The first 200 lines.
Kau tahu
Itu untukmu
Ruang di benakku
Yang mengambil alih
Setiap pikiran lain yang kumiliki...
SMP GALILEO GALILEI
Musim panasku seru.
Aku punya pacar yang luar biasa.
Dan ada mereka. Teman-temanku.
Kami berjuang bersama, dan tetap bersekolah di sekolah lama kami.
Aku senang sekali.
Pietro! Pietro, bangun!
Pietro, kita harus pergi.
Kita terlambat.
Cepatlah!
SMP "G. GALILEI" MARINA GRANDE
Tentu, semuanya sempurna.
Aku menjalani mimpi terburukku.
Hari pertama sekolah di Marina Grande.
Aku sudah berharap ini hari terakhir.
Hei, cepatlah! Ayo masuk!
SEPTEMBER 39 MINGGU MENJELANG UJIAN
SENIN
Tidak, bukan di sini.
Lewat sini. Lari!
...senang jumpa kalian.
Di mana sopan santunmu? Kau bahkan tak mengetuk.
Pukul berapa ini?
Jika kita tetap di Marina Piccola, kita akan tepat waktu.
Maggi!
Kenapa tak pakai sepatumu?
Diam.
Tadi terlepas.
Pakai lagi.
Kau harus berhenti bercanda, Paccagnini.
Kau hampir tinggal kelas tahun lalu.
Hampir semua berakhir di kelas yang sama.
Meski sedikit berubah, sedikit lebih tua, kami masih sama.
Gadis berambut biru itu? Siapa dia?
Livia?
Aku sangat merindukannya.
Ini awal yang buruk.
Ya, karena sepatunya...
Duduk. Diam!
Dan pakai sepatumu.
Maggi?
Kau bersama kami?
- Ya. - Kau mau ke mana?
Kau mau ke mana?
Menurutmu kalian bisa duduk bersama?
Tidak.
Kau duduk bersama Isabel.
- Monica, kau... - Pak?
Monica, duduk di sebelah Paccagnini.
Seperti yang kalian lihat.
Kuputuskan menempatkan kalian di kelas yang sama
di sekolah baru ini,
terlepas apa yang kalian lakukan tahun lalu.
Yang terjadi tahun lalu
tak bisa diterima.
Dia bahkan lebih cantik sekarang.
Aku tak pernah melihat hal seperti itu selama bertahun-tahun mengajar.
Kita masuk koran. Bukan begitu?
Dia masih marah. Dia belum melupakannya.
Tapi aku mengawasi kalian. Jika ada masalah, tak akan kumaafkan.
Mengerti, Maggi?
Ya.
Apa pendapatmu tentang siswa Marina Grande?
Jelek semua.
Untuk saat ini, satu-satunya yang kucemaskan adalah Livia.
Meski aku tak tahu apa yang akan terjadi.
Seperti Isabel dan Michele. Mereka berkencan, tapi tak berhasil.
Sedangkan keajaiban terjadi pada Giulio dan Arianna.
Mereka sudah tiga bulan bersama.
Pasti Arianna yang lebih dulu berhenti ciuman.
Baik, jangan berasumsi lagi.
Astaga, sekolah ini payah, bukan?
Seperti film horor.
Hei, Dani. Kau tak pernah bosan menari?
- Hanya itu kegiatan musim panasmu. - Kenapa bosan?
Ternyata aku berbakat.
Tahu tarian siapa lagi yang keren? Mereka.
Hitsmob.
Penari Marina Grande.
Bagi yang tidak tahu,
ini Bianca, sepupuku.
- Hai. - Bisa lihat kami mirip?
- Yang benar saja! - Ya.
Ibunya pelatih hebat.
Dia melatih Stella Marina, tim yang sangat keren.
Intinya,
dia pindah ke sini untuk habiskan waktu bersamaku,
sepupu tercintanya.
Terserah, Giulio.
Hai, Bianca.
Hai.
Senang bertemu denganmu.
Kita belum bertemu lagi sejak TK.
Lebih tepatnya kelas satu. Aku tak ingat kau seperti ini.
Aku juga.
Bagaimana rasanya terjebak di pulau ini? Kau rindu daratan?
