The first 200 lines.
Mengacau dan diomeli oleh keluarga adalah sesuatu yang biasa.
Yang tak biasa adalah membuat kekacauan besar
selagi adik, ayah, nenek dari pihak ibumu,
dan kau duduk mengamatinya bersama.
Aku Youssef, prajurit yang tak dikenal.
Adikku, Aziza, bertugas mengurus uang dan pembukuan.
Ya. Arahkan pembicaraan ini.
Lalu ayahku adalah Bos Besar.
Astaga!
Nenek dari pihak ibuku, Nenek Lutfia, adalah pengarahnya.
Santai saja.
Supaya tahu kejadiannya, mari kembali ke tiga bulan lalu.
TAHIR'S HOUSE
IKAN TAHIR - DIDIRIKAN TAHUN 1409 H
Oke. Jawabanmu bagus sejauh ini.
Bagaimana jika mereka menanyakan kelebihanmu dan menambahkan tugasnya?
Aku sangat pintar, licik, dan pandai memecahkan masalah.
- Aku bisa mengatasi tekanan. - Ya.
Aku punya pengalaman lima tahun sebagai asisten manajer.
Di toko ikan?
Bagaimana mereka tahu itu toko ikan atau sayuran?
Berhenti bertanya.
Oke. Jika mereka menanyakan alasanmu meninggalkan pekerjaanmu
untuk pekerjaan baru?
Sederhana. Manajemennya bagus selama empat tahun.
Ada jenjang karier. Aku senang.
Tapi manajemennya berubah, dan aku tak cocok.
Katakanlah ibumu baru saja meninggal. Mereka mungkin mempekerjakanmu.
Karim, untuk apa drama murahan ini?
Tiga bulan aku latihan dengan mereka.
Wawancara ini hanya formalitas, jadi aku bisa meneken kontraknya.
IKAN TAHIR
Bukan begini. Bukan begini cara menyirami tanaman.
Kau membanjirinya.
Aku tak suka melakukan ini.
Sungguh? Berikan pada Nenek.
Lagi pula, tak ada yang bisa menggantikan Ibu.
Semoga jiwamu tenang, Mariam. Pergilah.
Bantu ayahmu.
Jangan sampai ada masalah dengan klien lagi.
Kau ingin bepergian dan meninggalkan Nenek dengan ayahmu.
Dengar. Nenek akan membunuhnya lalu kabur.
Hentikan. Nenek akan pergi umrah.
Kau tahu? Lupakan saja.
Nenek? Ayo temui Ayah sebelum dia mengotori ihram-nya.
Tapi kau... Kami keracunan terakhir kali kami membeli ikan darimu.
Kenapa kejahatan ini dibiarkan?
Ikan itu ikan, Umi Mohamad. Kau tak bisa memasaknya.
Aku?
Tenanglah. Suara kalian terdengar sampai ujung jalan.
Kau mendengar perkataannya?
Kubilang kami keracunan sebelumnya.
Dia bilang itu salahku.
Kau tak boleh bilang begitu, Jumaa.
Akan kuambilkan ikan yang kau sukai.
Aku tak mau apa pun darimu.
- Jangan ganggu aku! - Umi Mohamad, tenanglah.
Umi Mohamad!
Apa?
Toko ini baik-baik saja selama 40 tahun, tapi kau rusak dalam satu tahun.
Aku tak peduli. Kita tak butuh masalah.
Selesaikan inventaris lalu urus pengiriman dengan Karim.
Cepatlah. Mari kita selesaikan umrah sebelum salat Zuhur.
Ayo.
Youssef Jumaa Tahir?
Youssef Jumaa Tahir.
Anda bekerja di bidang penjualan?
Benar.
Bagian penting dalam perusahaan.
Butuh pengembangan dan perluasan.
Jika bisa memperluas rantai pasokan, kita bisa mengatasi defisit "peminta".
Defisit apa?
Defisit "peminta", artinya permintaan.
Tak ada defisit, tapi kami bisa mendukung produk nasional
dan ini akan membantu para pegawai baru.
Jadi, departemen kami akan menjadi departemen perintis.
Mereka tak bilang kenapa Anda diminta datang?
Tidak, tapi saya tahu alasannya. Untuk menandatangani kontrak kerja.
Ini.
PHK?
Evaluasi kerja Anda kurang memuaskan untuk mendapat tawaran pekerjaan.
Aku benci ikan.
Sudah tanda tangan?
Peralatannya ada di ruangan,
dan satu orang akan tinggal di sini.
- Beri tahu dia jika sudah selesai. - Nona Leen ingin bertemu denganmu.
Tidak bisa. Katakan aku akan menemuinya lain kali.
Hai, Karim.
Aku senang bisa bertemu denganmu.
Aku juga.
Oke, bagaimana menurutmu? Ini atau itu?
Untuk apa?
Untuk pria sepertimu.
Seseorang dengan penampilan, gaya, tinggi dan kegiatan sehari-hari sepertimu.
Kau lebih suka yang mana?
Jika untuk pria sepertiku, keduanya tak cocok,
tapi terima kasih.
Kau tahu?
