The first 200 lines.
Orang tak tahu seberapa besar tanggung jawabnya.
Mereka bercinta dan melahirkan makhluk yang berkeliaran tanpa tujuan.
Dia akan tertelungkup.
Lihat kakinya gemetar.
Ibunya bahkan tak lihat.
Anak itu mencoba bertahan dan dia mencari pacar.
Jika tak jatuh dalam 30 detik, kubayar dua kali lipat.
- Itu dia! - Ibu! Aduh!
Astaga! Tunggu.
Ada apa, Sobat?
Ada satu hari
Yang sangat hangat di bulan Desember
Suatu hari, hari biasa
Saat konflik tak diingat
Ada satu hari
Ketika sukacita menanti kita
Ini hari
Yang kita ketahui sejak lahir
Dari Bumi ke surga dan dari surga ke Bumi
Semua orang saling berkirim salam
Pohon pada burung dan burung pada pohon
Kepingan salju menari tertiup angin
Ada satu hari
Yang kita lewatkan tanpa keributan
Suatu hari, hari yang indah
Hari yang tahun ini berikan untuk kita
Hei, Tytus.
Ini untuk makan malamnya pukul 19,00.
Kau tak akan percaya.
Aku dapat ganja gratis.
Apa? Dia tak tahu apa artinya. Ada berbagai jenis ganja.
Kau tak bisa berubah.
Aku tahu persis apa yang kau lakukan. Aku tahu tiap tindakanmu.
Yang ini juga?
Hentikan. Kau cuma perlu menjemputnya.
Aku lupa.
Waktu terasa berbeda bagiku.
- Sudah jelas. - Kau marah?
- Aku tampak marah? - Aku yakin begitu.
Empat orang meninggal saat sifku, tapi kau yang paling mengesalkan.
Ada rapat orang tua murid di Secercah Sinar Matahari.
Aku yakin mereka akan membahas Tytus, dan aku tak bisa datang lagi.
Mereka sangat membencinya.
Tatapan mereka saat tersiar kabar hanya aku yang tak membayar.
Atau saat Tytus menekan sosis ke hidung seorang gadis.
Saat ada merpati mati di ranselnya.
Seluruh sosis?
- Aku tahu aku berengsek. - Hei! Kumohon.
- Kau juga mengumpat. - Tapi aku mengumpat ke dinding.
Tapi suaranya tetap memantul dan... Oke.
Baik.
Aku berengsek.
Aku akan menghadiri rapat itu.
SELAMAT DATANG
Tidak.
Aku harus ke rumah sakit dan dia harus ditemani.
Kau tak bisa bertemu orang dewasa.
Dah, Sayang.
Selamat malam.
Dah.
Dah.
TAMAN KANAK-KANAK SECERCAH SINAR MATAHARI
Kau memegang apa?
Tytus?
Ini set kepala...
Ini mahal.
Kalau rusak, kau harus bayar.
Tytus...
Jangan di dinding!
Keterlaluan.
Hei, Bung! Bisa bantu aku?
- Ya? - Aku harus keluar.
Kau mau aku menjaga budakmu?
A NIGHT AT THE KINDERGARTEN
Keputusan ini tak mudah, tapi saya sudah kehabisan pilihan.
Anda tahu ide Anda tak ada gunanya.
Saya rasa kita tak bisa melakukan ini.
- Konsekuensi bagi anak-anak... - Ada banyak anak di sini.
- Bagi anak... - Pendapat Anda sama dengan yang lain.
Ini terlalu penting...
- Hei. - Selamat malam.
- Aku... - Kekasih Dorota, bukan? Eryk?
- Tahu dari mana? - Instagram.
Fotonya sedikit. Kau ada di fotonya, sedang memeluknya.
Hubungan kalian serius.
Kurasa begitu.
Kau menghadiri rapat orang tua murid untuk putranya, jadi serius. Aku Justyna.
- Hai. - Aku Ketua Komite Orang Tua Murid.
- Dan Anda? - Saya kepala sekolah.
Rapatnya di sana.
Hei, Semuanya!
Ini Eryk.
- Hai, Eryk. - Hai.
Kenapa muram sekali?
- Hai, Eryk! - Hai, Eryk!
- Halo. - Hai, Eryk!
Karena Eryk baru, bisa mengenalkan diri dalam dua kalimat?
Persetan. Kau serius?
Maaf, kami punya satu aturan di sini. Hanya satu. Tak boleh mengumpat.
Itu jadi kebiasaan, anak-anak mengikuti, dan kosakata mereka pun jadi kotor.
Tentu.
Kalau begitu, aku Eryk.
Itu kalimat pertama.
