The first 182 lines.
Anda menyaksikan laporan khusus jelang vonis
dari Jessica Kumala Wongso.
Sudah hampir sepuluh bulan, Saudara,
sejak kematian Wayan Mirna Salihin di Kafe Olivier.
Hari ini, nasib dari Jessica Kumala Wongso,
terdakwa tunggal pembunuh Mirna, akan segera ditentukan.
Semua diawali dengan pertanyaan,
"Bagaimana Mirna meninggal?"
Apa itu pembunuhan?
- - Warga Australia,
Jessica Wongso, telah didakwa atas pembunuhan Mirna Salihin.
Polisi menduga dia meracuni temannya dengan memberi sianida ke dalam kopinya.
Jessica itu kayak setan.
Dalam dirinya ada sesuatu yang jahat.
- -
Yang dibilang pengadilan abad ini itu betul.
Kasus kopi sianida ini mungkin bisa dibandingkan dengan OJ Simpson .
Jujur, entah kenapa kasusku menjadi begitu besar.
Aku bukan selebritas atau politisi.
Kasus ini terlalu banyak sisi dan rumor.
Ada rumor ada cinta segitiga antara Jessica, Mirna, dan juga suaminya.
Ada kaitannya dengan mafia.
- -
Dua sahabat yang cantik, muda, dan kaya...
Kenapa salah satunya meracuni yang lain?
Kalau dia tak bersalah, silakan bebaskan.
Saya juga tidak mau menjadi dosa
kalau saya membebaskan orang yang bersalah.
Saya yakin dia tidak bersalah.
Harus saya buktikan kebenarannya.
"Anda yakin Jessica membunuh Mirna?"
Satu juta persen!
Bersalah!
Dia pembunuhnya.
Di sini? Baik.
Sebisa mungkin, deskripsikan,
jika Anda di ruang sidang, ceritakan keadaan persidangan itu, ya?
Tidak, saya harus mulai...
AYAH KORBAN
...dari pertama saya merasa Jessica pembunuhnya.
Tidak, mulai dari Anda dahulu.
Paham.
Anda tidak membawa pistol, 'kan?
Bawa, kenapa?
Singkirkan dan jangan diperlihatkan.
Tidak, ini tak apa-apa.
Ini terkunci.
Saya orangnya mungkin kuat, ya. Saya kuat.
Sudah umur hampir 70 begini masih kuat.
Masih push up sampai ratusan begitu.
Jadi, ya, terima kasih Tuhan, saya masih dikasih kekuatan luar biasa.
Darah macanku.
Jadi, biasanya...
- Arahkan ke bawah. - Pistol begini bisa...
Tak apa. Sudah terkunci.
Ya.
Saya terbiasa dengan hal-hal yang agak parah begitu.
Tidak semua orang begitu.
Jadi, waktu saya pertama dengar Mirna itu mati,
saya hanya tanya, "Mati kenapa?"
Itu anak sehat. Sangat sehat.
Kenapa dia harus meninggal?
Di situ saya sudah memutuskan.
Saya akan menginvestigasi, pasti ketemu pembunuhnya.
Mirna,
dia punya sifat, adab, menurun dari saya. Mirip seperti saya.
Bicaranya keras.
Jika salah dibilang salah. Tidak, ya, tidak.
Saya saja dimaki-maki.
"Kenapa, sih, Papa begini... begitu?"
Jadi, dia rekan sparing saya, begitu.
Dia main bola saja bisa berantem dengan temannya.
Berkelahi...
Berkelahi dengan lelaki!
Sandy dipukul, begitu,
didatangi oleh Mirna, dia tonjok lelaki itu.
Begitulah Mirna!
JERMAN
Namaku Sandy...
aku kembarannya Mirna.
Tinggal di sini dengan di Jakarta berbeda.
Tempatnya di perdesaan, jauh dari perkotaan.
Aku dan suami ingin memulai hidup baru di sini dan mencari ketenangan.
Mir, lihat ke sini.
- Satu, dua... -
Kangen dengan dia. Kangen sekali.
Saat Mirna sudah dikubur, aku sempat memimpikan dia.
Dia cuma duduk dan dia melihat gaun pengantinnya,
tapi mukanya terlihat sedih, dan dia diam.
Impian Mirna ada banyak.
Dahulu, ingin membuka kafe bersama.
Tapi, yah...
Tak bisa dilanjutkan lagi, 'kan?
Kami berdua suka sekali kopi.
Dan menurutku itu ironis...
Mirna meninggal karena itu.
