The first 200 lines.
Daniel!
Ibu!
- Kapan Ibu datang? - Kemarin.
- Ini. - Terima kasih.
Lama tidak bertemu.
Halo.
Ya.
Aku banyak mendengar tentangmu.
Tentu saja dari Daniel.
- Begitu? - Tiap kudengar, aku berpikir
- Tentang aku? - Aku jadi penasaran, Jun Kyung.
Seperti apa rupamu, bagaimana auramu.
Tapi ternyata
kamu tampak berwibawa.
Maksudku
kamu jauh lebih mengagumkan.
Kata "mengagumkan" tidak apa-apa, 'kan?
Ya.
Daniel!
Daniel!
Daniel, penampilanmu hari ini keren sekali!
- Halo. - Halo.
- Halo, ya. - Aku ibunya Ji Min.
Kamu Ji Min? Aku menontonmu tadi. Kamu hebat sekali.
Pantas saja Daniel tampan.
Ternyata perpaduan pas dari ibu dan ayahnya.
- Halo. - Halo, halo, ya.
Jun Kyung.
Maafkan aku.
Untuk apa kamu meminta maaf?
Bukan begitu, aku tidak tahu dia akan datang tiba-tiba begini.
Wajar saja dia datang, dia ibunya.
- Do Hyun. - Ya.
Wali kelasnya Daniel.
Aku sudah menyapanya.
Tunggu sebentar. Jangan pergi, tunggu aku.
Kenapa dia sepanik itu?
Apa tidak canggung?
Kenapa?
Karena aku?
Satu-satunya yang tidak kaku - Namaku Im Yoon Ju.
Sepertinya hanya kamu.
Sepertinya ini menyenangkan bagimu?
Mari kita makan bersama.
Kamu sudah meluangkan waktu datang untuk menonton pertunjukan Daniel.
Ya, aku berangkat sekarang.
Ayolah, minum saja dulu.
Baiklah, maaf.
- Selesaikan ini meski terlambat. - Baik.
Benar. Surat resmi praktik mahasiswa tingkat dua, batasnya hari ini...
Sebentar.
Kamu tahu kata sandi komputerku, 'kan?
- Tapi aku sedang... - Itu lebih mendesak.
- Kalau lapar, pesan saja makanan. - Baik.
- Kerjakan surat resminya dulu. - Baik. Hati-hati di jalan.
Ya.
- Ya? - Akhirnya aku menekan tombolnya.
Tombol apa?
Kamu tidak peduli? Pacarmu baru mulai jalan jadi penulis hebat.
Bukankah sudah kubilang hari ini tenggat kompetisinya?
- Aku sudah mendaftar. - Benar juga.
Aku hari ini ingin bersamamu
merayakannya dengan tonkatsu dan bir.
Ya, akan kuselesaikan secepatnya dan kubelikan.
Ya. Baiklah.
Profesor tidak ada?
Sudah pulang.
Kenapa?
Aku titip ini.
- Lain kali kumpulkan lebih cepat. - Baiklah.
Dan ini juga.
- Selamat bekerja. - Pergilah.
Ini - Terima kasih.
Kondisinya masih sangat bagus. Aku tidak enak menerimanya gratis.
Aku senang ada yang bisa merawatnya dengan baik.
- Makasih. Akan aku rawat baik. - Baik.
Baik-baik di sana, di rumahmu yang indah.
Ja Yeong, kamu tidak apa-apa?
Rumah tanpa pemilik
yang hanya menyisakan kenangan, apa artinya?
Ayo kita cari makan yang enak.
- Kamu ingin makan apa? - Terserah kamu ingin makan apa.
Yang ingin kumakan adalah...
Ini yang ingin kamu makan?
Katanya makanan terlezat di dunia adalah ramen yang dimasak orang lain
di tempat terbuka seperti ini.
Begitu, ya.
Ramen buatanmu ini, karena aku memakannya bersamamu,
rasanya lebih lezat daripada mi instan yang kumakan di Alpen.
Bukan aku yang memasaknya, tapi mesin.
Awas tumpah.
Apa kamu belum ingin bekerja lagi?
Entahlah.
Sejak Bom sakit,
entah kapan aku harus merelakannya. Ternyata sudah lewat enam bulan.
Sudah enam bulan?
Burung-burung migran itu...
Mereka terbang bebas ke mana saja,
lalu saat menua dan lelah,
apa yang terjadi jika mereka tidak lagi kuat untuk terbang jauh?
Pada akhirnya,
akankah mereka menetap dan tinggal di satu tempat?
Sepertinya begitu.
Aku belum pernah memikirkannya.
Kedengarannya agak menyedihkan.
Menurutku itu bagus juga.
Bukankah mereka sudah lelah mencari musim yang baik?
Menjadi yang pertama melihat bunga mekar,
yang pertama merasakan hangatnya matahari,
yang pertama menginjak daun-daun gugur,
dan bisa menjadi yang pertama menyapu salju.
