The first 200 lines.
PENDEKAR NAGA
Tolong...
Tolong! Tolong!
Tolong! Tolong!
Bisa bantu aku turun?
- Tolong aku turun. - Ayo kita pergi.
Ayah, bantu dia.
Ayo bantu dia.
Tolong turunkan aku.
- Tolong turunkan aku. - Hati-hati, Sayang.
Tolong bantu aku! Turunkan aku!
Awas!
Ayah!
Bawa putri kita pergi dari sini.
Serahkan surat rahasianya.
Tidak akan! Aku tak akan menyerahkannya!
Bodoh!
- Lari! - Ayah!
Lari!
Ibu!
- Kau orang China? - Ya!
Tolong jaga putriku.
Lari!
Duduk!
Lari!
Cepat!
Kejar wanita itu.
Serahkan kepadaku.
Kau tak bisa lari.
Pasti kau tak tahu.
Aku orang China!
Dasar bodoh! Sialan!
Meski aku harus mencari ke seluruh kota...
aku akan temukan surat rahasia itu!
Permisi.
Maaf.
Ayo kita ke sana.
Ayo kita lihat. Sakura, ayo lihat ini.
Menakjubkan!
- Menakjubkan! - Anak-anak ini sangat mahir.
Aku yakin guru mereka pasti lebih hebat.
Aku guru mereka!
Dasar nakal, kalian membuatku malu!
- Ketua Hung, salam. - Ketua Chung, salam.
- Silakan. - Silakan.
Periksa apa semuanya hadir.
- Semua sudah hadir? - Ya!
- Semua sudah di sini, Ketua. - Baiklah. Bagus.
Ada acara rebutan petasan juga di kota. Ikutlah denganku.
- Kenapa kau lama sekali? - Maaf. Terima kasih.
Itu pasti sangat lezat.
Itu suara perutku.
- Panggil mereka ke sini. - Kemarilah.
Dengar. Saat kalian merebut petasan itu...
Kemarilah.
Kemari, Semuanya.
Dengar. Jangan biarkan mereka mendapatkan petasan itu.
Kita harus dapatkan petasan itu.
Kita harus cari cara mengalahkan mereka.
- Tentu. - Ini sangat penting.
- Ide bagus. - Segera cari cara.
Dengan petasan itu kita dapat hak untuk mengelola 18 toko.
Kami mengerti!
Bagus.
Lempar mereka, agar mereka kesal.
Dasar keparat! Serang!
KELOMPOK HUNG LIN
Ayamnya!
Sialan!
Ayamnya kembali lagi!
Dia gesit.
Hentikan!
Nyonya Ho.
- Nyonya Ho, kau sudah datang. - Nyonya Ho, kau sudah datang.
Kalian ingin mengacaukan tempat ini?
Kami hanya sedang pemanasan.
- Kami saling bertukar buah. - Ya, pemanasan.
Sepertinya Kelompok Hung Lin dan Kelompok Chung Chin...
tidak menghormati Kasino All-Win milikku.
Kami jelas menghormatinya.
Kami menunggumu di sini untuk memandu acara ini.
- Nyonya Ho, silakan duduk. - Silakan.
Silakan lewat sini.
Ini sudah hampir saatnya.
Kalian siap untuk berebut petasan?
Kami semua siap.
Ayo kita mulai saja. Bersiaplah.
PERTANDINGAN BEREBUT PETASAN
Kawan, apa kau mau memakan ayamnya?
Tadi aku melihatnya terbang.
Aku khawatir akan terbang lagi, jadi kupegang saja.
Ini kukembalikan padamu. Terima kasih kembali. Sampai jumpa.
Jangan pergi dulu, Kawan.
Kau mau ayam ini?
Kalau kau membantuku mengambil petasan...
aku akan memberimu ayam ini.
Jangan bohong.
Aku tidak pernah berbohong.
Memangnya aku terlihat seperti sedang berbohong?
Baiklah, aku akan mengambilnya untukmu!
Bagus. Ambilkan ikat kepala untuknya!
Bersiaplah.
Aku akan mendapatkan ayam itu untukmu.
Ketua, kenapa kau melakukan itu?
Hanya dengan bayaran seekor ayam...
kita dapat orang hebat yang mau bertanding untuk kita.
Apa lagi yang kau minta?
- Kau cerdas sekali, Ketua. - Sangat cerdas.
Nyonya Ho, ini sudah saatnya.
