The first 200 lines.
Ini tugas paramedis pertamamu, jadi, tenanglah.
Aku tak begitu bisa bersikap tenang.
Hei, Bocah Kaya, minggir. Kau, bagaimana kejadiannya?
Aku sedang pesta di lantai atas dan menemukannya di sini saat aku turun.
- Apa dia minum sesuatu? - Entahlah. Mungkin saja, itu pesta.
Kemungkinan overdosis. Suntik dia dengan Narcan.
Aku tahu. Aku bisa menanganinya.
- Kurasa penyebabnya bukan opiat. - Pernapasannya sangat lemah.
Sebaiknya kita lakukan intubasi atau dia takkan selamat.
Suruh mereka mundur. Ini bukan tontonan.
Ayo, semuanya, mundur. Kalian dengar dia, mundur!
- Saturasi oksigennya cukup. - Masukkan satu liter.
Aku akan periksa gula darahnya.
Tidak!
Biar aku yang urus dia. Pergilah.
Astaga, lihat!
- Apa yang terjadi? - Dia jatuh dari atas sana.
Aku butuh bala bantuan.
Aku berhasil menghentikan pendarahannya. Akhirnya.
Minggu ini aku hampir kehilangan dua pasien...
...yang darahnya tak bisa membeku karena obat jelek itu.
- Obat pengencer darah? - Ya, tapi bukan Warfarin.
Itu seperti obat baru yang dijual oleh perusahaan obat...
...sebelum ada antidot-nya.
Namun aku sudah jahit lukanya, jadi, dia bisa dioperasi sekarang.
- Baik, aku sudah menyeranta Scott. - Baiklah.
Hei! Kau tak bisa lakukan itu di tengah UGD.
Aku hanya melakukannya untuk membuatmu kesal.
- Ya, tak ada yang mau melihat itu. - Itu menurutmu, Topher.
Hei, ini para profesional dari Dover.
Ada pasien dengan limpa terkoyak di Ruang Trauma 1, siap dioperasi.
- Kemungkinan perlu dibawa keluar. - Baiklah.
Paul, siapkan ia di Ruang Operasi 1. Aku akan menyusulmu.
- Kita bahas Power Point-nya nanti. - Ya, aku kerjakan sekarang.
Power Point?
Ya, aku sudah berbulan-bulan mengejar pihak Farmasi Pressler...
...agar mereka memilih kita sebagai salah satu rekan riset mereka.
Mereka punya katup transkateter canggih.
Itu bisa membuat pasien keluar-masuk RS dengan lebih cepat.
- Lalu apa yang jadi hambatannya? - Hambatannya adalah...
...mereka hanya memberikan sampel kepada empat RS di seluruh AS.
Jadi, kita harus bersusah payah hanya untuk bertemu mereka.
Kedengarannya itu pertemuan yang sulit.
- Hai, kau pasti Dr. Clemmens. - Ya.
Jessica Sanders. Perwakilan dari Pressler.
Jangan khawatir, aku takkan membuatmu bersusah payah.
Maafkan ucapanku tadi. Kukira kau baru akan datang besok.
Ya. Ada perubahan rencana, aku harus terbang ke Denver besok.
Jadi, aku putuskan mampir malam ini untuk memeriksa aplikasimu.
Ya, aku harus mengoperasi pasien sekarang, tapi...
Tenang saja. Aku akan ada di sini bila kau sudah siap.
Aku akan mengobrol dengan Dokter Zia dan Dokter...
- Callahan. - Apa kita pernah bertemu?
Tidak. Jika pernah, kau pasti ingat. Tapi aku ingin bicara denganmu.
Aku baru saja dipanggil. Aku akan ganti baju di ruang ganti.
- Senang berkenalan denganmu. - Mungkin kita akan bertemu lagi.
- Jadi, Dokter Zia... - Ya.
Aku harus tidur dengan siapa agar San Antonio Memorial...
...mau beralih ke obat-obatan kami secara eksklusif?
- Itu... - Tidak! Aku bercanda.
- Secara teknis... - Aku bercanda. Itu hanya lelucon.
- Benar. - Tapi aku menginginkan kontraknya.
Jadi, bisakah kita membahas bisnis?
Hannah? Hai, aku Dr. Alexander.
Jadi, aku dengar kau dirawat karena demam?
ltu yang mereka katakan padaku di Pusat lnfusi.
