The first 200 lines.
BERDASARKAN SERIAL WEBTUN YUMI'S CELLS KARYA DONGGEON LEE.
EPISODE 7
AHN DAE-YONG, KIM JU-HO
ANDERSON
- Lari! - Cepat!
Sepertinya manusia terbagi menjadi dua jenis.
Jenis yang energinya terisi saat bergaul dengan orang lain
dan jenis yang energinya terkuras jika berada di tempat ramai.
Sepertiku.
Lihat, kan? Sudah kubilang pasti berhasil.
Hei, kau lihat? Kau lihat kecepatanku?
Ya, aku melihatnya.
- Hei, luar biasa sekali, bukan? - Luar biasa sekali.
Ayo, pukul bolanya!
Bangun, PD Shin. Bangun.
- Ayo ikut, cepat. - Bersoraklah!
Pukul bolanya!
- Ayo pukul! - Ayo!
- Home run juga boleh! - Bagaimana?
- Pukul hingga dada ini terasa lega. - Pukul hingga dada ini terasa lega.
- Pukullah bolanya - Pukul!
Ayo pukul!
Produser meneleponku, jadi...
Pukullah hingga dada ini terasa lega.
Sekarang juga!
Ya.
Kalau begitu, akan aku periksa lagi dan kirimkan.
Baik.
Seandainya aku bukan editor yang menangani penulis bisbol
aku tidak akan pernah datang ke tempat seperti ini.
Demi mengurangi kehilangan energi
aku hidup dalam Mode Daya Rendah saat di luar rumah.
Jadi, di siang hari, hanya Sel Rasional yang bekerja.
Lihat itu.
Kapan semua bunga itu mekar, ya?
- Benar sekali. - Cuacanya cerah sekali.
- Aku ingin pergi jalan-jalan. - Benar.
Mau kabur sekarang?
- Benarkah? - Benarkah?
Tidak, tentu saja tidak boleh.
Apa itu?
Sel Rasional tidak larut dalam emosi, sehingga kerjanya cepat selesai.
Selain itu...
- Apa kau mau minum lagi? - Tidak. Tidak perlu.
- Aku punya cokelat hadiah... - Kalau begitu
aku permisi sekarang.
- Baik. - Ia pandai menolak.
Dengan membuat batasan, ia juga mengurangi konsumsi energi.
Soon-rok yang tenang dan rasional. Aku menyukainya.
Orang-orang menganggapnya sebagai sikap tenang dan rasional.
Strike out tiga pukulan!
- Pemimpin Redaksi! - Strike out tiga pukulan!
- Penulis! - Apa?
- Ini. - Strike out tiga pukulan!
- Strike out tiga pukulan! - Kita harus bersorak begini, ya?
- Strike out tiga pukulan! - Hanya saja
karena semua sel tidak aktif di luar rumah...
- Silakan dimakan. - Terima kasih.
- Kepitingnya terlihat enak, bukan? - Mulutku jadi berliur.
Makan yang banyak. Tentu saja, bukan aku yang traktir.
Makan saja yang banyak. Karena yang penting itu makan.
Memangnya hidup untuk apa lagi?
- Aku makan tanpa merasakannya. - Benar juga.
Kalian tahu film The Advancing Bats sudah tayang, kan?
- Siapa mau menonton setelah makan? - Aku!
- Aku ingin menontonnya. - Kita harus pergi! Ya, harus.
- Maaf, tapi aku... - PD Shin, kau ikut, kan?
- Itu... - Kalau PD Shin tak ikut, aku juga.
- Aku tidak ikut. - Ayolah, PD Shin!
- Kenapa begitu? - Tidak ikut.
- Ayo ikut! - PD Shin!
- Editornya harus ikut! - PD Shin!
- PD Shin! - PD Shin!
Kau tidak dibutuhkan lagi di sini.
Apa Sung-hee selalu mengandalkan dirinya sendiri?
Dia pikir dia bisa menyelesaikan semuanya sendiri, begitu?
Sombong dan egois sekali, tipikal orang Korea.
Pencandu kerja. Selalu berpikir ke depan.
Aduh!
Berondong jagungnya berhamburan.
Astaga!
Aduh! Tidak sopan sekali, kenapa bermain ponsel?
Meskipun menonton film, aku tidak tahu apa yang kutonton.
Hei, sepertinya sudah terlalu sore. Itu dia datang.
Filmnya lebih lama dari perkiraan.
- Aku pamit. - Hati-hati di jalan!
- Hati-hati di jalan, PD Shin! - Jangan bilang kau bersama kami.
Halo.
Ditambah lagi, aku juga dikejar waktu.
Pintu akan ditutup.
Halo.
- Halo. - Di tim yang masih asing...
Maafkan aku. Aku sedikit terlambat
jika sampai ada hewan yang muncul...
PD Shin, apa ada yang ingin kau sampaikan?
Gawat. Aku tidak bisa fokus membaca tulisannya.
