya. Terus?
Terus?
Saat Juminten sudah telanjang bulat, dengan tubuh seksinya, Pak Lurah,
tiba-tiba dia melihat...
Siapa itu?
Gilanya lagi, foto-foto istri saya itu
dua hari kemudian dipasang di kios pasar, Pak!
Pak Lurah.
Saya ini cuma guru SD, Pak.
Saya melakukan pekerjaan ini karena saya mau mengabdi.
Setiap pagi saya berjalan satu jam ke sekolah, Pak.
Tanpa meminta imbalan apa-apa.
Bahkan gaji saya juga tak seberapa.
Memang ada uang bantuan warga dan uang iuran murid,
tetapi itu 'kan untuk pembangunan sekolah.
Namun, kenapa masih ada manusia seperti Sahroni
yang tega merusak murid-murid saya?
Apa ada, Pak, guru tetapi takut ke sekolah?
Hei, ada lagi? Ayo, keluarkan.
Kembalikan, Semuanya!
Terima kasih ya, Pak.
Lumayan. Beli sepatu baru.
Saya sudah tidak sanggup lagi, Pak, menahan derita ini, Pak.
Saya mau pamit saja, Pak, hari ini.
Tidak mau jadi guru, Pak. Saya mengundurkan diri.
Saya mau buka MLM saja, Pak.
Pak Junaedi, coba dipikir dahulu.
Kasihan anak-anak tidak ada yang mengajar lagi.
Tidak, Pak Lurah, saya sudah tak sanggup lagi.
Seret Sahroni keluar dari desa ini!
Tenang dahulu! Tenang, Bapak-bapak. Tenang!
Pak Lurah, ini yang namanya suara mayoritas, Pak.
Ini demokrasi, Pak.
- Seret Sahroni! - Seret Sahroni!
Hei!
Tunggu! Hei!
Hei, tunggu!
Jangan anarki!
Seret Sahroni!
Seret Sahroni!
- Seret Sahroni! - Seret Sahroni!
Sahroni!
Keluar kau!
Sahroni! Ayo keluar kau!
Mau apa kalian semua?
Mau cari gara-gara?
Hei, Sahroni. Kau harus keluar dari desa ini.
Kau sudah membuat resah penduduk sini.
Sudah berani sama saya?
Sudah mulai berani?
Ayo kalau berani maju satu-satu!
Jangan main keroyokan!
Siapa yang mau maju pertama?
Kau, Karto?
Ayo maju!
Kau, Masnur?
Siang-siang kenapa mengantuk?
Kleminen.
Gudil!
Ayo kalau berani, lawan satu-satu, jangan main keroyokan!
Sahroni tidak akan pernah mundur!
Ayo, jangan takut!
- Serang Sahroni! - Serang!
Maafkan saya, Bapak-bapak.
Saya sudah melakukan kesalahan yang fatal untuk desa ini.
Tolong maafkan saya. Jangan diusir dari desa ini, ya?
Mas Junaedi.
Mas Junaedi, maafkan saya, Mas Junaedi.
Tolong saya jangan dipukuli.
- Ya, Mas, ya? - Tak bisa. Tidak bisa!
- Ayo, sana seret Sahroni! - Ayo!
Tahan!
Kalian pikir kalian bisa menang?
Coba perhatikan sekeliling kalian!
Min?
Mau apa kau?
Sudah, mukamu tak usah ditutupi!
Bapak itu sudah tahu.
Ayo pulang. Ini urusan orang tua.
Kau saja yang pulang.
Paimin mau di sini, mau membantu Mas Sahroni! Pulang sana!
Astaga. Kurang ajar. Kambing bertanduk. Dasar bocah gemblung.
Tahi ini!
Bapak!
Rin! Rini! Hei, mainkan!
- Pak! - Rini!
- Sehat, 'kan, Pak? - Alhamdulillah.
- Kau sehat juga, 'kan? - Alhamdulillah, Pak.
Pas sekali Bapak suruh kau pulang sekarang.