Kanker. Aku kemoterapi di sana.
Dokter bilang demamku tinggi dan merujukku ke UGD.
Ya, demamnya masih agak tinggi.
Baiklah, bisa tolong berbaring?
- Kau baru menjalani operasi? - Sekitar tiga minggu yang lalu.
Dibedah untuk kedua kalinya.
Untuk mengangkat tumor yang telah menjalar ke hatiku.
Baiklah.
- Apa sakit atau nyeri saat kutekan? - Tidak.
Baiklah. Aku akan memberimu Tylenol untuk meredakan demamnya...
...tapi aku juga ingin melakukan pemeriksaan septik menyeluruh.
Dan pemindaian CT untuk mencari abses pasca-operasi?
Aku sudah cukup lama menjalani prosedur ini.
Bisa dibilang aku tinggal di RS, dan aku benci tempat ini.
Baunya, dinding sterilnya, dengung lampu neonnya.
Benar juga. Kalau begitu, aku pergi saja.
Maaf. Aku tak bermaksud tidak sopan di tempat kerjamu.
Tak apa-apa. Bulan lalu, ada pasien yang benar-benar BAB di sini.
- Ya ampun! Benarkah? - Ya, itu indahnya ilmu kedokteran.
Baiklah, mari kita lakukan tesnya.
Tapi asal kau tahu saja, aku tak mau makan makanan kantin.
Asal kau tahu saja, aku juga tidak suka.
Baiklah, mari kita periksa detak jantungmu.
- Kalungmu bagus. - Terima kasih.
- Sebelah sini! - Dokter, di sini. Cepat!
- Beri jalan. Beri jalan! - Dokter, sebelah sini.
- Apa yang kita hadapi? - Mahasiswi kaya, bodoh dan mabuk.
Dia jatuh dari balkon lantai empat. Aku tidak berani memindahkannya.
- Bagaimana tekanan darahnya? - Sistolik 90 dan dia tak responsif.
Alina! Ya Tuhan!
- Apa ini temanmu? - Ya. Dia teman sekamarku.
- Apa yang terjadi kepadanya? - Harusnya aku yang menanyakan itu.
Aku tak tahu. Tadi dia ikut pesta. Temanku menelepon menyuruhku kemari.
Tulang panggulnya tak stabil.
Baiklah, mari kita stabilkan dengan pengikat panggul.
- Alina... Apa dia bisa mendengarku? - Entahlah.
Teruskan memeriksa kondisinya, mungkin ada luka lainnya.
lbunya pasti akan panik.
- Ayo, cepat. - Menyingkirlah.
- Beri kami ruang! - Minggir, menyingkirlah.
lkuti aba-abaku. Satu, dua, tiga.
Tampaknya ada abses di dalam perutmu dan itu penyebab demamnya.
Kami akan membawamu ke bagian IR agar mereka bisa mengeringkannya.
Prosedur lagi? Apa aku tak boleh pulang saja?
Maaf, absesnya harus diobati dulu atau infeksinya bisa semakin parah.
Aku tak sanggup masuk ruang operasi lagi.
Menatap orang-orang yang mengenakan masker?
Baiklah, begini saja...
Biar aku yang mengeringkannya di UGD menggunakan ultrasound.
- Lagipula, itu akan lebih cepat. - Terima kasih.
Aku hanya ingin merasa cukup sehat untuk pergi ke Meksiko.
Ada apa di Meksiko?
Aku sudah menyewa rumah di Samudra Pasifik.
Di kota kecil di dekat pantai, namanya Zihuatanejo.
- ltu dari film... - "Shawshank Redemption".
- Sesama penggemar Shawshank. - Ya, aku suka film itu.
ltu kota tempat mereka bertemu setelah dia kabur dari penjara.
Hei. Jangan membocorkan filmnya.
Bung, itu film 20 tahun yang lalu.
Jika kau belum menontonnya, aku tak yakin kau akan menontonnya.
Tapi kau harus menontonnya. ltu salah satu film terbagus.
Lebih bagus dari "Fast and Furious Seven"?
Ya.
Shawshank adalah inspirasiku. Seperti kata mereka di film itu...
"Sebaiknya kau sibuk menjalani hidup atau sibuk menghadapi kematian."
- Dan itulah yang aku siap lakukan. - Apa maksudmu?
