The first 200 lines.
Aku tidak ingin bangun pagi ini.
Menurutku seperti itulah setiap pagi, sungguh.
Aku hanya selalu merasa...
ingin tidur.
Rasanya seperti hidup adalah mimpi.
Bukan tempat aku terbang atau semacamnya.
Namun, mimpi biasa, saat tidak terjadi apa-apa.
Kau hanya menyaksikan versi hidupmu.
Kumpulan gerakan
yang terasa samar-samar familier.
Detail yang sepertinya sangat remeh.
Namun, sebagian dari dirimu,
bagian dari dirimu yang menjadi saksi semua ini...
...mencatat...
...seolah-olah jumlah dari detail ini...
entah bagaimana akan bertambah...
menjadi satu kesatuan yang bermakna.
Kau hanya perlu bangun.
Namun, kemudian kau menyadari bahwa kau tidak sedang tidur.
Karena mimpi itu terjadi saat kau terjaga.
Tidur dan menemukan makna, lalu bangun dan kehilangan makna.
Yang ingin kau lakukan hanyalah tidur
untuk memimpikan sesuatu yang lebih...
...lagi.
Hanya...
...lagi.
Ya. Aku hanya menanyakan kabarmu
sebagai bentuk kesopanan.
Benar. Ya.
Kau benar-benar terdengar kacau.
Terima kasih.
Namun, aku baru berusia 24 tahun.
Hidupmu masih panjang.
Seru. Aku akan memberi tip dengan uang tunai.
Sial.
Ambil kartumu.
-Maaf, aku tidak punya uang tunai... -Selanjutnya!
Kau lihat kabar baru Timothee Chalamet di internet?
Dia mengenakan jubah di luar kimono.
-Sangat seksi. -Lucu.
Aku sangat serius. Hanya dia yang aku punya saat ini.
Pria yang aku kencani memakai sandal terbuka.
Dua pria berbeda menunjukkan jari kaki. Malam hari, Mae.
Bahkan bukan jari kaki siang hari.
-Itu suram. -Suram.
Jujur, aku bahkan tak suka pria memakai sandal di tepi kolam renang.
-Telanjang kaki saja. -Benar.
-Benar. -Kau tahu Chalamet akan memakai Teva
dan semua ini akan berubah.
Seratus persen. Hei, Timothee Swiss Chalet?
Dia tidak mungkin salah.
Swiss Chalet bisa menunjukkan semua jari kaki.
Yang benar saja.
Aku hanya ingin menikah dengan seseorang yang sangat kaya.
Kau tahu? Sekaya Timothee.
-Juga dihormati. -Tentu. Itu bagus sekali.
Sejujurnya, aku tidak tahu.
Aku merasa akan lebih mudah berkencan dengan seorang wanita.
Aku belum pernah mencium seorang gadis.
-Yang benar saja. -Benar.
Aku pernah menaksir seorang gadis saat aku muda,
tapi aku selalu malu.
Saat itu pun aku merasa tidak ada fluiditas atau semacamnya.
Kau paham? Saat ini, kurasa semua anak itu queer.
Benar. Mereka mengisap dan meniduri siapa pun.
Aku hanya tidak tahu apakah aku bisa begitu. Mungkin.
Menurutku keju biru sungguh menjijikkan
sampai ada yang memanaskannya dan menjadikannya celupan.
Anggap saja kau terberkati.
Aku rela melakukan apa saja untuk menikah.
-Tidak mungkin. -Tentu saja.
Aku rela berjalan di atas beling, meniduri binatang, atau...
Entahlah. Membunuh.
Makin parah ketika kau mulai berbicara tentang meniduri binatang.
Melajang sungguh menyedihkan.
Namun, itu juga luar biasa. Benar?
Melakukan apa pun yang kau inginkan, kapan pun kau mau.
Ada banyak hal yang bisa kau nantikan. Kau bisa jatuh cinta, Kawan.
Aku rela melakukan apa saja untuk dipindahkan ke sana,
di tempat kau hanya ingin...
bercinta.
Mae, kau tahu arti berhubungan seks saat ini?
Sayangnya, tidak juga.
Jatuh cinta adalah siklus kematian, Kawan.
Hanya sedikit keuntungan dan banyak penderitaan.
Percayalah, jauh lebih baik untuk berusaha menetap.
-Menurutmu aku sudah menetap? -Tidak, kubilang "berusaha menetap".
Maaf, apa bedanya?
Astaga, kau benar-benar tidak menyadari apa yang kau miliki.
Kau menemukan pasanganmu.
Menurutmu hanya ada satu orang untuk setiap orang?
Jay Z. Beyonce.
Jay Z selingkuh dari Beyonce.
Lalu, ada satu miliar dolar di dalam lift itu.