Kau bercanda? Aku ingin ke sini.
Kuharap bisa tinggal di sini selamanya.
Jangan berlebihan.
Kau akan segera muak.
- Tidak. - Ya.
- Pasti. - Kurasa tidak.
- Tidak, ayolah. - Ya.
- Percayalah. - Pasti.
- Tidak akan. - Pasti.
- Senang bertemu. Mirko. - Bianca.
Daniele.
Michele.
Hei, Livia?
- Hai. - Hai.
Kau tak akan menyapa Bianca, gadis baru?
Kami sudah bertemu. Dia satu bangku denganku.
Benar.
Bagaimana liburanmu di London?
Seru. Aku bergembira.
Kulihat rambutmu juga baru.
Cocok untukmu.
Kau sudah berubah.
Kulihat kau tak berubah sama sekali.
- Heya, Liv. - Heya, Kawan.
"Heya" ini apa?
Cara kami saling menyapa di London.
Kami ke sekolah musim panas bersama.
Omong-omong, ini Sara dan Katia.
Tentu.
Senang bertemu. Pietro.
Sebenarnya, kami sudah bertemu.
Sungguh?
Ya. Ceritanya panjang.
Rambut bagus! Akhirnya kau mengecatnya.
Ya, kucoba dan aku suka, jadi kuputuskan untuk mewarnainya.
Itu sangat autentik.
Tak seperti gadis itu,
yang meniru gaya rambutku.
Mungkin kau yang menirunya.
Ya, tentu.
- Baiklah, kita pergi? - Ya.
Katia.
Dia di kelas 8A.
Dia sangat menyebalkan.
Dia akan lupa.
Mengenal sifatnya, itu sulit.
Tapi aku tak akan menyerah.
- Aku akan mendorongmu. - Ya, ayo.
Tiga, dua, satu...
Oke, ayo!
Jika ini hari pertama sekolah, bayangkan hari-hari lainnya!
Andai aku punya motor untuk pergi jauh,
ke tempat yang tak ada kepala sekolah, Katia,
atau orang tuaku.
Tempat Livia tak marah padaku.
Aku hanya ingin semua kembali normal.
Seperti saat mencetak skor di menit akhir dan memenangkan pertandingan.
Pow3r?
- Aku tak percaya. Itu Pow3r! - Siapa?
Pemain gim hebat.
Ayo, kunci itu. Cepat!
Tak bisa mengejarnya. Dia sudah pergi.
Tolong katakan aku bermimpi.
Kau bermimpi?
Aku tak bermimpi.
Sayang sekali.
Dia idolaku. Banyak yang ingin kuceritakan.
Kurasa kau berlebihan dengan gim video itu.
Apa maksudmu?
Kau habiskan musim panas bermain di rumah.
Lihat kau pucat sekali.
Kau tak mengerti.
Aku menemukan program keren yang membantuku membuat gim.
Nanti kutunjukkan.
- Sebenarnya, aku ada rencana lain. - Baiklah.
Rencana apa?
SEKOLAH GALILEI DIDUDUKI
Ibumu keren memberimu ring basket.
Ya. Suka?
Dia melakukannya karena merasa bersalah menjual rumah tua itu.
Sayang sekali. Aku suka rumah itu.
Benar.
- Tapi ada laut di sini. - Jelas.
Kita di pulau, Giulio. Di mana-mana laut.
Seperti biasa, mereka membuat keputusan penting tanpa memberitahuku.
Mereka mencoba menyogokku dengan membeli rumah bagus berpemandangan indah.
Itu tak mempan padaku.
Cepat atau lambat, aku akan pergi dari sini.
- Tak ingin seperti mereka saat dewasa. - Benar.
Kita tak akan seperti mereka.
Bola.
Sudah cukup.
Kau ada uji coba NBA, jadi tenanglah.
Bodoh.
Setidaknya Stella Marina tim besar.
Dan kau tahu, aku sangat peduli tentang ini.
Apa itu?
Ini pengingat, aku harus ke rumah Arianna sejam lagi.
Bukankah terlalu cepat? Rumahnya dekat.
No comments yet. Be the first to leave one.