The first 200 lines.
Hei, tenang dulu. Ini bukan pembunuhan betulan.
Gua Gilang.
Sebelum gua jelasin ini apaan, gua harus cerita dulu dari awal.
Enggak, enggak.
Lebih jauh lagi.
Pergilah kau!
Lebih jauh lagi.
Nah, stop.
Dari kecil, gua itu senang banget nonton film.
Habis nonton, gua bisa hafal dialog satu film.
Saya bisa saja berbohong, toh kamu tidak akan tahu.
Saya bisa saja berbohong, toh kamu tidak akan tahu.
Setidaknya saya tidak harus memikirkan hal itu.
Baik, kamu tidak mau kasih tahu. Tapi artinya perjanjian kita batal!
Sekarang, mana uang saya?
Cut!
Ya!
Anak Ibu pinter banget!
Apa yang harus dilakukan calon aktor
untuk menjalankan tugas memainkan peran?
Kalau sutradara minta sepuluh, berikan seribu!
Benar.
Apa?
Ada info audisi. Gilang ikut, ya?
Boleh.
Tapi ingat, apa?
- Kuliah nomor satu. - Kuliah nomor satu.
Siap!
Jika kau ingin bersama dia, langkahi dulu mayatku.
"Punya pengetahuan akan senjata api."
Les!
Bu, Gilang pulang audisi.
PESAN DARI PENATA PERAN MAAF, ANDA BELUM KETERIMA
Enggak apa-apa, nanti dicoba lagi.
Semangat, Gilang!
Pak, enggak beli, Pak.
Gilang?
Habis audisi, Bu.
- Berhasil? - Enggak.
Kamu mau wawancara?
Tapi hari ini Gilang mau audisi, Bu.
Audisi film kerja sama Malaysia-Indonesia.
Ini proyek besar banget!
Soal wawancaraโฆ
Bagaimana, yaโฆ
Ya udah, kamu berangkat audisi.
Ibu doain kamu berhasil mendapatkan peran itu.
Raih itu, Jagoan!
Oke, Bu.
Pokoknya Gilang janji, kali ini Gilang tidak akan mengecewakan Ibu.
Salim dulu.
- Gilang jalan ya, Bu. - Ya.
- Asalamualaikum. - Wa alaikumsalam.
Ibu adalah suporter terbaik gua.
- Ini uangnya. - Ya, terima kasih.
- Mari. - Ya.
- Alhamdulilah. - Alhamdulilah.
- Bu. - Ya?
Terima kasih banyak ya, Bu.
Gilang janji, Gilang akan bikin Ibu bangga.
Apa sih, Gilang?
Ibu mah selalu bangga sama kamu.
Karena Ibu yakin, kamu itu akan menjadi aktor pemenang Piala Citra!
Kamu itu, ya, akan jadi aktor yang luar biasa.
Aktor, yang setiap aktingnya bisa menggugah hati penontonnya.
Keren, Gilang.
Amin.
Cut!
- Elu ngapain, Kawan? - Bikin kopi, Mas. Kan saya baristanya.
Enggak. Itu kopi enggak bakal gua rekam. Lagian kamera enggak ke elu.
Tugas elu gampang.
Elu tinggal kasih kopi ke Jihan, selesai.
- Enggak direkam? Ya udah. - Enggak. Ayo.
Si paling improvisasi.
Ulang! Cepat!
Ayo.
Action!
Hai!
Kak, mau kapucino satu, ya.
Selamat pagi, Kak Jihan.
Tumben datang segini baru datang.
Hari ini kapucinoโฆ
Cut!
- Elu kenapa lagi sih, Kawan? - Oh, ya. Sori, Mas. Salah saya.
Ayo, dong. Ayo, fokus, ayo!
Sundanya tadi masih terlalu kaku, ya? Harus lebih lancar, ya?
Oke. Ayo.
"Sundanya masih terlalu kaku", maksud elu apa?
Ini setnya di Bandung, kan?
Enggak, bukan masalah setnya di Bandung, bukan masalah logat Sunda elu, bukan.
Harusnya elu enggak ngomong!
Kalau gitu enggak bisa, Mas.
- Hah? - Begini, Mas.
Mbak ini kan hampir setiap hari datang ke sini, nungguin anaknya sekolah.
Pasti dong kenal saya. Jadi, kalau enggak mengobrol gitu, enggak logis gitu.
Nih, logis gimana coba?
Dia di adegan sebelumnya, ciuman sama mertuanya.
Logisnya di mana?
Ya, ya. Kalau itu saya paham, Mas.
Memang skrip zaman sekarang itu banyak enggak logis.
