The first 200 lines.
Saya yakin.
Dengan pengalaman saya dari magang
di beberapa perusahaan saat kuliah,
keterampilan dan kemampuan saya terasah.
Sehingga saya siap sekali berkontribusi besar buat perusahaan ini.
Aku Rindu.
Baru aja lulus kuliah.
Belakangan ini sibuk ngelamar kerja dan wawancara di sana-sini.
Aku mau segera kerja kantoran.
Supaya bisa bantu Mamah.
Mamahku orang tua tunggal.
Setelah ditinggal Ayah 11 tahun lalu.
Hidup penuh keterbatasan.
Mah, aku berangkat yah.
Tapi Mamah membesarkanku sendirian.
Ya, Cantik.
Hari ini, aku ada wawancara tahap akhir di kantor yang aku pengen banget.
Doain aku lolos.
Mamah selalu doain kamu, dapet yang terbaik.
Pokoknya nanti, kalau aku udah dapet kerjaan,
Mamah nggak usah siang-malem merajut buat dijual.
Aku yang akan tanggung semua keuangan kita.
- Pergi ya, Mah. - Iya. Hati-hati.
Makasih.
Sekarang giliranku,
membalas semua yang Mamah lakukan buat aku.
- Nislina Atanti? - Saya.
Rindu Ayunita?
Saya!
Halo, Mah?
Rin.
Tolong ke rumah sakit.
Urus surat kematian ayahmu sampai ke pemakaman.
Kenapa aku yang ngurus?
Kamu 'kan anaknya, Rin.
Anaknya yang udah dilupain ama dia 11 tahun yang lalu?
Mamah nggak lupa?
Kamu jangan sinis seperti itu.
Bagaimanapun, yang meninggal ayahmu.
Dia pernah merawat kamu.
Masa nggak mau beri dia penghormatan terakhir?
Dan selama ini,
mamah tak pernah mengajarkanmu jadi pendendam.
Oke.
Oke. Aku urus Ayah di rumah sakit.
Walau aku ada wawancara penting.
Itu untuk kita.
Siapin semuanya.
Kepaksa harus aku tinggalin!
Kamu jangan kesel terus begitu.
Cuma karena orang yang nggak pernah ngurusin aku.
Kamu buang semua itu?
Kamu nggak hargai perjuanganmu selama ini untuk lulus Cumlaude?
Kesel, Mah.
Ayah udah meninggal, masih aja nyusahin!
Dan nggak cuma itu.
Gara-gara hari ini, rencana yang udah aku bangun...
hancur semua.
Terpaksa harus aku tinggalin.
Ayah nggak sayang sama aku.
Aku tahu itu.
Setiap aku inget,
masih aja sakit.
Selamat siang!
Permisi!
Iya! Sebentar!
Perkenalkan, saya Irwan.
Notaris Pak Andi Wijaya.
Saya di sini, ingin menyampaikan surat wasiat
dari Pak Andi Wijaya untuk Ibu dan Rindu.
Putri tunggalnya.
Restoran Itali?
Betul, Mbak.
Warisan untuk Mbak Rindu.
Restoran sudah tutup setahun lalu.
Nggak tertarik!
Tapi Mbak,
ini warisan Pak Andi.
Dan apabila Mbak Rindu kembali membuka restoran itu,
akan ada hadiah untuk Mbak Rindu.
Nggak tertarik.
Hadiah, warisan, atau apa pun dari ayah saya!
Saya udah biasa nggak dapet apa-apa dari ayah saya.
Maaf, Pak Irwan.
Mungkin terlalu mendadak.
Jadi tolong berikan kami waktu mencerna lebih dulu.
Baik, Bu.
Saya mengerti.
Saya tinggalkan dokumen di sini.
Apabila Ibu ingin menghubungi saya,
hubungi kapan pun.
Saya permisi, Bu.
- Iya, terima kasih. - Mari.
Cobalah kamu hormati permintaan terakhir ayahmu, Rin.
