The first 154 lines.
Grimoire Flamme the Great Mage?
Semua buku yang ditulis oleh Flamme diyakini palsu.
Semua grimoire yang mereka temukan ternyata palsu.
Bisa dibilang ini grimoire palsu terbaik yang pernah kulihat.
Untuk misi penaklukan, ini imbalan yang lumayan.
Aku tak tahu apanya yang bagus soal itu.
Tapi karena ada begitu banyak yang palsu,
kita jadi meragukan apakah yang asli benar-benar ada.
Keberadaan Flamme, pencetus sihir umat manusia,
bagaikan cerita dongeng yang nyata.
Cerita dongeng?
Mungkin kau benar.
Makin jelas saja sudah berapa lama waktu yang berlalu.
Mungkin hanya aku yang ingat
dia seperti apa.
Sudah pagi?
Wah, Nona Frieren bangun lebih awal!
Lantas aku harus terkejut?
Tentu saja.
Kita harus memujinya kalau dia bangun lebih awal.
Ada apa ini?
CERITA ORISINAL OLEH KANEHITO YAMADA / TSUKASA ABE
DUA PULUH DELAPAN TAHUN SEJAK HIMMEL THE HERO WAFAT
JALAN ENG DI KONTINEN UTARA
Untung ada kau.
Kalau jalanan ini terhalang, entah aku harus bagaimana.
Hei.
Haruskah kita melakukan ini?
Kau enggan melakukannya? Padahal imbalannya lumayan.
Bukan itu maksudku.
Tak bisakah kau memindahkan kereta kudanya dengan sihir saja?
Itu akan merepotkan orang lain yang mau lewat.
Itu yang dikatakan Fern.
Kau egois sekali, Stark.
Kalau bicara, tolong sadar diri.
- Terima kasih atas kerja kerasmu. - Oh, terima kasih.
Omong-omong,
kenapa ada banyak puing di sini?
Di Kontinen Utara,
beberapa wilayah masih dalam keadaan perang dengan Demon.
Pasti ini imbasnya.
Dampak perang, ya?
Tuan Stark,
bisa tinggalkan yang itu dan bantu aku melakukan ini dahulu?
Tuan Stark?
Hei, bisa berhenti memanggilku "Tuan Stark"?
Aku agak terganggu.
Selisih usia kita tak jauh, 'kan?
Oh, begitu. Baiklah.
Stark. Cepat, bantu aku. Buruan!
Kok jadi memerintah?
Padahal bukan itu maksudku.
Ada banyak cara, 'kan?
- Setidaknya jangan panggil aku "Tuan". - Oh...
Selain itu, cobalah sedikit lebih ramah.
Perasaanku gampang terluka, tahu?
- Bocah ini merepotkan. - "Bocah?"
Pekerjaan kalian sudah beres?
Ayo, cepat selesaikan, Tuan Stark.
Ya.
Wah, terima kasih banyak.
Kalau kalian bersedia, aku bisa mengantar kalian sampai ke kota.
Seorang Elf?
Aku sudah hidup cukup lama, tapi kau Elf pertama yang pernah kutemui.
Sepertinya kami cukup langka.
Kalau dipikir-pikir, aku belum pernah bertemu
dengan Elf selain Nona Frieren.
Populasi kami memang tak banyak.
Bahkan aku pun baru bertemu dengan segelintir Elf.
Rentang hidup Elf memang panjang,
tapi kami kehilangan perasaan romantis
dan insting untuk bereproduksi.
Kami perlahan-lahan akan punah.
Terakhir kali aku bertemu sesama Elf sudah lebih dari 400 tahun lalu.
Mungkin kami akan lebih cepat punah dari dugaanku.
Kotanya sudah terlihat.
Banyak kereta kuda yang mengantre.
Mereka adalah pedagang.
Malam ini ada Perayaan Hari Kemerdekaan.
Hari ini adalah hari Himmel the Hero dan grupnya
berhasil mengalahkan Demon yang menguasai wilayah ini.
Kami pernah melakukan itu, ya?
Perayaan Hari Kemerdekaan adalah peringatan atas hari itu.
Kami mendekorasi patung Tuan Himmel dan grupnya di alun-alun kota,
dan seisi kota bergabung dalam perayaan besar.
Manusia sangat berlebihan.
Segalanya dijadikan perayaan.
Demon itu dikalahkan lebih dari 80 tahun lalu.
Kalau sudah selama itu,
manusia cenderung melupakan sesuatu.
Namun,
sekalipun hanya untuk satu hari,
semua orang mengingat jasa Tuan Himmel dan grupnya.
Ya, hasil kerja yang bagus.
Butuh lima kali revisi, ya?
Pengerjaan patungnya berakhir lebih cepat kali ini.
Himmel, kau selalu membuat patung dirimu sendiri.
Aku mau dikenang.
Berbeda denganmu, rentang hidup kami tak begitu panjang.
Aku harus memastikan generasi mendatang tahu aku setampan apa.
Ayo kembali ke penginapan.
Namun, alasan utamanya adalah
agar kau tak merasa ditinggal sendirian kelak.
Apa?
Ini bukan dunia dongeng.
Kita berada di dunia nyata.
Seperti inilah kami memperingati
jasa Himmel the Hero dan grupnya setiap tahun.
Kalau dilihat-lihat, kau mirip sekali
dengan patung Nona Frieren dari Grup Pahlawan.
Akankah perayaan ini masih diperingati 100 tahun dari sekarang?
Tentu, selama kota ini masih ada.
Kalau seribu tahun?
Kalau seribu tahun, aku tak bisa menjamin.
Baiklah, ayo berangkat.
Ke titik paling utara.
Kalau dipikir-pikir,
aku tak pernah bertanya soal destinasi perjalanan ini.
Kita mau ke mana?
Surga.
Kedengarannya seru.
DUA PULUH DELAPAN TAHUN SEJAK HIMMEL THE HERO WAFAT
DOMAIN GRAF GRANAT DI KONTINEN UTARA
Banyak sekali penjaganya.
Apakah telah terjadi sesuatu?
Sekarang, mari bagi tugas untuk berbelanja.
Nona Frieren, kita sedang di pusat kota.
Ada Demon.
Apa yang kaulakukan?
Graf Granat,
apakah ini rencanamu?
Tuan Lügner,
aku memang sangat membencimu sampai ingin membunuhmu.
Namun,
aku tak sebodoh itu sampai ingin membunuh utusan perdamaian
di siang bolong.
Utusan perdamaian?
Dia kemungkinan besar seorang petualang yang tak mengetahui situasi kita.
Akan kupercayai ucapanmu.
Tatapanmu tenang, dingin, dan dipenuhi dengan niat untuk membunuh.
Bahkan warga kota yang membenci kaum kami
memandangku sebagai manusia,
meskipun dengan rasa takut.
Namun, kau memandangku seolah-olah sedang melihat seekor monster.
Karena kau memang monster.
Kalian memang bisa meniru suara manusia,
tapi kalian hanyalah monster yang tak bisa berkomunikasi dengan kami.
Masukkan dia ke penjara bawah tanah.
Baik.
Eh...
Hei!
Aku bosan.
Nona Frieren...
Mereka mau kau bertobat selama dua atau tiga tahun.
No comments yet. Be the first to leave one.