Ya, tetapi mudah-mudahan di sini memang ada urusan yang lebih penting
dari alasan Bapak menyuruh Rini pulang.
Jangan begitu, Rin.
Pak Junaedi, guru SD kita itu berhenti.
Kita jadi butuh guru SD yang baru.
Bapak yakin kau pasti bisa bantu, 'kan?
Pasti mau bantu, ya?
Hei, mainkan, ayo! Jalan, ayo jalan.
Rini bukannya mau membantu, Pak, tetapi memang dipaksa mau.
Ayo kumpul, Bapak-bapak, Ibu-ibu!
Obat!
Obat hebat. Biar badan tetap sehat.
Obat mujarab didatangkan khusus dari Arab.
Ayo, Bapak-bapak, Ibu-ibu.
Siapa yang sehat... Maksud saya, siapa yang sakit, akan menjadi sehat.
Bapak-bapak, Ibu-ibu sekalian, belilah obat ini.
Dapat menyembuhkan kurap, kutil, bisul, gatal-gatal, alergi,
dan yang paling penting dapat menyembuhkan lapar.
Bapak-bapak, Ibu-ibu sekalian, ayo beli obat-obatan ini.
Dasar kau penipu!
Lihat ini.
Gara-gara obatmu, borokku bertambah lebar!
Dasar penipu!
- Penipu! - Hajar dia!
Minggir kau!
Bajingan!
Raden Pono, rombongannya sudah datang!
Raden Pono, rombongannya sudah datang!
Rombongannya sudah datang, Raden!
Raden Pono!
Raden Mas Pono, rombongannya sudah datang!
Mantap! Bagus!
Masih di luar itu, Den. Rombongannya sudah datang. Bagus!
Tidak usah teriak-teriak.
Aku sudah tahu.
Sana, menyingkir dari mukaku.
Nak Pono, kapan datang?
Perasaan tidak ada janji, bukan?
- Pak Lurah tak mau memperkenalkan kita? - Lupa.
Ini Raden Mas Supono Noto Boto Sedoso Tibo Limo Panguoso Sak Jagad Royo
Mangku Wanito Limo Tanpo Busono Sedoyo.
Ini Rini. Rini, anak saya.
Rini Endang Prianingsih.
Mahasiswi tingkat akhir di IPB Bogor.
Yang terpaksa harus menuruti Bapaknya pulang
cuma untuk urusan tak penting seperti ini.
Betul ya, Pak?
Macan.
- Cantik, Raden. - Suka deh.
Rokoknya di mana? Rokok?
Di kuping. Di telinga.
Sudah. Mari kita bicara di dalam saja, Nak.
Bicara. Mari.
- Pak Harjo. - Ya?
- Saya sudah cocok dengan anak Bapak. - Ya, Mas.
Saya minta diatur waktu sesegera mungkin untuk saya menikah dengan Rini.
Beres, Nak Pono.
Kasih waktu Rini sebentar.
Ini juga baru sampai.
Saya juga perlu menghitung weton Rini, weton Nak Pono.
Semoga cocok.
Saya tak mau ditolak, ya?
Ingat, dahulu dengan uang saya, saya membuat Anda menjadi lurah di sini.
Jadi, saya juga bisa mencabut jabatan Anda sekarang.
Gila, ayu sekali. Suka, aku suka.
Celaka.
- Monyet botak! - Monyong!
Maaf, Pak. Membuat kaget saja.
Maaf juga, Mbak. Saya membuat kaget Mbak.
Mbak guru baru di sini, ya?
- Ya, Pak. Saya Rini. - Saya Junaedi.
Mbak serius mau jadi guru di sini?
Sebaiknya jangan, Mbak.
Sekolah ini banyak penunggunya.
Maksud Bapak, di sekolah ini banyak setannya, Pak?
Ya, namanya Sahroni dan Paimin.
Mbak pulang saja. Daripada nanti Mbak mati berdiri di sini.
Maaf, Pak. Namun, saya tak percaya dengan yang seperti itu.
Permisi, Pak.
No comments yet. Be the first to leave one.