The first 200 lines.
Ki, tolong!
Ki, Dudung...
Kerasukan di rumah tua.
Dudung!
Pokoknya kamu jangan ke sana dulu, ya.
Ini kayaknya dari rumah tua itu.
Tapi Papa gak bakal percaya kalau aku ngomong begitu.
Baik, Pak.
Besok kita ketemu di notaris, ya.
Pak Johan meninggal?
Ada-ada saja masalahnya.
Masa berturut-turut kena musibah yang mau beli?
Ma?
Mama?
Ma?
Mama?
Ma?
Mama?
Dewi.
Dewi?
Dewi?
-Kamu kenapa, Dewi? -Ini Mama.
-Dewi? -Ini Mama, Wi.
Ayo, kita ke kamar.
Dewi...
Kamu kenapa?
Dewi?
Ko.
Ko, bangun.
Temenin aku pipis, Ko.
Ko.
Kak.
Kak, bangun. Temenin aku pipis.
Kak.
Kenapa, Kang?
Kamu ngompol, ya?
Idih!
Itu! Di situ! Ayo!
Kak, di situ!
Ayo.
Satu, dua, tiga.
Dapet!
Kakang.
Yuk.
Yuk.
Duduk.
Duduk.
Sini pusarnya.
Lihat pusarnya.
Aduh!
Eh, Kakang. Kasurnya sudah Bapak jemur tuh.
Tapi seprainya kamu yang cuci, ya?
Ya, Pak.
Nakal.
Makanya jangan nakal.
Kamu kenapa, Kang? Semalam bisa ngompol gitu.
Gak berani ke kamar mandi?
Begini...
Kakang mimpi hantu.
Bapak yang meninggal kemarin.
Semalam mandi gak?
Enggak, Kak. Abisan udah kemaleman.
Dingin banget.
Pantas.
Bandel sih.
Bakal dateng lagi gak, Kak?
Semoga aja enggak.
Main ke rumah Agus yuk?
Pak, atapnya kenapa bisa jebol?
Maaf, atap rumah Bapak sudah jamuran. Jadi lapuk.
Minta izin, Pak.
Saya mau periksa ke atas, ya.
Silakan.
Nah, ini dia yang bocor, Pak.
Keliatan dari sini.
-Ayo, keluar dulu. -Baik, Pak.
Maaf mau tanya, Pak. Bangunan ini sudah berapa tahun?
Sudah 20 tahun.
Lama juga, ya.
Rembesan-rembesan tembok ini kemungkinan dari pipa bocor.
Maaf, tinggi rumah ini terlalu rendah.
Kalau musim hujan, rumah ini bisa kebanjiran.
Jadi, kapan bisa mulai?
-Bisa secepatnya. -Ya, secepatnya.
Gus, kok barangnya dikeluarin?
Mau diobral, Gus?
Mau pindahan?
Pindah ke mana?
Gus, Dewi di mana?
Ada di dalam, lagi bantuin mama.
Silakan masuk.
Yuk.
Kalian bantuin aku, yuk.
Asalamualaikum.
Waalaikumsalam.
Risa?
Siapa anak cantik ini?
Adik kamu, Sa?
Iya, Tante. Ini namanya Riri.
Pantesan mirip.
Riri, Indy. Salam dulu.
Mau pindah ke mana, Wi?
Mau pindah ke rumah yang dibeli sama Papanya Dewi.
Tunggu di luar, ya?
Duluan, ya,
-Mau dibantuin gak, Tante? -Indy juga.
Boleh, tapi yang enteng-enteng aja, ya?
-Yang itu tuh. -Baik, Tante.
Ayo, Indy.
Indy.
Yang itu gak usah dibawa.
-Indy, kamu bawa ini aja. -Iya, Kak.
-Hati-hati ya bawanya. -Iya, Kak.
Beneran mau pindah ke sana, Wi?
Iya, Sa. Semalam udah ada yang mau beli.
