The first 200 lines.
Drama ini hanya karya fiksi. Tempat, organisasi, karakter, lembaga, dan insiden dalam drama ini tidak nyata.
Aigoo, sepertinya Du-hak kita lapar.
Oke, oke. Mau ibu beri susu?
Aku akan pergi ke ladang milik bapak untuk mencabut rumput liar.
Tanam semua benih dan pulanglah duluan, oke?
Astaga, apa kau menyuruhku menanam seluruh ladang jelai sendirian?
Ditambah aku juga merawat bayi?
Kau keterlaluan!
Kita bukan budak dari era Joseon!
Apa dia akan mendirikan monumen peringatan untukmu?
Astaga! Kau tahu apa?
Apa yang aku tidak tahu?
Mana mungkin orang yang tahu akan bicara seperti itu?
Aku tahu kita harus bersyukur, dan aku sudah bersyukur.
Aku mengatakan ini karena kau keterlaluan!
Kau melakukan semua pertanian untuk mereka.
Tidak hanya itu, kau juga menawarkan semua hasil panen kita pada mereka!
Bahkan mantan budak lain pun tidak melakukan itu!
Maksudku, kenapa hanya kau yang bertingkah seperti itu, seperti orang bodoh?
Aku harus melakukannya karena tidak ada yang akan melakukannya!
Orang lain bahkan tidak tahu cara bersyukur!
Meski dunia telah berubah, orang harus tetap melakukan hal benar.
Aigoo, karena kau hebat dalam melakukan hal benar,
kita tidak butuh Konfusius atau Mencius.
- Wah, istriku ini... - Cepatlah pergi.
Entah aku mati atau tidak, lakukan saja hal benar.
Sepertinya aku hamil lagi.
Aku belum menstruasi selama tiga bulan terakhir.
Aku akan selesaikan penanaman benih di sini setelah kembali
jadi, pulang dan beristirahatlah.
Aigoo, Du-hak...
Meskipun aku bilang sedang mengandung adikmu,
ayahmu tidak peduli begitu.
Kau tidak boleh menjadi seperti ayahmu, mengerti?
Ibu.
Hei, ayolah! Pelan sedikit!
Kalau begini, bisa-bisa aku mati duluan!
Astaga!
Berhenti...
Aigoo, berhenti...
Kita harus buru-buru membawanya ke rumah sakit besar di Gwangju.
Bisa kau panggil ambulans?
- Ya, aku akan meneleponnya. - Tidak usah.
- Ayah. - Ayah...
Antar dokter pulang... dan suruh ayah Du-hak masuk.
Pak...
Aku tidak menyuruhmu untuk menyerahkan bayi itu sebagai ahli waris adopsi saja.
Andai anak keduamu adalah anak laki-laki...
Istrinya putraku tidak bisa mengandung anak.
Karena aku punya banyak dosa, aku tidak mengharapkan menerima makanan di upacara peringatan,
tapi aku akan malu untuk bertemu leluhurku.
Ini permintaanku...
Pak, tetap saja, bagaimana bisa kau menerima seseorang dari kalangan rakyat jelata?
Yeong-sik.
Hyung-nim.
- Aku mohon. - Aigoo.
Tapi dengan satu syarat.
Jika demikian, anak itu akan menjadi anakku,
layaknya anak yang aku lahirkan.
Aku mengerti.
Kami akan rahasiakan ini... sampai akhir hayat.
Pak...
Terima kasih.
Kenapa kau menangis?
Karena aku sangat sedih!
Apa masuk akal mereka akan mencuri anak kita yang bahkan belum lahir sebagai anak adopsi?
Itu cuma seorang putra.
Selain itu, kenapa kau sebut "mencuri"?
Itu karunia yang kita terima!
Astaga! Mereka akan mengambil anak kita, lantas kenapa menerima karunia?
Pikirkanlah.
Di masa paceklik ini, memberi makan satu mulut saja susah,
bukankah kita harus bersyukur karena berkurang satu mulut yang harus diberi makan?
Selain itu, jika anak kita tumbuh besar di keluarga bergengsi,
bukankah itu bagus?
Apa anak kita akan mengenali siapa kita?
Astaga, memangnya itu masalah apakah dia kenal atau tidak?
Kita akan tahu, Surga dan Bumi pun akan tahu.
Seorang anak disebut anakmu saat kau melahirkan dan menggendongnya.
Dia akan menganggap orang yang membesarkannya sebagai orang tuanya.
Tidak ada gunanya bagi kita, meski dia menjadi hakim atau jaksa.
Jika anak kita... adalah anak laki-laki... maka anggap saja dia diberkati.
Kau pikir kenapa aku cepat menikah
setelah kita putus, Oppa?
Ada kasus lain yang memusingkan di Kompleks Industri Guro.
Aku akan mengurusnya seperti tempo hari.
Daripada menghalangi, lebih baik ikuti saja hyung-nim-mu.
Atau tetaplah di dalam mobil.