Tapi enggak apa-apa, Mas Rifki.
Mas Rifki enggak sendirian.
Saya sudah ada di sini, Mas.
Kita benahin ini sama-sama, ya, Mas.
Oke? Ayoโฆ
- Gimana maksud elu? - Tenang, Rifki!
Sekali lagi, gimana?
- Gua cuma minta satu hal! Diam! Diam! - Ya, ya.
- Aduh, anjing! Siapa yang taruh di sini? - Sabar.
- Elu gua minta diam! - Skrip berantakan,
- ayo benerin! - Bukan itu.
- Enggak ada skrip! - Diam!
Ya!
Berak!
Bukan skrip Bandung? Tapi bukan salah skripโฆ
- Ayo, ulang! - Ayo! Siap.
Ini.
Bang, kata manajer saya 500.000, Bang.
Masih mending elu gua bayar, Lang.
Lagian kan, sisanya yang 300.000 itu buat bayar orang yang gantiin elu.
Itu.
Gua digantiin sama tukang sampah, Bang?
Ya!
Aneh-aneh aja sih elu.
Action!
Makanya, elu jangan macam-macam.
Elu akting udah berapa lama?
Udah masuk tahun kesepuluh, Bang.
Wah, kalau itu sih, mungkin udah saatnya elu berhenti.
Cari profesi lain.
Itu, karung menganggur.
Danโฆ cut!
Terima kasih banyak!
Makasih, Pak.
Nah, ini memangโฆ
Ini, Bang. Gua dibayar tunai.
Begini, Lang.
Elu kan ini figuran, ya.
Jadi, tolong deh, improvisasi enggak usah terlalu banyak.
Ini Rifki udah sutradara ke-12 yang coret elu.
Gua jadi susah menjual elu sebagai figuran.
Yah, jual gua sebagai aktor lah, Bang. Kan, gua aktor.
Yah, apalagi aktor, Gilang!
Elu itu figuran mahal karena elu aktor juga.
Tahu enggak komentar mereka apa?
"Itu Gilang tuh yang paling ekstra.
Sok mengerti, enggak dengar Sutradara.
Syutingnya jadi lama!"
Itu Garrett masih coret gua, enggak?
Ini, baru adegan.
Medis! Aduhโฆ
Medis! Cut!
Yah pasti coret lah.
Yayan elu pukul, gimana ceritanya?
Tapi gua ada peran buat elu.
Film? Lawan main gua siapa?
Dian Sastro? Pevita Pearce?
Film apa, nih? Festival? Komersil?
Ini film bagus banget. Judulnya, Jakarta 1942.
Zaman Jepang.
Wih!
Aktrisnya Rachel!
Rachel Hesington?
Gua mau, Bang. Gua mau. Itu orang keren banget.
Tahu enggak? Dulu gua pernah main sinetron sama dia.
Judulnya apa?
Itu. Ganteng-ganteng Tapi Gila .
Habis dari situ, dia main film langsung dapat Citra.
Makasih, ya, Bang. Udah pasangin gua sama Rachel.
Yah, tapi aktornya Kevin Sumitro, pacarnya Rachel.
Yah, Bangโฆ
Terus gua jadi siapa?
Tenang aja. Elu jadi hantu Jepang-nya.
Tiga adegan! Tapi sutradaranyaโฆ
Tegas Julius.
Tegas Julius?
Cut! Ya Allah, pemain guaโฆ
Goblok, bangsat!
Siapa itu?
Goblok! Ini pemain gua, elu lihat!
- Gua enggak tahu, Mas. Ini beneran, Mas? - Dasar figuran goblok! Tolol! Dongo!
Goblok! Tahu enggak, goblok!
Kalau dia kesel banget sama gua, kenapa gua dikasih peran?
Gua sogok dia. Gua kasih anggur sepeti!
Memang Bang Ramli itu orang yang baik.
Cuma elu yang percaya sama gua sampai detik ini.
Keren.
Tiga adegan, enggak masalah.
Tapi ini film terakhir kita, ya.
Ya, soalnya gua udah susah menjual elu ke industri film.
Anggap aja ini hadiah perpisahan dari gua buat elu, ya.
Hei, tapi elu mau enggak gua oper ke Juju Jontor?
Dia itu koordinator penonton bayaran.
Jadi, sehari itu ada dua acaranya. Satu acaranya 100.000.
Cuma tepuk tangan doang gitu. Ya? Mau, enggak?
Enggak apa-apa, Bang. Enggak usah.
Tapi elu mau ambil ini, kan?
Ini kan usaha elu buat gua.
Masa gua tolak?
Bang Ramli.
No comments yet. Be the first to leave one.