Wed or Wait

Wed or Wait (Yakin Nikah)

Download Indonesian Subtitle

Release info

[π‚π¨πŸπŸπžπžππ«π’π¬π¨π§] π˜π€πŠπˆπ ππˆπŠπ€π‡ (πŸπŸŽπŸπŸ“) πˆππƒπŽππ„π’πˆπ€π 𝐍𝐅 𝐖𝐄𝐁
A Commentary by Coffee_Prison
π‘«π’–π’“π’‚π’”π’Š : 𝟎𝟏:πŸ’πŸ•:πŸ’πŸ• || π‘Ίπ’–π’ƒπ’•π’Šπ’•π’π’† π‘Ήπ’†π’•π’‚π’Šπ’ 𝑡𝑬𝑻𝑭𝑳𝑰𝑿 || *ΰͺ‘ΰ±Ώα₯£Ι‘ოɑ𝗍 π–¬ΰ±Ώπ“£π—ˆπ“£π—π—ˆπ“£

Tags

webdl
Published on: 2026-02-12
Downloads: 82
Hearing Impaired: No
FPS: 25

Indonesian subtitle preview

The first 200 lines.

BIE PANGGILAN MASUK

Duluan, ya.

Hai, Bie. Kamu sudah di bawah?

Maaf, Hon.

Pak Anton minta aku selesaikan proyeknya malam ini juga.

Itu harusnya besok.

Kamu sudah siap, ya?

Kamu enggak ngabarin dari tadi?

Aku sudah siap mau turun ke bawah.

Aku tahu. Maaf.

- Selamat sore, Mbak Niken. - Aku enggak sempat ngabarin.

- Dari tadi meeting maraton. - Mas.

- Tumbler jangan lupa dicuci. - Hon? Halo?

Oke.

- Hon? - Kenapa, Bie?

Tadi aku bilang enggak sempat kabarin kamu.

Dari tadi meeting maraton soalnya.

Terus, aku sudah minta Anggi menjemput kamu.

Dia tadi meeting di kantorku.

Kamu enggak marah, kan?

Enggak, enggak apa-apa. Kamu lanjutin saja kerjanya.

Hon, ini barusan Anggi bilang sudah mau sampai.

Nanti malam kutelepon lagi, ya? Kamu hati-hati.

- Sayang kamu. Dah. - Sayang kamu. Dah.

Duileh, yang mau dinner. Buru-buru banget, Cantik.

Enggak jadi. Batal.

Kok?

Dia sibuk banget. Gue enggak ada waktu buat ketemu dia.

Lo mau tahu enggak gimana caranya laki lo pengen ketemu lo setiap hari?

- Gimana? - Nikah, married, kimpoy. Sudah pernah?

Terus lo pulang naik apa, Nik?

Bukannya lo enggak bawa mobil antik lo?

Kualat lo ngatain mobil bokap gue mulu.

Tuh, sama Anggi. Sudah datang.

Gi!

Makin cantik!

Ya ampun! Beda banget sama Niken!

Apa ini?

Supervisor?

Karier lo makin meroket, ya. Enggak kayak dia.

- Mau tukar ID dulu, ya. Mau ke toilet. - Oke.

Teman macam apa, ya, Bu Prita?

Teman yang senantiasa memotivasi Anda!

Mima!

Anak Mima!

- Capek ya seharian sama Papa. - Hai, Biru.

- Salam sama Tante Niken. - Tos saja.

Tos. Sekali lagi. Dua-duanya.

Aduh, pintar.

- Hai, Mas. - Hai, Niken.

- Cabut, ya. Buru-buru. - Ya.

- Dah! - Dah!

- Ayo! - Dah!

Kak. Nikah kayaknya enak, ya?

Enakan pipis.

- Sudahlah. - Ikut.

Nanti setirin. Aku capek.

Gi, lo mau disuruh Arya jemput gue

pasti karena malas menyetir, macet.

Enggak, kan searah.

Kalau besok gue enggak bisa, soalnya mau antar Danny ke bandara.

- Ke bandara? - Ya.

Besok dia ke London, mau lanjut S2.

Halo?

Ya, Ay?

Sekarang?

Di mana?

Tapi, Ay, aku…

- Malah dimatiin. - Kenapa, Gi?

Danny tiba-tiba ngajak dinner.

- Terus? - Ya sudah, ikut saja.

Enggak apa-apa?

- Hai. - Hei.

Sayang.

Hai, Dan.

Loh? Kak Niken?

Aku lagi bareng sama Anggi. Enggak apa-apa, kan?

Ya, enggak apa-apa.

Yuk, ke atas.

Kamu duduk di sini, ya.

Ya. Kak Niken di sini.

Ay.

Aku besok berangkat ke London.

Ya?

Dan, kita pacaran sudah lama.

Kamu tahu aku sayang banget sama kamu?

Aku tahu, Ay.

Aku rasa ini momen yang pas.

Sebelum aku berangkat ke London, aku mau melamarmu, Gi.

Aku mau setelah aku lulus tahun depan, kita menikah.