Kita sama-sama dapat setengah. Siapa yang menang?
Kau dan aku belum ada yang menang.
Kita ikuti aturan lama. Ayo lakukan duel.
- Duel? - Duel?
Itu aturan lama 18 toko.
Kalian pasti tahu soal itu.
Baiklah!
PERJANJIAN GANTI RUGI UNTUK DUEL
Bagaimana dengan ayam yang kau janjikan padaku?
Ayam?
Kau tahu, kami punya aturan di sini.
Kau harus tanda tangan dengan sidik jarimu.
- Sidik jari? - Kau akan mendapatkannya.
Apa menurutmu aturan ini aneh?
Ini tradisi lama di sini.
Kau bisa ambil ayamnya setelah memberikan sidik jari.
- Benarkah? - Ya.
Baiklah, semua sudah beres.
Aku akan mengambilkan ayamnya.
Kau telah menandatangani perjanjian untuk duel.
Kau akan bertarung duel dalam 10 hari.
Ketua, aku tidak berjanji akan bertarung dalam duel.
Kau mendapatkan petasan untukku. Kenapa duel tidak?
Tidak masalah. Kau pasti bisa mengalahkannya.
Aku tidak mau bertarung. Ibu bilang gangster itu tidak baik.
Aku tidak mau bertarung untukmu.
Kawan, kau benar.
Kelompok Chung Chin geng sungguhan...
jadi kita harus bertarung atas nama keadilan.
Kita tidak bisa membiarkan mereka merundung penduduk.
Kau akan bertarung untuk orang-orang.
- Benarkah? - Aku tidak akan bohong padamu.
Aku tahu dari perilakumu...
kau adalah pahlawan muda yang akan memperjuangkan keadilan.
Apa aku sungguh akan membantu penduduk setempat?
Tentu, kau akan membantu penduduk setempat.
Baiklah! Aku akan bertarung dalam duel.
Aku berterima kasih atas nama penduduk setempat.
Apa lagi sekarang?
- Kau lupa lagi. - Benar, ayamnya!
- Ambilkan ayamnya. - Baiklah.
- Baiklah, aku pergi dulu. - Terima kasih.
- Ayo ikut aku. - Baiklah.
Wangi sekali!
Kenapa kau membantu mereka mendapatkan petasan?
Agar kita bisa dapat ayam ini. Kita bisa makan ayam sekarang.
- Kau gagal memukulnya! - Ini salahmu.
Ada apa denganmu?
- Kau tidak berguna! - Kau tidak berguna!
Aku memperingatkanmu, kau harus menang dalam duel!
Kau ingin uang, 'kan? Ini untukmu!
Jika kau ingin hari yang baik, kau harus menang dalam duel!
- Ya! - Ayo kita pergi!
- Ayo pergi! - Ayo pergi!
Dasar pecundang.
Maaf, aku telah merepotkanmu.
Aku sungguh minta maaf.
Ambillah ayam ini.
Apa? Tapi itu ayam kita.
Tolong ambil ini.
Jaga dirimu!
Aku sangat lapar.
Itu bukan perutku.
Itu suara petir.
Akan turun hujan. Ayo kita cari tempat berteduh.
Ayo.
Kau memang punya banyak musuh.
Gigit ini jika terasa sakit.
Kau bisa menahan rasa sakit.
Rasa sakit ini bukan apa-apa.
Aku tiba di sini ketika berusia 7-8 tahun.
Pada saat itu, tidak mudah...
untuk mencari nafkah.
Aku sudah lama mempelajari aturan bertahan hidup dari yang terkuat.
Kau sangat istimewa.
Aku harus berterima kasih pada mantan bos Kasino All-Win.
Dia menikahiku sebagai selir kesembilan.
Bahkan, dia memperlakukanku seperti putrinya sendiri.
Dia tidak punya anak.
Begitu dia meninggal, aku harus mewarisi kasinonya.
Aku tidak punya pilihan.
Satu-satunya yang bisa kulakukan adalah bertahan hidup.
Biarkan aku membantumu.
Kau menganggapku apa?
Aku bukan gadis yang naif.
Aku tak akan jatuh cinta padamu...
hanya karena kata-katamu tadi.
Karena aku tahu kau punya rencana sendiri.
Rencana apa itu?
Jika aku memang tahu, apa aku bisa hidup?
Mari berteduh di rumahku.
No comments yet. Be the first to leave one.