Aku pacar, lebih tepatnya, partner Dorota,
aku bekerja sebagai perancang suara, dan bisa dibilang aku ayah tiri Tytus.
Itu yang kedua, kalimat majemuk. Kau!
Karena usiaku lebih tua, kalimatku boleh lebih banyak?
Tidak.
Tadeusz.
- Hai, Tadeusz. - Halo.
- Kami orang tua dari dua anak kecil. - Aku ayahnya Anka.
Aku ibunya Gawel. Kami bertemu di sini. Kau tahu kelanjutannya.
Aku ibunya Pawelek. Dia di kelas TK besar.
- Dia jago berenang. - Ya.
Dia mau anjing. Masih kami pikirkan.
- Kami sering bertemu. - Di TK ini.
Kami berdua lajang.
- Ya, benar. - Aku lajang.
Ada banyak keanehan dalam hidupku untuk diringkas dalam dua kalimat.
Suamiku mengajaknya bermain gokar.
Tapi cukup tentangku.
Aku Hamza.
Halo, namaku Kazimierz.
Empat anakku dulu bersekolah di TK ini.
Kini Daniel bersekolah di sini.
Daniel mengidap sindrom Down, tapi kubesarkan seakan-akan dia normal.
- Itu mengagumkan. - Apa?
Maksudku, keren.
- Aku... - Ayo mulai!
Sebelum melanjutkan ke acara utama, drama Natal yang dinantikan,
aku ingin membahas satu masalah lagi,
yaitu toilet.
Kazimierz, terima kasih sudah memberikan toilet siram otomatis.
Sama-sama.
Namun, beberapa orang tua tak setuju karena itu tak mengajari kemandirian.
Siapa?
- Siapa yang tak setuju? - Terkadang Pawelek tak BAB seminggu.
- Bekatul. - Dengan segala hormat, itu bodoh.
Anak-anak harus tahu cara menyiram. Jika tak belajar...
Hamza.
...mereka tak akan bisa.
Hamza.
Lihat aku saat bicara padaku.
Kotoran mengapung berjam-jam. Kau tahu itu tak sehat?
Sebagai ahli gizi dan pelatih pribadi, kadang BAB lebih penting daripada makan.
- Ayo fokus. - Dengar. Tindakanku ini positif.
Kumohon jangan stres. Kami semua berterima kasih, bukan?
Mari berterima kasih padanya.
- Terima kasih. - Tentu.
Terima kasih.
Kau tak mengikuti protokol. Tak ada pemungutan suara.
Saat itu pukul 19,15 dan pemungutan suara akan menimbulkan perselisihan.
Saat aku ingin pohon Natal asli,
itu tak ramah lingkungan.
- Aku mau menggantung lambang... - Harus ada pemungutan suara.
Ini bukan rumahmu.
- Ini komunitas. - Perse...
YA
Enyahkan toilet!
"Ya."
"Sampah." Kuanggap ini berarti "tidak".
Toilet "ya", toilet "tidak".
"Tidak."
"Ya."
Dan "ya" untuk toilet.
Imbang.
Aku senang dengan hasilnya. Pluralisme menang dan...
Kazimierz, sebentar.
Eryk?
Selamat makan.
Dorota mengizinkanmu berada di sini.
Ya. Tentu.
Baik.
- Jadi, ada satu suara lagi. - Dia tak punya anak.
Kaziu, tenanglah
Eryk adalah ayah tiri Tytus. Ayah tiri tetaplah ayah.
- Ya. - Namanya saja lain.
- Kau mendukung atau menentang? - Kaziu, jangan kasar.
Ini masalah filosofis, bukan?
Lebih baik seseorang dibesarkan dengan atau tanpa kenyamanan?
Aku tak punya. Aku tumbuh di rumah susun.
Aku sekamar dengan tiga saudaraku.
- Tapi ternyata aku baik-baik saja, bukan? - Ya.
Walau terkadang aku berharap ada yang menyiram toilet untukku.
Tapi karena ini suara Dorota, bukan suaramu...
Benar.
Prioritasnya agak berbeda.
Jadi, sayangnya...
Dengan menyesal, aku harus menentang toilet itu.
Hei, Eryk!
Jangan khawatir.
Dia memang mudah kesal. Kau akan terbiasa.
- Tidak. Aku harus pergi. Terima kasih. - Tidak?
Sayang sekali
karena tak asyik mengobrol tanpa alkohol.
Tadeusz, jangan menganjurkannya. Dia bawa miras ke tiap rapat.
Kelak aku akan sukses.
- Sudah beres? - Sudah untukmu.
Masih ada drama Natal.
Tak ada yang mau latihan, jadi kami di sini sampai beres.
No comments yet. Be the first to leave one.