Selama ini kamu 'kan bilang
kita butuh sumber penghasilan lain.
Untuk pengeluaran di rumah ini.
Siapa tahu,
restoran itu bisa jadi sumber penghasilan lain
yang kita butuhkan.
Udah, Mamah tenang aja.
Kita nggak perlu restoran itu, buat sumber penghasilan.
Aku udah berencana
mau lamar kerja lagi.
Iya.
Boleh punya rencana lain.
Tapi kadang,
takdir punya jalan sendiri.
Mungkin
sebelum kamu tolak atau kamu terima,
semua yang dateng ke kamu,
coba,
kamu tanya pada hati kecilmu dulu.
RESTORAN PICCOLO
PICCOLO RESTORAN ITALIA
Siapa lo?
Balikin barang-barangnya!
Lo siapa ngatur gue?
Gue pemilik restoran.
Lo anaknya Chef Andi?
Iya.
Turut berduka.
Oke. Balikin barangnya sekarang!
Ini barang gue.
Jangan ngaku-ngaku.
Ini bener barang kerja gue!
Gue sous-chef sebelum dia sakit
dan nutup restoran setahun lalu.
Kenapa baru sekarang?
Restoran tutup setahun lalu.
Karena gua kerja di kapal pesiar.
Sejak bokap lo pecat gue, gua kerja di kapal pesiar.
Gua masuk kapal pesiar juga karena bokap lo.
Gua nggak sangka,
hari pemecatan gue itu hari terakhir gue ketemu Chef Andi.
Kenapa ngeliat begitu?
Nggak percaya?
Ya, Tuhan. Oke. Baik.
Kartu nama gue.
Sejak cuti dari kapal pesiar, gue kerja di kebun hidroponik.
Lo boleh dateng.
Lo tanya sama orang sekeliling, siapa gue.
Boleh tanya, gua masuk situ dari mana.
Ayah gue?
Chef Andi?
Bukan.
Pemilik kapal pesiar bantu gua masuk ke kebun hidroponik.
Bokap lo, Chef Andi, bantu gua bisa masuk ke kapal pesiar.
Paham?
Di depan ada tamu, Mas. Nyari Mas Rendi.
Elo ternyata.
Kirain siapa.
Tanya sekeliling soal gue?
Harus yah?
Ya kali aja.
Ngapain lagi ke sini kalau bukan penasaran sama gue?
Jangan-jangan...
lo ke sini mau ambil barang yang kemaren gua ambil?
Gua udah bilang...
Gue nggak mau ngambil barang-barang itu.
Terus kenapa?
Gue mau minta bantuan.
Bantuan?
Maksud lo, uang?
Keluarga Chef Andi ada masalah uang?
Bisa diem dulu, nggak?
Ayah warisin Restoran Piccolo ke gue.
Dan gue berniat untuk buka lagi restoran itu.
Kalo Chef Andi tau, pasti dia bangga.
Tapi,
gue nggak terlalu tahu soal bisnis restoran.
Apalagi soal
masak-masak.
Jadi...
gue butuh bantuan lo.
Gua tersanjung.
Kalo Piccolo beroperasi lagi,
gue pengen lo kerja di sana.
Jadi lo bisa tinggalin kerjaan kapal pesiar.
Gini-gini. Sekarang,
ninggalin kerja di kapal pesiar nggak semudah itu.
Gaji gua gede.
Gua punya kesempatan keliling dunia.
Punya temen banyak. Temenku baik. Gua juga senang menjalani...
Jadi, lo mau atau nggak, bantuin?
Gua pikir dulu.
Nyebelin banget!
Sendirian aja?
Mau dibantu?
Jadi?
Udah mutusin bantu gue?
Sabar dulu.
Gue ngerti lo ngebet.
Tapi...
Hai!
Perkenalkan.
Ini Indah. Ini Jali.
Kami mantan karyawan Piccolo.
Dan kami
berniat bantuin lo.
No comments yet. Be the first to leave one.