Jadi?

Maukah kamu menikah denganku?

Ya.

Kak?

Ada yang buat lo, nih.

Mana?

Ini. Buat lo.

Nak Niken!

Bude.

Ini, titip bawa ke dalam.

Biasa. Bude memasak lebih.

Kok enggak masuk saja?

Enggak, ini mesti kasih ke yang lain.

Itu Anggi mobilnya baru lagi?

Terus kamu kapan?

Ayolah. Masa kalah sama adik sendiri?

- Doain saja, Bude. - Ya. Doain terus.

- Terima kasih, Bude. - Ya.

Gi, Bude duluan, ya!

Ya, Bude. Terima kasih!

- Keseret loh ini. - Ya, Bude.

- Yuk. - Hati-hati, Bude.

- Begitu? - Ya, begitu.

- Ibu delay. - Ibu, Ayah.

Ini makanan dari Bude Tia.

Loh, Adek mana, Kak?

Ada. Takut banget anak kesayangannya hilang.

Kak, masa Ibu bikin ginian saja dari tadi kaku benar.

- Lihat, tuh. - Repot, Kak.

- Dek! - Gerakannya delay.

Ibu sudah tamatin drakor yang kamu bilang.

Tapi, Ibu sebal. Kenapa Dal-mi jadinya sama Nam Do-san?

Ibu lebih suka Han Ji-pyeong.

Soalnya Han Ji-pyeong nikahnya sama aku.

- Aku dilamar Danny. - Hah?

Serius?

Yang benar?

Wah!

Tahun depan, kalau Danny lulus kuliah S2,

mau langsung nikah sama aku.

Kakak…

Kak, kamu tahu, kan?

- Kamu ingat Bude Ratih, kan? - Bu.

Kakak istirahat dulu ya, Ibu, Ayah.

Ini tradisi, Yah.

Nanti kalau Kakak dilangkahi, terus kena sial, gimana?

Ya, tapi ngomong sama Kakak harus pelan-pelan, Bu.

JEPANG

Hai.

Masih ngelamunin Jepang?

Sana berangkat.

Anggi

dilamar sama pacarnya tadi malam.

Bohong!

Gue tuh kadang suka males dibanding-banding sama Anggi.

Tapi faktanya, gue memang selalu kalah darinya.

Bahkan sekarang, mau menikah saja, gue dilangkahi sama Anggi.

Tapi lo sebenarnya kenapa enggak pengen nikah?

Apa karena lo pernah gagal, terus trauma?

Lo sudah tiga tahun jalan sama Arya.

Sudah cukup waktu kenalannya.

Memangnya lo enggak pernah membahas rencana nikah?

Ya, lo kan tahu. Arya sibuk banget.

Kayaknya dia lebih bernafsu melihat PowerPoint daripada lihat gue.

Gila!

Lagian, gue masih dalam proses menilai

apakah Arya mirip bokap gue.

Karena, gue mau kalau gue punya suami,

itu kayak bokap gue.

Tua, maksud Anda?

Bokap gue itu family man banget.

Dia ada wibawanya,

tapi dia enggak kaku.

Jadi menurut gue, bokap gue itu sempurna.

Enak juga punya suami kayak bokap lo.

Gila lo, sudah kawin.

Ayah sekarang paham kenapa aku khawatir?

Lihat sendiri, kan, gimana tadi Mbak Ratih ke aku?

Sampai sekarang, aku masih dijutekin.

Gara-gara dulu, dia disuruh mengalah sama Mami Papi.

Dipaksa mau dilangkahi.

Terus kalau sampai sekarang dia enggak nikah, dianggapnya aku bawa sial.

Aku dijudesin, dimarahim, disalah-salahin.

Ayah, sini. Aku lagi ngomong!

Aduh…

Aku benaran, deh.

Aku sampai sekarang menyesal ngelangkahi Mbak Ratih.

Tapi itu bukan salah kamu, Bu.

Tapi aku takut ini berulang.

Nanti kalau Niken sama Anggi jadi renggang, gimana?

Enggak mungkin.

Niken anak baik. Dia pasti senang kalau melihat adiknya senang. Ya?

Percaya sama aku.

Dek?

Setelah Ibu pikir, kayaknya kamu harus menunda pernikahanmu.

Tunggu Kakak dulu.

Ibu tahu kamu sudah siap.

Tapi ini tradisi, Dek.

Pamali.

Ibu enggak mau kakakmu jadi kayak Bude Ratih.

Aku enggak enak sama Danny.

Dia pasti sudah ngomong ke Papa Mama-nya.

Kak?

Kamu enggak kepikiran menikah sama Arya?

Tuh, kan, Bu?

Kakak kayak gitu. Cuek.

Siapa yang cuek?

Lagian, diam saja.

Kakak lagi nuang air.

Sudah, dong. Masa di meja makan berantem?

Wed or Wait subtitles in other languages

Comments

No comments yet. Be the first to leave one.

Keep it about this subtitle β€” sync, quality, typos.500 characters left