Aku sudah muak dengan kemoterapi dan operasi.
Aku sudah teken formulir DNR. Aku telah menerima kondisiku.
lni saatnya untuk sibuk menghadapi kematian.
Entahlah, kau yang lebih tahu.
Aku yang lebih dulu bertanya padamu.
Ya, aku pasti bisa mampir nanti malam.
Astaga, kau nakal sekali.
Kenapa kau nakal sekali? Astaga.
Mungkin sekitar pukul 22:00. Drew dan aku masih ada tugas.
Baiklah, sampai nanti.
- Siapa itu, Barry White? - Kau tahu aku tak suka pamer.
- Sejak kapan? - Kau tahulah.
ltu berarti aku mungkin mengenalnya. Siapa?
- Aku tidak bilang kau kenal dia. - Jadi, maksudmu aku tak kenal dia?
Kurasa kau salah belok. Kita berada di mana?
Kita ambil jalan memutar sedikit.
Aku harus mengantar putrinya Syd ke turnamen jiu-jitsu.
Tidak bisa. Kita harus menemui orang dari Craigslist...
...untuk membeli peralatan olahraga setengah jam lagi...
...atau dia akan jual ke orang lain.
lni hanya butuh 20 menit. Tidak ada yang bisa kuperbuat.
Syd kirim pesan darurat sejam lalu, katanya aku harus antar putrinya.
Neneknya tak bisa mengemudi, jadi, maksudku...
- Kau mau dengar sisa ceritanya? - Aku bahkan tak mau dengar awalnya.
Aku hanya ingin membeli peralatan olahraga. ltu saja.
Hanya itu yang ingin kulakukan.
- Jadi, siapa yang meneleponmu tadi? - Aku sedang marah denganmu.
ltu tidak terlalu buruk, 'kan?
Ada orang dari perusahaan farmasi yang kemari malam ini dan...
...mereka sedang melakukan uji coba obat eksperimen...
Tidak, terima kasih.
- Kau bahkan belum dengar semuanya. - Aku tidak perlu mendengarnya.
Aku tak mau minum obat lain dengan efek samping yang tidak diketahui.
Ayolah, Hannah.
Kau masih ceria dan penuh semangat. Kenapa kau menyerah?
Aku bukan menyerah. Aku telah menerima takdirku.
Kau tidak tahu takdirmu. Tidak ada yang tahu.
Aku pernah punya teman kuliah dan dia menolak menerima takdirnya.
Dia melawannya. Dan akhirnya dia bisa bertahan hidup tiga tahun lagi.
Maksudku, dia benar-benar hidup.
Dia melihat keponakannya lahir, melewati dua ulang tahun bersamanya.
Dia bepergian dengan teman-teman dan keluarganya...
- ...pergi ke Tembok Besar China. - ltu cerita yang sangat indah.
Namun, aku juga punya sebuah cerita.
Aku menyaksikan ibuku sekarat dan meninggal karena kanker payudara...
...dan aku berusaha keras agar dia mau mencoba segalanya.
Pada akhirnya, dia menderita menjalani berbagai pengobatan.
Demi memperpanjang apa?
Rasa sakit dan penderitaan?
Kami sudah membuat banyak kemajuan dalam beberapa tahun ini.
Ada beberapa obat yang menjanjikan.
Maksudku, mungkin ada sesuatu yang tidak kau ketahui.
Hannah, kau pasti memiliki seseorang yang berjuang untukmu.
Aku anak tunggal. Tidak ada siapa pun dalam hidupku.
Aku habiskan waktuku untuk kuliah saat umur 20-an.
Saat umur 30-an, aku merawat ibuku. Jadi, aku tidak sempat berkencan.
Dan sekarang, profil Tinder yang isinya...
..."Kanker, mudah lelah, terkadang muntah-muntah"...
...takkan membuatku dapat pacar.
Jadi, seperti yang kubilang, aku sudah menerima kondisiku.
Aku siap untuk pergi.
Baiklah.
Aku akan pergi dan memeriksa hasil lab-mu.
Jadi, bertahanlah di sini, ya?
Terima kasih.
ltu cepat sekali. Aku sangat terkesan.
Terima kasih. Kau menunggu di sini dari tadi?
Dokter Zia sibuk dan aku butuh tempat sepi untuk bekerja, jadi...
No comments yet. Be the first to leave one.