The first 200 lines.
"Love Me"
Astaga, membuatku kaget saja!
Astaga, apa-apaan ini? Kamu tidur di sini?
Maafkan aku.
Jangan minum-minum sampai larut dengan anak S1, ya?
Kamu sudah 30 tahun. Jangan seperti anak kecil lagi.
Itu ke mana? Kamu tidak melihat USB merah?
- Apa? - USB merah.
Astaga, aku tidak punya waktu. Coba cari USB-nya dulu.
Ya, Pak.
Kalau ada waktu, tolong rapikan ini. Berantakan sekali. Apa-apaan ini?
Bukannya sudah saatnya kamu sadar?
Profesor.
Ya?
Apa Anda ingat perkataan Anda dahulu?
Apa? Perkataan apa?
Anda pernah bertanya apa aku peduli dengan hidupku sendiri.
Anda bilang aku hanya menjadi beban bagi hidupku sendiri.
Sungguh? Keterlaluan juga, ya. Maaf.
Profesor, aku...
Aku tidak mau lagi menyusahkan hidupku.
Aku sudah lebih peduli dengan hidupku.
Hei.
Aku seperti biasa. Bagaimana kabarmu?
Apa?
Padahal aku tidak merasa apa-apa, tapi katanya aku kena kanker.
Padahal kamu terlihat sehat.
Makanya.
Tidak tahu justru lebih baik.
Tahu malah jadi penyakit.
- Hei. - Aku tidak merasa kesal.
Berapa umurku?
Berapa banyak alkohol dan rokok yang sudah kuhabiskan?
- Silakan makan ini. - Tidak usah repot-repot.
Sayang, makan ini.
Sayang, apa kamu tidak kedinginan?
Apa aku akan kedinginan dengan cuaca dan pakaian ini?
Gawat kalau kamu sampai masuk angin.
- Biar kuambilkan selimut. - Pakai ini saja.
- Pakai saja. - Gerah.
Aku segera kembali.
Sekarang si bungsu dapat kerja. Anak-anak memberi banyak uang saku.
Seharusnya aku bisa jalan-jalan sepuasnya dengan istriku,
tapi malah sakit.
Waktu kita jalan-jalan tahun lalu,
istriku mengajak naik kelas bisnis dengan mileage yang dia kumpulkan,
tapi kutunda karena sayang. Aku sangat menyesalinya.
Kamu bisa naik setelah sembuh.
Apa menurutmu aku bisa menggunakan mileage itu?
Tentu saja.
- Tentu saja kamu harus memakainya. - Kenapa kamu bicara begitu?
Baiklah.
Aku harus sembuh dan jalan-jalan supaya tidak ada penyesalan.
Mungkin kedengarannya aneh,
tapi aku tidak begitu mengkhawatirkan yang sakit.
Aku lebih mengkhawatirkan penjaga yang harus menjaga orang sakit.
Tapi, karena mereka berdua sangat ceria,
mereka pasti bisa melaluinya dengan baik.
Katanya ada orang yang menulis ini di batu nisannya.
"Karena terus ragu-ragu,
sudah kuduga akan berakhir seperti ini."
Meskipun aku sudah bertekad tidak mau hidup seperti itu,
aku kembali plin-plan.
Aku kembali bimbang.
Aku akan menjalani hidupku sendiri.
Anak-anak akan menjalani hidup mereka sendiri.
Aku pun akan hidup bahagia sekuat tenaga.
Romo, sedang mencari apa?
Di mana tenda kita?
- Tenda? - Ya.
Yang biasa kita pakai saat retret.
Jika situasi dengan Jun Kyung baik-baik saja,
sebagai kakak ipar, aku tidak akan membiarkan hal ini jadi separah ini.
Bersyukurlah aku menjadi pendeta. Nyawamu jadi selamat.
Pokoknya, terima kasih.
Kembalikan ini sebelum retret musim panas.
Entah kamu bertahan sampai saat itu atau tidak.
Kurasa aku akan mengembalikannya saat itu.
Akan kukembalikan.
Akan kukembalikan. Ya?
Padahal ayahmu sudah sangat khawatir.
Entah apa aku melakukan hal yang tidak perlu.
Jangan bilang pada Ayah soal ini.
Ini sama pentingnya dengan Pengakuan Dosa.
Ini janji dengan orang yang hampir menjadi adik iparmu.
Cepatlah.
Begitu.
Jangan pernah memberitahunya.
Bersumpahlah demi Tuhan.
Aku masuk karena kamu.
Untuk memperbaiki hubungan denganmu.
Apa dia tidak akan merasa terbebani?
Aku belum pernah bertemu wanita yang merasa terbebani oleh berlian.
Biasanya para pria yang merasa terbebani.
Wanita yang menerima ini pasti akan bahagia.
Sebab ketulusan seorang pria akan membuat wanita bahagia.
Dan ketulusan dari pria yang mapan
akan membuat wanita jauh lebih bahagia.
Memangnya apa salah ayah?
Ayah bekerja keras mencari uang, membanting tulang,
lalu menjual rumah yang ayah beli sendiri
demi mencari kebahagiaan sendiri.
