The first 200 lines.
Las Encinas berusaha kembali buka seperti biasa
menurut komunike sekolah.
Itu kejadian mengerikan.
Dua minggu kemudian,
kami belum tahu banyak soal penembakan itu.
Kami ingatkan tak ada yang terluka. Kami akan terus mengabari.
Saudariku sekolah di sana juga.
Dia menjalani hidup bahagia.
Tapi lihat aku.
Itu akan berlalu.
Masa terburuk berlalu, seperti masa terbaik.
Kapan derita ini sirna?
Aku berniat kembali minum pil.
Tersisa beberapa papan.
Kau tak butuh pil, apalagi swamedikasi.
Ya ampun.
Sampai kapan mimpi burukku ini?
Kecemasanku? Depresi yang kuhadapi setiap hari?
Kau harus melewatinya saat ini.
Jangan lari. Hadapi. Tahu-tahu, itu akan berlalu.
Aku bisa jamin Las Encinas adalah tempat yang aman.
Bagaimana kau yakin?
Entah kenapa ini masih dibahas.
Nyawa anak-anak kami terancam.
- María, tolonglah. - Tidak.
Kalian harus mengeluarkan Dídac.
- Ibu! - Nanti, Nico, tolong.
- Ada ahli waris Mafia di Las Encinas... - Mafia?
- Sudah masuk berita. - Itu umpan klik.
- Mereka pengusaha. - Dan Dídac masih remaja.
Aku bahkan tak mengenalmu...
- Aku Luis, kepala prodi. - Masa bodoh.
Mereka datang karena tahu anak itu sekolah di sini.
Jadi, keluarkan Dídac atau kami tarik anak-anak kami.
- Sesimpel itu. - Apa boleh buat.
- Apa boleh buat. - Tidak, María.
Dengar, luangkan waktu dua hari untuk memikirkannya dan mengambil suara.
Jika ingin memberikan hak suara kalian ke seseorang...
ke mereka,
silakan.
Oke, pokoknya, pisahkan dia dari mereka.
Terima kasih banyak.
Jika kalian sudah memutuskan, baru kita lanjutkan rapat.
- Makin kacau saja. - Dídac...
Yang benar saja. Aku tak bisa menjauh dari kalian.
- Kau harus berhenti! - Hei, tenanglah.
Jika aku dikeluarkan,
Ayah akan membawaku ke Jávea.
Kau terlibat dalam hal apa?
Kau tak akan ke mana-mana.
Kau belum menjawabku.
Jika kau ingin menjauh, silakan.
Tak masalah bagiku.
Tapi jangan tanya lagi.
Aku punya teman di sini.
Kau tak akan keluar.
Percayalah.
Tak mungkin. Ini tak adil.
Ini soal orang bersenjata.
Anak-anak!
Tolong kembali ke kursi kalian.
Nico, boleh Bapak pinjam fotomu dan Dídac?
Nanti Bapak kembalikan, Bapak akan berusaha mempertahankannya.
Terima kasih.
Nico.
Hei, kau...
Kau sangat keren memperjuangkan Dídac.
Dia sahabatku.
Senang berteman dengan orang yang rela berkorban demi teman.
LIHAT SISWI BARU GATAL...
Apa ini? Ponsel kita dapat pesan berbarengan?
Ini konten eksplisit dan dia dikatai pelacur, ini mungkin akun palsu.
Kurasa ini video seks yang bocor.
Jangan tonton. Itu melanggar privasinya.
Aku pasti akan menontonnya.
Jangan, Sara.
Kau merekam?
Kau suka merekamku, ya?
Cukup.
Kau lama juga menghentikanku, Say.
Kau melirik sambil merendahkanku.
Hai.
Hei.
Hei, soal video itu... Sungguh disesalkan. Kau pasti sedih.
Tak separah itu.
Tak akan membuatku susah tidur.
Jika itu terjadi padaku...
Ponselku dicuri beberapa hari lalu.
Itu bisa terjadi.
