The first 200 lines.
Kau baik-baik saja?
Demammu mencapai 39 derajat Celsius semalam.
Apa kau sangat kesakitan?
Kau mau ke dokter?
Kenapa lama sekali?
Kau tahu
aku tak suka menunggu.
Tae-hyung...
Aku menyukaimu
Hyun-jin.
Jadi, aku terus menunggumu.
Kau yang pertama dalam segalanya bagiku.
Kau orang pertama yang pernah menungguku
dan orang pertama yang tidak mengabaikanku.
Kurasa ada yang datang.
Tidak, ini berat. Biar kubawakan.
Ini.
Apa ini?
Bukan apa-apa, hanya lauk.
Kau harus makan dengan baik untuk membesarkan anak.
Kau tidak perlu melakukannya.
Ibuku sudah sangat tua.
Dia tidak tahu cara memasak porsi kecil.
Kalau begitu, aku akan membuangnya.
Tidak, terima kasih banyak.
Aku akan memberimu wadahnya.
Aku menghargainya.
Apa Woo-joo sudah tidur?
Dia sedang tidur.
Astaga.
Kau bisa melihat dengan kacamata hitam itu?
Kenapa kau memakainya?
Lupakan kacamata hitamku.
Kudengar dari orang tua Bom
bahwa kalian berdua keluarga, bukan pasangan?
Sepertinya tidak ada yang bisa menyimpan rahasia di sini.
Apa? Apa terjadi sesuatu?
Tidak.
Kenapa kalian berdua canggung sekali?
Aku harus menanyakan sesuatu.
- Apa? - Ayo keluar.
Dia menyuruhku diam.
Dia terus menyuruhku diam.
Pasti terjadi sesuatu.
Benar, bukan?
Kau bercanda.
Aku menyatakan cinta dengan penampilan seperti ini?
Astaga.
EPISODE ENAM
Kenapa dia tidak tidur di ranjangnya?
Jika sakitmu separah itu
seharusnya kau mencegahku pergi.
Lagi pula, semua orang pergi
bahkan saat aku melarang mereka.
Aku tidak akan ke mana-mana.
Terima kasih sudah datang kemarin.
Kau sudah bangun?
Kau baik-baik saja? Apa lidahmu terbakar?
Aku baik-baik saja.
Sebaiknya aku bersiap berangkat kerja sekarang.
Apa tidurmu nyenyak?
Lumayan. Aku tidur sebentar setiap kali demammu turun.
Aku membuat bubur untukmu, jadi, makanlah nanti.
Antar Woo-joo ke tempat Bom sebelum berangkat kerja
dan aku akan menjemputnya nanti.
- Dan... - Kau sudah makan?
- Apa? - Kau sudah sarapan?
Tidak, aku akan makan siang di kantor.
Sampai jumpa.
Sampai jumpa, Woo-joo!
Aku menyukaimu
Hyun-jin.
Kenapa jantungku berdebar kencang?
Halo?
Apa kau wali Sun Woo-joo?
Ya, benar. Siapa ini?
Aku dari Penitipan Anak Saetbyeol.
Aku menelepon soal lowongan di divisi bayi.
Benarkah?
Kapan dia bisa mulai?
Jika kau tidak keberatan
dia bisa bergabung dengan kami mulai hari ini.
Tidak apa-apa jika kau terlambat. Akan bagus bertemu teman sekelasnya
dan membiasakan diri dengan lingkungan sekitar.
Tentu, itu rencana yang bagus.
Baik, terima kasih!
Sebaiknya aku memberi tahu Tae-hyung.
Tidak.
Mungkin agak aneh menelepon sekarang.
Ayolah. Kau baru saja sarapan.
Tidak tetap tidak, bahkan dengan mata memelas itu.
Ini kali pertama
seseorang membuatkanku bubur saat aku sakit.
Apa dia bergegas pergi tanpa sarapan
karena aku?
Ya.
- Benarkah? - Ya.
Apa aku membuatnya tidak nyaman?
