The first 200 lines.
Ayo, sini!
Cek nadi!
Tidak ada nadi. Gambaran masih VT.
Oke, defibrilator siap?
Berikan 36 joule!
Siap entry!
Kami masih memantau terus kondisi Bu Yenny.
Beliau masih belum sadar.
Kolesterolnya sangat rendah.
Ginjalnya semakin tidak berfungsi.
Hipertensinya menyerang jantung, dan...
tiap saat mengancam sistem kerja organ-organ lainnya.
Kak.
Iya.
Iya.
Paham.
Jangan panik dulu.
Alma cuma mau bilang,
ini gimana, ya?
Perut Alma lagi gede begini.
Dan Ayah...
Iya, Alma. Kakak paham.
Biar nanti Kakak yang jaga Bunda.
Tapi, kan, Kakak kerja.
Andra juga harus ngantor, kan?
Nanti. Kita atur nanti.
Pulang.
Kasihan Bunda.
- Bunda gapapa, Yah. - Pulang.
Bunda gapapa. Tenang, ya.
Udah, Bunda gapapa.
Benci. Tujuh huruf.
Tujuh huruf.
Benci!
Benci, tujuh huruf.
Benci.
Tujuh huruf.
Geram.
Kesal.
Gusar.
Halo, Yos. Pak Yosi udah masuk?
Baik.
Nanti tolong sampaikan kalo misalnya ada yang tanya,
saya hari ini nggak masuk, ya.
Terima kasih.
Benci, tujuh huruf.
Benci, tujuh huruf.
Tujuh huruf.
Benci, tujuh huruf.
Mangkel.
M...
A...
N...
G...
K...
E...
L.
Mangkel. Tujuh huruf.
Sebagai peneliti dan praktisi kedokteran terkenal dari Universitas Tokyo,
menurut Dokter...
Kita tahu dalam keadaan kritis,
seorang pasien sangat tergantung pada dokternya.
Apa yang bisa dilakukan dokter
ketika dia tahu kalo si pasien ini sudah tidak bisa lagi diselamatkan?
Tugas dokter
mengadministrasi pengobatan penunda kematian
sedapat mungkin.
Dan sebagai konsekuensinya,
memperpanjang penderitaan.
Bisa jadi seperti itu.
Bener, Dok.
Tapi, kan, mereka berharap kita bisa mengobati.
Menyembuhkan.
Tentu.
Tentunya
sejauh yang bisa dilakukan secara medis.
Apa gunanya semua itu
kalau si pasien ini sudah tidak bisa lagi merasakan
penderitaan?
Beberapa jam ke depan,
pasien saya akan tidak sadar diri.
Dan saya sama sekali tidak punya ide
bagaimana cara menyelamatkannya.
Ndra, kamu ngapain?
Telapak kaki Bunda kotor.
Ya, biar suster aja.
Kasihan Bunda.
Kakinya mulai membengkak.
Kak.
Bunda belum siuman.
Kata dokter,
tubuh Bunda juga udah lemah banget.
Ini sampe kapan, sih,
Bunda harus di rumah sakit kayak gini?
Nanti berapa biaya yang harus kita tanggung?
Andra!
Andra!
Andra.
Sini, Ndra.
Ayo, dipilih.
Bunda punya duit, loh, buat beliin Andra.
Andra mau sepatu?
Ndra, ini sepatu buat perempuan.
Buat Kak Alma.
Ini buat Kak Alya.
Mungkin dia perlu ini.
Terus, Andra mau apa?
Andra nggak perlu apa-apa.
Andra udah seneng, kok, bisa jalan-jalan sama Bunda.
- Alya! - Ya, Bun?
- Udah tidur, ini anak Bunda? - Iya.
Apa ini, Bun?
- Wah! - Kado.
- Makasih, Bunda! - Sama-sama.
- Tidur lagi. - Ya.
Alma.
Ya, Bun.
Bunda, kok, belinya warna kayak gini, sih?
Kenapa, Nak? Bagus, kan?
Aku nggak suka, Bun. Warnanya merah tua banget.
Itu kerlap-kerlip lagi trendi, loh, sekarang.
Ma?
Sepatu apaan, sih, nih?
Sepatu bagus, lah.
Kakak bisa pake buat lari, buat loncat.
Pokoknya keren abis, lah.
Keren apanya?
Sepatu buat emak-emak aerobik gini.
Ya, berarti emak-emak keren, dong?
Udah, diem, deh. Kamu dapet apa?
Aku nggak dapet apa-apa.
Nggak usah boong-boong, deh, sama aku.
Kamu pasti dapet sesuatu yang keren, kan, dari Bunda?
Beneran. Aku nggak dapet apa-apa.
Ayo, ngaku.
Kamu dapet apa?
Takut aku tahu, ya?
Dasar anak kesayangan Bunda!
Bun, aku bener-bener nggak suka sepatunya.
Nggak enak, lagi, dipakenya.
Dan warnanya, tuh, lebih cocok buat Bunda.
Iya.
Besok, Bunda bawa lagi ke toko dan ganti dengan yang kamu mau.
Ya, Nak?
Sus, dari siapa ini, ya, Sus?
Sus.
Yang ini dari Toko Bunga Lilis.
Yang ini dari Toko Buah Segar.
Yang ini dari Bakery Bu Sinta.
Ini dari toko yang berbeda, tapi, kok, pengirimnya sama, ya?
ABB.
Ayah.
ABB itu siapa?
Yah?
ABB. Siapa?
- ABB? - ABB.
Yah?
Dokter,
kaki Bunda mulai membengkak.
Cairan dalam tubuhnya mulai menggumpal.
Kami akan coba bantu dengan ekstraksi.
- Sus. - Ya, Dok.
- Ekstraksi sekarang. - Ya, Dok.
Tunggu, ya.
ABB.
Apa, Yah?
Apa itu?
Maaf.
Anak-anak pada denger kalo Bu Yenny lagi sakit.
Jadi, mereka ngajak kami datang kemari.
Terima kasih. Ibu dan Bapak dari mana?
Oh, kami dari Aliansi Budaya Berbagi.
Bu Yenny, Tuhan beserta Ibu.
Semoga Ibu lekas sembuh, ya.
Selama ini, Bu Yenny banyak membantu kami untuk mengumpulkan dana.
Dan setiap hari, Bu Yenny membantu di berbagai panti asuhan kami.
Emangnya Bapak sakit apa? Kok, dibalurin seperti ini?
Tangan Bapak sakit. Sakit.
Kenapa Bapak nggak ada yang nemenin?
Ayo, Nak. Jangan gangguin orang sakit.
Yuk.
Rini pagi ini
membantu Bu Santi membersihkan halaman rumah.
Daun kering
bergoyang-goyang diembus angin segar pagi.
Seperti kain batik bergelombang.
Rini senang sekali melihatnya.
Sampai Rini lupa membantu Bu Santi.
"Maaf, ya, Bu Santi."
Maaf.
Maaf.
Ayah, makan.
- Makan. - Iya.
Pak? Pak.
Ayo, kita makan bareng.
Bentar, ya.
Sebentar, Bunda masih belum siuman.
Keadaannya, tuh...
Kamu paham, deh.
Bentar.
No comments yet. Be the first to leave one.