Pertanyaannya, bagaimana kau tahu kau sudah menemukan pasanganmu?
Pikirmu aku punya jawabannya? Seharusnya aku yang bertanya.
Jadi?
Maaf. Aku pikir itu pertanyaan retorik.
Anthony, yang itu ditaruh di atas.
Anthony tampan, tapi dia bodoh.
-Hai. Terima kasih. -Dengar, apa pun yang kau lakukan,
kau melakukannya dengan benar. Itu pencapaian, Kawan.
Bersama seseorang selama itu?
-Mungkin. -Apa maksudmu?
Aku hanya... Terima kasih.
Maksudku, setelah jangka waktu tertentu,
itu sama saja dengan melajang.
Kau hanya melajang bersama.
Bisakah aku minta lagi juga?
Kau tidak bisa menuangkannya untukku?
Kenapa kau tak bisa menuangkan sendiri?
Bukankah itu feminisme?
Astaga.
Ya, itulah feminisme.
Kami berjuang untuk anggur.
Hei, bagaimana camilan kita?
Biar aku periksa.
Ada yang enak.
Benar?
Ada kacang arab kering beku.
Enak.
Ada kue beras.
-Tentu saja. -Ini pilihan cepatmu.
Ingin mencampurkannya sedikit malam ini.
Bagaimana kalau keripik?
Ya.
-Ini terbuat dari tepung kelapa. -Itu sebenarnya cukup enak.
Ayo kita lihat.
-Ini tidak enak. -Tidak.
-Jangan dihabiskan. -Kau yang jangan habiskan.
Beginilah kau, meninggalkan remahannya di kemasannya,
lalu kau kembalikan kemasannya.
Seperti apa itu?
Kau seperti membohongiku.
Kau ingin menjadikannya taburan untuk apa?
Lihat ini. Dengarkan ini. Ini sebuah lagu.
Aku sudah minum 40 cangkir anggur malam ini
Ayo.
Bebaskan dirimu. Tunjukkan kepadaku. Kau bisa apa?
Ayo.
Itu bukan apa-apa. Ayo.
Tidak. Itu dansaku.
-Ayo. -Sejauh itulah pengerahan tenagaku.
Aku tahu kau bisa lebih. Aku pernah lihat.
Aku lelah.
Baik. Kalau begitu, lihat saja aku.
Tidak.
-Bayangkan kita tidak saling kenal. -Dengan senang hati.
-Kau berada di ujung bar satunya. -Baik.
-Lagu diputar. -Tentu.
Kau melihatku.
Aku memakai jaket kulit.
-Yang keren. Ada rantai dan semacamnya. -Bagus.
Aku melakukan ini.
Bolehkah aku bertanya serius?
Ya.
Bisakah kita menaruh televisi di kamar kita?
Astaga.
Di sana membosankan.
SUSU GANDUM TERIMA KASIH MEMORINYA
-Sial. Elijah? -Ya?
Bisa ambilkan Tupperware dari lemari es? Aku sudah pakai sepatu.
Terima kasih.
Terima kasih, Sayang.
-Bisa tolong belikan susu gandum? -Tentu.
Hei.
Aku akan berjalan bersamamu.
Bagaimana bab terbarunya?
Baik.
Kau ingin membicarakannya?
Tidak. Aku hanya benci tulisanku.
Bagaimana kalau kau mencoba melakukan hobi lain
untuk mencari hal lain?
Menurutmu yang aku lakukan adalah hobi?
Apa?
Tidak. Kau salah paham.
Maksudku, kau bisa mencoba cara kreatif yang berbeda
untuk memberi dirimu ruang bernapas agar kau bisa kembali
-menulis novel itu dengan segar. -Tidak mau.
Hanya untuk menghilangkan tekanan.
Kau mau makan malam apa?
Kita bisa...
-Makanan Thailand? -Ya.
Sudah tadi malam. Apa yang kupikirkan?
-Benar? -Taco?
-Ya. -Tunggu, tidak.
Tempat itu membuatku kacau terakhir kali. Terlalu pedas.
-Susyi? -Benar. Ya, aku hendak bilang susyi.
Kita cari tahu nanti saja.
Baik. Boleh juga.
-Aku mencintaimu. -Aku mencintaimu.
Hai, Vanessa.
-Besok hari besar. -Ya, Bu.
Aku sangat bersemangat bisa membagikan pertunjukan ini kepada dunia.
-Kami juga. -Kami juga. Maksudku, itu bayi Mae.
-Satu-satunya bayi. Dia tidak punya bayi. -Itu adalah fakta.
Sampai jumpa di konferensi pers.
Ya, sampai jumpa di sana, Vanessa.
-Sampai jumpa di sana. -Terima kasih.
Terima kasih.
No comments yet. Be the first to leave one.