AKU SUKA ES KOPI VIETNAM-NYA, SIAL
HA-HA KAU DAN KOPI DASAR PENCINTA KOPI SEJATI
YA, BEGITULAH AKU
DASAR, OKE HA-HA
- -
Olivier adalah salah satu kafe premium.
Apa itu tempat keren untuk orang bertemu?
MANAJER, KAFE OLIVIER
Ya.
Mereka datang untuk nongkrong.
Karena ada bar juga, jadi mereka bisa bercengkrama.
- -
- - Olivier punya peraturan tertentu
untuk pelanggannya bisa datang atau masuk ke dalam restoran ini.
Harus berpenampilan baik, harus betul-betul rapi.
Pelanggan lebih sering pakai barang-barang bermerek,
seperti Gucci, Prada, dan Louis Vuitton.
Saya bangga sekali bisa menjadi salah satu staf di Kafe Olivier.
6 JANUARI 2016
- -
Hari kejadian itu hari yang biasa saja.
Ada beberapa meja yang memang sudah terisi.
PUKUL 15.30 - JESSICA TIBA DI OLIVIER DAN KELUAR SETELAH DUA MENIT
AKU SUDAH SAMPAI, TEMAN-TEMAN
PUKUL 16.14 - JESSICA MASUK KEMBALI KE OLIVIER DENGAN TAS BELANJA
PUKUL 16.18 JESSICA MEMESAN MINUMAN
Saya mulai masuk pada pukul 16.00 sore.
Saat saya masuk ke bar, keluarlah kertas pesanan,
- yaitu es kopi Vietnam. -
- Saya membuatnya seperti biasa. -
Lalu, kami siapkan di gueridon, dan diangkat oleh pelayan.
PUKUL 16.24 KOPI DISAJIKAN KEPADA JESSICA
PUKUL 17.16, 52 MENIT KEMUDIAN MIRNA TIBA DENGAN TEMAN LAINNYA, HANIE
Saya melihat ada tiga orang di meja 54.
Mereka anak muda,
kemudian saya melihat juga mereka saling kenal dan lumayan akrab.
PUKUL 17.18 MIRNA MINUM KOPI
Dan setelah itu,
ada tamu yang kejang-kejang.
Saya melihat kondisi Mirna memang sangat mengkhawatirkan
karena ada kejang dan kesulitan bernapas.
Jadi, saya melihatnya juga itu sudah darurat.
Di sebelah kanan saya ada Jessica.
Saya sangat curiga dengannya pada saat itu
karena dia tidak mau memegang temannya,
padahal dia benar-benar ada di sampingnya persis.
Sehingga saya melihat ini mungkin ada kejanggalan.
Ada yang salah dengan...
Jessica.
Begitu.
Dia bertanya,
"Kau memasukkan apa ke dalam minumannya?"
- -
Dari situ saya mulai merasa ada yang aneh
karena dengan sikapnya, Jessica lebih agak defensif.
Dari situ saya sadar, berarti ada sesuatu di kopinya.
Kemudian saya cicipi sendiri,
ternyata memang kopinya betul-betul rasa dan baunya busuk sekali.
Saat saya lihat warnanya kuning sekali kayak kunyit.
Saat saya cium dari dekat,
baunya menyengat sekali kayak kita meneteskan Power Glue.
Menyengat ke hidung.
Saya panik. Bisa dibilang panik sekali.
Saya sampai mencicipi semua bahan,
tapi dari situ tidak ada apa-apa.
Cuma minuman Jessica saja yang seperti itu.
Memang saat itu sangat berat.
Itu kayak... Mental saya juga menurun
untuk mengingat hal tersebut, begitu.
Di rumah sakit, menggunakan tangan saya,
saya memberi dia oksigen dari mulut saya.
Namun, dia sama sekali tak bergerak.
Saya bilang, "Mirna, kenapa kau mati?
Sebaiknya Papa saja.
Papa bisa mati. Papa sudah tua."
Aku masih sangat ingat.
Mukanya Mirna seolah-olah bilang, "Tolong aku."
Aku sempat coba membangunkan Mirna terus.
Aku sempat menampari mukanya
karena aku pikir kenapa tidak bangun.
Tapi akhirnya, aku disadarkan oleh suster dan dokter bahwa
Mirna memang sudah tiada pada saat itu.
- -
Pada saat itu seharusnya bertemu Mirna,
tapi karena aku bekerja, pulang pukul 18.00,
aku bilang pada Mirna, "Mir, nanti bertemunya telat, ya."
No comments yet. Be the first to leave one.