Dia benar.
Kurang sentuhan maskulin.
- Kau butuh sesuatu? - Aku membutuhkanmu.
Maksudku di lokasi pemotretan.
Pemotretan? Kubilang Bassel akan tinggal.
- Bassel? - Tidak, aku membutuhkanmu. Sungguh.
Aku butuh mata dan maskulinitasmu.
Maksudku, sebagai model.
Aku punya koleksi pria baru dan aku merasa kau...
Aku orang terakhir yang kau inginkan sebagai model!
Justru sebaliknya.
Hanya kau yang jujur.
Ini sangat berarti bagiku. Kumohon.
Kumohon.
Jangan. Aku akan menangis.
Youssef sedang sibuk dan aku harus menggantikannya.
Benar! Dia saudara susumu.
Ya, Youssef. Saudara sepersusuan, bukan susu.
Bisa dilakukan nanti? Mungkin akan ada kesempatan...
Tidak! Ini waktu terbaik. Selera maskulinnya sama denganmu.
Tapi tentu saja, tak ada yang sepertimu.
Tapi jika memang dibutuhkan, bawa dia.
- Semoga. Lihat nanti. - Kau akan datang? Harus.
Akan kukabari. Kita lihat nanti.
Pakaiannya mungkin tak muat.
Sundus! Itu bukan urusanmu. Jangan ikut campur.
Bagaimana mungkin?
Halo, Aziza.
Bisa kirimkan kopi paspormu sebelum pertemuan kita hari ini?
Hai. Tentu. Akan segera kukirim.
Sudah kusiapkan, tapi aku sibuk...
Maaf.
Apa yang terjadi? Kau bebas?
- Kau yang bebas. Aku akan kerja di toko. - Kenapa?
Kesialanku memaksaku bekerja di toko ikan ini.
Ke mana pun aku pergi, bauku tercium dulu,
dan menutup semua pintu di depanku. Tak akan ada yang berhasil.
Kau tahu? Aku mencium sesuatu.
Aku bisa menciumnya.
Bukan aku. Aku memakai parfum.
Kau malas dan bodoh.
Kapan kau akan menyadari bahwa masalahnya adalah kau,
bukan toko ini yang membiayaimu?
Seharusnya aku tak datang.
Aku tak perlu membantumu menyadari kenyataan,
alih-alih hidup dalam khayalan.
Ini kenyataannya.
Dilengkapi bau dan sedikit uang yang kita hasilkan.
Kau tak berhak mengkritikku.
Kau tinggalkan semuanya untuk ke Korea.
Jangan sampai Ayah mendengarmu.
Aku belum memberitahunya.
Kenyataannya ayahmu di Makkah mendoakan ibumu,
jadi dia tak bisa dengar.
Kecuali tempat ini disadap.
Semoga Allah menolong istrimu.
Bagaimana dia bisa menghadapi kebodohanmu?
Mau bagaimana lagi? Hati tak bisa dilawan.
Aida? Kenapa kau ke sini?
Maksudku, selamat datang di toko!
Terima kasih. Aku ingin menyelamatimu.
Dan melihat apa kau masih marah
dan menolak pulang untuk membagi kabar itu.
Terima kasih! Aku tak bisa marah padamu. Kau tahu itu.
Aida, akan kuambilkan secangkir teh. Kau mau?
Tidak usah. Aku harus kembali ke kantor.
Hadiah kecil untukmu.
- Apa itu? Manisan? - Baca kartunya.
"Untuk Youssef, suami, teman, kekasihku.
Selamat atas pekerjaan barunya. Aida."
Terima kasih. Allah memberkatimu.
Bagaimana membukanya?
Buku kerja?
Buku catatan.
Buku catatan. Ya, untuk janji temu, bukan? Dan ini.
Ini kubutuhkan, terutama setelah hari ini.
Karena sudah mendapat pekerjaan dan bersemangat, kenapa tak cerita?
Sayang, kebahagiaanmu sangat berarti bagiku.
Sifku malam dan aku harus mengambil beberapa barang.
Aku akan kembali kerja. Aku akan mengejutkanmu nanti.
Mungkin kau akan mengizinkanku pulang.
Youssef.
Aku tak menolak punya anak.
Tapi aku ingin keadaan kita lebih stabil dulu.
Tampaknya keadaanmu sudah membaik, jadi kita bisa memikirkannya.
Sungguh? Maksudmu...
Kau bisa pulang kembali. Kecuali kau tak merindukan rumah.
Bagaimana mungkin? Tentu rindu. Aku akan mengambil barangku,
lalu kita pulang. Kau selesaikan sifmu...
Apa? Bukankah kau mendapat sif malam?
Kau mau absen pada hari pertamamu?
Benar. Pekerjaan lebih penting.
Baik. Sampai jumpa besok.
Besok.
Aku mencium masalah baru.
Pria adalah makhluk yang manis.
Dan sangat sensitif.
Sangat emosional dan mudah terpengaruh.
Dengarkan aku.
Fokus pada tiap kata yang kuucapkan...
Asalamualaikum.
Alaikum salam.
No comments yet. Be the first to leave one.