Tak bisa dibatalkan, jadi... hidup terus berlanjut.
Aku Chloe.
Sonia.
Salam kenal.
Terima kasih atas kepedulianmu.
Sayang hari mendung untuk berenang.
Tenang. Di sini juga nyaman.
Perusahaan yang penting.
Rencana hanya alasan. Bersulang.
Ini baru es batu. Bukan yang ada di luar negeri.
Es batu di Spanyol luar biasa.
Ayolah.
Jangan nakal.
Saat aku baik, aku sangat baik.
Saat nakal, malah lebih baik.
Bersulang.
Hai, Ibu.
Hai!
Sayang, kau ingat José Luis?
Dia tampak tak asing.
Dulu dia masih kecil.
Wah, kau sudah dewasa.
Tentu.
Aku tumbuh cantik, 'kan?
Sana jalan-jalan. Banyak yang harus kami bahas.
Baiklah.
Senang bertemu kau, José Luis.
Sama-sama.
Hei.
Lihat aku.
Hei.
Putriku sudah pergi?
Apa?
Carmen, yang benar saja!
Bajingan sepertimu membuat tanganku gemetar.
Aku tak bilang apa-apa.
Tapi aku tahu pikiranmu.
Ya ampun.
Kemarilah, Konyol.
Ini bukan setelan dari kekasihmu yang lain, 'kan?
Nanti kau mengotori rok lipit ini.
Kalau begitu, aku harus pulang dengan taksi seperti ini.
Sampai jumpa besok?
Ayolah.
Mari bertemu besok dan membahas alasanmu datang ke Madrid.
- Pasti bukan gara-gara aku. - Pintar.
Dah.
Selamat datang.
- Bisa? - Ya, aku bisa.
Baiklah.
Kutaruh barangmu di sini.
Ya, terserah.
- Kau lapar? - Ya. Ayo pesan makanan.
Aku kelaparan. Ayo makan yang enak, seperti piza.
- Aku suka itu. - Oke.
Baguslah.
Oh...
Kejutan!
Hei!
Terima kasih banyak.
Meski polisi bilang ada bukti
dan mobil yang terbakar itu milik Patrick, aku tahu bukan dia pelakunya.
Ya, tapi dia menghilang bersama keluarganya.
Entahlah.
Itu aneh.
Aku tahu, tapi tak peduli.
Bukan dia.
Dia tak akan tega kepadamu.
Iván, aku...
Aku minta maaf.
Aku sungguh menyesal.
Sungguh.
Aku prihatin kau banyak menderita dalam waktu singkat.
Aku mau ke toilet.
Aku mau cek keadaannya.
Apa itu tadi?
Apa-apaan itu?
Hei!
Kau mau mengaku?
Bukan main.
Bukan main.
Aku tak sanggup.
Kau tak sanggup?
Kasihan. Kau pikir hanya kau yang menderita?
Mau mendatangi polisi?
Ayo.
Aku akan mengaku.
- Apa? - Ya, akan kubilang aku pelakunya.
Apa tujuanmu?
Mengakhiri ini, tapi tak akan kubiarkan hidupmu hancur dan dipenjara.
Tidak akan.
Sumpah, biar aku yang dipenjara, atau aku bunuh diri jika perlu.
Dengar.
Kita tak perlu bertanggung jawab jika kita kompak.
Hal terburuk sudah berakhir, sumpah.
Percayalah.
Oke?
Hei...
Hei...
Besok, pastikan sudah membaca asal usul dan perspektif teoretis
dari Kampus Frankfrut. Terima kasih.
Omar.
Fakultas baru dihubungi soal magang berbayar.
Kerjanya mengelola aplikasi dukungan dan bantuan
untuk murid sekolah Las Encinas.
Kau alumni dari sana, 'kan?
Bukan.
Masa? Aku baca di...
Bukan.
Maaf Ibu membingungkan.
Pokoknya, teleponlah dia jika kau tertarik.
No comments yet. Be the first to leave one.