Tapi orangnya meninggal.
Pak Johan kecelakaan semalam.
Semalam?
Aku...
lihat keluarga Belanda di tempat kecelakaannya.
Wi, kayaknya rumah tua itu gak aman.
Trus gimana, Sa?
Rumah ini kan mau dibetulin.
Semalam aku juga diganggu di rumah ini.
Dewi, pasti kamu mengkhayal.
-Enggak, Pa. Dewi gak mengkhayal... -Dewi.
Papa udah bilang berkali-kali.
Jangan mengkhayal yang gak masuk akal gitu.
-Dewi gak mengkhayal... -Cukup, Dewi!
Papa gak mau denger kamu ngomong lagi soal hantu. Paham?
Sekarang masuk ke mobil!
Sabar, Pa.
Ada lagi gak, Tante?
Risa, ini kita siap-siap dulu, ya, karena udah mau berangkat.
Iya, Tante.
Maaf, ya.
Pamit, ya. Permisi.
-Makasih, Riri. Makasih, Indy. -Iya, Tante.
-Asalamualaikum. -Waalaikumsalam.
Kayaknya kalian buru-buru mau pindah.
Begini, rumah kami ada yang bocor, jadi terpaksa harus tinggal di sini.
Kami bisa bantu.
Pak, ayo kita bantu mereka.
-Tidak usah, nanti merepotkan. -Tidak apa.
Warga di sini sudah biasa membantu.
Sudah jadi kebiasaan.
Karena rumah ini sudah lama kosong,
sebaiknya dibersihkan dulu dan ditempati orang-orang.
Kami sepertinya sudah melakukan itu.
Cucu-cucu Aki sudah main di sini kemarin.
Maaf, tapi maksud saya, sebaiknya buat pengajian di rumah.
Insyaallah, Ki.
Kami juga ingin silaturahmi dengan warga sekitar.
Ya, 'kan?
Alhamdulillah. Kami senang sekali kalau begitu. Terima kasih banyak.
Silakan dilanjutkan. Saya izin permisi.
-Terima kasih, Ki. Waalaikumsalam. -Asalamualaikum.
-Permisi. -Ya, silakan.
Dewi.
Papa minta kamu kurangin waktu bermain sama Risa dan sepupu-sepupunya.
Lho...
Khayalan kamu semakin menjadi-jadi semenjak bermain sama anak-anak itu.
Papa gak mau anak Papa menjadi penakut, apalagi sama yang begituan.
Gak normal, Dewi.
Dewi juga maunya normal, Pa.
Dewi juga gak mau bisa lihat.
Risa juga pasti sama.
Tapi yang kita lihat, semuanya beneran. Dewi gak mengkhayal!
Dewi, udah.
Dimakan dulu ya nasi gorengnya.
Papa, udah yuk.
Ayo dimakan dulu mumpung masih hangat.
Yuk.
Mulai besok kamu les biola lagi.
Gak main keluar.
Mumpung masih liburan sekolah.
Dulu kan juga Dewi suka.
Les biola lagi, ya?
Nanti Papa ambilin biolanya di rumah.
Masuk.
-Ngapain, Kak? -Astaga, Dewi.
Kenapa kaget begitu? Kayak habis ngelihat hantu aja.
Kamu ngapain di sini?
-Udah sana balik ke kamar kamu. -Dewi takut tidur sendiri, Kak.
Ya ampun, Wi.
Dewi tidur di kamar Kakak, ya?
Ya udah. Tapi cuma malam ini, ya.
Nah, sekarang kamu cobain.
Do...
Re, mi...
Fa, sol, la...
Bagus, sekali lagi.
Bu Lufina?
-Boleh bicara sebentar? -Ya.
Kamu lanjutin, ya.
Ini untukmu.
Satu, dua, tiga.
Coba gantian.
-Kak, kenapa? -Satu, dua, tiga.
Dewi kok gak muncul ya hari ini?
No comments yet. Be the first to leave one.