Apa perbuatan itu pantas dicela?
Apa yang begitu kamu cemaskan?
Kamu biasanya berjalan kaki jika sedang melamun, bukan?
Tapi, apa tidak berlebihan jika berjalan kaki sampai ke rumah?
Jun Kyung, ayo cepat masuk.
Maafkan aku.
Aku tidak mengerti kenapa Ayah mendadak ingin menjual rumah.
Aku juga tidak paham soal Jun Seo yang marah meski itu bukan rumahnya.
Mereka bukan anak kecil lagi, kenapa bertingkah seperti itu?
Aku sepertinya bisa memahaminya.
Sikap lapang dada macam apa itu?
Bukan mengerti, sejujurnya aku malah iri.
- Iri pada apa? - Pada ayahmu.
Demi orang yang dia cintai,
dia berani mengambil keputusan seperti itu.
Dia hebat sekali.
Jarang ada pria seperti itu.
Ayahku bukan sekadar seorang pria. Dia juga seorang ayah.
Kamu tinggal bersamaku.
Jun Seo sibuk sekolah dan pacaran, jadi, hampir tidak pernah di rumah.
Karena ayahmu sendirian di rumah, wajar jika dia berpikir begitu.
Kalau begitu, ajak saja wanita itu untuk tinggal bersama.
Apa wanita itu akan nyaman? Jun Seo juga pasti tidak akan nyaman.
Kenapa?
Inilah sebabnya aku menyukaimu, Do Hyun.
Menjadi ayah sekaligus menjadi pria...
Aku sendiri juga tidak bisa. Sulit.
Memang sulit.
Sudah lama sejak aku meninggalkan rumah
dan kupikir rumah tidak terlalu berarti bagiku,
tapi saat membayangkan rumah itu akan hilang tiba-tiba,
perasaanku jadi aneh.
Kamu merawatnya dengan baik.
Untuk rumah seusia ini, lantai maupun lisnya
tidak ada yang perlu diperbaiki.
Bahkan bisa langsung ditempati sekarang juga.
Benarkah?
Ini pertama kalinya aku menjual rumah.
Aku iri padamu.
Setidaknya kamu bisa merasakan menjual rumah,
sedangkan aku bahkan belum punya rumah untuk dijual.
Astaga, bukan begitu.
Tarik garis lurus dengan pulpen dari sini, mengerti?
Sudah kubilang difoto begini akan tampak lebih luas.
Kira-kira butuh berapa lama sampai rumah ini laku?
Benar.
Akhir-akhir ini, rumah berhalaman luas banyak dicari.
Bagus untuk membesarkan anak dan untuk memelihara anjing.
Properti seperti ini bisa langsung laku besok.
Foto dan video yang diambil hari ini
akan langsung kami unggah di blog kami hari ini juga.
Secepat itu?
Kalau tidak begitu, kami tidak bisa bertahan di zaman ini.
Foto di sisi sana. Ya, mulai dari sana.
Apa dia pasti memberikannya?
Posisi dosen itu kepadamu?
Belum diputuskan secara pasti.
Maksudnya, dia pasti merekomendasikanku.
Karena dia memercayaiku.
Orang yang SKS-nya saja belum cukup sehingga harus perpanjang kuliah?
Apa yang membuatmu direkomendasikan?
Kesabaran dan kegigihanmu?
Benar juga, itu juga bakat yang hebat.
Kamu memarahi ayahmu yang jual rumah tanpa diskusi,
tapi kamu malah buat markas di sini tanpa berdiskusi?
Maksudku, kita pakai saja tanahmu yang tidak terpakai ini, ya, kan?
Lalu aku ikut makan makananmu.
Dan aku memakai toiletmu saat kamu tidak memakainya.
Hei, aku akan menjadi dosen.
Walau nanti kamu memintaku tinggal, aku akan pindah begitu dapat kos.
Jangan khawatir.
Astaga.
Tapi
apa kamu memang ingin menjadi dosen?
Mulai hari ini, aku terlahir kembali
sebagai orang yang ditidakdirkan untuk menjadi dosen.
Tahu kenapa?
Karena aku harus membalas penghinaan yang kuterima dari ayah dan kakakku.
Jangan bilang aku di sini. Mengerti?
Mengerti?
"Ji Hye On"
Kak, Jun Seo ada di rumahku.
Aku pikir Ayah dan Kakak akan khawatir.
Ayah sudah tahu.
Bagaimana Ayah bisa tahu?
Romo yang memberitahu ayah.
Chang Sik?
Bagaimana dia bisa tahu?
Ayah juga tidak khawatir lagi. Dia pasti bisa jaga diri sendiri.
Seperti katamu, Jun Seo bukan anak kecil lagi.
Lalu...
Rumah kita sudah ayah masukkan ke agen properti.
Asal tahu saja.
Baik.
- Selamat siang, Pak. - Ya. Silakan masuk.
- Silakan masuk. - Permisi.
- Selamat siang. - Ya.
Pak, kami akan lihat dari bagian dalam dulu.
No comments yet. Be the first to leave one.