Jika ada tempat seperti itu,
kurasa menyenangkan hidup menetap seperti burung penetap
sambil menyambut dan melepas segalanya.
Karena seumur hidupku, aku hidup seperti burung migran.
Siapa bilang tonkatsu paling cocok dengan bir?
Itu semua hanyalah pelipur lara kaum tidak berpunya.
Ternyata tonkatsu itu paling pas dengan wiski.
Minimal yang berumur 30 tahun.
Ada apa?
Kenapa murung? Kita harusnya merayakan.
Saat orang lain sibuk mengurus nilai dan membangun portofolio,
apa yang sudah aku lakukan?
Kamu tergila-gila pada wanita dan hanya sibuk berpacaran.
Aku mengirimkannya padamu karena kupikir kamu orang yang tepat
untuk menjadi pemantau novel roman.
Kamu bahkan tidak selesai membaca naskahku.
Maaf. Karyamu pasti akan berhasil.
Tentu saja.
Kamu tahu, 'kan?
Rencanaku saat lulus dan masuk ke penerbit.
Menabung 24.000 dolar untuk hidup sambil menulis sampai umur 30,
lalu langsung berhenti kerja.
Mendaftar kompetisi pada musim semi di usia dua puluh sembilan.
Pengumumannya tiga bulan lagi.
Sesuai rencana, sebelum usiaku 30,
aku akan menerbitkan bukuku sendiri.
- Sudah tidak mau minum lagi? - Sayang diminum hanya untuk ini.
Sebentar lagi akan ada kabar yang sangat baik
dan saat itulah kita akan meminum wiski ini.
Kamu pikir hidup akan selalu berjalan sesuai rencanamu?
- Kenapa kamu pesimis sekali? - Kenapa kamu optimis sekali?
Aku bukan pesimis atau optimis,
tapi idealis.
Seandainya wanita itu lebih sopan...
Bukan,
tidak terlihat lebih muda dari dugaanku
dan tidak cantik sekalipun,
- apa aku akan merasa begini? - Tetap saja.
"Silakan makan bersama keluarga." Ucapan itu agak...
Sangat buruk, bukan?
Aku bisa mengerti.
Harus bertemu mantan kekasih pacarmu dan putra mereka.
- Wajar saja kamu terguncang. - Mereka bertiga keluarga rukun
dan aku penjahat yang menyusup sebagai tamu tidak diundang.
Aku tahu persis rasanya.
Setiap kali aku pergi ke pertemuan keluarga mertuaku,
ada paman, bibi, sepupu, sampai kerabat jauh mereka.
Astaga, mereka semua rukun sekali.
Hanya aku tamu tidak diundang yang terjebak di keluarga mereka.
Lalu karena merasa tidak enak,
Jeon Hyung Jun menjadi gelisah.
Apa dia tahu kalau aku makin muak melihatnya seperti itu?
- Ayah pulang! Ayah pulang! - Ayah.
Ayah.
- Kalian bersenang-senang? - Ya.
- Apa-apaan ini? Seo Jun Kyung! - Dia tidak tahu.
Kalian main dulu. Hei, Jun Kyung, Kapan kamu datang?
Jun Kyung, kapan datang? Ada apa? Kerja di RS hari ini membosankan.
Sepertinya karena menunggumu. Ada apa ini? Ada hal seru apa?
Kalian tidak membahas semuanya duluan, 'kan?
Ada apa?
Ini serius? Situasinya serius?
Tunggu saja, akan kuberikan konsultasi yang luar biasa.
Tunggu sebentar, aku akan ganti baju dan segera kembali.
Tunggu sebentar!
Makan juga pizanya.
- Terima kasih. - Selamat menikmati.
Kelihatannya enak.
Mau minum segelas anggur?
Aku tidak usah. Minumlah kalau kamu mau.
Aku sudah berhenti minum-minum.
Tapi
bukankah kamu seharusnya datang pekan depan?
Aku hanya datang lebih awal.
Yah, aku juga ingin menonton pertunjukan Daniel.
Seharusnya kamu menghubungiku.
Aku ingin memberimu kejutan.
- Ya, benar-benar kejutan. - Benar, bukan?
Ibu menonton semuanya dari awal.
Ibu menonton semuanya dari awal?
Ya. Kamu hebat sekali. Bukan, maksud ibu sangat...
Kelahiran menurun, jadi aku harus menjaga sikap di depan direktur
sementara pasien jiwa bertambah dan terus mencari Jeon Hyung Jun.
Aku pikir akan lebih mudah karena anak-anak sudah besar,
jadi, aku dengan percaya diri bertukar peran dengannya,
tapi yang bertambah hanya
keahlian membuat minuman keras dan lemak perutku.
Aku tidak punya baju untuk kupakai ke pernikahan Dokter Hong.
Bukan seperti biasanya saat kubilang tidak punya baju,
No comments yet. Be the first to leave one.