Love at First Sight

Love at First Sight

Download Indonesian Subtitle

Release info

Love at First Sight 2023 NF WEBRip DDP5 1 Atmos x264-EDITH
A Commentary by tedi
Retail NF Fix common errors

Tags

webrip
web
x264
BRip
Published on: 2023-09-15
Downloads: 93
Hearing Impaired: No

Indonesian subtitle preview

The first 200 lines.

Tanggal 20 Desember adalah hari terburuk

untuk bepergian melalui Bandara Internasional John F. Kennedy.

Lebih dari 193,000 penumpang tiba dan berangkat hari itu,

menyebabkan keterlambatan 23 menit saat masuk

dan waktu tunggu terlama 117 menit di bagian keamanan.

Tapi dari semua ketidaknyamanan penumpang pada hari menyebalkan ini...

- Permisi. - Maaf.

...hanya kisah satu penumpang saja yang penting.

Karena hari ini, penumpang itu terlambat.

Permisi.

Maaf!

Hadley Sullivan akan ketinggalan pesawat ke London empat menit.

Tunggu! Kumohon, aku di sini.

Maaf, Nona. Kau terlambat.

Ada 367 jiwa di dalam penerbangan TA-5120.

412 koper, 344 barang pribadi, empat hewan pendukung emosional,

dan 62 bantal leher.

Bersama-sama, para penumpang ini akan pergi selama enam jam 47 menit,

semuanya tanpa Hadley.

Katanya, ketinggalan pesawat empat menit itu sial.

Kau mungkin menganggapnya semua terjadi karena suatu alasan.

Tapi bagi Hadley, empat menit itu bukan kesialan.

Karena segera, seorang gadis dan seorang pria akan bertemu,

dan itu akan mengubah segalanya.

Tapi agar jelas,

ini bukan kisah tentang cinta.

Ini kisah tentang takdir.

Atau statistik.

Tergantung pada siapa kau bicara.

Gadis itu adalah Hadley Ella Sullivan.

Dua puluh tahun. Tinggi 165 cm.

Dia terlambat 21% setiap waktu,

yang kebetulan rata-rata daya tahan baterai ponselnya.

Dia takut pada tiga hal, termasuk mayones,

ruangan kecil, dan dokter gigi.

Tapi ada satu hal yang tak pernah dia pikirkan untuk ditakuti.

Cuma satu semester.

Ayah akan mengajar puisi di negara asal Shakespeare.

- Kenapa Ayah tak senang sekarang? - Ayah senang.

Ini keren.

- Aku selalu mau belajar di luar... - Sebenarnya...

Sayang, kau dan Ibu tetap tinggal di sini.

Kenapa?

Dia belum siap mengakuinya, tapi dalam daftar ketakutannya,

perceraian mendadak berperingkat lebih tinggi dari mayones.

Kami bisa memasukkanmu ke penerbangan berikutnya.

Tinggal dua kursi, keduanya di kelas bisnis.

- Kapan perginya? - Satu setengah jam.

Tiba di London pukul 09,55.

- Pernikahan ayahku pukul 12,00. - Kau perlu memikirkannya?

Bisa beri waktu sebentar?

Aku akan... Maaf, sebentar saja.

Hanya...

Hei, Sayang, ada apa?

- Hei, aku ketinggalan pesawat. - Apa?

Aku bisa naik yang berikutnya,

tapi hanya ada bisnis dan tiba pukul 10,00.

Besok?

- Tidak, malam ini. Aku naik komet. - Hadley.

Maaf.

Baiklah, beli tiketnya dan Ayah akan mengganti uangmu.

- Tidak, aku bisa bayar. - Jangan konyol.

- Kau tak mampu membelinya. - Baiklah. Terima kasih.

Aku harus pergi.

Baiklah. Kirim pesan saat kau sampai, ya?

Ya, baiklah.

- Dah. - Dah.

Baiklah, ya, satu tiket kelas bisnis ke London.

Terima kasih.

Maaf.

Itu rusak.

Itu sebabnya terbuka.

Tentu saja.

Apa?

Lupakan. Tak ada. Terima kasih.

Pengumuman keberangkatan untuk penerbangan Al-3670...

Pinjam punyaku jika mau.

Ini, seperti dugaanmu, adalah prianya. Oliver Martin Jones.

Dua puluh dua tahun, tinggi 180 cm.

Dia tepat waktu 94% setiap waktu,

yang kebetulan rata-rata daya tahan baterai ponselnya.

Dia juga selalu takut pada tiga hal,

kuman, kegelapan,

dan kejutan.

Ini adalah gulungan...

Gulungan?

...yang di atasnya tertulis

nama setiap pria yang dianggap sesuai

dalam semua...

Saat ini, itu masih terlokalisasi.

Dengan perawatan tepat, peluangnya bagus.

Hal ini tak selalu bisa diprediksi.

Saat itulah Oliver memutuskan tak akan terkejut seperti itu lagi.

Segala sesuatu dalam hidup kita kini diukur oleh mahadata,

koneksi sosial, kebiasaan membeli, bahkan langkah kita sehari-hari.

