The first 194 lines.
Penerjemah : Unickunru *_*
Ayah, ini begitu lagi.
Oh, ayolah. Kukira aku sudah perbaiki!
- Siapa Alexis? -Itu asistenku.
-Kenapa kamu perlu asisten? -Dia membantuku bekerja.
Aku ingin asisten.
Habiskan serealmu dahulu, bodoh.
Sayang, jika kita akan pergi bareng, kita harus pergi.
Sayang, ayolah.
Yeah, aku baru berpakaian. Aku akan ke bawah sebentar lagi.
Okay.
Oh, wow,
- Aku belum melihat baju itu beberapa saat.
Bagaimana kemajuan sarapan itu?
Aku suka bicara pada tembok.
Jangan ambil hati.
Dan kita bicara soal waktu menonton, ingat?
Benar, tapi dia sudah selesaikan setengah serealnya.
- Siapa yang mengantarku? - Kami berdua.
Kami ada rencana di kota malam ini.
Ayolah, brontosaurus kecil. Baiklah.
-Okay, ini dia, monyet. -Aku bukan monyet.
Lekaslah, slowpokes.
Aku hanya tak bisa akui itu sudah berakhir.
Seperti, di saat surat-surat itu ditanda tangani...
Aku jatuh cinta padanya lagi.
Apa menurutmu itu tentang dia?
Atau hanya fakta bahwa itu resmi sekarang?
Dia menyebut aku tak emosyenal.
Maaf.
Tidak, jangan minta maaf.
Ini keputusan besar yang kamu buat.
Kurasa kamu berurusan dengan kejujuran.
Itu sulit. Dan patut dihargai.
-Sampai ketemu minggu depan. -Okay.
Oh, aku tahu kami agak lama.
Tapi, uh, beri aku waktu, okay?
Lagian, aku selalu diintimidasi oleh dia.
Dia agak seperti pria.
Dan kami berdiri diluar elevator,
dan dia seperti membuat penyusuran kecil soal kepergianku,
kemudian aku memberitahunya langsung untuk minggir.
Wow, itu tegas, Sam.
Yeah, akhirnya terasa seperti situasi kembali normal.
Bagaimana bisa begitu?
Seperti kataku, dengan pekerjaan.
Ada yang lain?
Baiklah...
Aku agak gugup beritahu ini.
Jangan gugup.
Kamu bisa katakan apapun, Sam.
Aku bicara pada Sidney.
Dia menelponku balik setelah kuhubungi dia di depanmu.
Katanya kami bisa minum-minum di Morandi.
Kamu tahu, dia sangat hangat dan terbuka, ini lebih baik dari perkiraanku.
Dia menanyakanku soal pekerjaan
dan memberitahuku soal demo yang dia rekam.
Dia tampak mengagumkan.
Dia sangat menawan, aku nyaris tak bisa dengar setengah kata-katanya.
Maaf, aku bahkan tidak, um...
Aku tak tahu apa yang kucoba katakan saat ini.
Aku ada ide.
Mari ambil waktu sejenak dan...
mencoba latihan, okay?
Ini mungkin membantumu menyampaikan dengan lebih jelas.
Jadi mari tarik napas dan tutup matamu.
Dan cobalah mengingat perasaan di ruangan itu.
Dan berpura-pura aku adalah Sidney.
Apa yang kamu katakan?
Kuberithu dia kalau aku merindukannya.
Aku. Katakan.
Kamu...
Aku merindukanmu.
Dan aku...
Aku memikirkanmu setiap saat.
Kuyakin itu.
Tak apa-apa.
Lanjutkan saja.
Aku senang kamu menelpon.
Aku tahu mungkin tak seharusnya, tapi aku tak bisa membantu dengan yang kurasakan.
Aku suka kalau kamu menginginkanku.
Dia tak mengatakan itu.
Oh.
Aku suka nongkrong denganmu.
Terasa alami.
Tak seperti bajingan lainnya diluar sana.
Kini kamu terdengar hampir seperti dia.
Apa lagi, Sam?
Kamu sungguh datang kesini untuk duduk dan nongkrong?
Katakan yang sesungguhnya kamu inginkan.
Dirimu.
Kemudian Sid kembali ke tempatku, dan kami tidur bersama.
Aku tahu kamu bukan penggemar, tapi...
Ini terasa sangat benar.
Mungkin ini yang seharusnya terjadi.
Dan mungkin ini lembaran baru.
Aku memikirkan punya sesi saat makan malam.
Dengan si bulimia?