Halo.
- Du-hak. Yeong-pil. - Ya, Hyung-nim.
Orang ini adalah masalahnya.
Setelah lulus kuliah dan bekerja di bawah perlindungan,
dia mengumpulkan para buruh yang naif dan menjatuhkan perusahaan.
Tikus ini pasti ada di pabrik ini.
Kita harus menangkapnya, paham?
Oppa, aku akhirnya kerja di pabrik di Seoul.
Itu Pabrik Produksi Bangil di Guro-dong,
tempat pembuatan ritsleting dan pisau cukur.
Kalau begitu, polisi bisa menangkapnya, 'kan?
Ini perusahaan yang pertama tutup begitu serikat buruh terbentuk.
Kami tidak punya pembenaran untuk menangkap para buruh.
Tapi kita harus menangkap tikus ini untuk menenangkan mereka.
Kau mengerti, 'kan?
Aku mengerti.
Kalian sudah mengerti, 'kan?
Ya, Hyung-nim.
Sudah kubilang ikuti aku.
Tangkap dia!
Bajingan!
Hei, Bajingan!
Apa yang kau lakukan?
Hyung-nim, kau baik-baik saja?
Hyung-nim!
Ayo ikut tanpa melawan.
Oppa!
Oppa! Jangan lakukan ini!
Hentikan!
Mun Dong-su!
Sudah kubilang bergerak ke sana!
Sial!
Hentikan ini!
Sial.
Pak guru, Pak guru!
- Jeong-ok, Jeong-ok! - Lepas!
Masukkan aku juga!
Tangkap aku juga!
- Diamlah. - Lepas!
Hei!
Ayo.
Perhatikan anggota keluargamu.
Beri ini ke Bos Yeom.
Mengeluarkanmu itu sulit.
Jadi, pulang saja dan diamlah.
Aku sangat bersyukur sampai tidak tahu harus berbuat apa,
menikmati keuntungan punya kakak preman.
- Hei! - Oppa, kau tahu apa yang kau lakukan?
Kau bertingkah seperti anjing
tidak berperikemanusiaan untuk bajingan CEO jahat!
- Kau mau ke nama? - Lepas.
Aku akan bersama teman-temanku.
Teman-temanmu,
yang ikut kelas malam dan berunjuk rasa?
Mereka lebih penting dari keluargamu?
Mereka juga keluarga dan kameradku!
"Kamerad"?
Kini, kau jadi komunis sepenuhnya, ya?
Jika kau pergi ke kantor polisi sekarang, kau bisa langsung masuk penjara!
Jika harus, maka aku akan dipenjara!
Hanya orang yang benar-benar melakukan kejahatan yang takut penjara.
Aku tidak takut.
Kenapa?
Karena aku melakukan ini agar bisa hidup layaknya manusia!
Kau!
Kenapa kau hidup seperti ini, Oppa?
Dahulu kau tidak seperti ini, Oppa.
Kau tidak malu melihat langit?
Aku sudah lama tidak melihat langit.
Selain itu, langit tidak melihat orang sepertiku.
Du-hak.
Du-hak!
Astaga... Astaga! Astaga!
Jeong-ok...
Masuklah. Tidak baik kalau ibu dan ayah tahu.
Apa maksudmu, "Tidak baik kalau ibu dan ayah tahu"?
Ibu, pastikan saja Jeong-ok tidak keluar rumah.
Pastikan juga dia tidak berangkat kerja.
- Bekerja? - Pabriknya akan ditutup untuk sementara,
jadi, beri saja dia makan dan biarkan dia beristirahat.
Apa kau buat masalah?
Justru, oppa yang buat masalah!
Putra yang ibu dan ayah banggakan
sekarang jadi gangster pembubar unjuk rasa!
A-Apa maksudnya?
Ibu,
jangan kirim Jeong-ok ke pabrik lagi.
Suruh saja dia belajar dan berkuliah!
Aku akan membayar SPP-nya.
Aku datang untuk memberi ini.
Ambil...
Ambil lagi bersamamu.
Kubilang ambil lagi!
Astaga, kenapa kau melakukan ini padahal dia cuma memperhatikan orang tuanya?
Kau... Bagaimana kau mencari nafkah?
Barusan kau sudah dengar dari Jeong-ok.
Aku gangster.
Bajingan!
Ayah Du-hak! Ayah Du-hak!
Kenapa?
Pukul saja aku seperti biasanya.
Ini semua 'kan gara-gara ayah.
Du-hak. Du-hak...
Tetap saja, tidak semestinya kau hidup seperti ini.
A-Apa maksudmu gangster?
Kau 'kan orang baik!
Ibu tidak tahu apa-apa!
A-Aku tidak tahu apa?
Bagaimana seorang mantan narapidana
yang kurang berpendidikan akan mencari nafkah?
Bagaimana? Haruskah aku pulang kampung dan bertani?
Lagi pula, apakah kita punya ladang pertanian?
No comments yet. Be the first to leave one.