Bagaimana bisa orang yang jatuh cinta tetap tenang?
Maaf, tapi apa maksudmu?
"Bagaimana bisa orang yang jatuh cinta tetap tenang?"
Apa hubungannya cinta dengan ketenangan?
Maltese. Ya. Setidaknya ayo bicarakan Maltese-nya.
Anjing Maltese tidak perlu dipahami.
Tapi bukankah kecerdasan Maltese rendah?
Kecerdasan anjing Maltese rendah?
- Kukira mereka pintar. - Kecerdasannya tidak tinggi.
Ya, itu dia. Bagus, Soon-rok.
Kau berhasil melewati krisis dengan topik Maltese.
Saat aku sedih, ia diam di sisiku. Saat aku senang, ia membawa bola.
Kalau pemiliknya sakit, ia tahu, lalu menggonggong.
- Mereka sangat pintar. - Bukankah semua anjing begitu?
- Kecuali jika itu kadal. - Benar.
Perumpamaan anjing dan kadal sepertinya bagus.
Turun.
- Terima kasih untuk hari ini. - Kau sudah bekerja keras.
Semangat!
- Dah, Koko! - Dah, Koko!
- Pintu akan ditutup. - Dah.
Omong-omong
sepertinya Penulis Kim sedikit tersinggung.
- Memangnya kenapa? - PD Shin bilang Maltese bodoh.
Sepertinya dia memang tersinggung.
Maksudku Maltese-nya, bukan Penulis Kim.
Kenapa dia harus tersinggung?
- Tapi dari sisi pemiliknya... - Itu bukan anjing milik Penulis.
Tetap saja, ini soal perasaan.
PD Shin dingin sekali. Kau terlalu rasional.
Apa maksudnya?
Penulis Kim bukan anjing Maltese, maupun pemilik anjing Maltese.
Kenapa mereka bilang dia tersinggung?
Aduh.
Aku tidak mengerti.
Hari seperti ini terlalu berat.
Aku bekerja sendirian sepanjang hari.
Ya, aku tahu
tapi tidak apa-apa.
Karena aku sudah hampir sampai di rumah.
Karena aku
anak rumahan yang sempurna.
Benar, keluar rumah itu hanya penderitaan.
Rumah memang yang terbaik.
Hanya di rumah semua indraku terbangun.
Sempurna.
Indra pengecapku juga bangkit.
Indra pendengaranku juga bangkit.
Bagus! Dia jeli.
Markah penuh!
Bisbol paling bagus saat menonton siarannya.
Apa dia mati?
Menonton film itu paling asyik dari barisan depan di kamar sendiri.
Di rumah, emosiku juga mencapai puncaknya
hingga bisa kubaca semua makna tersirat penulis.
- Saat itu... - Apa dia meninggalkan ponselnya?
ponselnya berdering
dan pandangan Seon-ju tertuju ke sana.
Itu telepon dari siapa?
Nama yang terlupakan itu, Eun-young.
Saat itu, Seon-ju menyadari betapa tenangnya dirinya.
YU DA-EUN (MAGANG)
PANGGILAN TAK TERJAWAB, YU DA-EUN (MAGANG)
Kembalilah ke dalam.
Seseorang yang sedang jatuh cinta bagaimana mungkin bisa setenang itu?
Ternyata bukan anjing Maltese yang penting.
Penulis, ini Shin Soon-rok.
Aku mengirimkan masukan tambahan.
Malam bagi anak rumahan selalu terasa terlalu singkat.
Bagi para anak rumahan, hal terburuk adalah...
PD JANG SU-HYE
- Halo? - Soon-rok. Maaf, apa kau di rumah?
- Tidak ada acara hari ini? - Ya.
Tapi kenapa...
Sekarang?
hari seperti ini.
- Dinas mendadak di akhir pekan. - Ya, aku mengerti.
Sial, apa-apaan ini?
Padahal ini hari Sabtu.
Tidak ada waktu. Ayo berangkat saja.
Halo.
SEOUL, BUSAN
Kacamata.
Kau juga lupa membawa kacamata?
Tidak.
Tenagaku sudah habis, padahal masih pagi.
Bagaimana nasib kita hari ini?
Maaf.
Apa?
Kau mau pergi bersama Penulis Kim dengan keadaan seperti ini?
Kau bahkan belum cuci muka.
Bagaimana dengan citramu?
Kebetulan sekali. Aku bosan jika harus pergi sendiri.
Silakan duduk.
Kita harus duduk berjauhan.
Tidak. Kursiku di sebelah sana.
Kita bahkan belum tahu jadwal perjalanan dinasnya.
Semuanya berantakan dan kita tidak membawa kacamata.
Astaga, hari ini kacau sekali.
Ya. Aku sudah menerima materi diskusi buku
tapi aku tidak punya kontak penanggung jawabnya.
Baik, terima kasih. Ya.
Maaf. Lalu untuk mobilnya...
Mobil sewaan. Baik.
No comments yet. Be the first to leave one.