-Dia benci dipanggil seperti itu. -Oh.
Hanya memastikan kamu sempat memprosesnya di kantor.
Dan, tentunya, pastikan dia bayar apapun yang dia makan.
Maaf, aku dapat kesan itu tidak disukai
habiskan terlalu banyak waktu diluar kantor.
-Saat aku dalam magang.. - Kasus demi kasus.
CBT itu semua tentang kenyataan dunia.
Akan kucoba ini minggu depan.
-Lihat bagaimana hasilnya. - Jean?
-Jean. -Hmm? Oh.
Maaf, ini cuma masalah orang tua.
Bagaimana dengan pasien barumu?
Pecandu pil?
Uh... Yeah, dia hebat.
Dia ingin ke pertemuan, sudah bersih selama... dua minggu.
Dan kami membangun nilai yang lumayan.
Hey.
Aku...
punya beberapa kesulitan dengan kasus pro bono ku.
Dia masih muda juga, dan berjuang dengan kecanduan.
Aku ingin tahu jika bisa melihat catatanmu pada pecandu pil mu.
Dan lihat caramu membuat banyak kemajuan dengan cepat.
Okay.
Tentu.
Yeah, biar kubereskan lebih dulu sebelum aku menyerahkannya.
Memastikan itu bisa dibaca.
Keren, makasih, Jean.
Aku mengambil risiko dan akhirnya mengorbankan
segala yang berarti untukku.
Dan, aku mengingat tiap hari pada betapa pentingnya bersyukur.
Tanpa pamrih dalam dunia ini.
Sebab...
Kebenarannya, lima tahun lalu...
dengan sejumlah barang yang aku taruh dalam tubuhku...
Aku bisa mati dengan mudah.
Dan untuk apa?
-Kuberi diriku dikendalikan pada yang kumau... -Bagaimana perasaanmu?
telernya.
Seperti aku tak ingin disini.
Tak apa, itu sangat normal, tapi kamu disini.
Dan itu berani.
Bagaimana perasaanmu soal berbicara?
-Disini? -Yeah, akan bagus untukmu.
Kamu tak harus berkata banyak.
Aku tak ingin satu ruangan penuh orang asing tahu kisahku.
Terkadang itu hanya orang yang bisa kita ajak jujur.
Itu akan melegakan.
...aku menyadari itu sekarang.
Terima kasih, Randall. Terima kasih sudah berbagi.
Apa ada yang lain yang ingin bicara?
Berdiri dan perkenalkan dirimu.
Teruskan, kamu pasti bisa.
Tak apa-apa.
Aku tak akan pergi, aku janji.
Kamu pasti bisa.
Namaku Allison.
Dan aku seorang pecandu.
Hai, Allison.
Akan kusarankan kamu lakukan yang dinamakan 90/90.
90 pertemuan dalam 90 hari.
90 pertemuan?
Itu tak serepot kedengarannya, sumpah.
Maaf, aku tahu masih hutang padamu dari pertemuan terakhir.
Hey, jangan khawatirkan itu, okay?
Allison, benar?
Oh, kami hanya ingin memperkenalkan diri.
-Oh, hey. -Oh, dan kamu?
-Um... -Dia ibuku.
Oh.
Okay.
Hubungi aku jika kamu perlu apapun, okay? Aku bangga padamu.
Senang bertemu denganmu.
Jadi, Allison, selamat datang.
Aku ingin membagi informasi denganmu.
- Antrian sebenarnya mulai disini. -Aku cuma mencari Sidney.
Dia bekerja hari ini?
Tidak, dia cuti seminggu untuk rekaman demo nya.
Oh...
Kamu tahu dimana?
A,uh.. aku jurnalis,
dan aku menulis cerita bidang musik di kota,
dan aku berharap bicara pada bandnya.
Uh...
Kurasa mereka biasanya gladi di satu ruang di pusat kota.
Kamu tahu namanya?
Bagaimana dengannya?
- Dia tidak cocok denganku. - Bagaimana kamu tahu?
Lihat, dia belum di aplikasi dalam dua minggu.
Mungkin cuma istirahat dari pacarnya, yang cinta dengannya,
untuk melihat pilihan lain dan sadar yang lainnya payah.
Sid meminjam semua uangku jadi dia bisa membayar demonya.
Jangan bilang dia memanfaatkanmu untuk uang lagi.
Diamlah.
-Dia tak meminta, aku yang menawarkan. -Huh, biar kutebak...
Dia tak hubungi kamu sejak itu.
Oh, shit.
No comments yet. Be the first to leave one.