Bisakah
antar Woo-joo ke tempat penitipan
sebelum berangkat kerja hari ini?
Penitipan anak?
Aku memasukkan namanya
di daftar tunggu beberapa saat lalu
dan aku ditelepon soal lowongan.
Akan kukirimkan alamatnya.
Dia terlalu kecil untuk penitipan anak. Dia masih bayi.
Ayo berpakaian, Nak.
- Tidak. - Ulurkan kakimu.
Tidak.
Ini.
Aku tidak percaya butuh 30 menit untuk mendandaninya.
Pergi!
Baiklah. Akan kuambilkan untukmu.
- Tunggu sebentar. - Baiklah.
PENITIPAN ANAK SAETBYEOL
Ini lebih besar dari dugaanku.
Nak, kau yakin akan baik-baik saja?
- Ya. - Benarkah?
Baiklah.
Kalau begitu, ayo masuk.
Kau pasti Woo-joo!
Halo.
- Beri salam. - Kau siap?
Beri hormat ke gurumu. Bagus.
Ayo.
Ayo.
PENITIPAN ANAK SAETBYEOL
Apa kau ayah Woo-joo?
Ayah?
Apa aku terlihat seperti itu?
Aku pamannya.
Begitu rupanya.
Aku mengerti sekarang. Sudah kuduga kau mirip seorang paman.
Baik, Pak Paman
tolong tinggalkan kontak darurat di sini.
FORMULIR KONTAK DARURAT PENITIPAN ANAK SAETBYEOL
SUN WOO-JOO SUN TAE-HYUNG
SUN WOO-JOO SUN TAE-HYUNG
Pak
sebelum kau pergi
bisa beri tahu Woo-joo untuk bersenang-senang
selagi kau bekerja
dan kau akan menjemputnya nanti?
Jika tidak, dia akan gelisah dan menunggumu seharian.
Dia akan merasa aman karena tahu dia bisa mengandalkanmu
untuk menjemputnya nanti.
Tentu.
Tentu saja tidak.
Dia tidak perlu menunggu selamanya.
Pamanku.
- Nak. - Ya.
Tidak, Woo-joo.
Ya.
Paman akan bekerja untuk menghasilkan uang
untuk membeli popokmu.
Baiklah.
- Jadi, Woo-joo - Ya.
Bersenang-senanglah dengan teman-temanmu.
Baiklah.
Bibi Hyun-jin akan menjemputmu nanti.
- Ya. - Mengerti?
- Ya. - Tos!
SELAMAT DATANG! SENANG BERTEMU DENGANMU.
Ini aneh.
Perasaan sedih aneh apa ini?
Benar, aku lupa melapor ke Hyun-jin.
"Aku menyiapkan Woo-joo ke sekolah"
"dan mengantarnya ke hari pertamanya di tempat penitipan anak."
Sebaiknya aku mengirim foto juga.
Yang ini?
Apa? Apa yang terjadi?
Apa? Tunggu.
Bagaimana cara membatalkannya?
Astaga, dia membacanya.
Apa yang dia lakukan?
Ada apa?
Ada apa di antara kalian berdua?
Sekarang kalian saling mengirim swafoto?
Tanpa memberitahuku?
Apa ada hal lain yang terjadi di antara kalian?
Dia bilang
dia menyukaiku.
Tidak mungkin. Dia menyukaimu?
Tae-hyung?
Kalian cepat sekali!
Lalu apa? Ceritakan detailnya.
Bagaimana?
Aku yakin dia hanya mengantuk dan mengigau.
Demamnya sangat tinggi semalam.
Bukan itu yang kutanyakan.
Bagaimana perasaanmu?
Bukankah biasanya orang jatuh cinta lagi dengan cinta pertamanya
saat bertemu lagi?
Bukankah Yoon-seong cinta pertamamu?
Ya, benar.
Berdasarkan caranya memperlakukanmu
sepertinya dia masih menyukaimu.
Aku tidak tahu lagi.
Yoon-seong baik ke semua orang.
No comments yet. Be the first to leave one.