Artinya, suatu hari nanti,

semua hal dalam hidup kita bisa diprediksi.

Selalu ada hal yang bisa mengejutkan kita.

Tidak jika ada cukup data.

Saat kau takut akan kejutan,

sebaiknya jangan biarkan hal terjadi secara kebetulan.

- Pinjam punyaku jika mau. - Begitulah.

Sampai kau bertemu gadis Amerika dengan baterai ponsel yang habis.

Maaf, aku tak berbagi elektronik sampai kencan ketiga.

Baiklah. Tidak, kurasa itu cukup intim.

Aku sudah selesai, jika kau mau memakainya.

Terima kasih. Aku...

Baterainya habis terus.

Mungkin hanya butuh perawatan.

Baterai ponsel punya siklus pengisian terbatas.

Kau penyuka teknologi, atau...?

Penggila matematika.

Aku belajar statistik di Yale.

Pamer status secara tak langsung.

Aku orang Inggris, tak bisa menahan diri.

Omong-omong, aku Oliver.

Seperti di Twist .

Konon orang Amerika tak berbudaya.

Memang begitu. Aku hanya penggemar Dickens.

Aku Hadley.

Senang bertemu denganmu.

Senang bertemu.

Apa jurusanmu, Hadley Penggemar Dickens?

- Sastra Inggris? - Aku...

Masih bimbang.

Ini tak seperti aku bangun dan bilang, "Aku akan jadi pengacara pajak."

Apa itu terjadi pada siapa pun?

Pengacara pajak. Mungkin.

Kau mau ke mana?

London. Kau?

Sama. Ya, aku sebenarnya...

Seharusnya aku sudah berangkat, tapi aku ketinggalan pesawat empat menit.

Menurutku itu takdir,

tapi kau mungkin memilih terlambat empat menit.

Aku mau cari makanan.

Kau mau ikut?

Apa itu kegiatan kencan ketiga bagimu?

Tidak, itu ide yang bagus.

Biasanya, keterlambatan Hadley dan ponselnya yang habis daya

menyebabkannya dapat masalah.

Hari ini, itu menuntunnya kepada Oliver.

Kau mau pulang untuk liburan?

Kurasa London adalah rumahmu.

Jujur, aku lebih suka tinggal di sini. Tak mau ketinggalan penelitianku.

Apa yang kau teliti?

Persentase orang Amerika yang ketinggalan pesawat.

Lucu sekali. Sangat lucu.

Itu menjijikkan.

Aku punya tisu basah untukmu.

Untuk ponselmu yang kotor dan sekarat.

Terima kasih.

Aku selalu benci bandara.

Sungguh?

Aku suka.

Kenapa?

Aku suka tak berada di sini atau di sana, hanya

di tempat tak pasti.

Terdengar bagus. Seperti api penyucian.

Tak suka karbohidrat?

Bukan, aku hanya benci mayones.

- Sungguh? - Ya.

- Penyedap menjijikkan... - Aku juga benci itu.

Itu

nomor dua dari tiga ketakutanku.

- Apa yang lainnya? - Dokter gigi dan ruangan kecil.

- Kau sudah memikirkan ini. - Tidak juga.

Jika aku bertanya apa ketakutanmu, kau tak perlu berpikir, kau sudah tahu.

Bagaimana kau tahu aku penakut?

Karena kau makan daging deli pakai garpu dan pisau.

- Maaf, aku harus terima ini. - Ya. Silakan.

- Kau tiba pukul 11,00 besok? - Bukan, pukul 10,00.

Aku mengirim surel.

Sungguh?

Kusalahkan Wi-Fi sasana, itu jelek.

Tugasmu hanya satu besok. Jemput aku pukul 10,00.

Tenanglah, akan kujemput.

Omong-omong, aku punya kejutan kecil untukmu,

jadi bersiaplah.

Apa? Aku tidak suka kejutan.

Ini bagus. Jangan kesal.

Sudah kuperingatkan, jadi jangan marah.

Logika macam apa itu? Luther, aku tak mau kejutan.

Pikirmu itu bagus. Tak ada yang bagus.

Tidak, maaf, Wi-Fi-nya putus. Aku tak bisa dengar.

Luth. Luther!

- Maaf soal itu. - Tak apa-apa.

Jika klaustrofobia adalah salah satu ketakutan terbesarmu,

kenapa kau mau naik pesawat tujuh jam?

Pertanyaan bagus.

Ada pernikahan.

- Sama sepertimu? - Benar.

Itu sebenarnya pakaian santaiku.

Aku suka bersantai memakai setelan rapi.

Hei, aku mengerti.

Kerutan membuat stres.

- Apa dia menyebutkan penerbangan kita? - Sudah?

Sial, aku tak boleh ketinggalan lagi. Jadi...

- Tasku. - Akan kuambilkan.

Terima kasih.

Kau baik sekali.

More Indonesian subtitles for Love at First Sight

Comments

No comments yet. Be the first to leave one.

Keep it about this subtitle — sync, quality, typos.500 characters left